Hihihi... Bang Yos mikir Megapolitan mungkin diinspirasi puncak karier
militer nya sebagai PangDam Jaya dimana kewenangan teritorialnya meliputi ya
Jabodetabek itu.. dalam satu Komando..
Saya pernah dengan pidato Bang Yos mengenai 'keberanian' nya menginisiasi
proyek-2 melawan kemacetan.. dia sering memakai analogy militer.. dimana
kemacetan dianggap musuh.. dan dimana watak pemimpin yaitu harus berani
ambil keputusan cepat.. ibarat sedang melawan musuh, kalau diam seluruh
pasukan bisa habis.. sedangkan kalau melakukan tindakan (apapun itu), jumlah
pasukan yang mati bisa berkurang..

entah tepat atau tidak, hasil dari keberaniannya bisa kita lihat sendiri:
ada yang berani secara relatif baik dan proporsional seperti busway..
adapula yang kelewat nekad, seperti monorail..

Lagipula, jabatan ketua harian itu biasanya PNS.. bukan pejabat politik.


Iya.. kita perlu tarik garis antara organisasi  yang bertujuan memaksimasi
kesejahteraan (welfare maximizing) dan yang memaksimasi profit.
kembali lagi ke semangat yang melandasi UU Jalan.. Peran dan kedudukan
masing-2 type organisasi cukup baku.


Mengenai tarif jalan tol:
ini masalah elastisitas. Demand akan suatu barang/jasa lebih elastis
terhadap harga apabila terdapat alternatif / substitusi.
Memang benar, kalau tidak ada alternatifnya, menaikkan tariff tidak akan
mengurangi volume (demand thdp jalan) secara signifikan.. dan kalaupun
dipaksakan menaikkan tariff teramat tinggi maka pengurangan volume
diakibatkan orang-2 yang berhenti bekerja karena setelah dihitung-2 kerja
hanya untuk nutup ongkos transport saja.. yang artinya berkurangnya total
welfare secara global.

