ADAKAH HUBUNGAN IKLIM DENGAN KEPADATAN POPULASI DAN UKURAN TUBUH BURUNG????
   (he he sorry kayak makalah aja:)
  Ada yang tau gak, kenapa kepadatan populasi burung di daerah tropis pada 
umumnya lebih rendah dibanding di daerah empat musim? (Meskipun jumlah spesies 
burung di daerah tropis jelas lebih banyak, tapi kepadatan populasi burung di 
daerah tropis tiap spesiesnya kecil). Dan kenapa pula spesies2 burung yg 
berukuran tubuh besar lebih banyak bertahan/terdapat di daerah empat musim, 
sedangkan di daerah tropis burung2 yg terdapat/bertahan hidup umumnya yg ukuran 
tubuhnya kecil? 
   
  Adakah hubungan antara iklim dan kepadatan populasi burung serta ukuran 
burung??
   
  Sekedar contoh: Menurut info yg saya baca, di kota London masih cukup banyak 
bertahan hidup Peregrine Falcon (Falco peregrinus) yang bersarang di gedung2 
tinggi. Raptor yg ukurannya hampir sebesar elang Jawa (Spizaetus bartelsii) itu 
bisa bertahan hidup di kota besar London, yg berarti dia bisa mendapatkan cukup 
makanan. Berarti daya dukung habitatnya memadai untuk Peregrine bertahan hidup. 
Bayangkan jika burung pemangsa sebesar itu hidup di Jakarta atau kota2 di 
Indonesia yg tropis, kemungkinan besar dia tak akan bertahan hidup karena 
makanan yang tersedia secara alami mungkin tak akan cukup untuk survival burung 
sebesar itu, hanya cukup untuk bertahan hidup raptor2 kecil. 



Alap2 kawah (Falco peregrinus) itu di London di antaranya bertahan hidup dengan 
memangsa merpati liar (feral pigeon, Columba livia) yg melimpah di sana, yg 
anehnya juga bisa bertahan hidup dalam jumlah ribuan, meski penduduk London dan 
juga kota2 lain di Eropa dan Amerika akhir2 ini dilarang memberi makan merpati 
liar (ada undang2 yg melarang memberi makan merpati, karena dikhawatirkan—jika 
makanan melimpah—populasi mereka akan bertambah tak terkendali). Sedangkan di 
kota2 Indonesia, yg bertahan hidup dalam jumlah lumayan melimpah hanyalah 
burung2 berukuran kecil, contohnya burung gereja (Passer montanus), beberapa 
jenis punai kecil sebangsa tekukur (Streptopelia chinensis, yg di Monas cukup 
banyak berkeliaran di rumput), atau bangsa walet2an yg cuma sejempol gedenya, 
dll.
   
  Saya kadang iri ngeliat di gambar2 atau di TV di negeri2 empat musim banyak 
burung2 besar yang hidup bahkan di kota-kota. Saya memang sangat suka dan lebih 
excited kalo ngeliat burung bisa hidup di kota secara alamiah, berdampingan 
dengan populasi manusia, karena menurut saya itu lebih menarik dan 
mengherankan. Kalau di hutan ada burung sih udah biasa kaleee he he he… Walopun 
di hutan di daerah tropis juga cenderung agak susah melihat atau mendengar 
burung. Saya pernah ke hutan di gunung2 di jawa, dan saya kecewa karena 
ternyata jauh lebih mudah melihat dan mendengar burung di Taman Monas (yg 
merupakan habitat buatan, di tengah kota pula) daripada di hutan he he he.. 
karena tingkat kepadatan populasinya yang rendah. Beneran lho.
   
  Contoh lagi: Di pedesaan daerah empat musim juga ada tradisi berburu bebek di 
musim gugur, berarti memang populasi bebek liar di sungai2 atau telaga2 di 
pedesaan cukup tinggi. Padahal kalo di Indonesia, telaga2 yg letaknya cukup 
terpencil pun jarang ada bebek liar, apalagi telaga di pedesaan. Kalopun ada, 
jumlahnya tak begitu banyak. 
   
  Contoh lagi: Di sungai2 dan danau di pedesaan Inggris atau Eropa, bahkan di 
kota London sekalipun, masih bisa dijumpai angsa liar Mute Swan (Cygnus olor). 
Burung yg ukurannya sangat besar dan luarbiasa anggun itu juga bisa bertahan 
hidup di telaga2 atau sungai di pedesaan Inggris atau Eropa, memakan tumbuhan 
air dan siput dll. Sulit membayangkan ada burung sebesar itu bisa hidup di 
pedesaan Indonesia. Apakah tumbuhan air atau siput di daerah tropis tak cukup 
banyak sehingga tak mungkin menyokong survival burung sebesar angsa?? Atau 
tumbuhan air di daerah tropis kadar gizinya terlalu rendah (yg memang sifat 
alamiah tumbuhan tropis) sehingga tak memadai untuk menyokong tumbuhnya habitat 
bagi angsa liar??? 



Bukankah habitat binatang (apalagi hewan yg sangat mobile dan bisa berpindah 
tempat ribuan kilometer seperti burung) tergantung pada tersedianya makanan yg 
memungkinkan survival hewan tersebut? Kalau angsa liar tak ada di daerah 
tropis, berarti memang tak terdapat makanannya di daerah tropis dalam jumlah 
dan mutu yg memadai sehingga angsa tak hidup/tak berpindah ke daerah tropis. 
Itu perkiraan saya, gak tau deh benar atau gak he he..
   
  Sekedar perbandingan, telaga2 atau danau di daerah empat musim dihuni bangsa 
bebek atau angsa (Anatidae) yg ukuran tubuhnya besar2, semisal Mute Swan 
(Cygnus olor) yang rentang sayapnya rata-rata 2 meter, Trumpeter Swan (Cygnus 
buccinator) yg pejantannya bisa sampe berbobot 12 kg dengan rentang sayap 3 
meter, atau Angsa Kanada (Branta Canadensis) yg rentang sayapnya juga rata-rata 
2 meter. Yang semua jenis itu jelas jauh lebih besar dan mayestik bila 
dibanding misalnya belibis (Dendrocygna arcuata) yang dijumpai di wetlands 
daerah tropis.
   
  Dan saya kira masih banyak contoh lainnya…
   
  Apa yg menyebabkan perbedaan kepadatan populasi dan ukuran burung antara 
daerah tropis dan daerah empat musim ya???
  

Regards,
Hasto P.
   
  


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke