Ayo mana Mr positif.

keep posting yah.

infonya tetap di tunggu.


2011/1/10 phet_noy <[email protected]>

>
>
>
> --- In [email protected] <saham%40yahoogroups.com>, positif01
> <positi...@...> wrote:
> >
> > Jika tahun 2011 adalah waktu yang tersisa dalam hidup Anda ('lifetime'),
> > maka Jumat lalu dan beberapa hari ke depan adalah waktu terbaik Anda
> untuk
> > masuk dalam saham-saham pilihan untuk mengarungi prospek investasi 2011,
> now
> > is your best chance in your lifetime as these days may not come back for
> the
> > rest of the year.
> >
> > Jumat lalu, investors/traders Indonesia 'dikagetkan' dengan reaksi pasar
> > yang begitu 'bearish' terhadap 'pull-back' di awal tahun. Bayangkan hanya
> > dalam 1 hari, IHSG sempat jatuh hingga 3,6% dan dana asing yang keluar
> ('net
> > ouflows') lebih dari Rp1,5 triliun merupakan 'outflows' yang terbesar
> sejak
> > Juli 2008.
> >
> > Panik? Ya, jika Anda hanya berkutat pada hari Jumat itu saja dengan
> > mengabaikan ('dismiss') sejumlah fakta dan data, baik ke belakang
> (historis)
> > maupun proyeksi ke depan. Jika, cukup komprehensif membaca situasi,
> menurut
> > saya, saat ini justru adalah saat terbaik untuk mengarungi prospek 2011.
> > Tentu, Anda tidak dapat selalu berharap saham dan indeks akan terus naik
> > tanpa pernah turun. "What goes up must come down!", begitu yang terjadi
> > Jumat lalu sebagai 'pull-back'. Seperti laksana argo taksi, maka 'start'
> > yang positif di awal tahun 2011 lalu ibarat di-reset ulang ke titik 0.
> Itu
> > sama halnya dengan kesempatan kedua yang diberikan pasar kepada Anda
> untuk
> > dapat lari lebih baik di waktu tersisa. Mengapa saat yang terbaik untuk
> > mengawali investasi 2011?
> >
> > 1) Mayoritas indeks utama global/regional Jumat lalu mengalami
> 'pull-back',
> > tidak terkecuali NYSE/Nasdaq, FTSE hingga Asia Tenggara. Namun demikian,
> > perkembangan semua indeks kunci mengawali tahun 2011 ini bersepakat satu
> > kata: memulai Naik, termasuk IHSG. Bahkan beberapa indeks acuan global
> > seperti S&P 500 masih naik 1,1% pada 5 hari pertama perdagangan di 2011,
> > sekaligus merupakan kenaikan terbesar mingguan dalam 4 minggu terakhir.
> > Secara keseluruhan saham-saham AS naik selama 6 minggu berturut-turut dan
> > merupakan rangkaian kenaikan berturut terlama sejak April 2010. Mengenai
> > perkembangan indeks di Asia Tenggara, Reuters melaporkan Jumat lalu
> setelah
> > penutupan perdagangan yang dramatis bahwa, "However, stocks in the region
> > had a strong start in the first trading week of the year thanks to hopes
> of
> > good earnings growth at listed firms and of strong economic growth in
> Asia."
> >
> > 2) Laju saham AS tetap positif tetapi dalam tempo melambat. Adalah
> > kepentingan 'emerging markets', untuk melihat saham-saham AS tetap melaju
> > agar tidak menghambat 'global economy recovery', tetapi juga tidak melaju
> > sedemikian kencang yang akan mendorong dana-dana murah ('hot money')
> hasil
> > 'quantitative easing' kembali dari 'emerging markets' ke 'home countries'
> > AS/Eropa. Dan, berterima kasih kepada rilis data tenaga kerja AS Jumat
> lalu
> > yang masih menunjukkan hasil yang 'mixed'. Meski 'unemployment rate'
> turun
> > signifikan dari 9,8% menjadi 9,4% yang merupakan terendah sejak May 2009,
> > akan tetapi kenaikan 'non-farm payrolls' atau indikasi jumlah pekerjaan
> baru
> > yang terisi, hanya naik sebanyak 103.000 atau jauh di bawah ekspektasi
> > 150.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa terlepas dari membaiknya mayoritas
> > indikator ekonomi AS, khususnya yang menggambarkan progress/prospek di
> pasar
> > keuangan, realitas riil di masyarakat, perbaikan ekonomi masih berjalan
> > tertatih-tatih. Ben Bernanke, Gubernur Federal Reserve, menguatkan
> > sinyalemen kemajuan dalam tempo yang lambat ini dengan menyatakan Jumat
> > lalu, "it could take four to five more years for the job market to
> normalize
> > fully". Sinyalemen ini memberikan kesempatan bagi sejumlah 'emerging
> > markets', seperti Indonesia untuk 'buying time' membenahi fasilitas
> > infrastruktur yang dapat menopang laju foreign direct investment,
> sekaligus
> > mengejar status 'investment grade'-nya pada tahun ini dengan menjaga
> > stabilitas fiskal dan moneter sebaik mungkin. Data yang 'mixed' dari AS
> ini
> > akan kembali menjadikan dana-dana asing harus berpikir 10 kali sebelum
> > benar-benar memutuskan untuk keluar dari 'emerging markets'.
> >
> > 3) Antisipasi Inflasi di Indonesia. Inflasi telah menjadi isu sentral di
> > awal 2011. Dengan inflasi tahunan pada Desember lalu yang di atas
> estimasi
> > BI dan serangkaian kenaikan komoditas, turut menambah kekhawatiran
> sejumlah
> > pelaku pasar. Terlebih, BI memilih untuk menaikkan GWM ketimbang suku
> bunga,
> > sehingga persepsi pelaku pasar cenderung untuk men-downgrade prospek
> nilai
> > investasi di Indonesia yang tergerus dengan kenaikan inflasi. Namun
> > demikian, kekhawatiran ini, sudah coba dijawab oleh Pemerintah Indonesia
> > dengan serangkaian tindakan konkret, khususnya terkait pengendalian harga
> > pangan yang telah menjadi sumber kenaikan inflasi. Pada akhir pekan lalu,
> > setidaknya ada 2 sinyalemen tindakan penting yang perlu dicatat oleh
> pelaku
> > pasar:
> > a) Pemerintah Indonesia akan memangkas bea impor pangan (
> > http://www.reuters.com/article/idUSJKB00420220110107);
> > b) selain langkah langsung pemadaman harga pangan, Pemerintah melalui BPS
> > juga akan 'membenahi' perhitungan angka inflasi khususnya bobot pada
> > komponen pangan yang volatil (
> >
> http://economy.okezone.com/read/2011/01/07/20/411535/bps-didesak-keluarkan-cabai-dari-perhitungan-inflasi
> ).
> > Meski BPS mengkonfirmasi cabai tetap dalam komponen perhitungan inflasi,
> > tetapi bobot komponen volatil seperti pangan (cabai dan lainnya) akan
> > ditinjau ulang (
> >
> http://bisnis.vivanews.com/news/read/198106-bps--harga-cabai-tetap-dihitung-di-inflasi
> ).
> > Penyesuaian ini bukan sesuatu yang aneh, Pemerintah AS sekalipun
> baru-baru
> > ini dan tetap akan menyesuaikan perhitungan 'unemployment rate', dan itu
> > menjelaskan mengapa 'rate' rilis Jumat lalu bisa turun hingga 9,4%.
> > Pemerintah AS juga mengabaikan komponen volatil inflasi yang disumbang
> oleh
> > pangan dan bahan bakar, dengan hanya fokus kepada inflasi inti ('core
> > inflation'). Dan terkait inflasi inti ini BI telah menegaskan proyeksinya
> > selama 2011:
> >
> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-07/indonesia-says-2011-core-inflation-may-not-exceed-5-update1-.html
> > .
> >
> > 4) Rilis laba AS segera mulai. Pekan ini, Alcoa, sebagai emiten dengan
> > tradisi pengumuman laba kuartalan paling awal, akan merilis laporan
> > keuangannya, dan ekspektasi pasar positif. Ini akan menjadi gong
> akselarasi
> > kenaikan indeks, dan mempengaruhi 'tone' bursa saham global (
> > http://www.reuters.com/article/idUSTRE7065U720110109).
> >
> > 5) Jika Anda mengkhawatirkan 'outlows' asing Jumat lalu yang terbesar
> sejak
> > Juli 2008 atau sebelum krisis finansial global, sekarang perhatikan chart
> > IHSG setelah Juli 2008. Anda akan menemukan bahwa indeks tidak jatuh
> > seketika, kecuali setelah kejatuhan indeks AS karena pengumuman
> kepailitan
> > Lehman Brothers. Dan, jangan lupa satu hal, bahwa sebelum Juli, yang
> > merupakan indikasi akan terjadinya krisis finansial global, sudah dimulai
> > dengan kolapsnya institusi keuangan klasik Bear Sterns pada Maret 2008,
> dan
> > disusul dengan institusi 'mortgage' Freedie Mac. Pertanyaan kritis yang
> > diajukan kepada para pelaku pasar yang bimbang saat ini, ada kejadian
> > fundamental luar biasa apa yang sudah terjadi sehingga bisa
> menjustifikasi
> > krisis sebagaimana 2008?...Jawabnya, tidak ada, kecuali harga komoditas
> > naik. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut masih belum cukup alasan,
> dan
> > oleh karena itu 'pull-back' yang terjadi tidak lebih dari penyesuaian
> > temporer yang menyediakan kesempatan beli/investasi yang terbaik.
> >
> > Terakhir, coba lihat sejarah ke belakang. Perhatikan waktu-waktu di mana
> > IHSG memasuki 'intermediate/long-term bearish cycle'-nya, apakah
> 'bearish'
> > terjadi pada saat BI rate ada pada satu digit, misalnya seperti 6,5% saat
> > ini? Jawabnya, jelas tidak, sejarah menunjukkan setiap krisis, posisi BI
> > rate ada pada 2 digit. Kondisi yang sama, juga menjawab kekhawatiran
> 'double
> > dip' pada bursa saham AS sepanjang awal 2010 lalu. Bagaimana bisa krisis
> > kembali saat Fed discount rate ada pada level terendah mendekati 0%?
> Sampai
> > di sini, kesimpulan dari salah satu analis Indonesia sebagaimana dikutip
> > oleh Reuters, cukup tepat.
> >
> > Despite the bearish session, brokers in the region remained generally
> > optimistic. "There's no negative news in the market and I think it's
> purely
> > a healthy correction because investors realised profits," said
> Jakarta-based
> > John Teja, director at broker Ciptadana Securities.
> >
> > Namun demikian, jangan sampai salah pilih subsektor dan saham untuk
> prospek
> > investasi 2011. Untuk jangka pendek, 'big caps' dan komoditas masih akan
> > mengalami tekanan.
> >
> > '+'
> >
>
>  
>

Kirim email ke