Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, memang bebas gempa, tapi tidak 
bebas dengan asap gambut yang terbakar. Apa jadinya ibu kota negara kalau 
bernafas saja susah.
 
Belum lagi soal air. Air tanah jelas tidak bisa diminum. Air minum sangat 
mengandalkan PDAM yang sumbernya dari sungai  Kahayan dengan fluktuasi debet  
pasang surut yang tajam. Itu karena Kalimantan Tengah tidak lagi punya hutan.
 
Soal enerji lebih gawat lagi. Sangat bergantung pada Banjarmasin. Padahal 
Banjarmasin sendiri juga masih defisiensi. Juga ekonomi sangat mengandalkan 
Banjarmasin karena Kalimantan Tengah  tak punya pelabuhan.
 
Dulu Bung Karno pernah menggagas Palangkaraya jadi ibu kota negara karena 
secara geografis terletak di "titik berat" Indonesia. Tapi urung. Mengapa 
urung? Pasti ada apa-apanya. Perlu diteliti mengapa Bung Karno urung menjadikan 
Palangkaraya sebagai ibu kota negara. Ini supaya kita tidak mengusulkan sesuatu 
yang sejak dulu sudah dinilai tidak layak.
 
Thanks. CU. BTS.
(Yang pernah tinggal selama 6 bulan di Palangkaraya)
 
 
 


--- Pada Sel, 3/8/10, SUWARDJOKO WARPANI <[email protected]> menulis:


Dari: SUWARDJOKO WARPANI <[email protected]>
Judul: [referensi] Ibukota pindah
Kepada: "To:" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 3 Agustus, 2010, 8:41 AM


  






 Ibukota pindah di sekitar Jakarta, sama saja bohong. Ibukota di P.Jawa, sama 
saja nekad.
Kalau mau pindah, ya pindah sekalian di luar Jawa. 
Palangkaraya memang harus dikaji ulang, namun yang jelas P.Kalimantan relatif 
bebas gempa.
Jangan lupa, dari balik gambut ternyata putra Indonesia bisa membuat padang 
pasir di Arab berubah menjadi padang rumput;
tetapi kita kok adem-ayem saja. Maaf saya lupa siaran TV tanggal berapa dan 
stasiun TV apa.
Pokoknya, kalau memang harus pindah, ya jangan tangung-tangung.

WASSALAM


"SW"









Kirim email ke