Kalu menurut saya turun secara perlahan,

Memang harus nya demikian pak .  turun secara bertahap / lebih mudah untuk
beradaptasi .

sedangkan kalau drastis . dapat menimbulkan  kepanikan .






Salam

Lukman













2011/1/14 <[email protected]>

>
>
> Kalo IHSG 3 % apa kabar dengan sektor perbankan indonesia?bunga deposito,
> perhitungan capital at risk,hedging dan perhitungan lainnya karena banking
> book (kalau dilihat dr risk management bank) semua sangat bergantung dengan
> suku bungan,,,
>
> Kalu menurut saya turun secara perlahan,,(CMIIW)
>
> Regards,
>
>
> Ian
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------
> *From: * lkm jkt <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Fri, 14 Jan 2011 14:29:40 +0700
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *Re: Bedanya Amerika dan Indonesia Re: [saham] BI dan suku
> bunga, sekali lagi?
>
>
>
> BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan
> kemiskinan serta mengurangi pengangguran.
>
>
> Secara nga langsung , biar yg punya uang di putar di sektor riil -- untuk
> mempercepat putaraan ekonomi .
>
> dan mengurangi pengangguran .
>
> saya setuju 100 %  pak IAN.
>
>
>
>
> Salam
>
> Lukman
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>
>>
>>
>> Coba anda tanyakan ke Elvyn Masassya, kalau BI tidak mau naikan suku
>> bunganya, dia mau pindahkan investasinya kemana?
>>
>> Namanya pemodal, maunya dapat keuntungan lebih banyak. Itu wajar saja.
>> Namanya juga usaha. Tapi kalau dikasih pilihan, berani ngga dia pindahin
>> investasinya dari SUN dan SBI katakan ke Malaysia, misalkan.
>>
>> Sekedar informasi saja tentan Malaysia:
>> Tingkat inflasi 2%, tingkat suku bunga 2,75%.
>>
>> Nah, anda sebagai FM, mau invest di instrumen investasi dengan bunga 2,75%
>> dalam ringgit atau 6,5 dalam rupiah? Mana yg lebih menguntungkan dalam
>> setahun kalau asumsikan nilai tukar rupiah dengan ringgit malaysia cenderung
>> stabil.
>>
>> Apakah FM sekelas Elvyn Masassya akan pindahkan investasinya ke instrumen
>> investasi di Malaysia hanya karena suku bunganya lebih tinggi dari tingkat
>> inflasi disana? 99% saya yakin beliau tidak akan berani mengambil tindakan
>> itu.
>>
>> Saya pun sebagai pemodal, menginginkan suku bunga naik, kalau perlu sampai
>> 10%, lumayan khan dapat cuan lebih. Tapi buat apa hal itu saya sarankan ke
>> BI kalau pada akhirnya hanya malah merusak ekonomi, membuat inflasi makin
>> tinggi, dan terlebih lagi makin menyusahkan rakyat kecil. Poin terakhir ini
>> yg menjadi concern utama saya melebihi dari keuntungan yg mungkin saya
>> terima sebagai pemodal dari kenaikan suku bunga. Bagi saya, cuan bisa dicari
>> dengan cara lain, tapi rakyat kecil yg makin menderita karena kebijakan suku
>> bunga tinggi, itu yg membuat saya bisa gelisah dan susah tidur.
>>
>> BI Rate harusnya berada di 3%, demi kemajuan sektor riil dan pengentasan
>> kemiskinan serta mengurangi pengangguran.
>>
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]>
>>
>>>
>>>
>>> Wah, referensinya jelas loh, sumbernya dari media resmi. Misalnya tadi
>>> dikutip dari Elvyn Masassya, itu Direktur Investasi Jamsostek, tidak ada
>>> hubungannya dengan asing atau aseng sama sekali. Itu barus satu contoh:
>>>
>>>  “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates,
>>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy
>>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the
>>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that
>>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.” (
>>> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-14/indonesia-s-state-pension-fund-to-purchase-more-bonds-as-stock-gains-slow.html
>>> )
>>>
>>> Atau pandangan dari luar tapi tidak perlu jauh-jauh:
>>>
>>> Indonesian yields may rise further relative to Malaysia’s because of the
>>> country’s lower credit rating, according to Kuala Lumpur-based AmInvestment
>>> Management Sdn. Malaysia is rated A3 by Moody’s, five levels higher than
>>> Indonesia.
>>>
>>> “Even if Indonesia is upgraded to the lowest level of investment grade,
>>> the bonds are still expensive,” Mohd Farid Kamarudin, who helps manage 1.3
>>> billion ringgit ($425 million) of Islamic assets at AmInvestment, a unit of
>>> last year’s fourth- biggest sukuk underwriter, said in an interview
>>> yesterday. “The Malaysian sukuk are cheap so people should start to buy.” (
>>> http://www.bloomberg.com/news/2011-01-13/indonesia-sukuk-drop-as-inflation-curbs-demand-islamic-finance.html
>>> )
>>>
>>> Tidak perlu diberitakan atau diteruskan lagi, beritanya kan sudah ke
>>> mana-mana, kecuali tabloid Artis lokal yang mengabarkan :d.
>>>
>>> Bottom-line, apa yang salah dengan penyesuaian 'interest rate'. Semua
>>> melakukan, semua dalam tekanan pasar. Mengapa ada yang perlu berbeda atau
>>> dibedakan, dan penyebabnya sama: inflasi. So?
>>>
>>> '+'
>>>
>>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>>>
>>>>
>>>>
>>>> FM asing tidak bermain dengan persepsi, mereka berhitung dengan
>>>> kalkulator. Saya sudah tunjukkan hitung2an kalkulatornya yg menunjukkan
>>>> mereka tetap cuan lumayan di Indonesia selama nilai tukar mata uang rupiah
>>>> kita bisa dijaga stabil oleh BI.
>>>>
>>>> Spekulanlah yg coba mengobok2 dengan menciptakan persepsi2 yg seperti
>>>> anda tuliskan atau forwardkan. Harapannya tentu terjadi kepanikan ataupun
>>>> tercipta persepsi seperti itu sehingga diharapkan ramai2 untuk bertindak
>>>> tidak rasional lagi.
>>>>
>>>> Bisa anda jelaskan mengapa Singapore suku bunganya 0,02% sementara
>>>> tingkat inflasinya mencapai 3,8%? Mengapa Singapore tidak naikan suku
>>>> bunganya mencapai 4% supaya lebih tinggi dari inflasinya? Mengapa investasi
>>>> orang tidak kabur dari Singapore?
>>>>
>>>> Berikut data2 negara yg inflasinya lebih tinggi dari suku bunganya.
>>>>
>>>> Inflasi di AS 1,1%, suku bunganya 0,25%.
>>>> Inflasi di Uni Eropa, 1,9%, suku bunganya hanya 1%.
>>>> Inflasi di Inggris/UK, 3,3%, suku bunganya hanya 0,5%
>>>> Inflasi di Korsel 3,5%, suku bunganya hanya 2,5%
>>>> Inflasi di India 9,7%, suku bunganya hanya 5,25%
>>>>
>>>> Mengapa investasi tidak kabur dari ngara2 yg saya sebutkan di atas? Bisa
>>>> anda jelaskan kalau memang persepsi yg anda sebutkan itu benar adanya?
>>>>
>>>> Apakah data di atas sudah cukup untuk anda bahwa soal persepsi itu yg
>>>> anda sebutkan itu bukanlah dasar pengambilan keputusan FM baik asing maupun
>>>> lokal, karena mereka lebih memakai hitungan kalkulator ketimbang persepsi.
>>>>
>>>> Spekulanlah yg bermain dengan persepsi, mereka malah mencoba menciptakan
>>>> persepsi dengan segala cara agar tercipta volatilitas, dimana mereka akan
>>>> mengeruk keuntungan dari volatilitas yang terjadi.
>>>>
>>>>
>>>> jabat erat,
>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]>
>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>> Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu
>>>>> itu yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar
>>>>> berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara.
>>>>> Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan
>>>>> hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed 
>>>>> market'.
>>>>> Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang 
>>>>> mereka
>>>>> pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan.
>>>>>
>>>>> Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen
>>>>> asing lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis 
>>>>> asing
>>>>> menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen 
>>>>> mereka
>>>>> terhadap kondisi pasar secara keseluruhan.
>>>>>
>>>>> Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan
>>>>> 'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan 
>>>>> less
>>>>> return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati
>>>>> kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial
>>>>> Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate
>>>>> saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya
>>>>> 23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu
>>>>> tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya,
>>>>> apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar
>>>>> ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at 
>>>>> least
>>>>> bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d.
>>>>>
>>>>> So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu
>>>>> persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu 
>>>>> dan
>>>>> harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. 
>>>>> Jangan
>>>>> sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya
>>>>> ('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar
>>>>> fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya?
>>>>>
>>>>> Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang
>>>>> bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa
>>>>> memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan
>>>>> apa yang sudah mereka lakukan?
>>>>>
>>>>> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates,
>>>>> the coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to 
>>>>> buy
>>>>> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the
>>>>> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that
>>>>> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.”
>>>>>
>>>>> “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still
>>>>> believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven 
>>>>> by
>>>>> consumption and investments.” (Bloomberg)
>>>>>
>>>>> '+'
>>>>>
>>>>> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>>>>>
>>>>>
>>>>>>
>>>>>> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku
>>>>>> bunga di Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. 
>>>>>> Ngga
>>>>>> perlu dinaikan.
>>>>>>
>>>>>> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris
>>>>>> 0,5%, Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%.
>>>>>>
>>>>>> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat
>>>>>> bunga 6,5%?  Mau ke Zimbabwe?
>>>>>>
>>>>>> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02%
>>>>>> sementara tingkat inflasi disana 3,8%?
>>>>>>
>>>>>> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada
>>>>>> kaitannya dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila
>>>>>> suku bunga di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara
>>>>>> tersebut, maka investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa 
>>>>>> bunga
>>>>>> bersih yg didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan 
>>>>>> mata
>>>>>> uang yg menjadi based kita.
>>>>>>
>>>>>> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di
>>>>>> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena 
>>>>>> bunga
>>>>>> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. 
>>>>>> Katakan
>>>>>> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil.
>>>>>>
>>>>>> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya
>>>>>> 3%, inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal
>>>>>> tahun 1 dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990.
>>>>>> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal,
>>>>>> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A
>>>>>> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita
>>>>>> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970.  Alias 
>>>>>> investasinya
>>>>>> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara 
>>>>>> prosentase
>>>>>> hanya 1,97% saja.
>>>>>>
>>>>>> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang
>>>>>> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di
>>>>>> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100
>>>>>> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi
>>>>>> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir
>>>>>> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar
>>>>>> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%.
>>>>>>
>>>>>> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A,
>>>>>> diakhir tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%.
>>>>>>
>>>>>> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam
>>>>>> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama
>>>>>> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di
>>>>>> atas.
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya
>>>>>> beli. Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, 
>>>>>> tapi
>>>>>> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan
>>>>>> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga.
>>>>>> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan 
>>>>>> mencari
>>>>>> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat 
>>>>>> inflasi
>>>>>> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya 
>>>>>> tersebut
>>>>>> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti.
>>>>>>
>>>>>> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi
>>>>>> lain yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor
>>>>>> edisi April 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan 
>>>>>> dengan
>>>>>> itu. Dimana di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai
>>>>>> alternatif investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal
>>>>>> 2005 sampai akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per
>>>>>> tahun sudah bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. 
>>>>>> Maksudnya
>>>>>> investasi disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias 
>>>>>> hanya
>>>>>> didiamkan saja.
>>>>>>
>>>>>> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan
>>>>>> keuntungan setahun lebih besar dari tingkat inflasi.
>>>>>>
>>>>>> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu
>>>>>> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada
>>>>>> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan
>>>>>> pengangguran bisa cepat dikurangi.
>>>>>>
>>>>>> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing
>>>>>> jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih 
>>>>>> tertarik
>>>>>> bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar
>>>>>> uang, barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, 
>>>>>> hari
>>>>>> gini, ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat
>>>>>> Indonesia kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya 
>>>>>> kita
>>>>>> tidak memperkaya mereka lagi.
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>> jabat erat,
>>>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]>
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>>>
>>>>>>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi
>>>>>>> BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia
>>>>>>> Tenggara, hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar
>>>>>>> argumentasi 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food 
>>>>>>> and
>>>>>>> fuel).
>>>>>>>
>>>>>>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini
>>>>>>> adalah Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline
>>>>>>> inflation'. Tapi ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di
>>>>>>> Bloomberg, sekaligus membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak 
>>>>>>> punya
>>>>>>> alasan serupa. Karena komponen 'headline inflation', food and fuel itu
>>>>>>> menyumbang 30-40% dari total pendapatan ('income') per kapita penduduk 
>>>>>>> AS.
>>>>>>> Bandingkan di 'emerging market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3,
>>>>>>> makanan dan bbm bisa menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia.
>>>>>>>
>>>>>>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang
>>>>>>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena
>>>>>>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. 
>>>>>>> Jika
>>>>>>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi,
>>>>>>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan
>>>>>>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain
>>>>>>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa 
>>>>>>> 'decoupling'
>>>>>>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu 
>>>>>>> secara
>>>>>>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang 
>>>>>>> lebih
>>>>>>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih
>>>>>>> serius?"
>>>>>>>
>>>>>>> '+'
>>>>>>>
>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL <
>>>>>>> [email protected]> wrote:
>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>> Diskusi bang ian..
>>>>>>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk
>>>>>>>> naikin suku bunga pinjaman..
>>>>>>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit..
>>>>>>>>
>>>>>>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR
>>>>>>>> ini..
>>>>>>>>
>>>>>>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini
>>>>>>>> seharusnya bukan dari sisi moneter yang digenjot..
>>>>>>>> Kutip dari Positive:
>>>>>>>> 1.  the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent
>>>>>>>> 2.  consumer price inflation – driven by food – continued to
>>>>>>>> accelerate to 7 per cent
>>>>>>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money.
>>>>>>>>
>>>>>>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya
>>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu <
>>>>>>>> [email protected]> wrote:
>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu
>>>>>>>>> sendiri dalam kasus Indonesia.
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku
>>>>>>>>> pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu 
>>>>>>>>> rendah,
>>>>>>>>> baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat 
>>>>>>>>> GWM nya
>>>>>>>>> 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 
>>>>>>>>> 2,75% dan
>>>>>>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%.
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar.
>>>>>>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke
>>>>>>>>> ekonomi, silakan baca2 di:
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> jabat erat,
>>>>>>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]>wrote:
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in
>>>>>>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation.
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the
>>>>>>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," 
>>>>>>>>>> he said.
>>>>>>>>>> (Reuters)
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for
>>>>>>>>>> the 17th 
>>>>>>>>>> month<http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in a 
>>>>>>>>>> row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill
>>>>>>>>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract 
>>>>>>>>>> damaging
>>>>>>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital
>>>>>>>>>>  flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation
>>>>>>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per 
>>>>>>>>>> cent,
>>>>>>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which 
>>>>>>>>>> accounts for
>>>>>>>>>> about a third of the 
>>>>>>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket 
>>>>>>>>>> – continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone
>>>>>>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer 
>>>>>>>>>> surveys
>>>>>>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations 
>>>>>>>>>> are
>>>>>>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts 
>>>>>>>>>> of hot
>>>>>>>>>> money if capital 
>>>>>>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are
>>>>>>>>>>  effective, and everyone else is
>>>>>>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too.
>>>>>>>>>>  (Financial Times).
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>
>>>>>>>
>>>>>>>
>>>>>>>
>>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>>
>
>
> --
> Lukman
>
>
>
> 
>



-- 
Lukman

Kirim email ke