BEI telah merilis lapkeu kuartal 3 JPRS (
http://www.idx.co.id/eReport/IssuerAnnouncement/tabid/289/lang/en-US/language/en-US/Default.aspx).
Jika Anda sering menyimak siaran-siaran televisi yang dijadikan acuan dalam
perdagangan finansial maka Anda akan paham bagaimana trading/investing on
earnings. Anda bisa simak ulasan tiap malamnya di Bloomberg bagaimana
analisis cepat dilakukan terhadap rilis lapkeu. Kuncinya ada pada
"penjualan" (revenues), dan "earnings per share". Kriterianya adalah "buy"
atau "maintain hold" jika di atas ekspektasi ("beat estimates"), dan "sell"
jika di bawah estimasi. Karena JPRS bukan saham primadona maka tidak ada
yang merasa perlu membuat estimasi, namun reaksi bisa diantisipasi dari
seberapa positif kenaikan revenue dan eps q-on-q atau "kuartal dengan
kuartal". INGAT, bukan asal kuartal, tapi q-on-q.

Bagi yang paham seluk beluk pasar maka paham juga upaya untuk me-"mislead"
atau "menyesatkan" kesan laporan keuangan. Datanya sama, tapi penekanannya
beda, jangan "get misled". Teknik-teknik ini misalnya dengan menekankan data
"semester 1" atau "semester 2" atau YTD atau awal tahun sampai kuartal
terakhir. Teknik penekanan seperti ini bisa "misleading" dan tidak fair
dalam analisis mengingat kuartal-kuartal sebelumnya sudah dilaporkan. Dampak
tiap pelaporan sudah priced in atau factored in dalam harga. Tidak ada
relevansi menyertakan data kuartal-kuartal sebelumnya. Anda ingin tahu
refleksi kuartal yang sedang dianalisis. Lain jika Anda memproyeksikan
estimasi revenues/earnings untuk full year pada satu atau dua tahun depan.
Jika itu yang dilakukan, maka secara fundamental Anda sedang memproyeksikan
valuasi di masa datang.

Singkatnya, berikut data q-on-q 3:

Penjualan/Revenues
Q3-2009= Rp121.639.213.660
Q3-2010=Rp 71.287.459.550
persentase= -41.4%

EPS/Earnings
Q3-2009=(-)Rp29 (minus 29 rupiah)
Q3-2010=Rp2
persentase= pasti positif, tapi angka tidak bisa ditentukan. (Yang paham
matematika dasar mengerti jika denumerator negatif menghasilkan bilangan
yang tidak reliable. Dalam hal ini karena numerator (penyebut)-nya angka
positif, kita catat positif saja).

Kesimpulan: EPS positif, penjualan turun. Jika Anda investor, yang terlintas
di pikiran Anda:
1. Apa yang menyebabkan EPS naik? Jawabnya sudah pasti sesuatu yang tidak
dihasilkan dari penjualan emiten yang justru core business-nya. Mungkin
banyak extraordinary items/one time gain, seperti selisih kurs, dll atau
terjadi penghematan yang luar biasa (cost reduction). Jika ini yang terjadi,
INGAT Anda membeli "core business" perusahaan bukan usaha sampingan yang
tidak sustainable, dan ANDA ingin melihat ekspansi usaha emiten bukan justru
reduksi usaha;
2. Bagaimana emiten bisa menjaga eps yang positif di kuartal-kuartal
berikutnya jika penjualannya negatif q-on-q? Jawabnya, Anda tunggu kuartal
berikutnya.
Implikasi: Jika Anda trading/investing on earnings release, seperti Anda
simak di broadcast-broadcast finansial, rekomendasinya adalah sell / lepas,
dan pertimbangkan masuk setelah Anda melihat perkembangan positif pada
kuartal berikutnya. Jika Anda mengklaim sebagai "trader penuh" yang tidak
perduli hal lain kecuali grafik Anda (note: meskipun saya belum pernah tahu
"trader terkemuka dunia" buta atau membutakan diri terhadap aspek
fundamental), Anda juga tahu hal sederhana trading psychology atas
dampak/reaksi rilis/analisis laporan keuangan, dan Anda tahu kapan saat yang
tepat untuk hold atau profit taking atau cut loss.

Bagi yang pusing atau memusingkan diri sendiri dengan mengkontradiksi FA dan
TA, saya share sedikit tagline yang bisa Anda ingat-ingat sepanjang hidup:

"FA is helping you to find what to trade, and TA is helping you to know when
to enter/exit"
(FA membantu Anda untuk tahu saham apa yang layak ditransaksikan, dan TA
membantu anda tahu kapan saat untuk masuk/keluar).

Keduanya bermanfaat bagi trader/investor, dan bermanfaat bagi saya sehingga
saya selalu memegang kitab suci trading/investing, di tangan kiri:
"Technical Analysis of Stock Trends" by Robert D. Edward dan John Magee; dan
"Technical Analysis Explained" by Martin J. Pring (kedua buku merupakan
materi wajib kurikulum MTA-Market Technician di AS)
sementara di tangan kanan:
"Security Analysis" dan "Intelligent Investor" by Benjamin Graham.

Pada akhirnya, semua keputusan adalah urusan Anda sendiri. Saya sangat
respek dengan dinamika dan pertukaran pandangan bahkan sampai titik ekstrem
pertentangan karena itu semua membangun kematangan kita. Dan,
traders/investors butuh kematangan dalam ketenangan bertransaksi, either you
are a fully devoted FA-er or a blindfolded TA-er. Tapi, akan lebih berbobot
jika pertukaran informasi didasarkan kepada referensi-referensi yang dapat
dipertanggungjawabkan dan bukan hanya ingin berkata...kalau itu keluarnya
bukan pendapat saya tapi 'firman saya"...urusan yang di atas.

Take your time,
"+"

Kirim email ke