iya pak saya juga mulai serius ah, gak loncat2 tapi memang "mental kuat" itu yg 
paling susah ngurusin nya


________________________________
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, November 3, 2011 11:59 AM
Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur


  
Wah, saya di saham belum ada apa2nya dibanding dengan Pak Lo Kheng Hong :)
Tapi cerita Pak Lo Kheng Hong telah membuat saya makin semangat lagi untuk 
lebih serius dan lebih fokus lagi di dunia saham, dan tidak bercabang2 ke hal 
lain :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2011/11/3 Christin <[email protected]>

 
>
>
>Kalau boleh tau return & pengalaman Pak Irwan selama belasan (atau puluhan) 
>tahun di saham? Boleh berbagi cerita Pak Irwan? :) thx
>
>
>Christin
>________________________________
>
>From:  Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Thu, 3 Nov 2011 11:44:22 +0700
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>
>  
>Kalau jadi milyarder dari saham, saya rasa sudah banyak koq. Yang jadi 
>triliuner seperti Pak Lo Kheng Hong, itu yang tampaknya sejauh ini masih belum 
>banyak :)
>
>Kalau kita telaah lebih lanjut, Pak Lo Kheng Hong mencapai return 150.000% 
>sejak mulai tahun 1997 alias kalau dihitung sampai 2011 adalah pencapaian 
>selama hampir 25 tahun. Kalau saya hitung dengan hitungan compounding, maka 
>rata2 per tahun kinerjanya Pak Lo Kheng Hong adalah sekitar 34% per tahun.
>
>Warren Buffett dari tahun 1959 dengan awal USD20 ribu menjadi USD60 milyar 
>pada tahun 2009. Pencapaian selama 50 tahun tersebut kalau dirata2kan setara 
>dengan kinerja 34,75% per tahun.
>
>Jadi, kalau kinerja anda bisa 35% per tahun atau lebih dan bisa 
>stabil/konsisten, maka kinerja anda sebenarnya sudah di atas kinerja Lo Kheng 
>Hong maupun Warren Buffett. Ini banyak yg kurang disadari oleh orang karena 
>umumnya mereka hanya melihat angka akhir, dan lupa melihat berapa lama proses 
>itu terjadi dan berapa besar modal awal yang mereka gunakan  :)
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>
>
>2011/11/3 <[email protected]>
>
> 
>>
>>
>>Dr taun 2010 ke 2011 ini juga sy yakin banyak yg jadi miliarder dr IMAS dan 
>>MAPI :)
>>
>>
>>
>>
>>Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>>
>>________________________________
>>
>>From:  Budiono Kurniawan <[email protected]> 
>>Sender:  [email protected] 
>>Date: Thu, 3 Nov 2011 12:18:15 +0800 (SGT)
>>To: [email protected]<[email protected]>
>>ReplyTo:  [email protected] 
>>Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>>
>>  
>>thn...depan ada yang new milyader dari trub / kark / bull
>>
>>
>>________________________________
>>From: Brnie713 <[email protected]>
>>To: [email protected]
>>Sent: Thursday, November 3, 2011 11:14 AM
>>Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>>
>>Mustinya masih banyak LKH-LKH lainnya yang sukses di pasar modal,cuma
>>lebih memilih untuk 'bersembunyi'. Btw pak LKH ini pegang saham 2nd
>>liner seperti MBAI,AMAG emiten yang
 5th lalu gak banyak yang tau ha3
>>
>>On 11/3/11, [email protected] <[email protected]> wrote:
>>> Sy yg ga tau atau memang pak Khong ini low profile ya bang Ian?
>>>
>>> Beliau buat buku or seminar or apa gitu ngga ya?
>>>
>>> Thanks
>>>
>>>
>>> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>>>
>>> -----Original Message-----
>>> From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>>> Sender: [email protected]
>>> Date: Thu, 3 Nov 2011 10:34:07
>>> To: <[email protected]>
>>> Reply-To: [email protected]
>>> Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur
>>>
>>> Pak Lo Kheng Hong investor hebat. Patut diteladani apa yang dia lakukan
>>> dalam hal investasi di bursa dan bagaimana caranya bisa berhasil. Artikel
>>> di bawah sangat mencerahkan. Salut untuk Pak Lo Kheng Hong.
>>>
>>> jabat erat,
>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>
>>> 2011/11/3 Fabianto Wangsamulya <[email protected]>
>>>
>>>>
>>>>
>>>> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor
>>>> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia.
>>>> Selamat
 membaca.
>>>>
>>>>
>>>> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>>>>
>>>>
>>>> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>>>>
>>>> http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1
>>>>  Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo
>>>> Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
>>>> hingga 150.000%. Itukah buah
 filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?
>>>>
>>>> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
>>>> mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi
>>>> (capital
>>>> gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan
>>>> bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan
>>>> glamour,
>>>> agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi.
>>>>
>>>> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem,
>>>> bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan
>>>> Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.
>>>>
>>>> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
>>>> menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa,
>>>> baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi
 Kheng Hong bukan tipe
>>>> investor
>>>> yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat
>>>> mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan
>>>> kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone
>>>> canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir
>>>> sejenisnya.
>>>>
>>>> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang
>>>> ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya,
>>>> kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett
>>>> Indonesia’.
>>>>
>>>> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham
>>>> apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang
>>>> mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin
 menunjukkan
>>>> bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan
>>>> *Investor
>>>> Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S Hilman*di
>>>> Jakarta, baru-baru ini.
>>>>
>>>> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
>>>> panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa
>>>> bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya
>>>> besar,”
>>>> ujar Kheng Hong.
>>>>
>>>> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
>>>> Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos
>>>> dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan
>>>> hingga
>>>> 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis
>>>> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya
 tinggal 15%. Tapi uang itu
>>>> saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat
>>>> ini,” tuturnya.
>>>>
>>>> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
>>>> saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak
>>>> tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti
>>>> emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi
>>>> ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk
>>>> perusahaan sekuritas.
>>>>
>>>> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi
>>>> krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja,
>>>> tidak
>>>> punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan
>>>> seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan
 dua
>>>> pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.
>>>>
>>>> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar
>>>> dari
>>>> pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*, *
>>>> bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria
>>>> yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat
>>>> menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.
>>>>
>>>> K*enapa Anda tertarik bermain saham?*
>>>> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang
>>>> besar dan tidak capek seperti di sektor riil.
>>>>
>>>> *Apa enaknya menjadi investor saham?*
>>>> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia,
>>>> seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya.
>>>> Mereka hanya
 tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena
>>>> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.
>>>>
>>>> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
>>>> dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
>>>> perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu
>>>> luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.
>>>>
>>>> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal
>>>> yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh
>>>> karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya
>>>> hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki
>>>> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang.
>>>>
>>>> *Sejak kapan Anda bermain saham?*
>>>> Saya bermain saham sejak 1989,
 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari
>>>> keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat
>>>> tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi
>>>> pegawai
>>>> tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan
>>>> lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang
>>>> murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai
>>>> main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari
>>>> bank dan fokus main saham.
>>>>
>>>> *Anda saat ini punya saham apa saja?*
>>>> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama
>>>> Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya
>>>> banyaknya
>>>> bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe
>>>> investor jangka
 panjang.
>>>>
>>>> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar.
>>>> Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp
>>>> 250
>>>> dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal
>>>> gain-nya
>>>> sudah 12.600%.
>>>>
>>>> *Cara Anda memilih saham?*
>>>> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG)
>>>> atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari
>>>> tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta
>>>> saya.
>>>> Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah
>>>> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang
>>>> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan.
>>>>
>>>> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama
 adalah manajemen, kedua
>>>> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
>>>> usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
>>>> sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa
>>>> sawit dan pakan ayam.
>>>>
>>>> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan
>>>> dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain.
>>>> Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau
>>>> tidak.
>>>>
>>>> *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?*
>>>> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang
>>>> kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar
>>>> terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala,
>>>> misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun,
 dan seterusnya. Ini perusahaan
>>>> yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang.
>>>> Lihat masa lalunya.
>>>>
>>>> *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
>>>> ternyata turun?*
>>>> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami
>>>> hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya
>>>> itu *super company. *
>>>> *
>>>> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?*
>>>> Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang
>>>> saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya
>>>> Rp
>>>> 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa
>>>> lebih
>>>> murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan
>>>> emitennya
>>>>
 dalam membukukan keuntungan.
>>>>
>>>> *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?*
>>>> Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
>>>> lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan
>>>> yang
>>>> sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.
>>>> *
>>>> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?*
>>>> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
>>>> Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy
>>>> on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan
>>>> sebaliknya, *be fearful when others greedy.*
>>>>
>>>> *Bukankah itu sulit diterapkan?*
>>>> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang
>>>> yang
>>>> sudah terbukti berhasil investasi di pasar
 saham. Dia sudah
>>>> membuktikannya,
>>>> bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau
>>>> saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...
>>>>
>>>> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
>>>> mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
>>>> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi
>>>> kaya di pasar saham.
>>>> *
>>>> Berarti, kuncinya ada di mental?*
>>>> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
>>>> panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran
>>>> penting.
>>>> Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya
>>>> biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari
>>>> sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga
 US$ 40.000, kita
>>>> bisa
>>>> menjadi orang pintar.
>>>>
>>>> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum
>>>> tentu
>>>> jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah
>>>> menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi
>>>> pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun
>>>> dan yang dijual justru naik.
>>>>
>>>> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat,
>>>> kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti
>>>> itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu.
>>>>
>>>> *Jadi, Anda tipe investor fundamental?*
>>>> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
>>>> perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya
 yakin
>>>> itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada
>>>> di
>>>> bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada
>>>> yang
>>>> terjebak.
>>>>
>>>> *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?*
>>>> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada
>>>> yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu,
>>>> kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?
>>>> *
>>>> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?*
>>>> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market
>>>> *mengalami
>>>> *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka
>>>> ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
>>>> dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang
 sudah berhasil dan ikuti
>>>> langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar
>>>> saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang
>>>> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga
>>>> mengalami
>>>> kerugian.
>>>>
>>>> *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?*
>>>> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai
>>>> saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu
>>>> untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa
>>>> beli saham lagi.
>>>> *
>>>> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?*
>>>> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu
>>>> emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375,
>>>> kemudian saya jual. Awalnya saya
 berniat menahannya untuk jangka panjang.
>>>> Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk
>>>> emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau
>>>> emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya
>>>> lepas.
>>>>
>>>> *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami
>>>> kerugian juga?*
>>>> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi
>>>> tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis
>>>> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
>>>> saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan,
>>>> itu
>>>> terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.
>>>>
>>>> *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
>>>> yang terkait dengan
 krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?*
>>>> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun.
>>>> Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan
>>>> saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari
>>>> saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari
>>>> sebelumnya.
>>>> *
>>>> Apa filosofi hidup Anda?*
>>>> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur.
>>>> Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur
>>>> tetapi
>>>> saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting
>>>> rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur,
>>>> selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang
>>>> saya
>>>> sukai.
>>>>
>>>> ---
>>>>
 Fabianto
>>>>
>>>>
>>>>
>>>
>>>
>>
>>
>>------------------------------------
>>
>>Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
>>
>>SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN 
>>MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL 
>>EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK 
>>INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL.
>>
>>[email protected] untuk berhenti dari milis saham
>>[email protected] untuk bergabung ke milis saham
>>Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>

 

Kirim email ke