Rekan-rekan milis,
   
  Berikut ini saya kirimkan sebuah berita dari Vatikan, mengenai disahkannya 
kembali Misa Tridentin oleh Paus Benediktus XVI dimana seorang imam dalam 
memimpin perayaan ekaristi boleh membelakangi umat. 
   
  Penggunaan tata perayaan ekaristis ini diharapkan dapat dipergunakan secara 
luas oleh umat Katolik dalam merayakan perayaan ekaristi setiap minggunya.
   
  Dan untuk mempertegas keputusan tersebut, Paus melalui Kardinal Tarcisio 
Kardinal Bertone, selaku sekretaris negara Vatikan mengundang wakil-wakil dari 
sejumlah konferensi waligereja serta sejumlah uskup yang menginginkan 
dikembalikannya Tata Perayaan Ekaristi yang lama dalam tata perayaan ekaristi 
saat ini.
   
  Para utusan yang diundang sebagian besar berasal dari Eropa. Turut diundang 
dua dari Amerika Serikat, dua dari Afrika, dan satu dari Asia. Peserta dari 
Asia diwakili oleh Telesphore Kardinal Toppo dari Ranchi, India, ketua 
Konferensi Waligereja India.
   
  Selengkapnya mengenai berita ini silakan rekan-rekan baca pada berita yang 
saya lampirkan di bawah ini.
   
  Terima kasih dan selamat membaca.
  Syalom.
   
   
   
  Vitalis.
  ---------------------------------
   
   
   
  KEPUTUSAN PAUS MENDATANG AKAN MENSAHKAN PENGGUNAAN LEBIH LUAS MISA TRIDENTIN 
  Kolom UCAN "Vatican Vista" oleh Gerard O'Connell
              KOTA VATIKAN (UCAN) -- Menurut Vatikan, Paus Benediktus XVI akan, 
dalam beberapa hari, mensahkan penggunaan lebih luas Misa Tridentin sebagai 
sebuah bentuk “ekstraordinari” Ritus Latin.
              Seorang imam yang merayakan sebuah Misa seperti itu dalam bahasa 
Latin akan membelakangi umat.
              Sebuah pernyataan Vatikan yang dikeluarkan 28 Juni mengatakan, 
Motu Proprio (keputusan paus yang dikeluarkan “atas inisiatifnya sendiri”) 
mendatang itu akan memperluas “penggunaan Tata Perayaan Ekaristi yang telah 
disahkan oleh Beato Yohanes XXIII tahun 1962." 
              Tahun 1969, menjelang dikeluarkannya dokumen Konsili Vatikan 
Kedua (1962-1965) yang merevisi secara radikal Tata Perayaan Ekaristi yang 
diilhami Konsili Vatikan Kedua termasuk penggunaan bahasa pribumi, Paus Paulus 
VI memberhentikan penggunaan Tata Perayaan Ekaristi Tridentin. 
              Sebelum menjadi paus, Paus Benediktus XVI melaksanakan secara 
serius Tata Perayaan Ekaristi yang tidak diberlakukan itu. Dalam buku wawancara 
“Garam Dunia” (1997), dia mengatakan: "Suatu komunitas akan mempersoalkan 
keadaan hakikinya ketika dia tiba-tiba menyatakan bahwa miliknya yang tersuci 
dan tertinggi sedang disembunyikan secara ketat dan ketika dia mengungkapkan 
kerinduannya akan hal itu, kelihatannya memalukan sekali.”  Menurut 
pandangannya, “Tata Perayaan Ekaristi yang lama itu harus dibuka lebar-lebar 
kepada semua orang yang merindukannya."
              Dia secara tegas memutuskan untuk mengambil arah itu pada 27 Juni 
malam ketika dia berbicara dengan para kardinal dan uskup dari 14 negara dan 
tujuh konferensi waligereja dalam sebuah pertemuan yang diadakan “sub secreto” 
(secara tertutup) di Vatikan. Dia mengatakan kepada mereka bahwa Motu Proprio 
yang akan dikeluarkannya itu akan mengijinkan penggunaan yang lebih luas Tata 
Perayaan Ekaristi yang disahkan oleh Paus Yohanes XXIII, yang tidak lain adalah 
bentuk versi revisi dari Tata Perayaan Ekaristi Paus Pius V 1570.
              Tarcisio Kardinal Bertone, sekretaris negara Vatikan, yang 
mengadakan pertemuan itu, sadar bahwa sejumlah konferensi waligereja menolak 
tegas pelaksanaan kembali Misa Tridentin dalam skala yang lebih luas. Kardinal 
mengundang wakil-wakil dari sejumlah konferensi waligereja dan hadir juga 
sejumlah kecil dari uskup-uskup yang senang dengan dikembalikannya Tata 
Perayaan Ekaristi yang lama itu.
              Hampir  setengah  dari  peserta  berasal  dari  Eropa:  dua  dari 
 Italia,  dua  dari  Prancis,  dan  masing-masing  satu  dari  Jerman,  
Inggris,  dan Switzerland. Juga hadir dua dari Amerika Serikat, dua dari 
Afrika, dan satu dari Asia. Peserta Asia adalah Telesphore Kardinal Toppo dari 
Ranchi, India, ketua Konferensi Waligereja India.
              Walaupun hampir setengah dari umat Katolik di dunia berasal dari 
Amerika Latin, satu-satunya wakil dari Amerika Latin adalah Dario Kardinal 
Castrillon Hoyos, 77, ketua Komisi Kepausan "Ecclesia Dei."
              Komisi itu, yang dibentuk Paus Yohanes Paulus II tahun 1988 untuk 
mendamaikan para anggota Serikat Santo Pius X dengan paus, yang secara keras 
menyerukan agar Tata Perayaan Ekaristi dari Pius V diberlakukan kembali, karena 
Paus Yohanes XXIII memperbarui dan merevisinya untuk meningkatkan rekonsiliasi.
              Pendiri serikat itu, Uskup Agung Marcel Lefebvre, memisahkan diri 
dari paus tahun 1988 dengan menahbiskan empat anggota serikat itu menjadi uskup 
tanpa persetujuan paus.
              Selain mendapat kopian Motu Proprio, para peserta juga menerima 
sebuah surat yang ditulis Paus Benediktus untuk menjelaskan alasan dia 
mengeluarkan keputusan itu. Sejumlah peserta mengakui bahwa Motu Proprio itu 
sulit dimengerti karena ditulis dalam bahasa Latin. 
              Kardinal Bertone menolak laporan media yang mengembar-gemborkan 
bahwa keputusan paus akan melucuti kuasa para uskup dalam masalah ini. Karena 
paus telah mengungkapkan dalam suratnya, kardinal itu hanya mengutarakan tiga 
alasan pokok dokumen itu dikeluarkan.
              Yang pertama dan utama adalah memudahkan persekutuan penuh antara 
Serikat Santo Pius X dengan paus. Tidak diberlakukannya Misa Tridentin 
merupakan alasan utama Uskup Agung Lefebvre dan para pengikutnya memisahkan 
diri dari paus.
              "Lefebvrites" (para pengikut Lefebvre) juga tidak setuju dengan 
banyak hal yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II tentang ekumenisme dan dialog 
antaragama. Para peserta pertemuan itu juga diberi statistik terakhir dari 
Serikat Santo Pius X.
              Alaasan kedua Motu Proprio dikeluarkan adalah untuk membuka 
kemungkinan agar Misa Tridentin “digunakan  secara  lebih  meluas.”  Tidak  
seperti  “bentuk  ordinari”  yang  disetujui  oleh  Paus  Paulus  VI tahun  
1969,  dalam  Motu  Proprio  itu,  Misa  Tridentin  diakui  sebagai  sebuah  
ekspresi  “ekstraordinari” dari  Ritus  Latin.
              Paus Yohanes Paulus II memberi kuasa kepada para uskup untuk 
menyetujui permintaan umat untuk Misa Tridentin, tetapi banyak uskup menolak 
melakukan itu. Paus Benediktus, yang dilobi oleh para tradisionalis dan pada 
dasarnya simpati dengan mereka, menciptakan suatu bentuk “ekstraordinari” 
sebagai cara untuk membuka peluang dan memberi akomodasi bagi orang-orang itu. 
              Alasan ketiga untuk Motu Proprio itu adalah melestarikan 
"perbendaharaan" kebudayaan antik Gereja, termasuk bahasa Latin dalam liturgi, 
dan mengintegrasikannya ke dalam kebudayaan kontemporer.
              Paus Benediktus mengusulkan dalam pertemuan hampir satu jam 
dengan  para peserta itu bahwa jika ada lima atau enam Misa Minggu di sebuah 
katedral, uskup dapat menunjuk satu orang untuk merayakan Misa menurut Tata 
Perayaan Ekaristi dari Paus Yohanes XXIII, jika memang ada sejumlah besar umat 
meminta hal itu. 
              Dalam pertemuan itu, semua peserta sempat mengungkapkan pandangan 
mereka. Beberapa melihat Motu Proprio itu sebagai ungkapan “cinta kasih 
pastoral,” atau peneguhan kuat akan “keanekaragaman dalam persatuan.” Di akhir 
pertemuan itu, hampir semua pada dasarnya menunjukkan sikap menerima teks Motu 
Proprio itu, tetapi beberapa, seperti Prancis, masih abstain.
              Motu Proprio itu memberi kesempatan untuk meninjau kembali 
situasi itu dalam tiga tahun. ***
  ======================================================================
   
  Untuk mengetahui informasi lain seputar karya dan pelayanan Gereja di Asia 
serta informasi terkini dari Vatikan. Silakan kunjungi UCAN website kami di 
www.ucanews.com 
  
       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke