Mungkin belum sepenuhnya menjadi jawaban, tetapi hanya sekedar tanggapan 
mengenai pertanyaan Mas Hasto, mohon dikoreksi dan ditambahi karena saya yakin 
masih banyak kurangnya.
   
  Dalam sejarahnya, masing-masing spesies burung (dan semua makhluk hidup di 
bumi) telah melampaui proses yang panjang dalam menemukan bentuk ideal yang 
menunjang kelangsungan hidupnya dalam menghadapi tantangan yang alam berikan. 
proses ini banyak kita kenal dengan sebutan "adaptasi" yang meliputi 
penyesuaian morfologi (termasuk ukuran),perilaku,dan tipe pakan (dan tentu saja 
tingkat konversinya). Banyak faktor yang mempengaruhi makhluk hidup untuk 
melakukan penyesuaian tersebut. Sepanjang yang saya tahu, faktor tersebut 
antara lain Letak  Geografis (longitude,latitude dan altitude), Iklim, Habitat, 
ketersediaan pakan dan keberadaan predator. Bentuk penyesuaian terhadap 
masing-masing faktor bisa saja spesifik, namun karena adanya korelasi antar 
faktor tersebut maka mereka tidak bisa begitu saja disebut sebagai satu-satunya 
faktor yang berperan dalam suatu bentuk adaptasi .Yang jelas, proses adaptasi 
akan berhenti jika suatu spesies sudah menemukan titik ideal atau keadaan
 yang paling sesuai. 
   
  Sedikit mengulas tentang perbandingan antara jenis bebek di Indonesia (Asia) 
dengan bebek dan angsa di Eropa dan Amerika. Dari sejarah geologisnya benua 
mereka sudah dipisahkan ratusan juta tahun yang lalu, semenjak lempeng benua 
purba yang disebut Pangea terbelah menjadi dua, Gondwana dan Laurasia. Gondwana 
adalah cikal bakal Afrika, Amerika Selatan dan Australia (serta beberapa bagian 
Nusantara,antara lain Papua, dan Maluku). Sedangkan Laurasia dikemudian era 
berubah menjadi Eropa, Asia dan Amerika Utara (wilayah Holarctic)serta berpisah 
lagi menjadi Palearctic dan Nearctic (pembagian wilayah zoogeografis). Pada 
masa itu belum ada burung modern seperti saat ini. 
   
  Baru sekitar 135 juta tahun yll (pd masa Jurassic), ada kadal usil bernama 
Archaeopteryx yang mencoba menumbuhkan bulu di lengan dan ekornya untuk 
membantunya terbang, tapi beberapa kepleset dan jatuh ke sungai dan tertimbun 
sedimen(yang nantinya membatu dan jadilah nama belakangnya "lithographica"). 
Kawan2nya yg masih hidup terus berkembang dan menyebar keseluruh pelosok jagat 
dengan bentuk penyesuaiannya masing-masing. Sementara lempeng-lempeng benua 
terus bergeser, membentuk gunung2, lembah, palung, danau, lautan sebagai 
barrier(penghalang) alami yang mengisolasi banyak spesies untuk tetap tinggal 
dalam wilayahnya (beberapa barrier dijadikan batas wilayah zoogeografis). Hal 
inilah pemicu adaptasi dan seleksi alam terpisah yang menghasilkan 
spesies-spesies baru. Jadi bukan wilayah tropis atau subtropis yg menjadi biang 
perbedaan ukuran.
   
  Bagi mereka yang merasa kecukupan ya enjoy saja tinggal disitu, beranak pinak 
dan mengisi niche tertentu dan bagi mereka yang tidak puas tidak ada opsi lain 
kecuali untuk terus mengubah dirinya agar bisa melompati barrier-barrier tadi. 
Nah, sepertinya angsa-angsa di Eropa termasuk golongan pertama, sudah merasa 
nyaman dan ogah meninggalkan tanah kelahirannya, itu sebabnya dia tidak 
dijumpai di kawasan Indonesia yg baru terbentuk sekitar 15 juta tahun yll (pada 
epoh Miocene dan berbentuk seperti sekarang pada epoh Pliocene sekitar 1-10 
juta thn yll). Sedangkan bagi Peregrine Falcon, tingginya gunung, luasnya 
samudra tidak menyurutkan hasratnya untuk mencicipi burung dara penyet dari 
seluruh dunia. Saya rasa sementara ini cukup dulu sejarahnya...dilanjut kapan2 
lagi...
   
  Di Jawa juga ada kok burung berukuran besar, al: Bangau Sandanglawe, 
Tongtong,Bluwok, Undan dan berbagai jenis elang. Kalo masalah jumlah yg sedikit 
silahkan tanya ke Pak Yus atau Kang Uya Maruya yg   punya data tentang jumlah 
burung yg diburu dalam setahun 
  di Indramayu. 
  Dengan adanya festival berburu yg diselenggarakan 1 tahun sekali, perburuan 
justru bisa dikontrol dan jumlah buruan bisa terus di monitor. Pemanenan 
terkendali akan menyediakan keseimbangan antara kebutuhan manusiawi dengan 
kelestarian burung. Bandingkan dengan di negara kita yang musim berburunya 
sepanjang tahun.
   
  Mas Hasto kapan2 maen saja ke Jogja, di Trisik banyak bebek lho...
   
  Best Regards
  Satriya
   
  
Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
  ADAKAH HUBUNGAN IKLIM DENGAN KEPADATAN POPULASI DAN UKURAN TUBUH BURUNG????
  <!--[if !supportEmptyParas]--> (he he sorry kayak makalah aja:)<!--[endif]-->
  Ada yang tau gak, kenapa kepadatan populasi burung di daerah tropis pada 
umumnya lebih rendah dibanding di daerah empat musim? (Meskipun jumlah spesies 
burung di daerah tropis jelas lebih banyak, tapi kepadatan populasi burung di 
daerah tropis tiap spesiesnya kecil). Dan kenapa pula spesies2 burung yg 
berukuran tubuh besar lebih banyak bertahan/terdapat di daerah empat musim, 
sedangkan di daerah tropis burung2 yg terdapat/bertahan hidup umumnya yg ukuran 
tubuhnya kecil? 
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Adakah hubungan antara iklim dan kepadatan populasi burung serta ukuran 
burung??
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Sekedar contoh: Menurut info yg saya baca, di kota London masih cukup banyak 
bertahan hidup Peregrine Falcon (Falco peregrinus) yang bersarang di gedung2 
tinggi. Raptor yg ukurannya hampir sebesar elang Jawa (Spizaetus bartelsii) itu 
bisa bertahan hidup di kota besar London, yg berarti dia bisa mendapatkan cukup 
makanan. Berarti daya dukung habitatnya memadai untuk Peregrine bertahan hidup. 
Bayangkan jika burung pemangsa sebesar itu hidup di Jakarta atau kota2 di 
Indonesia yg tropis, kemungkinan besar dia tak akan bertahan hidup karena 
makanan yang tersedia secara alami mungkin tak akan cukup untuk survival burung 
sebesar itu, hanya cukup untuk bertahan hidup raptor2 kecil. 

  

