Seremm liatnya merah semua, jika support ditembus apakah akan berlanjut? Knapa 
asing pada jual ya? Tks atas pencerahan teman2 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Mon, 10 Jan 2011 02:52:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Time To Buy ???

Support IHSG sudah ditembus...
Be careful

We'll never know the bottom



Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sono Puspahadi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 10 Jan 2011 10:49:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Time To Buy ???

Pagi ini nyaris semua saham nyungsep....

Time To Buy ???

Nyaris semua saham DISKON / SALE

:)

--- Pada Sen, 10/1/11, phet_noy <[email protected]> menulis:

Dari: phet_noy <[email protected]>
Judul: [saham] Jumat lalu dan"beberapa hari" ke depan adalah waktu terbaik Anda
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 10 Januari, 2011, 9:44 AM







 



  


    
      
      
      

--- In [email protected], positif01 <positi...@...> wrote:

>

> Jika tahun 2011 adalah waktu yang tersisa dalam hidup Anda ('lifetime'),

> maka Jumat lalu dan beberapa hari ke depan adalah waktu terbaik Anda untuk

> masuk dalam saham-saham pilihan untuk mengarungi prospek investasi 2011, now

> is your best chance in your lifetime as these days may not come back for the

> rest of the year.

> 

> Jumat lalu, investors/traders Indonesia 'dikagetkan' dengan reaksi pasar

> yang begitu 'bearish' terhadap 'pull-back' di awal tahun. Bayangkan hanya

> dalam 1 hari, IHSG sempat jatuh hingga 3,6% dan dana asing yang keluar ('net

> ouflows') lebih dari Rp1,5 triliun merupakan 'outflows' yang terbesar sejak

> Juli 2008.

> 

> Panik? Ya, jika Anda hanya berkutat pada hari Jumat itu saja dengan

> mengabaikan ('dismiss') sejumlah fakta dan data, baik ke belakang (historis)

> maupun proyeksi ke depan. Jika, cukup komprehensif membaca situasi, menurut

> saya, saat ini justru adalah saat terbaik untuk mengarungi prospek 2011.

> Tentu, Anda tidak dapat selalu berharap saham dan indeks akan terus naik

> tanpa pernah turun. "What goes up must come down!", begitu yang terjadi

> Jumat lalu sebagai 'pull-back'. Seperti laksana argo taksi, maka 'start'

> yang positif di awal tahun 2011 lalu ibarat di-reset ulang ke titik 0. Itu

> sama halnya dengan kesempatan kedua yang diberikan pasar kepada Anda untuk

> dapat lari lebih baik di waktu tersisa. Mengapa saat yang terbaik untuk

> mengawali investasi 2011?

> 

> 1) Mayoritas indeks utama global/regional Jumat lalu mengalami 'pull-back',

> tidak terkecuali NYSE/Nasdaq, FTSE hingga Asia Tenggara. Namun demikian,

> perkembangan semua indeks kunci mengawali tahun 2011 ini bersepakat satu

> kata: memulai Naik, termasuk IHSG. Bahkan beberapa indeks acuan global

> seperti S&P 500 masih naik 1,1% pada 5 hari pertama perdagangan di 2011,

> sekaligus merupakan kenaikan terbesar mingguan dalam 4 minggu terakhir.

> Secara keseluruhan saham-saham AS naik selama 6 minggu berturut-turut dan

> merupakan rangkaian kenaikan berturut terlama sejak April 2010. Mengenai

> perkembangan indeks di Asia Tenggara, Reuters melaporkan Jumat lalu setelah

> penutupan perdagangan yang dramatis bahwa, "However, stocks in the region

> had a strong start in the first trading week of the year thanks to hopes of

> good earnings growth at listed firms and of strong economic growth in Asia."

> 

> 2) Laju saham AS tetap positif tetapi dalam tempo melambat. Adalah

> kepentingan 'emerging markets', untuk melihat saham-saham AS tetap melaju

> agar tidak menghambat 'global economy recovery', tetapi juga tidak melaju

> sedemikian kencang yang akan mendorong dana-dana murah ('hot money') hasil

> 'quantitative easing' kembali dari 'emerging markets' ke 'home countries'

> AS/Eropa. Dan, berterima kasih kepada rilis data tenaga kerja AS Jumat lalu

> yang masih menunjukkan hasil yang 'mixed'. Meski 'unemployment rate' turun

> signifikan dari 9,8% menjadi 9,4% yang merupakan terendah sejak May 2009,

> akan tetapi kenaikan 'non-farm payrolls' atau indikasi jumlah pekerjaan baru

> yang terisi, hanya naik sebanyak 103.000 atau jauh di bawah ekspektasi

> 150.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa terlepas dari membaiknya mayoritas

> indikator ekonomi AS, khususnya yang menggambarkan progress/prospek di pasar

> keuangan, realitas riil di masyarakat, perbaikan ekonomi masih berjalan

> tertatih-tatih. Ben Bernanke, Gubernur Federal Reserve, menguatkan

> sinyalemen kemajuan dalam tempo yang lambat ini dengan menyatakan Jumat

> lalu, "it could take four to five more years for the job market to normalize

> fully". Sinyalemen ini memberikan kesempatan bagi sejumlah 'emerging

> markets', seperti Indonesia untuk 'buying time' membenahi fasilitas

> infrastruktur yang dapat menopang laju foreign direct investment, sekaligus

> mengejar status 'investment grade'-nya pada tahun ini dengan menjaga

> stabilitas fiskal dan moneter sebaik mungkin. Data yang 'mixed' dari AS ini

> akan kembali menjadikan dana-dana asing harus berpikir 10 kali sebelum

> benar-benar memutuskan untuk keluar dari 'emerging markets'.

> 

> 3) Antisipasi Inflasi di Indonesia. Inflasi telah menjadi isu sentral di

> awal 2011. Dengan inflasi tahunan pada Desember lalu yang di atas estimasi

> BI dan serangkaian kenaikan komoditas, turut menambah kekhawatiran sejumlah

> pelaku pasar. Terlebih, BI memilih untuk menaikkan GWM ketimbang suku bunga,

> sehingga persepsi pelaku pasar cenderung untuk men-downgrade prospek nilai

> investasi di Indonesia yang tergerus dengan kenaikan inflasi. Namun

> demikian, kekhawatiran ini, sudah coba dijawab oleh Pemerintah Indonesia

> dengan serangkaian tindakan konkret, khususnya terkait pengendalian harga

> pangan yang telah menjadi sumber kenaikan inflasi. Pada akhir pekan lalu,

> setidaknya ada 2 sinyalemen tindakan penting yang perlu dicatat oleh pelaku

> pasar:

> a) Pemerintah Indonesia akan memangkas bea impor pangan (

> http://www.reuters.com/article/idUSJKB00420220110107);

> b) selain langkah langsung pemadaman harga pangan, Pemerintah melalui BPS

> juga akan 'membenahi' perhitungan angka inflasi khususnya bobot pada

> komponen pangan yang volatil (

> http://economy.okezone.com/read/2011/01/07/20/411535/bps-didesak-keluarkan-cabai-dari-perhitungan-inflasi).

> Meski BPS mengkonfirmasi cabai tetap dalam komponen perhitungan inflasi,

> tetapi bobot komponen volatil seperti pangan (cabai dan lainnya) akan

> ditinjau ulang (

> http://bisnis.vivanews.com/news/read/198106-bps--harga-cabai-tetap-dihitung-di-inflasi).

> Penyesuaian ini bukan sesuatu yang aneh, Pemerintah AS sekalipun baru-baru

> ini dan tetap akan menyesuaikan perhitungan 'unemployment rate', dan itu

> menjelaskan mengapa 'rate' rilis Jumat lalu bisa turun hingga 9,4%.

> Pemerintah AS juga mengabaikan komponen volatil inflasi yang disumbang oleh

> pangan dan bahan bakar, dengan hanya fokus kepada inflasi inti ('core

> inflation'). Dan terkait inflasi inti ini BI telah menegaskan proyeksinya

> selama 2011:

> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-07/indonesia-says-2011-core-inflation-may-not-exceed-5-update1-.html

> .

> 

> 4) Rilis laba AS segera mulai. Pekan ini, Alcoa, sebagai emiten dengan

> tradisi pengumuman laba kuartalan paling awal, akan merilis laporan

> keuangannya, dan ekspektasi pasar positif. Ini akan menjadi gong akselarasi

> kenaikan indeks, dan mempengaruhi 'tone' bursa saham global (

> http://www.reuters.com/article/idUSTRE7065U720110109).

> 

> 5) Jika Anda mengkhawatirkan 'outlows' asing Jumat lalu yang terbesar sejak

> Juli 2008 atau sebelum krisis finansial global, sekarang perhatikan chart

> IHSG setelah Juli 2008. Anda akan menemukan bahwa indeks tidak jatuh

> seketika, kecuali setelah kejatuhan indeks AS karena pengumuman kepailitan

> Lehman Brothers. Dan, jangan lupa satu hal, bahwa sebelum Juli, yang

> merupakan indikasi akan terjadinya krisis finansial global, sudah dimulai

> dengan kolapsnya institusi keuangan klasik Bear Sterns pada Maret 2008, dan

> disusul dengan institusi 'mortgage' Freedie Mac. Pertanyaan kritis yang

> diajukan kepada para pelaku pasar yang bimbang saat ini, ada kejadian

> fundamental luar biasa apa yang sudah terjadi sehingga bisa menjustifikasi

> krisis sebagaimana 2008?...Jawabnya, tidak ada, kecuali harga komoditas

> naik. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut masih belum cukup alasan, dan

> oleh karena itu 'pull-back' yang terjadi tidak lebih dari penyesuaian

> temporer yang menyediakan kesempatan beli/investasi yang terbaik.

> 

> Terakhir, coba lihat sejarah ke belakang. Perhatikan waktu-waktu di mana

> IHSG memasuki 'intermediate/long-term bearish cycle'-nya, apakah 'bearish'

> terjadi pada saat BI rate ada pada satu digit, misalnya seperti 6,5% saat

> ini? Jawabnya, jelas tidak, sejarah menunjukkan setiap krisis, posisi BI

> rate ada pada 2 digit. Kondisi yang sama, juga menjawab kekhawatiran 'double

> dip' pada bursa saham AS sepanjang awal 2010 lalu. Bagaimana bisa krisis

> kembali saat Fed discount rate ada pada level terendah mendekati 0%? Sampai

> di sini, kesimpulan dari salah satu analis Indonesia sebagaimana dikutip

> oleh Reuters, cukup tepat.

> 

> Despite the bearish session, brokers in the region remained generally

> optimistic. "There's no negative news in the market and I think it's purely

> a healthy correction because investors realised profits," said Jakarta-based

> John Teja, director at broker Ciptadana Securities.

> 

> Namun demikian, jangan sampai salah pilih subsektor dan saham untuk prospek

> investasi 2011. Untuk jangka pendek, 'big caps' dan komoditas masih akan

> mengalami tekanan.

> 

> '+'

>





    
     

    
    


 



  






Kirim email ke