Wah mas hasto dulu di jakarta mah gagak dan elang tikus dan mungkin juga 
kestrel umum di sini (lihat catatannya hogerwerf tentang burung-burung di 
batavia). tapi tau lah orang indonesia, siapa yang tahan liat barang bagus, 
kalo nggak pingin memiliki trus ditembak dan dikejar-kejar, trus siapa yang 
tahan liat lahan hutan kosong kalo nggak pingin segera diuruk trus dijadiin 
tempat usaha sehingga tempat tinggal maupun tempat cari makannya hilang. apakah 
orang-orang tersebut peduli, bagi mereka yang penting gw bisa makan ... masa 
bodoh ama lingkungan.
   
  Ya sebagai contoh dikota-kota di Kalimantan, kita masih bisa melihat elang 
bondol dan elang laut perut putih di tengah kota. hal ini karena budaya 
masyarakat kalimantan yang tidak memelihara burung, berbeda dengan kebudayaan 
di Jawa. dan juga masih ada hutan-hutan yang mendukung kehadiran mereka di 
sekitar kota. 
   
  Ady Kristanto

Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Terima kasih buar mas Satriya yg udah kasih penjelasan panjang lebar 
dan ilmiah, mundur sampe ke jaman benua Pangaea segala. Saya malah gak pernah 
berpikir sejauh itu:)...Juga buat mas Seno yg penjelasannya sangat mencerahkan:)

Terlebih dulu saya mau bilang bahwa latar belakang pendidikan saya samasekali 
tak berkaitan dengan ekologi, biodiversity, biologi dll sehingga maaf kalau 
tulisan saya terkesan "awam" soal ini..

Buat mas Satriya, penjelasannya menurut saya tak perlu ditarik begitu jauh 
sampai jutaan tahun lalu ketika spesies2 juga belum lagi terbentuk spt 
sekarang. Cukup ribuan atau bahkan ratusan atau puluhan tahun lalu, kalo memang 
angsa baru beberapa puluh tahun lalu mendapati bahwa daerah tropis cocok untuk 
habitat mereka, pasti mereka juga segera ekspansi menyebarkan habitatnya ke 
daerah tropis. karena sifat mahluk hidup kan slalu ekspansi mencari sumber 
pakan baru. Tapi ternyata mereka tak ekspansi ke daerah tropis, mereka lebih 
memilih di sana dgn resiko persaingan antar sesama karena populasi yg 
meningkat, datangnya musim dingin yg langka pangan dll. padahal kalo di daerah 
tropis tak perlu repot2 terbang ribuan kilo untuk menghindari datangnya salju. 
pasti ada sebabnya: mungkin daerah tropis tak menyediakan cukup nutrisi untuk 
kelangsungan hidup burung sebesar mereka. apalagi menu angsa2 itu mayoritas 
cuma aquatic plants (tumbuhan air yg hidup di dasar kolam/telaga), yg
 tentunya nilai nutrisinya rendah (karena bukan biji-bijian/buah tanaman). 
Mungkin aquatic plants di daerah tropis tak cukup bergizi (soal ini akan saya 
bahas nanti) untuk menopang kehidupan mereka.

Saya juga tak pernah bilang di daerah tropis tak ada jenis2 burung besar, saya 
cuma bilang jumlahnya sedkit. saya ambil contoh yg gampang itu falco peregrinus 
yg bisa bertahan hidup di kota london, sebabnya pasti karena di sana masih 
banyak mangsa berupa burung2 besar yg bisa diburu. Sedangkan kalo hidup di 
jakarta, dia mungkin tak akan survive karena di jakarta yg hidup kebanyakan 
cuma burung2 kecil yg mungkin tak memadai untuk mangsa raptor besar. Kalopun si 
Falco atau alap2 kawah ini bermigrasi ke tropis, jumlahnya pasti juga tak 
banyak di satu tempat. Raptor besar di Jawa kebanyakan hidup di tempat2 yg jauh 
dari habitasi manusia, kehadirannya ekslusif dan langka, tidak "common" spt 
kehadiran peregrine falcon di london atau di kota2 empat musim lainnya. 

COntoh lainnya juga burung gagak, di Indonesia di desa pun gagak jarang bisa 
dijumpai, bahkan di luar jawa yg alamnya belum rusak, gagak bukan pemandangan 
yg banyak dijumpai, apalagi di kota2 besar. Padahal common raven atau Corvus 
corax (sejenis gagak tapi lebih besar, 60-70 cm) merupakan pemandangan yg 
"common" di kota2 atau pedesaan empat musim, bukan eksklusif dan hanya bisa 
diliat di tempat2 tertentu seperti di Indonesia. Itu sekedar contoh aja.

Soal rendahnya kepadatan populasi burung di daerah tropis ini, kemarin saya 
cari2 di internet dan saya nemu hasil penelitian seorang avian ecologist yg 
mendukung "teori" saya:) Dari hasil penelitiannya, ternyata memang clutch size 
(jumlah telur yg dihasilkan tiap kali musim breeding), kalau diurut berdasar 
latitude dari kutub sampai daerah tropis, yg paling rendah adalah jumlah telur 
burung di daerah tropis. jadi burung tropis bertelur lebih sedikit dibanding 
sepupu mereka yg tinggal di empat musim (jika yg dibandingkan adalah burung 
dari jenis yg sama). Dan setelah dipilah lagi, clutch size yg terendah itu 
terdapat pada daerah tropis yg benar2 unseasonal (tanpa variasi musim 
samasekali sepanjang tahun), misalnya curah hujannya sama/besar terus sepanjang 
tahun (daerah hutan hujan tropis). Di daerah tropis yg lebih seasonal (misal 
terdapat perbedaan jelas antara musim basah dan musim kering), walopun clutch 
size-nya juga rendah tapi tetaplah tak serendah seperti di daerah
 tropis yg unseasonal. Ternyata bukan cuma latitude yg mempengaruhi populasi, 
dinamika musim juga.

Kenyataan itu pulalah yg mungkin menyebabkan kenapa kepadatan populasi burung 
di daerah tropis relatif lebih rendah dibanding daerah empat musim (di samping 
karena sebab2 lain, seperti dengan sangat bagus sudah dijelaskan oleh Mas 
Seno). Jarang ada burung tropis yg bisa dijumpai dalam flocks (kawanan yg 
mencapai puluhan atau ratusan burung dalam satu pohon), kecuali burung2 kecil 
hama sawah. Tak seperti burung daerah empat musim.

Buat Mas Seno,
soal perbedaan ukuran binatang dan hubungannya dengan latitude, kayaknya memang 
pada bangsa burung fenomena itu memang ada tapi tak terlalu terlihat jelas, tak 
selalu begitu. Kadang ada saja anomali. 
Menurut saya fenomena perbedaan ukuran binatang antara binatang tropis dan 
binatang daerah empat musim lebih jelas terlihat pada mamalia. Sekedar contoh, 
harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) adalah harimau terkeci di dunia. 
yang sedikit lebih besar adalah harimau jawa (panthera tigris sondaica), lebih 
besar lagi adalah harimau india, dan jenis harimau yg terbesar di dunia adalah 
harimau siberia yg hidup di korea, cina utara, siberia dll.

Kalo dilihat, ada yg menarik karena kok ya sama dengan clutch size pada bangsa 
burung. yg ukuran tubuhnya terkecil adalah harimau daerah tropis unseasonal 
seperti sumatra, yg relatif curah hujannya lebih tinggi sehingga terdapat hutan 
hujan tropis. 
harimau jawa ternyata sedikit lebih besar, dan jawa adalah pulau tropis yg 
iklimnya seasonal, jelas banget perbedaan musim basah dan kering, bahkan di 
daerah2 tertentu cenderung musim keringnya panjang setengah sabana (misal di 
ujung Jatim). 
Lebih besar dari harimau jawa adalah harimau india. iklim india, terutama india 
utara, adalah subtropis yg juga ada perbedaan tegas musim basah dan kering 
serta musim panas dan dingin (meski musim dinginnya tak bersalju karena masih 
dekat dgn perbatasan tropis). 
Dan harimau terbesar adalah jenis harimau siberia, yg hidup di daerah "truly 
temperate" yg perbedaan musim panas dan dinginnya sempurna, ditandai dengan 
turunnya salju di musim dingin, spt korea, cina utara, siberia.