  Alap2 kawah (Falco peregrinus) itu di London di antaranya bertahan hidup 
dengan memangsa merpati liar (feral pigeon, Columba livia) yg melimpah di sana, 
yg anehnya juga bisa bertahan hidup dalam jumlah ribuan, meski penduduk London 
dan juga kota2 lain di Eropa dan Amerika akhir2 ini dilarang memberi makan 
merpati liar (ada undang2 yg melarang memberi makan merpati, karena 
dikhawatirkan—jika makanan melimpah—populasi mereka akan bertambah tak 
terkendali). Sedangkan di kota2 Indonesia, yg bertahan hidup dalam jumlah 
lumayan melimpah hanyalah burung2 berukuran kecil, contohnya burung gereja 
(Passer montanus), beberapa jenis punai kecil sebangsa tekukur (Streptopelia 
chinensis, yg di Monas cukup banyak berkeliaran di rumput), atau bangsa 
walet2an yg cuma sejempol gedenya, dll.
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Saya kadang iri ngeliat di gambar2 atau di TV di negeri2 empat musim banyak 
burung2 besar yang hidup bahkan di kota-kota. Saya memang sangat suka dan lebih 
excited kalo ngeliat burung bisa hidup di kota secara alamiah, berdampingan 
dengan populasi manusia, karena menurut saya itu lebih menarik dan 
mengherankan. Kalau di hutan ada burung sih udah biasa kaleee he he he… Walopun 
di hutan di daerah tropis juga cenderung agak susah melihat atau mendengar 
burung. Saya pernah ke hutan di gunung2 di jawa, dan saya kecewa karena 
ternyata jauh lebih mudah melihat dan mendengar burung di Taman Monas (yg 
merupakan habitat buatan, di tengah kota pula) daripada di hutan he he he.. 
karena tingkat kepadatan populasinya yang rendah. Beneran lho.
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Contoh lagi: Di pedesaan daerah empat musim juga ada tradisi berburu bebek di 
musim gugur, berarti memang populasi bebek liar di sungai2 atau telaga2 di 
pedesaan cukup tinggi. Padahal kalo di Indonesia, telaga2 yg letaknya cukup 
terpencil pun jarang ada bebek liar, apalagi telaga di pedesaan. Kalopun ada, 
jumlahnya tak begitu banyak. 
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Contoh lagi: Di sungai2 dan danau di pedesaan Inggris atau Eropa, bahkan di 
kota London sekalipun, masih bisa dijumpai angsa liar Mute Swan (Cygnus olor). 
Burung yg ukurannya sangat besar dan luarbiasa anggun itu juga bisa bertahan 
hidup di telaga2 atau sungai di pedesaan Inggris atau Eropa, memakan tumbuhan 
air dan siput dll. Sulit membayangkan ada burung sebesar itu bisa hidup di 
pedesaan Indonesia. Apakah tumbuhan air atau siput di daerah tropis tak cukup 
banyak sehingga tak mungkin menyokong survival burung sebesar angsa?? Atau 
tumbuhan air di daerah tropis kadar gizinya terlalu rendah (yg memang sifat 
alamiah tumbuhan tropis) sehingga tak memadai untuk menyokong tumbuhnya habitat 
bagi angsa liar??? 

  

  Bukankah habitat binatang (apalagi hewan yg sangat mobile dan bisa berpindah 
tempat ribuan kilometer seperti burung) tergantung pada tersedianya makanan yg 
memungkinkan survival hewan tersebut? Kalau angsa liar tak ada di daerah 
tropis, berarti memang tak terdapat makanannya di daerah tropis dalam jumlah 
dan mutu yg memadai sehingga angsa tak hidup/tak berpindah ke daerah tropis. 
Itu perkiraan saya, gak tau deh benar atau gak he he..
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Sekedar perbandingan, telaga2 atau danau di daerah empat musim dihuni bangsa 
bebek atau angsa (Anatidae) yg ukuran tubuhnya besar2, semisal Mute Swan 
(Cygnus olor) yang rentang sayapnya rata-rata 2 meter, Trumpeter Swan (Cygnus 
buccinator) yg pejantannya bisa sampe berbobot 12 kg dengan rentang sayap 3 
meter, atau Angsa Kanada (Branta Canadensis) yg rentang sayapnya juga rata-rata 
2 meter. Yang semua jenis itu jelas jauh lebih besar dan mayestik bila 
dibanding misalnya belibis (Dendrocygna arcuata) yang dijumpai di wetlands 
daerah tropis.
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Dan saya kira masih banyak contoh lainnya…
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->
  Apa yg menyebabkan perbedaan kepadatan populasi dan ukuran burung antara 
daerah tropis dan daerah empat musim ya???
  <!--[if !supportEmptyParas]-->

  Regards,
  Hasto P.<!--[endif]-->
  <!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]-->


    
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.  

                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke