Mas2, Mbak2, dan Adik2 para aktivis n ahli perburungan di milis ini (kayaknya 
gw doang ya orang awam yg nyelonong jadi member milis ini?), gw mo nanya, 
mungkin gak sih melakukan reintroduksi (semacam pelepasliaran) spesies burung 
raptor yg telah punah di suatu daerah (dengan melepas burung yg berasal dari 
tempat lain) supaya populasi spesies itu kembali recover di tempat tersebut??

Selama ini gw udah liat berbagai daftar spesies2 burung yg hidup di monas, 
senayan, atau di kota bandung, tak pernah ada satu pun spesies raptor di 
dalamnya. Bahkan di pedesaan pun raptor adalah pemandangan yg sangat langka di 
indonesia, terutama raptor resident, bukan migrant. 

gw pikir para raptor itu tak dijumpai lagi di jakarta semata2 bukan karena daya 
dukung habitatnya tak lagi memadai untuk survival raptor, tapi terutama lagi 
karena campur tangan manusia (ditangkap untuk diperdagangkan, ditembak dll) yg 
menyebabkan kepunahannya. 

Jadi, menurut gw, populasi mereka sebenarnya bisa pulih seandainya ada uluran 
tangan/bantuan manusia. Misalnya dengan mereintroduksi spesies raptor yg 
dulunya ada tapi sekarang telah punah di tempat itu, dgn mendatangkan dari 
tempat lain kemudian dilepas di situ. 

Untuk di kota jakarta, terutama bisa dicoba untuk raptor2 kecil. Kalo raptor 
besar sih  kemungkinan habitatnya memang tak mampu lagi mendukung kelangsungan 
hidupnya, karena ketiadaan mangsa berupa burung2 yg berukuran besar yg tinggal 
di kota. 

(Aneh juga soal ini, padahal di tempat2 lain, raptor besar  semacam Falco 
peregrinus masih banyak bertahan hidup di kota2 besar, misal di kota2 Eropa 
sana. Juga di pedesaan Inggris, menurut video Return of the Eagle Owl keluaran 
BBC, di situ dikatakan rata-rata ada sepasang common buzzard tiap jarak 800 
meter di sana. berarti densitas raptor di sana cukup tinggi)

Memang gw awam dan belom pernah melakukan studi kelayakan apakah habitat 
semacam jakarta masih memungkinkah untuk hidupnya raptor kecil. Tapi saya 
memperkirakan, raptor2 kecil semacam alap2 capung (Microhierax fringilarius) 
pasti bisa bertahan hidup di jakarta, seandainya saja ia dihadirkan kembali. 
Sebab, mangsa yg merupakan makanan alap2 capung masih cukup banyak dan ada 
dimana2 dari kawasan permukiman sampai taman2 kota, misalnya burung gereja 
(Passer montanus) dan berbagai jenis bulbul (kutilang, cerukcuk dll) yg juga 
masih cukup banyak.

Coba bayangin, andai saja si alap2 capung berhasil direintroduksi di kawasan 
Monas or Senayan, maka sembari duduk2 di taman kita bisa menyaksikan atraksi yg 
menarik: alap2 capung mengejar2 atau berburu burung gereja dan bulbul. Asyik, 
kan? Selama ini gw cuma bisa ngeliat foto raptor mini yg imut tapi kekar itu 
memangsa burung2 kecil sembari perching di kabel listrik. tapi itu kayaknya di 
thailand atau malaysia. Gw yakin di jakarta habitatnya juga masih mampu 
mendukung survival si elang kerdil ini. 

Hasto P. Irawan







      

Kirim email ke