akhirnya yg memberi rekomendasi yg cutlosss sampe berdarah2 gitu hehehehe .....

regards,

budy darmawan,s.h.

--- Pada Sen, 10/1/11, positif01 <[email protected]> menulis:

Dari: positif01 <[email protected]>
Judul: [saham] Saham Indonesia: Best time to BUY in the start of Year 2011
Kepada: 
Tanggal: Senin, 10 Januari, 2011, 2:23 AM















 
 



  


    
      
      
      Jika tahun 2011 adalah waktu yang tersisa dalam hidup Anda ('lifetime'), 
maka Jumat lalu dan beberapa hari ke depan adalah waktu terbaik Anda untuk 
masuk dalam saham-saham pilihan untuk mengarungi prospek investasi 2011, now is 
your best chance in your lifetime as these days may not come back for the rest 
of the year.

Jumat lalu, investors/traders Indonesia 'dikagetkan' dengan reaksi pasar yang 
begitu 'bearish' terhadap 'pull-back' di awal tahun. Bayangkan hanya dalam 1 
hari, IHSG sempat jatuh hingga 3,6% dan dana asing yang keluar ('net ouflows') 
lebih dari Rp1,5 triliun merupakan 'outflows' yang terbesar sejak Juli 2008.

Panik? Ya, jika Anda hanya berkutat pada hari Jumat itu saja dengan mengabaikan 
('dismiss') sejumlah fakta dan data, baik ke belakang (historis) maupun 
proyeksi ke depan. Jika, cukup komprehensif membaca situasi, menurut saya, saat 
ini justru adalah saat terbaik untuk mengarungi prospek 2011. Tentu, Anda tidak 
dapat selalu berharap saham dan indeks akan terus naik tanpa pernah turun. 
"What goes up must come down!", begitu yang terjadi Jumat lalu sebagai 
'pull-back'. Seperti laksana argo taksi, maka 'start' yang positif di awal 
tahun 2011 lalu ibarat di-reset ulang ke titik 0. Itu sama halnya dengan 
kesempatan kedua yang diberikan pasar kepada Anda untuk dapat lari lebih baik 
di waktu tersisa. Mengapa saat yang terbaik untuk mengawali investasi 2011?

1) Mayoritas indeks utama global/regional Jumat lalu mengalami 'pull-back', 
tidak terkecuali NYSE/Nasdaq, FTSE hingga Asia Tenggara. Namun demikian, 
perkembangan semua indeks kunci mengawali tahun 2011 ini bersepakat satu kata: 
memulai Naik, termasuk IHSG. Bahkan beberapa indeks acuan global seperti S&P 
500 masih naik 1,1% pada 5 hari pertama perdagangan di 2011, sekaligus 
merupakan kenaikan terbesar mingguan dalam 4 minggu terakhir. Secara 
keseluruhan saham-saham AS naik selama 6 minggu berturut-turut dan merupakan 
rangkaian kenaikan berturut terlama sejak April 2010. Mengenai perkembangan 
indeks di Asia Tenggara, Reuters melaporkan Jumat lalu setelah penutupan 
perdagangan yang dramatis bahwa, "However, stocks in the region had a strong 
start in the
first trading week of the year thanks to hopes of good earnings
growth at listed firms and of strong economic growth in Asia."
2) Laju saham AS tetap positif tetapi dalam tempo melambat. Adalah kepentingan 
'emerging markets', untuk melihat saham-saham AS tetap melaju agar tidak 
menghambat 'global economy recovery', tetapi juga tidak melaju sedemikian 
kencang yang akan mendorong dana-dana murah ('hot money') hasil 'quantitative 
easing' kembali dari 'emerging markets' ke 'home countries' AS/Eropa. Dan, 
berterima kasih kepada rilis data tenaga kerja AS Jumat lalu yang masih 
menunjukkan hasil yang 'mixed'. Meski 'unemployment rate' turun signifikan dari 
9,8% menjadi 9,4% yang merupakan terendah sejak May 2009, akan tetapi kenaikan 
'non-farm payrolls' atau indikasi jumlah pekerjaan baru yang terisi, hanya naik 
sebanyak 103.000 atau jauh di bawah ekspektasi 150.000. Kondisi ini menunjukkan 
bahwa terlepas dari membaiknya mayoritas indikator ekonomi AS, khususnya yang 
menggambarkan progress/prospek di pasar keuangan, realitas riil di masyarakat, 
perbaikan ekonomi masih berjalan
 tertatih-tatih. Ben Bernanke, Gubernur Federal Reserve, menguatkan sinyalemen 
kemajuan dalam tempo yang lambat ini dengan menyatakan Jumat lalu, "it could 
take four to five more years for the job market to normalize fully". Sinyalemen 
ini memberikan kesempatan bagi sejumlah 'emerging markets', seperti Indonesia 
untuk 'buying time' membenahi fasilitas infrastruktur yang dapat menopang laju 
foreign direct investment, sekaligus mengejar status 'investment grade'-nya 
pada tahun ini dengan menjaga stabilitas fiskal dan moneter sebaik mungkin. 
Data yang 'mixed' dari AS ini akan kembali menjadikan dana-dana asing harus 
berpikir 10 kali sebelum benar-benar memutuskan untuk keluar dari 'emerging 
markets'.

3) Antisipasi Inflasi di Indonesia. Inflasi telah menjadi isu sentral di awal 
2011. Dengan inflasi tahunan pada Desember lalu yang di atas estimasi BI dan 
serangkaian kenaikan komoditas, turut menambah kekhawatiran sejumlah pelaku 
pasar. Terlebih, BI memilih untuk menaikkan GWM ketimbang suku bunga, sehingga 
persepsi pelaku pasar cenderung untuk men-downgrade prospek nilai investasi di 
Indonesia yang tergerus dengan kenaikan inflasi. Namun demikian, kekhawatiran 
ini, sudah coba dijawab oleh Pemerintah Indonesia dengan serangkaian tindakan 
konkret, khususnya terkait pengendalian harga pangan yang telah menjadi sumber 
kenaikan inflasi. Pada akhir pekan lalu, setidaknya ada 2 sinyalemen tindakan 
penting yang perlu dicatat oleh pelaku pasar:
a) Pemerintah Indonesia akan memangkas bea impor pangan 
(http://www.reuters.com/article/idUSJKB00420220110107);b) selain langkah 
langsung pemadaman harga pangan, Pemerintah melalui BPS juga akan 'membenahi' 
perhitungan angka inflasi khususnya bobot pada komponen pangan yang volatil 
(http://economy.okezone.com/read/2011/01/07/20/411535/bps-didesak-keluarkan-cabai-dari-perhitungan-inflasi).
 Meski BPS mengkonfirmasi cabai tetap dalam komponen perhitungan inflasi, 
tetapi bobot komponen volatil seperti pangan (cabai dan lainnya) akan ditinjau 
ulang 
(http://bisnis.vivanews.com/news/read/198106-bps--harga-cabai-tetap-dihitung-di-inflasi).
 Penyesuaian ini bukan sesuatu yang aneh, Pemerintah AS sekalipun baru-baru ini 
dan tetap akan menyesuaikan perhitungan 'unemployment rate', dan itu 
menjelaskan mengapa 'rate' rilis Jumat lalu bisa turun hingga 9,4%. Pemerintah 
AS juga mengabaikan komponen volatil inflasi yang disumbang oleh pangan dan 
bahan bakar, dengan hanya
 fokus kepada inflasi inti ('core inflation'). Dan terkait inflasi inti ini BI 
telah menegaskan proyeksinya selama 
2011: http://www.bloomberg.com/news/2011-01-07/indonesia-says-2011-core-inflation-may-not-exceed-5-update1-.html.

4) Rilis laba AS segera mulai. Pekan ini, Alcoa, sebagai emiten dengan tradisi 
pengumuman laba kuartalan paling awal, akan merilis laporan keuangannya, dan 
ekspektasi pasar positif. Ini akan menjadi gong akselarasi kenaikan indeks, dan 
mempengaruhi 'tone' bursa saham global 
(http://www.reuters.com/article/idUSTRE7065U720110109).

5) Jika Anda mengkhawatirkan 'outlows' asing Jumat lalu yang terbesar sejak 
Juli 2008 atau sebelum krisis finansial global, sekarang perhatikan chart IHSG 
setelah Juli 2008. Anda akan menemukan bahwa indeks tidak jatuh seketika, 
kecuali setelah kejatuhan indeks AS karena pengumuman kepailitan Lehman 
Brothers. Dan, jangan lupa satu hal, bahwa sebelum Juli, yang merupakan 
indikasi akan terjadinya krisis finansial global, sudah dimulai dengan 
kolapsnya institusi keuangan klasik Bear Sterns pada Maret 2008, dan disusul 
dengan institusi 'mortgage' Freedie Mac. Pertanyaan kritis yang diajukan kepada 
para pelaku pasar yang bimbang saat ini, ada kejadian fundamental luar biasa 
apa yang sudah terjadi sehingga bisa menjustifikasi krisis sebagaimana 
2008?...Jawabnya, tidak ada, kecuali harga komoditas naik. Oleh karena itu, 
kekhawatiran tersebut masih belum cukup alasan, dan oleh karena itu 'pull-back' 
yang terjadi tidak lebih dari penyesuaian temporer yang
 menyediakan kesempatan beli/investasi yang terbaik.

Terakhir, coba lihat sejarah ke belakang. Perhatikan waktu-waktu di mana IHSG 
memasuki 'intermediate/long-term bearish cycle'-nya, apakah 'bearish' terjadi 
pada saat BI rate ada pada satu digit, misalnya seperti 6,5% saat ini? 
Jawabnya, jelas tidak, sejarah menunjukkan setiap krisis, posisi BI rate ada 
pada 2 digit. Kondisi yang sama, juga menjawab kekhawatiran 'double dip' pada 
bursa saham AS sepanjang awal 2010 lalu. Bagaimana bisa krisis kembali saat Fed 
discount rate ada pada level terendah mendekati 0%? Sampai di sini, kesimpulan 
dari salah satu analis Indonesia sebagaimana dikutip oleh Reuters, cukup tepat.

Despite the bearish session, brokers in the region remained generally 
optimistic. "There's no negative news in the market and I think it's purely a 
healthy correction because investors realised profits," said Jakarta-based John 
Teja, director at broker Ciptadana Securities.

Namun demikian, jangan sampai salah pilih subsektor dan saham untuk prospek 
investasi 2011. Untuk jangka pendek, 'big caps' dan komoditas masih akan 
mengalami tekanan.

'+'
    





    
     

    
    


 



  










Kirim email ke