Nah lhoooo....

--- On Tue, 7/27/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 27, 2010, 11:57 AM

 


Again.. terlepas dari siapa penggagasnya (objective): kalau sudah Triple Decker gitu.. artinya kapasitas nya sangat tinggi, maka sebaiknya pembangunan juga intensif sepanjang koridor tsb..

Memang yang menjadi concern juga adalah masalah 'pangsa pasar'...
gak usah jauh-2 triple Decker.. yang sudah kejadian saja: Parahyangan akhirnya keok juga sama Cipularang..

Kalau untuk mobilitas manusia (human mobility), ya memang transportasi massal lebih efisien dari segi energy, waktu, biaya dan ruang per satuan penumpang-km. .

naah..kalau mobilitas barang.. karena sebaran spasial dan intensitas bangkitan perjalanannya berbeda dengan mobilitas manusia.. mungkin jalan raya (tol maupun non-tol) lebih efisien..
sebaiknya keduanya jangan dicampur aduk.. jadi gak keruan seperti sekarang ini ..

yang mau ber-mobilitas dari Bekasi ke Jakarta pp kan manusia.. ya lebih efisien pake busway..
kalau mau ngirim barang dari Merak ke Tanjung Priok dlsb.. ya pake Jalan Tol aja.. lalu atur sehingga jalan tol itu memang di-design khusus untuk angkutan barang.. supaya ekonomi lancar.. kan gitu semangat UU nya..

Kalau kendaraan pribadi tidak dibendung.. malah 'diundang' masuk jalan tol.. dengan diskriminasi tarif murah .. dan alternatif tidak diberikan akhirnya yang terjadi adalah cross-congestion. . kendaraan pribadi bikin macet mobilitas barang .. akhirnya bikin ekonomi mampet..
so.. solusinya bukan malah nambah jalan tol mulu..
perlu lebih kreatif mikirnya.. solusi jadul gak bisa dipaksakan untuk menyelesaikan masalah aktual terkini..
sering kali pejabat-2 senior yang dari sejak lulus kuliah tahunya bikin jalan raya.. ya meskipun zaman sudah berubah, mikir nya tetap bikin jalan raya.. akhirnya yang ada over-fitting teori usang..

coba reorientasi secara produktif.. sediakan transportasi massal sehingga masyarakat bisa berperan aktif menanggulangi kemacetan dengan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut..
kalau sekarang kan bisanya berperan pasif.. yaitu stay at home yang marginal effect nya sangat rendah..
selain itu.. ya berperan secara kurang-produktif. . yaitu ngritik ..

Salam,
-K-

 


2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
 

Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar jangka pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan bisa hingga beberapa dekade).... 

Tetapi .......kalau untuk jangka panjang (pembangunan bangsa) mungkin sebaliknya. 
Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmenta l) value engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan "penentu pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan konsekuensi biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan jangka panjang yang menjadi dasar utama.... 
Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan sekadar main angka-angka prosentasi "C trading" 

ATA

2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>

 


Yth. Pak Suwardjoko
 
Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu Elevated Toll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA. Tidak hanya TD, sejak Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias sekali ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin mengembangkan Manggarai City.
 
TD itu dulu  digagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu itu jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic Assigment Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro - Serpong lebih menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi.
 
Kelemahan TD menurut saya  karena 2 hal yang saling bersaing dengan pasar yang sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan tol, maka jalur KA akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat mengembalikan investasi itu justru arus kendaraan di jalan tol, bukan jalur KA-nya. Jalur KA-nya disubsidi sama yang di atas (jalan tol), tetapi yang di atas (jalan tol) diambil sama yang disubsidi ( jalur  KA). 
 
Apa begitu ya?
 
Thanks. CU. BTS.
--- Pada Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> menulis:

Dari: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id>
Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM

 
.



Kirim email ke