Tindakan yg bagus banget bang IAN. Sukses untuk bang IAN dan investor yg punya 
keprihatinan dgn kondisi market saat ini. 

Salam hangat
Dharta Hakim
Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "Irwan Ariston Napitupulu" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 11 Oct 2008 18:10:59 
To: <[email protected]>
Subject: [saham] SP: Pembukaan BEI Bergantung Kondisi AS


http://www.suarapembaruan.com/News/2008/10/11/Ekonomi/eko01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------
Pembukaan BEI Bergantung Kondisi AS

 [JAKARTA] Keputusan untuk menutup atau membuka Bursa Efek Indonesia (BEI)
bursa berada di tangan Menteri Koordinator Perekonomian, Sri Mulyani
Indrawati, yang juga Menteri Keuangan.

Namun, dia belum bisa mematikan kapan BEI akan dibuka kembali. Sebab,
tantangan dan dinamikanya masih terus berkembang, Menkeu menegaskan, akan
terus melakukan observasi untuk menentukan sikap.

"Jadi, kalau ada yang tanya, bursa akan dibuka Senin besok atau tidak, saya
tidak tahu. Saya bukan ahli nujum. Semua bergantung pada situasi di AS.
Situasi ini secara psikologis cukup berat, demikian juga dampaknya," kata
Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (10/10).

Kini pemerintah terus mengamati pasar bursa. "Bahkan jam demi jam, tidak
minggu perminggu lagi. Lokasi dan waktunya juga dilihat. Dalam situasi tidak
normal seperti sekarang, pemerintah akan meng-*guide market* untuk lebih
rasional. Termasuk *buyback*, akan dievaluasi. Saran beberapa pihak untuk
melepas ke *market mechanism *adalah tindakan yang tidak *responsible*,"
ujarnya.

Menkeu menegaskan, langkah-langkah dan pembentukan Satgas Sektor Keuangan
bukanlah pertanda pemerintah tengah panik. Namun, itu hanyalah sebagai tanda
bahwa pemerintah waspada dan secara rasional akan melakukan *assesment *dari
dampak situasi global.

 *Sudah Tepat*

Sementara itu, investor di BEI, Irwan Ariston Napitupulu mengatakan,
penutupan bursa selama tiga hari ini sudah tepat. Bahkan kalau perlu,
ditambah lagi sampai situasi sudah kondusif. Pemerintah pun juga sudah
menyiapkan langkah-langkah strategis agar ketika nanti bursa dibuka kembali,
situasi bisa terkendali.

Pemerintah, melalui Bank Indonesia pun sudah siap menghadapi kemungkinan
aksi penukaran rupiah ke dolar AS akibat penarikan investasi di saham, baik
oleh investor asing maupun investor lokal.

"Sebagai pelaku pasar, saya tidak merasa dirugikan selama semua itu demi
kepentingan nasional yang lebih luas. *Toh* pada akhirnya, semuanya demi
kepentingan dan kebaikan investor saham itu sendiri baik untuk jangka pendek
terlebih lagi untuk jangka panjang," kata Irwan, pemilik *mailing
list*saham wadah bertukar pikirannya para investor dan
*trader* BEI kepada *SP*, di Jakarta, Jumat (10/10).

Dia mengharapkan, pemerintah harus benar- benar yakin dan siap bila nantinya
akan membuka kembali bursa saham.

"Jangan karena ada desakan dari pihak luar atau pihak mana pun, lalu jadi
terburu-buru membuka kembali bursa, sementara belum secara kondisi belum
siap, akhirnya malah jadi bumerang dan malah mengakibatkan dampak buruk yang
lebih hebat," katanya.

Ditambahkan, ekonomi suatu negara yang kuat sebenarnya harus ditopang oleh
sektor riil yang kuat. Sektor riil harus lebih maju dari sektor finansial.
Hal ini mengingat sektor finansial sangat didasari oleh faktor kepercayaan.

Selama ini, menurut dia, sektor finansial di Indonesia jauh lebih berkembang
dibandingkan sektor riil. Bahkan dua tahun belakangan ini, orang jadi
berlomba-lomban terjun ke bursa efek ketimbang berlomba-lomba mengembangkan
sektor riil, karena ada iming-iming untung besar dan cepat di bursa saham.

Ekonomi suatu negara yang lebih bergantung pada sektor finansial ketimbang
di sektor rill, lanjut Irwan, sangat rawan terjadi guncangan karena sektor
finansial ini sangat bergantung kepada kepercayaan. "Sekali kepercayaan itu
hilang atau menurun, akan terjadi guncangan perekonomian yang hebat,"
katanya.

Sudah saatnya kini pemerintah belajar dari krisis finansial yang terjadi
belakangan ini, dengan mulai memfokuskan pembangunan di sektor riil dengan
memperhatikan sektor pertanian, peternakan, perkebunan, maupun perikanan.

"Saya berharap, dalam menghadapi krisis yang terjadi saat ini, semua elemen
masyarakat bersatu, saling bekerja sama dengan meninggalkan kepentingan
pribadi, kepentingan kelompok, ataupun kepentingan partai. 'Rumah' ini
adalah rumah kita, negara ini adalah negara kita. Rusaknya rumah ini,
rusaknya negara kita ini dalam menghadapi krisis yang terjadi akan berdampak
langsung kepada kehidupan kita juga," tutur Irwan. [D-10/M-6]

Kirim email ke