Bang IAN, petinggi2 bank sentral kita masih belum peka terhadap perkembangan pasar, sehingga hanya berkutat pada pola pendapat bahwa untuk mempertahankan rupiah agar tetap menarik investor hanya dengan suku bunga yang tinggi. Buktinya rupiah tetap melemah, bahkan sebaliknya baru diturunkan 25 bps saja sdh kelihatan hasilnya. Maka itu diimbau kepada para petinggi BI untuk melihat dunia luar, bagaimana negara2 lain memacu pertumbuhannya, jangan terlalu bertahan pada teori ekonomi yang terkadang unapplicable dalam suasana dan kondisi tertentu seperti dewasa ini, salam.
--- On Thu, 12/4/08, Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [saham] BI Rate turun 25 basis poiin, Rupiah langsung menguat To: [email protected] Date: Thursday, December 4, 2008, 2:26 AM Sampai berbusa saya berkali2 menyarankan BI Rate segera diturunkan kalau mau melihat rupiah pulih, akhirnya hari ini BI menurunkan BI rate nya walau hanya 25 basis poin menjadi 9.25%. Terbukti rupiah langsung menguat dan sekarang saya lihat running di CNBC berada di 11775. Kalau mau makin cepat menguatnya, cepat2lah turunkan BI rate yg sudah terlalu tinggi tersebut. Rupiah perlu segera kembali di kisaran 9000 dan BI rate ke 8% dalam 2 bulan ini agar tidak mencoreng kinerja ekonomi SBY-JK. BI tak perlu ragu untuk terus memangkas tingkat bunganya. Jangan dengerin saran IMF untuk menaikkan rate ke 10.5%. Saran itu hanya akan membawa ekonomi Indonesia makin terpuruk dan bisa saja rupiah ke 15000. Menurut saya BI rate masih harus diturunkan lagi secara agresif dengan target di 3% dari 9.25% sekarang dalam kurun waktu 12 bulan mendatang. Sektor riil harus dipacu perkembangannya, jangan malah dikebiri dengan cara kebijakan suku bunga tinggi. Ekonomi Indonesia harus bisa bertopang pada sektor riil, bukan sektor finansial seperti selama ini. Selain itu, SBI tidak perlu lagilah itu dibuat. Hanya ngabis2in duit rakyat saja di BI. Apalagi kalau yg beli SBI itu dana asing. BI jadi kasih makan tuh duit asing yg nganggur. Dananya tidak bisa dipakai BI, tapi BI kasih bunga ke pemodal asing. Apa BI sudah begitu kayanya sampai kasih2 duit ke pemodal asing yg taruh dana di BI? Puluhan triliun habis dikeluarkan BI untuk kasih bayar bunga SBI, padahal puluhan triliunan itu bisa digunakan untuk memajukan sektor riil, menyerap tenaga banyak tenaga kerja di daerah2. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