Harimau baru satu contoh, banyak contoh lain kalau mau nyari mah:)

Radiasi matahari yg tinggi di daerah tropis memang satu keunggulan, yg 
menyebabkan begitu banyak spesies (sembarang spesies, tak perlu spesies yg 
kuat) bisa hidup dan punya habitat di daerah tropis. itu sebabnya 
keanekaragaman spesies mahluk hidup di daerah tropis sangat tinggi. Tapi soal 
mutu spesies, itu soal lain. Intensitas sinar matahari yg tinggi di daerah 
tropis (dibarengi dengan ketersediaan air dan suhu yg hangat sepanjang tahun) 
menyebabkan tumbuh2an terkondisi untuk tumbuh dan membesar dengan cepat, hijau 
dan sangat rimbun. Tapi ternyata kehijauah dan kerimbunan ini tak berbanding 
lurus dengan kandungan gizinya. Kecepatan tumbuh ini, dipadu dengan sedikitnya 
mineral di tanah daerah tropis dan tipisnya humus, menyebabkan tumbuhan tak 
bisa membentuk zat gizi yg cukup banyak dalam proses pertumbuhannya. Sehingga, 
jika diukur, kandungan gizi (terutama protein) pada daun-daunan atau segala 
tumbuhan di daerah tropis relatif lebih rendah jika dibanding tumbuhan di
 daerah empat musim. DI daerah tropis, tumbuh2an lebih banyak terdiri atas air 
dan serat, dan cuma sedikit mengandung zat gizi (kalo tak yakin soal ini, 
silakan tanya ahli biologi pertanian he he. saya sendiri cuma menghubung2kan 
logika saya sendiri dengan literatur yg pernah saya baca). Kandungan gizinya, 
terutama proteinnya, relatif rendah jika dibanding tumbuhan daerah empat musim.

Menurut saya, ukuran yg kecil pada binatang daerah tropis itu juga salah satu 
bentuk adaptasi biologis terhadap rendahnya kandungan protein pada tumbuhan 
daerah tropis (yg merupakan sumber pakannya). Dengan bertubuh lebih kecil, 
binatang itu butuh lebih sedikit protein untuk hidup sehingga kebutuhan itu 
lebih mudah terpenuhi di tengah rendahnya sumber gizi di daerah tropis. Kalau 
tubuhnya lebih besar, konsekwensinya mereka butuh lebih banyak protein (yg 
mungkin tak bisa terpenuhi). Di samping itu (ini yg sering saya baca) tubuh 
kecil lebih menguntungkan di daerah panas karena lebih mudah melepas kelebihan 
panas. Sedangkan tubuh besar lebih menguntungkan di daerah dingin karena tubuh 
yg besar lebih bisa mempertahankan panas agar tak cepat hilang dari tubuh.

Maaf kalau tulisan saya banyak yg salah, dan buat mereka yang banyak lebih tau 
soal ini, tolong dibetulkan, karena saya sebenernya cuma awam, saya nggak 
menguasai ilmu soal ini secara akademis.

Regards,
Hasto P.



sena adisubrata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      Terima kasih mas Ige, ucapan 
selamat datangnya...
saya pingin gabung di milis ini biar dapat banyak info dari temen yang udah 
banyak pengalaman lapangan....(kulakan informasi).

menambahi komentar mas Satriya...

memang ada korelasi antara iklim dengan kepadatan (tepatnya mungkin kelimpahan 
dan distribusi) burung. Karakter iklim sebenarnya hanya merupakan konsekuensi 
dari posisi geografis terhadap matahari sebagai sumber energi. Semakin jauh 
dari matahari, semakin sedikit radiasi energi matahari. Negara2 4 musim 
biasanya menerima energi matahari lebih sedikit dari tropis, sehingga  lebih 
sedikit jenis organisme yang bisa survive di negara 4 musim daripada di tropis. 
Akibatnya resources (pakan, shelter, breeding site dll) yang tersedia bagi 
animal juga lebih sedikit ragamnya drpd tropis (namun bisa jadi kuantitas per 
jenisnya lebih banyak).  Satwa yang bisa memanfaatkan resources itu juga 
terbatas. Sehingga jenis organisme (tidak hanya satwa) di negara 4 musim lebih 
sedikit drpd tropis.

Tropis melimpah energi mataharinya, demikian juga resourcesnya, sehingga 
organisme yang survive juga lebih banyak. Namun karena faktor kompetisi dan 
predasi, organisme harus 'struggle' dengan membentuk niche-nya masing-masing. 
Sehingga jumlah jenis tetap banyak namun jumlah individu per jenis lebih 
sedikit. Itu mungkin sebabnya mengapa kepadatan populasi di tropis relatif 
lebih rendah daripada di negara 4 musim.

Sedangkan korelasi antara ukuran tubuh dengan iklim, saya belum pernah 
mengetahui secara jelas. Mungkin karena organisme yang bertubuh besar lebih 
mampu beradaptasi. 


Itu saja tambahan komentarnya

terima kasih.....


seno




  
  
---------------------------------
  Lesen Sie Ihre E-Mails jetzt einfach von unterwegs mit Yahoo! Go.   


    
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.  

                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke