Ya yang tdk bisa jaga emosi sehingga rasionya dilindas, paling2 laptop 
dihadapannya jadi sasaran tonjok. Biar tahu rasa gimana menyiapkan peperangan 
konsep, pasti amusisi referensinya harus segudang dan logistik wikipedia di 
internet mungkin masih sangat terbatas. Koran Kompas mulai kemarin menurunkan 
tajuk dalam rangka 17 Agustusan mulai beratnya merajut kesatuan... selamat 
membaca..

--- On Thu, 12/8/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: bls: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
To: [email protected]
Date: Thursday, 12 August, 2010, 9:13 AM







 



  


    
      
      
      Kata pak Uton Rustan : 
“…Jadi sebelum terjadi "perang basah" saudara, mari semua elemen bangsa siap 
perang konsep untuk mengelola negara menjadi lebih efisien dan maju….”. 
 
Aha pak Uton …..betul ”perang basah” sih emang sebaiknya jangan sampai terjadi 
…tapi mau siap perang konsep …nanti kalau lalu ada yg ngatain suka napsu 
mendebat saja yg ditonjolkan …atao ada yg ngatain malah spt kodok eh katak 
dalam tempurung yg bernapsu nyerang orang terus ……lalu gimana dong pak :-))……….

--- On Wed, 8/11/10, Uton Rustan <rustanu...@yahoo. com> wrote:


From: Uton Rustan <rustanu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, August 11, 2010, 3:29 PM


  





Ya dasar negara NKRI adalah Pancasila sehingga dengan itu kebinekaan dapat 
menjadi tunggal ika. Mengapa Dasar Negara Pancasila NKRI tidak pernah terdengar 
lagi dinyanyikan para penentu kebijakan negara ? Apa dasar pandangan para 
penentu kebijakan negara dewasa ini selain "prbolems solving". Bila dasar 
negara tidak ada yg memelihara, maka struktur bangunan negara akan segera 
roboh, sehingga chaos mudah terjadi. Salut pada APRI tidak mau mengambil alih 
kepeminpinan dalam mengelola bangsa, tapi sayang tidak ditemukan peran tsb oleh 
komunitas lainnya. Jadi sebelum terjadi "perang basah" saudara, mari semua 
elemen bangsa siap perang konsep untuk mengelola negara menjadi lebih efisien 
dan maju.

--- On Wed, 11/8/10, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> wrote:


From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, 11 August, 2010, 5:31 PM


  

Saya ingin ikut ngrusuhi nimbrung.

Bukan karena fobia thd federasi yg menjadi permasalahan disini, tetapi lbh 
melihat KENYATAAN yg terjadi di negara ini. Saya kira citasi bu Ida dg sejarah 
pemilihan unitarian perlu digaris bawahi sangat jelas. Problem yg dihadapi 
founding father adalah mencari titik pengaman agar bentuk geografis yang 
demikian mudah terfragmentasi ini jangan menjadi lebih mudah dg peletakan 
kewenangan pangkal di daerah. 

Kalau hanya melihat dr sudut pandang fiskal semata, memang tdk ada masalah 
antara federasi maupun unitarian. Dan karena itulah banyak doktor ekonom dan 
doktor sospol yg basisnya dr sisi ekonomi akan menyarankan federasi. Karena 
mereka yakin tdk ada masalah dg federasi tsb di Indonesia. 

Tapi marilah kita lihat bhw Indonesia adalah satu2nya negara di dunia yg 
merupakan rentangan negara kepulauan. Bahkan negara kepulauan yg lbh kecil spt 
Jepang tdk menggunakan federasi sbg konsep pembentukan
 negaranya. Federasi menjadi pilihan terbesar bagi negara daratan, atau 
continental yg lbh mudah dalam penciptaan penyatuannya. 

Krn itulah kewenangan pangkal harus tetap ada di pusat. Ini secara otomatis 
akan menjaga munculnya pemisahan yg bisa terjadi pd sebagian daerah bila mereka 
merasa mempunyai kewenangan pangkal tsb. 

Problem yg terjadi justru pada penyiapan pusat yg kuat namun dg penyerahan 
kewenangan maksimal ke daerah. Krn dg posisi unitarian spt inipun bentuk 
kekuasaan dalam kekuasaan sdh terjadi. Contohnya blokade pemindahan pejabat/PNS 
antar wilayah. Atau lbh jauhnya fenomena 'putra daerah'. Apa yg akan terjadi 
bila kewenangan pangkalnya ada di daerah.

Saya tdk bisa membayangkan Jatim menggunakan konsep pemerintahan federasi dg 
pola spt California. Sementara, Bali dg pola Michigan. Wuih akan terjadi 
keributan besar disana.

Salam hormat

Bsp.... Yg baru belajar pemerintahan

Ps. Bahkan saya sebenarnya
 sangat tdk setuju dg amandemen UUD45 yg terjadi selama ini, krn menurut saya 
itu hasil olah pikir ahli2 yg baru pulang dr dunia barat namun tdk memahami 
suasana batiniah dan kondisi riil bangsa ini. Hasil akhirnya adalah kekisruhan 
yg terjadi. Teoritis ok tapi kenyataan tidak. Terlalu banyak intangible factors 
yg tdk dikuasai oleh para ahli tsb..... Maaf terlalu sarkastik.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "Harya Setyaka" <harya.setyaka@ gmail.com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Wed, 11 Aug 2010 16:40:09 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  


Federasi tidak identik dengan perang saudara (civil war).. Dan perang saudara 
tidak identik dengan federasi.. Banyak contoh federasi tanpa perang saudara..
Dan, yang non-federasi pun juga tidak steril dari konflik bersenjata yg menelan 
korban jiwa.. Namanya saja yg beda.. Separatis lah, pemberontakan lah, dlsb..

Saya juga tidak setuju dengan pendapat bahwa kedaulatan lebih terjaga dengan 
non-federasi. . Lah kalao faktanya ada separatisme dlsb itu, apa itu arti 
berdaulat .. 

Salam,
-K- 



Pedal Powered BikeBerry



From: Uton Rustan <rustanu...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Wed, 11 Aug 2010 11:33:48 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  





Ya disertasi yg diterima baik secara akademik, agak langka untuk dibaca apa 
lagi dipakai oleh para politisi penguasa negara kita dewasa ini dalam 
memutuskan kebijakan. Banyak yg memanfaatkan atas nama multi kepentingan yang 
menjadikan biaya negara harus menanggung kesalahan dan ketidak efektifan 
mengelolanya. Federasi di Amerika harus mengorbankan perang saudara, apa kita 
tidak mampu belajar dari sejarah, dan harus mengulangnya agar terasa "indahnya 
hasil perang saudara". Mungkin peperangan antara akademisi dan politisi bisa 
menjadi penggantinya ? Barangkali mungkin...saya akan berfihak ke laskarnya 
George Whasington saja...     

--- On Tue, 10/8/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, 10 August, 2010, 4:48 PM


  


Thanks for the insight.

Please clarify; maksudnya UUD'45 hasil amandemen ke-3 tahun 2002 kan yang akan 
diterbitkan notulensinya ? (Yg mana terdapat pasal2 mengenai OtDa)
Atau notulensi dari jaman BPUPKI bentukan Jepang dulu itu ?

Salam,
-K-



Pedal Powered BikeBerry



From: "ida gumelar" <i_gume...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 10 Aug 2010 15:28:31 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  

Kebetulan sewaktu bikin disertasi saya terpaksa mempelajari masalah unitary dan 
federasi krn itu dasar untuk mempelajari masalah fiskal relations.

Secara teoritis dan juga pengalaman dr banyak negara, desentralisasi ada yg 
sifatnya asymetrical. Artinya kewenangan yg diberikan ke masing2 daerah tdk hrs 
sama. Ada daerah yg punya kewenangan yg lebih dr yang lainnya. Ini umumnya 
terjadi krn faktor sejarah. Contohnya NAD. Jadi boleh aja jika ada prov 
tertentu diberi kewenangan yg agak khusus.

Kalau kita pelajari perdebatan seputar penyusunan UUD45 (notulennya diterbitkan 
Setneg), para pendiri Indonesia sangat sadar bahwa Indonesia heterogen dan 
bentuk negara yg cocok adalah federasi. Namun, mengingat sulitnya pemerintah 
pusat menegakkan kedaulatannya atas wilayah yg luas dg kondisi transportasi dan 
komunikasi yg terbatas maka komprominya adalah unitary dg otonomi daerah (psl 
18). 
Ketika RIS dibentuk, keinginan untuk kembali ke NKRI
 bukan krn federasi dianggap tdk cocok namun krn tdk ingin Indonesia dianggap 
ngr bentukan Belanda. 
Fakta ini jarang diungkapkan shg banyak diantara kita yg menganggap federasi 
sangat menakutkan. Padahal banyak bukti yg menunjukkan bahwa pemerataan 
pembangun justru terjadi di negara yg berbentuk federasi.melalui fiscal 
federalism maka kesenjangan dpt dikurangi.

Kalau kita pelajari sistem adm di federasi dan unitary, sekarang ini justru 
hampir nggak ada bedanya. Cara membagi kekuasaannya mirip. Yg berbeda hanya 
prosesnya. Di negara kesatuan, ada desentralisasi. Kewenangan diberi oleh pusat 
dan dpt ditarik lagi. Di federasi kewenangan sudah di bagi di dlm UUD shg sulit 
untuk ditarik ke pusat. 

Ini beberapa info untuk menambah diskusi selanjutnya. He he he

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: Uton Rustan <rustanu...@yahoo. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 10 Aug 2010 22:56:13 +0800 (SGT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  





UU 45 jelas menetapkan NKRI dan sejarah bangsa kita sejak Proklamasi adalah RI, 
RIS dan NKRI perlu difahami lagi. UU otonomi daerah pasti menabukan adanya ide 
federalism yg akan merusak cita2 penandatangan proklamasi. Apakah ada ketabuan 
dalam era reformasi ?? Apakah dampak yg kita rasakan dg adanya Reformasi ?? 
Beratkah Pusat menanggung beban NKRI ?? Mampukah Negara Serikat memenuhi 
"kebutuhan" daerah dalam meningkatkan diri ? Bagaimana kalau ibukota negara 
dipindah dari Jakarta dg adanya paradigma NKRI vs federalisasi ?

--- On Tue, 10/8/10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, 10 August, 2010, 1:42 PM


  






Dear all.
 
Berdasarkan pola fiskal, otonomi khusus yang ada sekarang, seperti otonomi 
khusus di Papua dan NAD, bukanlah lebih otonom daripada daerah otonom (yang 
bukan khusus) lainnya. Otonomi Khusus di kedua daerah tersebut justru malah 
kurang otonom terlebih mereka memperoleh Dana Otonomi Khusus  sebesar 2% dari 
total DAU  (Dana Alokasi Umum) dan selalu mendapat DAK (Dana Alokasi Khusus). 
Jadi otonomi khusus tidak bisa dikaitkan dengan federalisasi  karena 
kenyataannya daerah otonomi khusus justru belum otonom benar-benar dan masih 
sangat tergantung pada Pemerintah Pusat.
 
Berbeda dengan Bali. Bali menginginkan Otonomi Khusus juga. Tapi motivasinya 
bukan memperoleh Dana Otonomi Khusus, tetapi ingin lebih merdeka di bidang 
budaya, lebih bisa mengembangkan pariwisatanya, dan tidak terikat dengan UU 
Pornografi.
 
Demikian sekedar share saja.
 
Thanks. CU. BTS.
 


--- Pada Sel, 10/8/10, rumpiusa2004@ yahoo.com <rumpiusa2004@ yahoo.com> 
menulis:


Dari: rumpiusa2004@ yahoo.com <rumpiusa2004@ yahoo.com>
Judul: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 10 Agustus, 2010, 11:56 AM


  

Angka lima itu buat bangsa kita mengandung makna persatuan, kerelaan, dan 
sekaligus kekuatan. Nah, itu baru mulai ngarang.. He..he.. Silahkan tambah 
sendiri, pake teori juga bolehlah.. Salam 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Tue, 10 Aug 2010 18:10:46 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  

Lima ...????? 
Sungguh pernyataan yang membingungkan. .. 


Indonesia memiliki 33 provinsi dan 17.500 an daratan pulau dan 2/3 nya lautan, 
dengan 623 suku bangsa yang dua pertiganya tinggal di bagian Timur negara 
kepulauan ini....... mengapa bisa menjadi lima...? Apakah dominasi yang kuat 
terhadap yang lemah akan dilegalisasi ?


atau...
Maaf ...mungkin negara lain yang sedang dibicarakan. ..?
Bila demikian saya mohon maaf atas keikutan untuk "nimbrung" ini....


Salam,
ATA





2010/8/10 Rempu Rayat <rumpiusa2004@ yahoo.com>


  




Walaupun kesannya rada primitif, kalo sang presiden punya wakil lima orang yang 
"cantik" nya beda-beda kan bisa memberi "semangat" mimpin negara yang "rumit" 
ini... he..he..(soalnya artis-arti sedang gandrung mau jadi pemimpin)... 

 Rempu S. Rayat
Co-TL MTAS to USDRP
Jakarta Indonesia 






From: ida gumelar <i_gume...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Tue, August 10, 2010 9:53:51 AM 

Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  

Ha ha ha, walaupun jadi federasi pres dan wapres tetap satu. 

Yg membedakan adalah cara membagi urusan dan diskresi dlm melaksanakan urusan 
yg menjadi urusan negara bagian.



Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> 
Sender: refere...@yahoogrou ps.com 

Date: Mon, 9 Aug 2010 19:30:55 -0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo: refere...@yahoogrou ps.com 

Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY

  




apa hubungannya federalisasi dengan Wapres jamak ? 



-K-







2010/8/9 Rempu Rayat <rumpiusa2004@ yahoo.com>


  





Rekan milis yth,
Mana tau diantara kita ada yang nanti ikut bahas perundang-undangan 
federalisasi, nitip aspirasi kalo bisa, wapres ada 5, masing-masing dari untuk 
dan oleh warga wilayah setempat, yaitu sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi, 
maluku dan papua. terimakasih sebelumnya. Salam.  

 Rempu S. Rayat









From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
To: refere...@yahoogrou ps.com 

Sent: Tue, August 10, 2010 1:40:49 AM
Subject: Re: [referensi] Fwd: Menyimak instruksi SBY


  



iya.. tanggung ya.. mendingan Federalisasi saja sekalian..
wong sekarang sudah banyak otonomi plus plus.. lama-lama kalau semuanya juga 
minta 'ke-khusus-an' , ya federal aja..
mungkin kalau sistem federasi, administrasi pembangunan bisa lebih efisien..

-K-





2010/8/5 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>


  















      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke