Kalo menurut saya, tentang pantas / tidaknya pakaian yang dikenakan di Gereja 
itu sebenarnya bukan untuk Tuhan. Tapi lebih untuk sesama umat. 

Kalo cewenya pake tank top atau model "pakaian belum jadi" lainnya tentu 
mengganggu yang cowok2. Maunya doa khusuk karena mata fisiknya terbentur 
sesuatu pemandangan indah...hmmmmm.....

Kalo buat Tuhan sih sepertinya fine2 aja, mau telanjang asal "komunikasi dengan 
DIA" ya ga pa pa, wong pertama lahir ya telanjang....he..he..

Bayu

Vitalis Bauk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Rekan-rekan milis yang dikasihi Kristus.

Berikut ini saya sharingkan sebuah berita dari Filipina yang berhasil diliput 
oleh Kantor Berita Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News) mengenai 
Keuskupan Agung Manila yang mengeluarkan pedoman baru tentang berbusana yang 
pantas bila menghadiri Misa di Gereja. 

Bagaimana dengan umat Kristiani di Indonesia ?

Semoga, berita ini  dapat menjadi bahan refleksi bagi kita, apakah kita sudah 
pantas berbusana ke gereja.

Selamat membaca, Tuhan menyertai selalu.


Vitalis.
-------------------------

  
  
ATURAN BERPAKAIAN DALAM MISA MASUK AKAL BAGI BEBERAPA ORANG, TIDAK BISA 
DITERIMA OLEH YANG LAIN
           MANILA (UCAN/24 Juli 2007) -- Banyak wanita menahan diri untuk tidak 
memakai pakaian mini dan pakaian yang terbuka di dada bila ke gereja. Namun ada 
juga sementara orang yang yakin bahwa orang mestinya berbusana sesuai 
keinginannya, kendati Keuskupan Agung Manila mengeluarkan sebuah pedoman baru 
tentang berbusana sepantasnya bila menghadiri Misa.
         Lanelyn Carillo, seorang karyawati kantor, mengatakan dia akhirnya 
“sadar” akan cara dia berbusana ketika menghadiri Misa setelah melihat 
sebuah poster di luar gereja yang memperlihatkan “pantas tidaknya 
berpakaian.”
         Pada 5 Juli setelah menghadiri Misa di Gereja St. Yohanes Pembaptis di 
Quiapo, pusat kota Manila, dia mengatakan  kepada UCA News bahwa dia biasanya 
mengenakan jeans dan kaos, namun pada hari Minggu dia memilih yang terbaik 
ditambah dengan pakaian luar lainnya. “Saya yakin, pedoman baru itu akan 
memperkuat” rasa hormat orang Filipina terhadap “tempat suci,” lanjutnya.
         Poster-poster di luar gereja itu menggambarkan "pakaian yang pantas" 
untuk Misa. Paroki-paroki lain di keuskupan agung itu juga memasang 
poster-poster sejak 19 Juni ketika Pelayanan Urusan Liturgi (MLA, Ministry for 
Liturgical Affairs) memberikan pedoman itu kepada para imam.
         Kaum pria diminta mengenakan kemeja berkerah dan celana panjang atau 
jeans, tetapi “tidak pantas” kalau memakai topi, pakaian olahraga, dan 
celana pendek. Perempuan dianggap pantas mengenakan blus berkerah, rok, 
“pakaian  kantor atau seragam sekolah.”
         Daftar itu juga menyediakan contoh dari pakaian wanita yang "tidak 
pantas" di gereja -- blus dengan spaghetti trap atau tank top, rok mini atau 
skimpy short, baju tanpa lengan atau baju dengan leher terbuka.
         Menurut pandangan Carillo, “tidak ada salahnya" dengan berpakaian 
“sesuai keinginan Anda untuk dilihat orang,” namun “kebebasan” seperti 
itu toh ada batas-batasnya.
         Pada 6 Juli di Paroki Bunda Maria Kaum Tersingkir di Marikina City, 
timur dari Manila, Lito Limbo yang berusia 64 tahun mengkritik aturan 
berpakaian itu sebagai suatu paksaan “yang tak dapat diterima.” “Apa yang 
ada  di hati orang itulah yang lebih penting,” kata pria itu kepada UCA News. 
Limbo juga prihatin bahwa aturan berpakaian itu akan membuat jumlah orang ke 
gereja akan semakin “merosot.”
         Survei Kaum Muda Katolik Nasional tentang Gereja di tahun 2002 
menggambarkan kebanyakan kaum muda Katolik Filipina sebagai “orang yang 
tercatat sebagi Katolik” (nominal Catholics). Dilaporkan, sekitar 44,9 persen 
orang Filipina Katolik yang berusia 13-39 tahun “jarang mempraktekkan 
imannya,” dan hingga 3,8 persen mengatakan mereka “tak pernah mempraktekkan 
imannya.” Survei itu mendefinisikan “nominal Catholics” sebagai orang 
yang menghayati imannya “secara personal,” seperti berdoa atau melakukan 
perbuatan baik, namun “jarang sekali” pergi menghadiri Misa di gereja.
          Namun pada 19 Juni, kata Tonton Casado, seorang asisten program MLA, 
kepada UCA News, pada bulan Juni banyak umat meminta MLA untuk mengeluarkan 
pedoman aturan berpakaian pantas dalam Misa.
         Para imam men-sharing-kan umpan balik dari umat itu dalam 
pertemuan-pertemuan klerus tingkat keuskupan agung sebelum memutuskan untuk 
menggagas pedoman itu. Pastor Godwin Tatlonghari, pelayanan asisten MLA, 
mengeluarkan surat edaran berisi pedoman-pedoman pada 19 Juni untuk 
pastor-pastor paroki, para kapelan, dan para rektor di berbagai tempat ziarah 
di keuskupan agung.
         Menurut surat edaran itu, para umat sendiri meminta para imam untuk 
memperhatikan “peningkatan jumlah umat” yang menghadiri Misa dan 
acara-acara Gereja lainnya "berpakaian sedemikian rupa  sehingga malah 
memperlihatkan tidak adanya rasa hormat akan kekudusan Rumah Allah dan 
kesakralan perayaan liturgis."
         Corazon Yamsuan, direktur komunikasi Keuskupan Agung Manila, 
mengatakan kepada UCA News pada 13 Juli, pelayanan liturgis tidak membahas 
sanksi-sanksi, seperti menolak memberi Komuni atau melarang memasuki gedung 
gereja. "Paroki-paroki memilih untuk lebih baik bicara secara individual dengan 
mereka yang berpakaian kurang pantas, tapi itu hanya untuk mengingatkan 
mereka,” kata Yamsuan. Pedoman aturan berpakaian itu dikeluarkan sebagai 
"peringatan" untuk umat yang datang ke gereja tentang “bersikap pantas” di 
gereja dan dalam Misa, jelas perempuan itu.
         Media sudah menyinggung berbagai pertanyaan tentang sanksi yang bisa 
dihadapi  umat.
     Di Cebu City, 565 kilometer tenggara Manila, Monsignor Esteban Binghay 
mengatakan kepada para wartawan bahwa para pastor cenderung bersikap "tenggang 
rasa" tentang bagaimana orang berpakaian sesuai situasi. Jika gereja dekat 
suatu tempat publik atau taman, katanya, bisa dimengerti bahwa umat datang ke 
gereja dengan berpakaian seperti berpiknik.
         Ia juga mengatakan bahwa sejumlah buruh, terutama di bidang 
konstruksi, bekerja bahkan pada hari-hari Minggu dan ingin menghadiri Misa. Ia 
mengatakan, celana pendek dan baju dalam bisa "tidak pantas" di satu konteks 
tetapi pantas di konteks yang lain. Namun dia menekankan bahwa berpakaian tidak 
pantas memang bisa "mengganggu" umat, tapi itu bukan dosa.
         Monsignor Cayetano Gerbolingo, administrator di katedral Cebu, 
mengatakan kepada UCA News, ia lebih senang memberi “nasehat penuh 
kebapaan” kepada umat dan memperingatkan para imam agar jangan “menghina” 
umat yang datang ke gereja.
  -END-
  

        

---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.   
     
                       

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke