Hihihi.. emang Pak BTS ini suka banyak tahu nya.. ya pak .. tks diingatkan mengenai perpres 67/2005 ... kan ini mengatur masalah infrastruktur nya.. (fisik prasarana) tapi kalau untuk subsidi operasional.. nah.. ikut yang mana? malah dulu UU perkereta-apian yang lama bisa diinterpretasikan bahwa itu masih monopoli PT KA.. sehingga operasional harus diserahkan ke PT KA. ya mirip-2 bikin Jalan Tol jaman dulu kan harus dimonopoli PT Jasa Marga.. kecuali yang punya anaknya Presiden.. baru bisa nge-truf.
Gak usah takut di-sue pak.. wong PT JM itu mau bayar lawyer pake duit dari mana? masih nunggak bayar lawyer yg dulu.. salam, -K- 2010/7/28 Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > > > Bung Koko, ada yang perlu saya tambahkan dengan apa yang saya ketahui > soal monorail. > 1. Mengapa proyek monorail tidak ditenderkan? Soalnya inisiatif monorail > ini dari swasta dan ide ini dimulai sebelum terbit Perpres 67/2005 tentang > Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha sehingga tidak ada kewajiban > tender. > 2. Memang benar DKI harus membeli pilar-pilar itu nggak ada dasar > hukumnya. Kalau DKI jadi beli, berarti DKI harus melanjutkan proyek itu. > Padahal di dunia ini nggak ada proyek monorail yang berhasil. > 3. Masih banyak pertanyaan soal monorail ini seperti mengapa Pemerintah dan > Pemda DKI harus ikut ambil risiko (bukan subsidi), mengapa ada swasta (PT > JM) koq berani membangun monorail, padahal akan rugi? Siapa Dubai Islamis > Bank itu? Sayang saya nggak bisa cerita soal ini. Takut di-sue. > > Jadi gitu sedikit pengetahuan saya soal monorail. > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada *Sel, 27/7/10, Harya Setyaka <[email protected]>* menulis: > > > Dari: Harya Setyaka <[email protected]> > Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama > Saja > Kepada: [email protected] > Tanggal: Selasa, 27 Juli, 2010, 6:20 PM > > > > Sebenarnya selain Pilar-2 Calon Monorail, juga ada pilar-2 yang justru > sudah terbengkalai hampir 10 tahun.. yaitu pilar-2 calon Tol Becakayu.. > tapi mungkin luput dari perhatian pengamat karena lokasinya tidak di pusat > kota Jakarta... > Sehingga pihak-2 penggagas Tol Becakayu relatif lebih 'aman' dari > kritik-2... padahal kalau dinilai dari status dan wujud fisik-nya; memenuhi > kriteria sebagai (mengutip pak ATA) "monumen kebodohan pengambilan > keputusan". > > Mengenai pilar-2 Monorail, betul yang disampaikan Pak BTS.. namun lebih > complex dari itu.. > Bukan hanya besar-kecil nya biaya konstruksi pilar-2 yang dimintakan > gantinya oleh PT JM, tapi apa pula dasar hukum 'pembelian' nya? > Apakah ada perintah dari DKI untuk membangun pilar-2 tsb? > Lantas koq untuk proyek sebesar itu gak pakai tender? > > Pemerintah mau subsidi juga dasar nya apa? Subsidi itu kan uang negara... > mengeluarkan uang negara kan ada prosedurnya. . perlu dengan seksama > diperhatikan skema subsidinya agar yakin bahwa uang subsidi tsb dinikmati > masyarakat bukan PT JM.. dengan kata lain: seharusnya ya ada proses tender > lah ya... > > Kalau saya tidak salah 'membaca' yang tersirat dari hembusan isu monorail > akhir-2 ini.. PT JM sedang berusaha menunggangi beberapa anggota DPR atau > minimal menjadikan mereka juru bicara kepentingan nya lah, agar DKI > di-fait-acomplii kan untuk meneruskan proyek (entah bagaimana caranya..) > dari pilar-2 tsb.. > lalu.. konsekuensi logis nya, ya pilar-2 tsb harus dibeli .. PT JM tutup > buku, trus kabur deh.. > > DKI bisa saja fight back.. tentunya harus legowo menampar pipi sendiri dan > pipinya Sutiyoso (kalau belum bosan ditampari orang lain) .. lalu mengusut > proses perizinan proyek pembangunan pilar-2 tsb.. > Kalau saja misalnya pilar-2 tsb dibangun tanpa perintah dari DKI atau > bahkan tanpa IMB, ya bongkar saja.. tentunya dengan mengultimatum PT JM > untuk membongkar sendiri sebelumnya.. lalu kalau perlu; ya kenakan denda.. > biar Direksi PT JM (personal) juga ikut bertanggung jawab atas kebodohan > tsb.. > Memang ini pelajaran yang sangat mahal.. semoga tidak terulang lagi.. > minimal dengan memastikan agar Sutiyoso tidak kembali menduduki jabatan > pengambil keputusan.. > > Salam, > -K- > > > > > > 