Wah keren nih kali ya kalau ada pengaturan tarif tol dengan semangat seperti 
Koko utarakan ini.
Kalau sekarang khan kendaraan angkutan barang tarif masuk tolnya lebih tinggi 
drpada kendaraan pribadi, kalow dibalik, lebih seru kali ya. Trus kalow tarif 
tol utk bis angkutan umum massal, mestinya tarifnya setengahnya.

Gemanah, koko?
Hehehehe

Salam
Dwiagus
»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: Reny ansih <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 28 Jul 2010 18:51:17 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker

Nah lhoooo....

--- On Tue, 7/27/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Triple Decker
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 27, 2010, 11:57 AM







 



  


    
      
      
      
Again.. terlepas dari siapa penggagasnya (objective): kalau sudah Triple Decker 
gitu.. artinya kapasitas nya sangat tinggi, maka sebaiknya pembangunan juga 
intensif sepanjang koridor tsb..


Memang yang menjadi concern juga adalah masalah 'pangsa pasar'... 
gak usah jauh-2 triple Decker.. yang sudah kejadian saja: Parahyangan akhirnya 
keok juga sama Cipularang..

Kalau untuk mobilitas manusia (human mobility), ya memang transportasi massal 
lebih efisien dari segi energy, waktu, biaya dan ruang per satuan penumpang-km. 
.


naah..kalau mobilitas barang.. karena sebaran spasial dan intensitas bangkitan 
perjalanannya berbeda dengan mobilitas manusia.. mungkin jalan raya (tol maupun 
non-tol) lebih efisien..
sebaiknya keduanya jangan dicampur aduk.. jadi gak keruan seperti sekarang ini 
..


yang mau ber-mobilitas dari Bekasi ke Jakarta pp kan manusia.. ya lebih efisien 
pake busway..
kalau mau ngirim barang dari Merak ke Tanjung Priok dlsb.. ya pake Jalan Tol 
aja.. lalu atur sehingga jalan tol itu memang di-design khusus untuk angkutan 
barang.. supaya ekonomi lancar.. kan gitu semangat UU nya..


Kalau kendaraan pribadi tidak dibendung.. malah 'diundang' masuk jalan tol.. 
dengan diskriminasi tarif murah .. dan alternatif tidak diberikan akhirnya yang 
terjadi adalah cross-congestion. . kendaraan pribadi bikin macet mobilitas 
barang .. akhirnya bikin ekonomi mampet.. 

so.. solusinya bukan malah nambah jalan tol mulu.. 
perlu lebih kreatif mikirnya.. solusi jadul gak bisa dipaksakan untuk 
menyelesaikan masalah aktual terkini.. 
sering kali pejabat-2 senior yang dari sejak lulus kuliah tahunya bikin jalan 
raya.. ya meskipun zaman sudah berubah, mikir nya tetap bikin jalan raya.. 
akhirnya yang ada over-fitting teori usang..


coba reorientasi secara produktif.. sediakan transportasi massal sehingga 
masyarakat bisa berperan aktif menanggulangi kemacetan dengan beralih dari 
kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut..
kalau sekarang kan bisanya berperan pasif.. yaitu stay at home yang marginal 
effect nya sangat rendah..

selain itu.. ya berperan secara kurang-produktif. . yaitu ngritik ..

Salam,
-K-

 

2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
















 



  


    
      
      
      Setuju pak, .......kalau ..........konsep dasarnya masih teori pasar 
jangka pendek (kalau posisi penguasaan "stabil", jangka menengah...bahkan bisa 
hingga beberapa dekade).... Tetapi .......kalau untuk jangka panjang 
(pembangunan bangsa) mungkin sebaliknya. 

Dalam (sustainable) life cycle costing dan (socio-environmenta l) value 
engineering, bukan initial cost lebih rendah (bagi "pelaku" pasar dan "penentu 
pasar" yang sedang ber"kuasa") yang penting tetapi pengurangan konsekuensi 
biaya eksternal dan peluang peningkatan kualitas lingkungan jangka panjang yang 
menjadi dasar utama.... 

Termasuk bagaimana kita mengantisipasi the real "Climate Change"....bukan 
sekadar main angka-angka prosentasi "C trading" 


ATA

2010/7/27 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>

















 



  


    
      
      
      

Yth. Pak Suwardjoko
 
Seingat saya, Triple Decker (TD) itu digagas oleh Mbak Tutut yaitu suatu 
Elevated Toll Road dan di bawahnya merupakan jalur KA. Tidak hanya TD, sejak 
Mbak Tutut dapat konsesi Tol Tanjung Priok - Cawang, beliau antusias sekali 
ingin ikut andil di bidang transportasi, termasuk ingin mengembangkan Manggarai 
City.


 
TD itu dulu  digagas dng jalur Serpong-Kota (lewat Bintaro). Tapi waktu itu 
jalan tol Bintaro-Serpong belum ada. Mungkin ada semacan Trafiic Assigment 
Analysis antara TD dan Tol Bintaro-Serpong. Dan Tol Bintaro - Serpong lebih 
menguntungkan daripada TD sehingga TD tidak jadi.


 
Kelemahan TD menurut saya  karena 2 hal yang saling bersaing dengan pasar yang 
sama. Maksud saya, apabila ada jalur KA sejajar dengan jalan tol, maka jalur KA 
akan mengurangi pasar jalan tol. Padahal yang dapat mengembalikan investasi itu 
justru arus kendaraan di jalan tol, bukan jalur KA-nya. Jalur KA-nya disubsidi 
sama yang di atas (jalan tol), tetapi yang di atas (jalan tol) diambil sama 
yang disubsidi ( jalur  KA). 


 
Apa begitu ya?
 
Thanks. CU. BTS.
--- Pada Sel, 27/7/10, Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id> menulis:


Dari: Irwan Prasetyo <p...@centrin. net.id>
Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja


Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 1:30 AM


 

      
        
          Reply to sender |
        
          Reply to group |
                  Reply via web post |
                Start a New Topic
      

                Messages in this topic
          (71)
           






      Recent Activity:

    
                                                    
    
  
    Visit Your Group
  


      
      


      Komunitas Referensi

http://groups. yahoo.com/ group/referensi/      


    
  

  
  Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use





   

  
  
  




     




     

  .


   









  










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke