BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan kemiskinan serta mengurangi pengangguran.
Secara nga langsung , biar yg punya uang di putar di sektor riil -- untuk mempercepat putaraan ekonomi . dan mengurangi pengangguran . saya setuju 100 % pak IAN. Salam Lukman 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > > > Coba anda tanyakan ke Elvyn Masassya, kalau BI tidak mau naikan suku > bunganya, dia mau pindahkan investasinya kemana? > > Namanya pemodal, maunya dapat keuntungan lebih banyak. Itu wajar saja. > Namanya juga usaha. Tapi kalau dikasih pilihan, berani ngga dia pindahin > investasinya dari SUN dan SBI katakan ke Malaysia, misalkan. > > Sekedar informasi saja tentan Malaysia: > Tingkat inflasi 2%, tingkat suku bunga 2,75%. > > Nah, anda sebagai FM, mau invest di instrumen investasi dengan bunga 2,75% > dalam ringgit atau 6,5 dalam rupiah? Mana yg lebih menguntungkan dalam > setahun kalau asumsikan nilai tukar rupiah dengan ringgit malaysia cenderung > stabil. > > Apakah FM sekelas Elvyn Masassya akan pindahkan investasinya ke instrumen > investasi di Malaysia hanya karena suku bunganya lebih tinggi dari tingkat > inflasi disana? 99% saya yakin beliau tidak akan berani mengambil tindakan > itu. > > Saya pun sebagai pemodal, menginginkan suku bunga naik, kalau perlu sampai > 10%, lumayan khan dapat cuan lebih. Tapi buat apa hal itu saya sarankan ke > BI kalau pada akhirnya hanya malah merusak ekonomi, membuat inflasi makin > tinggi, dan terlebih lagi makin menyusahkan rakyat kecil. Poin terakhir ini > yg menjadi concern utama saya melebihi dari keuntungan yg mungkin saya > terima sebagai pemodal dari kenaikan suku bunga. Bagi saya, cuan bisa dicari > dengan cara lain, tapi rakyat kecil yg makin menderita karena kebijakan suku > bunga tinggi, itu yg membuat saya bisa gelisah dan susah tidur. > > BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan > kemiskinan serta mengurangi pengangguran. > > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > 2011/1/14 positif01 <[email protected]> > >> >> >> Wah, referensinya jelas loh, sumbernya dari media resmi. Misalnya tadi >> dikutip dari Elvyn Masassya, itu Direktur Investasi Jamsostek, tidak ada >> hubungannya dengan asing atau aseng sama sekali. Itu barus satu contoh: >> >> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy >> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the >> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that >> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” ( >> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-14/indonesia-s-state-pension-fund-to-purchase-more-bonds-as-stock-gains-slow.html >> ) >> >> Atau pandangan dari luar tapi tidak perlu jauh-jauh: >> >> Indonesian yields may rise further relative to Malaysia’s because of the >> country’s lower credit rating, according to Kuala Lumpur-based AmInvestment >> Management Sdn. Malaysia is rated A3 by Moody’s, five levels higher than >> Indonesia. >> >> “Even if Indonesia is upgraded to the lowest level of investment grade, >> the bonds are still expensive,” Mohd Farid Kamarudin, who helps manage 1.3 >> billion ringgit ($425 million) of Islamic assets at AmInvestment, a unit of >> last year’s fourth- biggest sukuk underwriter, said in an interview >> yesterday. “The Malaysian sukuk are cheap so people should start to buy.” ( >> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-13/indonesia-sukuk-drop-as-inflation-curbs-demand-islamic-finance.html >> ) >> >> Tidak perlu diberitakan atau diteruskan lagi, beritanya kan sudah ke >> mana-mana, kecuali tabloid Artis lokal yang mengabarkan :d. >> >> Bottom-line, apa yang salah dengan penyesuaian 'interest rate'. Semua >> melakukan, semua dalam tekanan pasar. Mengapa ada yang perlu berbeda atau >> dibedakan, dan penyebabnya sama: inflasi. So? >> >> '+' >> >> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >> >>> >>> >>> FM asing tidak bermain dengan persepsi, mereka berhitung dengan >>> kalkulator. Saya sudah tunjukkan hitung2an kalkulatornya yg menunjukkan >>> mereka tetap cuan lumayan di Indonesia selama nilai tukar mata uang rupiah >>> kita bisa dijaga stabil oleh BI. >>> >>> Spekulanlah yg coba mengobok2 dengan menciptakan persepsi2 yg seperti >>> anda tuliskan atau forwardkan. Harapannya tentu terjadi kepanikan ataupun >>> tercipta persepsi seperti itu sehingga diharapkan ramai2 untuk bertindak >>> tidak rasional lagi. >>> >>> Bisa anda jelaskan mengapa Singapore suku bunganya 0,02% sementara >>> tingkat inflasinya mencapai 3,8%? Mengapa Singapore tidak naikan suku >>> bunganya mencapai 4% supaya lebih tinggi dari inflasinya? Mengapa investasi >>> orang tidak kabur dari Singapore? >>> >>> Berikut data2 negara yg inflasinya lebih tinggi dari suku bunganya. >>> >>> Inflasi di AS 1,1%, suku bunganya 0,25%. >>> Inflasi di Uni Eropa, 1,9%, suku bunganya hanya 1%. >>> Inflasi di Inggris/UK, 3,3%, suku bunganya hanya 0,5% >>> Inflasi di Korsel 3,5%, suku bunganya hanya 2,5% >>> Inflasi di India 9,7%, suku bunganya hanya 5,25% >>> >>> Mengapa investasi tidak kabur dari ngara2 yg saya sebutkan di atas? Bisa >>> anda jelaskan kalau memang persepsi yg anda sebutkan itu benar adanya? >>> >>> Apakah data di atas sudah cukup untuk anda bahwa soal persepsi itu yg >>> anda sebutkan itu bukanlah dasar pengambilan keputusan FM baik asing maupun >>> lokal, karena mereka lebih memakai hitungan kalkulator ketimbang persepsi. >>> >>> Spekulanlah yg bermain dengan persepsi, mereka malah mencoba menciptakan >>> persepsi dengan segala cara agar tercipta volatilitas, dimana mereka akan >>> mengeruk keuntungan dari volatilitas yang terjadi. >>> >>> >>> jabat erat, >>> Irwan Ariston Napitupulu >>> >>> >>> >>> >>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>> >>>> >>>> >>>> Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu >>>> itu yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar >>>> berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara. >>>> Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan >>>> hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed market'. >>>> Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang mereka >>>> pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan. >>>> >>>> Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen >>>> asing lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis >>>> asing >>>> menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen >>>> mereka >>>> terhadap kondisi pasar secara keseluruhan. >>>> >>>> Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan >>>> 'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan less >>>> return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati >>>> kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial >>>> Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate >>>> saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya >>>> 23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu >>>> tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya, >>>> apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar >>>> ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at >>>> least >>>> bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d. >>>> >>>> So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu >>>> persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu dan >>>> harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. >>>> Jangan >>>> sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya >>>> ('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar >>>> fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya? >>>> >>>> Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang >>>> bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa >>>> memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan >>>> apa yang sudah mereka lakukan? >>>> >>>> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, >>>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy >>>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the >>>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that >>>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” >>>> >>>> “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still >>>> believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven by >>>> consumption and investments.” (Bloomberg) >>>> >>>> '+' >>>> >>>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>>> >>>> >>>>> >>>>> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku bunga >>>>> di Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. Ngga perlu >>>>> dinaikan. >>>>> >>>>> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris 0,5%, >>>>> Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%. >>>>> >>>>> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat >>>>> bunga 6,5%? Mau ke Zimbabwe? >>>>> >>>>> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02% >>>>> sementara tingkat inflasi disana 3,8%? >>>>> >>>>> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada >>>>> kaitannya dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila >>>>> suku bunga di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara >>>>> tersebut, maka investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa >>>>> bunga >>>>> bersih yg didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan >>>>> mata >>>>> uang yg menjadi based kita. >>>>> >>>>> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di >>>>> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena >>>>> bunga >>>>> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. Katakan >>>>> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil. >>>>> >>>>> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya >>>>> 3%, inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal >>>>> tahun 1 dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990. >>>>> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal, >>>>> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A >>>>> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita >>>>> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970. Alias >>>>> investasinya >>>>> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara >>>>> prosentase >>>>> hanya 1,97% saja. >>>>> >>>>> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang >>>>> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di >>>>> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100 >>>>> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi >>>>> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir >>>>> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar >>>>> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%. >>>>> >>>>> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, >>>>> diakhir tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%. >>>>> >>>>> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam >>>>> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama >>>>> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di >>>>> atas. >>>>> >>>>> >>>>> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya >>>>> beli. Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, >>>>> tapi >>>>> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan >>>>> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga. >>>>> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan >>>>> mencari >>>>> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat >>>>> inflasi >>>>> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya >>>>> tersebut >>>>> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti. >>>>> >>>>> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi >>>>> lain yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor >>>>> edisi April 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan dengan >>>>> itu. Dimana di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai >>>>> alternatif investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal >>>>> 2005 sampai akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per >>>>> tahun sudah bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. >>>>> Maksudnya >>>>> investasi disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias >>>>> hanya >>>>> didiamkan saja. >>>>> >>>>> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan >>>>> keuntungan setahun lebih besar dari tingkat inflasi. >>>>> >>>>> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu >>>>> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada >>>>> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan >>>>> pengangguran bisa cepat dikurangi. >>>>> >>>>> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing >>>>> jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih >>>>> tertarik >>>>> bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar >>>>> uang, barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, >>>>> hari >>>>> gini, ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat >>>>> Indonesia kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya >>>>> kita >>>>> tidak memperkaya mereka lagi. >>>>> >>>>> >>>>> jabat erat, >>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>> >>>>> >>>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]> >>>>> >>>>> >>>>>> >>>>>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi >>>>>> BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia >>>>>> Tenggara, hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar >>>>>> argumentasi 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food >>>>>> and >>>>>> fuel). >>>>>> >>>>>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini >>>>>> adalah Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline >>>>>> inflation'. Tapi ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di >>>>>> Bloomberg, sekaligus membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak punya >>>>>> alasan serupa. Karena komponen 'headline inflation', food and fuel itu >>>>>> menyumbang 30-40% dari total pendapatan ('income') per kapita penduduk >>>>>> AS. >>>>>> Bandingkan di 'emerging market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, >>>>>> makanan dan bbm bisa menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia. >>>>>> >>>>>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang >>>>>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena >>>>>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. >>>>>> Jika >>>>>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, >>>>>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan >>>>>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain >>>>>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa >>>>>> 'decoupling' >>>>>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu >>>>>> secara >>>>>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang >>>>>> lebih >>>>>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih >>>>>> serius?" >>>>>> >>>>>> '+' >>>>>> >>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL < >>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> Diskusi bang ian.. >>>>>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk >>>>>>> naikin suku bunga pinjaman.. >>>>>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit.. >>>>>>> >>>>>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR >>>>>>> ini.. >>>>>>> >>>>>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya >>>>>>> bukan dari sisi moneter yang digenjot.. >>>>>>> Kutip dari Positive: >>>>>>> 1. the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent >>>>>>> 2. consumer price inflation – driven by food – continued to >>>>>>> accelerate to 7 per cent >>>>>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money. >>>>>>> >>>>>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> >>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu < >>>>>>> [email protected]> wrote: >>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu >>>>>>>> sendiri dalam kasus Indonesia. >>>>>>>> >>>>>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku >>>>>>>> pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu >>>>>>>> rendah, >>>>>>>> baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat >>>>>>>> GWM nya >>>>>>>> 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya >>>>>>>> 2,75% dan >>>>>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%. >>>>>>>> >>>>>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar. >>>>>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke >>>>>>>> ekonomi, silakan baca2 di: >>>>>>>> >>>>>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement >>>>>>>> >>>>>>>> jabat erat, >>>>>>>> Irwan Ariston Napitupulu >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]>wrote: >>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in >>>>>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation. >>>>>>>>> >>>>>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the >>>>>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," he >>>>>>>>> said. >>>>>>>>> (Reuters) >>>>>>>>> >>>>>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for >>>>>>>>> the 17th >>>>>>>>> month<http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in a >>>>>>>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill >>>>>>>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract >>>>>>>>> damaging >>>>>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital >>>>>>>>> flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation >>>>>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per >>>>>>>>> cent, >>>>>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which >>>>>>>>> accounts for >>>>>>>>> about a third of the >>>>>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket >>>>>>>>> – continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone >>>>>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer >>>>>>>>> surveys >>>>>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are >>>>>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts >>>>>>>>> of hot >>>>>>>>> money if capital >>>>>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are >>>>>>>>> effective, and everyone else is >>>>>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too. >>>>>>>>> (Financial Times). >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>> >>>>>>> >>>>>> >>>>>> >>>>>> >>>>> >>>> >>>> >>>> >>> >> >> >> > > > > -- Lukman
