Ketauan belum ngalamin 97 :p
Jadi pointnya pengen return lebih besar buat boss ? :p

powered by love

-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 14 Jan 2011 12:36:23 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku bunga,
 sekali lagi?

Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu itu
yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar
berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara.
Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan
hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed market'.
Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang mereka
pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan.

Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen asing
lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis asing
menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen mereka
terhadap kondisi pasar secara keseluruhan.

Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan
'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan less
return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati
kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial
Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate
saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya
23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu
tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya,
apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar
('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at least
bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d.

So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu
persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu dan
harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. Jangan
sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya
('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar
fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya?

Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang
bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa
memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan
apa yang sudah mereka lakukan?

“Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, the
coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy
bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the
adjustment to control the inflation rate and also convince investors that
the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.”

“Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still
believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven by
consumption and investments.” (Bloomberg)

'+'

2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>

>
>
> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku bunga di
> Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. Ngga perlu
> dinaikan.
>
> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris 0,5%, Uni
> Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%.
>
> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat bunga
> 6,5%?  Mau ke Zimbabwe?
>
> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02%
> sementara tingkat inflasi disana 3,8%?
>
> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada kaitannya
> dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila suku bunga
> di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara tersebut, maka
> investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa bunga bersih yg
> didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan mata uang yg
> menjadi based kita.
>
> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di
> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena bunga
> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. Katakan
> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil.
>
> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya 3%,
> inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal tahun 1
> dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990.
> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal,
> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A
> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita
> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970.  Alias investasinya
> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara prosentase
> hanya 1,97% saja.
>
> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang
> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di
> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100
> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi
> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir
> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar
> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%.
>
> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, diakhir
> tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%.
>
> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam
> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama
> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di
> atas.
>
>
> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya beli.
> Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, tapi
> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan
> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga.
> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan mencari
> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat inflasi
> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya tersebut
> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti.
>
> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi lain yg
> bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor edisi April
> 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan dengan itu. Dimana
> di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai alternatif
> investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal 2005 sampai
> akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per tahun sudah
> bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. Maksudnya investasi
> disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias hanya didiamkan
> saja.
>
> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan keuntungan
> setahun lebih besar dari tingkat inflasi.
>
> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu
> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada
> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan
> pengangguran bisa cepat dikurangi.
>
> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing jadi
> tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih tertarik bila
> suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar uang,
> barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, hari gini,
> ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat Indonesia
> kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya kita tidak
> memperkaya mereka lagi.
>
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
>
> 2011/1/14 positif01 <[email protected]>
>
>
>>
>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi BRIC
>> (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia Tenggara,
>> hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar argumentasi
>> 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food and fuel).
>>
>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini adalah
>> Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline inflation'. Tapi
>> ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di Bloomberg, sekaligus
>> membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak punya alasan serupa. Karena
>> komponen 'headline inflation', food and fuel itu menyumbang 30-40% dari
>> total pendapatan ('income') per kapita penduduk AS. Bandingkan di 'emerging
>> market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, makanan dan bbm bisa
>> menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia.
>>
>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang
>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena
>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. Jika
>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi,
>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan
>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain
>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa 'decoupling'
>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu secara
>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang lebih
>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih
>> serius?"
>>
>> '+'
>>
>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL 
>> <[email protected]>wrote:
>>
>>>
>>>
>>> Diskusi bang ian..
>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk naikin
>>> suku bunga pinjaman..
>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit..
>>>
>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR
>>> ini..
>>>
>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya
>>> bukan dari sisi moneter yang digenjot..
>>> Kutip dari Positive:
>>> 1.  the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent
>>> 2.  consumer price inflation – driven by food – continued to accelerate
>>> to 7 per cent
>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money.
>>>
>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu <
>>> [email protected]> wrote:
>>>
>>>>
>>>>
>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu
>>>> sendiri dalam kasus Indonesia.
>>>>
>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku pelajaran
>>>> adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah, baru 8%,
>>>> untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM nya 18,5%.
>>>> Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% dan
>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%.
>>>>
>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar.
>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke ekonomi,
>>>> silakan baca2 di:
>>>>
>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement
>>>>
>>>> jabat erat,
>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]> wrote:
>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in
>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation.
>>>>>
>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the
>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," he 
>>>>> said.
>>>>> (Reuters)
>>>>>
>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for the 
>>>>> 17th
>>>>> month <http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/> in a
>>>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill into
>>>>> core inflation, and that interest-rate increases would attract damaging
>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital
>>>>>  flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation
>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per cent,
>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which accounts 
>>>>> for
>>>>> about a third of the 
>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket – 
>>>>> continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone
>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer surveys
>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are
>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts of hot
>>>>> money if capital 
>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are
>>>>>  effective, and everyone else is
>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too.
>>>>>  (Financial Times).
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>
>>>
>>
>>
>>
>  
>

Kirim email ke