2010/7/27 abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. > com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > Membongkar pilar = pekerjaan = biaya = menyia-nyiakan sumber daya alam > dan manusia yll yang pernah "dimanfaatkan" = menambah limbah = ...mungkin + > C ??? > Kalau dibiarkan = monumen kebodohan pengambilan keputusan = mengingatkan > untuk tidak mengulang kembali = pendidikan masyarakat tanpa biaya = > ...mungkin tidak + C = dapat digunakan kembali atau untuk keperluan lain ??? > > ....sekadar hitung-hitungan kualitatif orang lingkungan pak. > > ATA > > > 2010/7/26 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. > com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > Cak Andri, saya hanya ingin mengomentari sedikit soal monorail. > Boleh jadi monorail itu tak pernah ada. > > DKI sebenarnya tak pernah merencanakan monorail. Kebetulan ada swasta PT > Jakarta Monorail (PT JM) yang berkenan membangun Monorail. Akhirnya ide > swasta itu diijinkan karena Pemda DKI sangat menghargai prakarsa swasta > (masak ada swasta yang mau membangun sesuatu nggak boleh?). Syaratnya, PT JM > harus meyakinkan DKI ada penyandang dana. PT JM diberi waktu 1 tahun. Waktu > itu ada Dubai Islamic Bank (DIB) sebagai financiernya dengan menerbitkan > sukuk (obligasi syariah), tapi gagal. Alasannya sukuk waktu itu belum ada > UU-nya (sekarang sih sudah ada). Akhirnya diberi waktu 1 tahun lagi, tetap > saja tidak mendapatkan financier pengganti DIB. Dalam masa persiapan itu, PT > JM dengan dana dari PT Adhi Karya terus membangun pilar-pilar monorail. > > Karena beberapa kali gagal mengundang financier, Pemerintah menduga proyek > monorail ini risikonya tinggi sehingga belum juga ada financier. Akhirnya > Pemerintah memberi dukungan berupa "dukungan risiko", maksudnya, apabila > operasi monorail tidak mencapai sasaran jumlah penumpang, maka Pemda DKI dan > Pemerintah akan men-subsidi 50%. Tapi lagi-lagi PT JM tetap tidak bisa > mengundang finacier itu. Waktu habis. Dengan demikian perjanjian antara DKI > dan PT JM batal. > > Sekarang untuk apa pilar-pilar itu? PT JM minta supaya pilar-pilar itu > dibeli Pemda DKI. Tentu Pemda DKI emoh. Tapi kasihan juga kalau nggak > dibeli, PT Adhi Karya yang nota bene BUMN akan rugi besar. Untuk itu Pemda > DKI minta diaudit, berapa layaknya harga pilar itu. Tentu dengan harga > semurah-murahnya. Apabila harga nggak cocok antara kedua belah pihak, maka > kemungkinan pilar-pilar itu akan dihancurkan. > > Jadi monorail bagaimana? ....... Too good to be true. > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada *Sen, 26/7/10, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. > com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > >* menulis: > > > Dari: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. > com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > Judul: Re: To Cak Andri [referensi] RE: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama > Saja > Kepada: refere...@yahoogrou > ps.com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Tanggal: Senin, 26 Juli, 2010, 3:13 AM > > > Terima kasih atas penjelasan Al Ustadz Eyang Aby yang saya hormati. > Mudah-mudahan bila countermagnets yang kecil-kecil ini sama-sama ikut > "menarik", maka akan terjadi keadaan yang mendekati regional > equalities. Walaupun, tentu agak lama karena countermagnets yang > dibangun lebih cenderung di daerah yang masih di radius 100 km dari > tugu Monas. Nampaknya Pulau Weh dan Merauke bakal menunggu dua-tiga > generasi lagi. > > Pun demikian, saya rasa akan makin "paten" apabila para Boss yang ada > di Jakarta juga memikirkan bahwa akar kemacetan daerah bukanlah di > Jakarta sendiri, tetapi kekurangperhatian selama ini terhadap > pembangunan daerah non-Jakarta. Daerah tentu tidak perlu untuk > dibangun seperti Jakarta, namun perlu dipikir juga, apakah ada daerah > yang pernah "berontak" apabila pembangunan nasional telah berjalan > dengan adil? > > Darah, keringat, tenaga, sumber daya alam, dan air mata anak daerah > sudah semakin mengering ... dan sebentar lagi akan ada monorail di > Jakarta. > > Salam, > CA > > > > >