Salam,
-K-



2010/7/28 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Pak Aunur dan rekans ysh,
>
> Kita tadinya bicara Jakarta macet. Tapi karena wartawan interview ahli
> jalan raya, bukan orang perhubungan darat, jadi diskusi melenceng ke jalan
> tol.
>
> Agak beda dengan monorel yang ujug-ujug. Jalan tol Jakarta hampir semua
> prakarsa pemerintah, ada dalam masterplan. Semua prakarsa pemerintah, yang
> punya wewenang BPJT, BUMN JM, swasta kontraktor saja. Pemodalnya adalah
> lembaga keuangan, yang tahunya ya ROI, dia gak ngurus jumlah pintu.
>
> Satu hal lagi, drainase juga besar perannya bikin macet. Juga tentu
> pengendalian banjir di hulu.
>
> Sekali lagi sebaiknya dinyatakan Keadaan Darurat Transportasi, lalu bentuk
> Dewan Transportasi Megapolitan. Menko Ekuin ketuanya, Bang Yos ketua
> hariannya. Setahu saya kok hanya Bang Yos yang pernah mikir megapolitan
> secara komprehensif, yang lain masih terjebak sektor masing-masing.
>
> Kalau Bekasi juga dimekarkan lagi, wah makin sulit saja koordinasi. Jadi
> Dewan Megapolitan itu mendesak kebutuhannya.
>
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------
> *From: * [email protected]
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 28 Jul 2010 22:07:22 +0000
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [referensi] Re: Triple Decker
>
>
>
> Pak BTS, Pak ATA dan rekans,
> Saya heran kita bicara investasi jalan tol yang tidak menarik jika
> kendaraan umum dibebani lebih murah. Indikator jalan Tol menguntungkan bukan
> dari kemacetan, tapi dari antrian di gerbang tol. Investor membuat jumlah
> gerbang tol, disesuaikan dengan perkiraan kendaraan yang masuk dan ini juga
> merupakan perhitungan berapa mereka akan memperoleh revenue. Ketentuan lain,
> pada jalan bebas hambatan kecepatan kendaraan antara 60-100 km/jam. Jadi
> kalau kendaraan sudah tidak bisa dipacu pada kecepatan tersebut karena
> kepadatan, artinya investor jalan tol sudah menikmati keuntungan luar biasa.
> Salam
>
> Sent from BlackBerry® on 3
> ------------------------------
> *From: * abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 28 Jul 2010 21:18:58 +0700
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: [referensi] Re: Triple Decker
>
>
>
> Kalau no 1., makin macet fasilitasi melalui jalan tol utk pribadi, tambah
> macet kantong pengelolanya tebal (karena bep tidak tercapai lebih cepat),
> tambah lambat kota tujuan macet, tambah kurang menarik utk menggunakan
> kendaraan pribadi, tambah lambat pengurasan dan perusakan lingkungan alam
> daerah asal (permukiman baru), dan tambah berkurang peluang meningkatkan
> emisi C di daerah asal dan tujuan, dsb. Ekonomi dapat tetap berlanjut
> asalkan transport umum dan pendukung mobiltas orang, barang dan informasi
> lebih diperbaiki.
> Kalau no 2., tambah tidak menarik investasi tol, tambah menarik investasi
> alternatif di fasilitas mobilitas yang lain, dsb,
>
> Bisa dilanjutkan.....namun yang utama adalah bagaimana kita meninjau dan
> memahamimya dari jarak tertentu (tidak terlibat) sehingga lebih mampu
> mengungkap permasalahannya dengan lebih jernih dan mengembangkan solusi
> alternatif yang lebih strategis dan efektif dengan mengembangkan penataan
> ruang yang lebih berkelanjutan untuk masa datang.
>
> Tidak sesederhana itu memang, karena dalam realita perbandingan yang
> "dualistik" sesungguhnya tidak pernah nyata. Namun pilihan pendekatan
> pembangunan yang lebih berorientasi keberlanjutan masa depan lebih
> menjanjian daripada berorientasi perhtungan masalah masa lalu.
>
>  ..terlalu optimis...seperti cita-cita bangsa sebelum merdeka saja ya pak,
> tetapi patut kita renungkan....
>
> ATA
>
>
> 2010/7/28 Benedictus Dwiagus S. <[email protected]>
>
>>
>>
>> Kalau nomor 1, kok bisa begitu kesimpulannya pak BTS. Yah gak langsung
>> mereka yg naik mobil trus berhenti di pintu masuk tol. Khan mereka tetep
>> boleh masuk tol. Kalow kata ABG sekarang, pak BTS ini agak lebay juga
>> huahhahahaha.
>> Bisa saja yg terjadi adalah, memang berkurang, tp sama sekali mobil gak
>> masuk tol. Sebagian masih akan masuk tol, krn masih dlm willingness to pay
>> mereka. Yang gak mampu bisa ajah mikir utk cari alternatif moda angkutan
>> umum, naik kereta atau naik bus. Mungkin malah usaha bis angkutan umum malah
>> makin bergairah. Mungkin nanti ada jasa travel jarak menengah yg lumayan
>> masal dan handal.
>>
>> Kalau no2, ya mungkin tepatnya bukan tak kembali investasinya, tapi
>> investment return-nya jadi punya jangka waktu lebih panjang. Kalau
>> direncanakan 30 tahun balik modal, bisa jadi 60tahun. Tapi khan itu
>> worth-it. Kalau angkutan barang dan angkutan umum masal jadi makin
>> bergairah.
>>
>>
>> Salam
>> Dwiagus
>>
>>
>> »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss...!!!
>> ------------------------------
>> *From: * abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
>> *Sender: * [email protected]
>> *Date: *Wed, 28 Jul 2010 20:29:16 +0700
>> *To: *<[email protected]>
>> *ReplyTo: * [email protected]
>> *Subject: *Re: [referensi] Re: Triple Decker
>>
>>
>>
>> Artinya,
>> ....mari kita selamatkan kendaraan pribadi dan kalahkan kendaraan umum,
>> karena kita sudah memilih pertumbuhan pasar dan peningkatan pendapatan
>> dibandingkan aspek lain....
>> ...mari kita utamakan pembanunan jalan tol...dst.
>> Lupakan aspek keberlanjutan ekosistem dan penyebaran kemakmuran, lupakan
>> "jargon" penurunan 26 % emisi C kita...
>> Begitu kan pak ?
>>
>> Salam,
>> ATA
>>
>>

Kirim email ke