Wah, setuju Mba Ir...jangan kan di kota, di hutan nun jauh dari tempat tinggal manusia aja raptor (terutama mungkin yg endemik dan langka) banyak diburu.. dan mungkin di pasar burung harganya ngga murah.
Untuk raptor di kota, FYI. Sewaktu musim migrasi di Jakarta jenis2 migran sering terlihat, mungkin juga mereka roosting di hutan kota UI . Begitu juga jenis penetap, di Bandara Soekarno-Hatta (jenis2 alap mungkin ya..) Kalu mau melihat dr sisi "keamanan" si burung2 raptor di kota (Jakarta), saya sendiri agak pesimis menyerahkan tanggungjwb itu pada Brimob/satpol pp, bahkan TNI sekalipun. tanpa meremehkan peran mereka, tapi itu bukan tugas utama mereka... juga mereka ngga bisa dipaksa untuk "mengamankan" Jakarta untuk burung2... Sekalipun jika ada perda-nya, tahu sendiri lah.. Tapi siapa bilang di pedesaan (/tmp yg jauh dari kota) jarang tdpt raptor ? meminjam istilah Pak Yus, "mungkin pengamatnya yang jarang..." klo pun iya ada yg ngamatin, hasil pengamatannya tidak di-share ke publik... klo pun iya di-share, mungkin dlm bentuk yg lebih spesifik, media cetak misalnya, yang tidak semua orang bisa mengaksesnya. atau misal bukan di milis, klo pun iya di milis, tapi bukan di milis ini, mungkin milis burung pemangsa. Waaaah, banyak kemungkinannya yaa!! Untuk pelepasliaran, mungkin temen2 yg punya pengalaman di bidang ini bisa memberikan informasi lbh jauh. satu lagi, jangan samakan Indonesia dg negara maju seperti Inggris atau negara eropa lainnya dlm hal "perburungan". Salam, Dwi --- In [email protected], Hasto P Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau ada raptor bakal habis dtembakin pemburu burung di Monas? > > Kalo menurut gw mah enggak juga tuh, karena di Monas selalu dijaga 24 jam oleh Brimob dan Satpol PP yg secara reguler juga masuk sampe ke tengah2 taman, ke rerimbunan2 pohon yang tak kelihatan. Sehingga jangankan bawa senapan buat nembak (yg pasti keliatan gede), bawa plintheng aja pasti ketahuan. Karena amannya dari gangguan manusia (meski tiap hari ratusan orang masuk ke Monas), burung2 di Monas jadi gak takut pada manusia. Sampai2 tekukur banyak berjalan2 di tanah dekat dengan manusia yg duduk2, karena mereka telah lama belajar bahwa ternyata manusia di situ tak pernah ada yg mengejar2 mereka, padahal di tempat lain tidak. > > Di samping memantau gangguan terhadap satwa, satpol PP dan brimob di monas juga menjaga agar Monas tidak dimanfaatkan sebagai tempat mesum gratisan he hehe.. Karena di hari kerja (bukan hari libur), Monas lumayan sepi sehingga memungkinkan pasangan2 yg duduk di bangku2 tersembunyi di tengah taman melakukan hal2 yg ehm ehm horroorrr... tau sendirilah....:) > > --- On Wed, 7/23/08, Irma Dana [EMAIL PROTECTED] wrote: > > From: Irma Dana [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [SBI-InFo] Reintroduksi raptor yg telah punah, mungkinkah?? > To: [email protected] > Date: Wednesday, July 23, 2008, 3:45 AM > > > > > > > > kalo raptor di lepad di Monas...pasti di uber2 sama pemburung burung deh Mas Hasto:) > di hutan aja abis di buru, apalagi di tengah kota ya....he...he. ..ini jawaban dari orang awam juga lho! > Ayo teman-teman pencinta raptor...dijawab ya... > > peace, > irma > > > 2008/7/23 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>: > > > > > > > > > > > Mas2, Mbak2, dan Adik2 para aktivis n ahli perburungan di milis ini (kayaknya gw doang ya orang awam yg nyelonong jadi member milis ini?), gw mo nanya, mungkin gak sih melakukan reintroduksi (semacam pelepasliaran) spesies burung raptor yg telah punah di suatu daerah (dengan melepas burung yg berasal dari tempat lain) supaya populasi spesies itu kembali recover di tempat tersebut?? > > Selama ini gw udah liat berbagai daftar spesies2 burung yg hidup di monas, senayan, atau di kota bandung, tak pernah ada satu pun spesies raptor di dalamnya. Bahkan di pedesaan pun raptor adalah pemandangan yg sangat langka di indonesia, terutama raptor resident, bukan migrant. > > gw pikir para raptor itu tak dijumpai lagi di jakarta semata2 bukan karena daya dukung habitatnya tak lagi memadai untuk survival raptor, tapi terutama lagi karena campur tangan manusia (ditangkap untuk diperdagangkan, ditembak dll) yg menyebabkan kepunahannya. > > Jadi, menurut gw, populasi mereka sebenarnya bisa pulih seandainya ada uluran tangan/bantuan manusia. Misalnya dengan mereintroduksi spesies raptor yg dulunya ada tapi sekarang telah punah di tempat itu, dgn mendatangkan dari tempat lain kemudian dilepas di situ. > > Untuk di kota jakarta, terutama bisa dicoba untuk raptor2 kecil. Kalo raptor besar sih kemungkinan habitatnya memang tak mampu lagi mendukung kelangsungan hidupnya, karena ketiadaan mangsa berupa burung2 yg berukuran besar yg tinggal di kota. > > (Aneh juga soal ini, padahal di tempat2 lain, raptor besar semacam Falco peregrinus masih banyak bertahan hidup di kota2 besar, misal di kota2 Eropa sana. Juga di pedesaan Inggris, menurut video Return of the Eagle Owl keluaran BBC, di situ dikatakan rata-rata ada sepasang common buzzard tiap jarak 800 meter di sana. berarti densitas raptor di sana cukup tinggi) > > Memang gw awam dan belom pernah melakukan studi kelayakan apakah habitat semacam jakarta masih memungkinkah untuk hidupnya raptor kecil. Tapi saya memperkirakan, raptor2 kecil semacam alap2 capung (Microhierax fringilarius) pasti bisa bertahan hidup di jakarta, seandainya saja ia dihadirkan kembali. Sebab, mangsa yg merupakan makanan alap2 capung masih cukup banyak dan ada dimana2 dari kawasan permukiman sampai taman2 kota, misalnya burung gereja (Passer montanus) dan berbagai jenis bulbul (kutilang, cerukcuk dll) yg juga masih cukup banyak. > > Coba bayangin, andai saja si alap2 capung berhasil direintroduksi di kawasan Monas or Senayan, maka sembari duduk2 di taman kita bisa menyaksikan atraksi yg menarik: alap2 capung mengejar2 atau berburu burung gereja dan bulbul. Asyik, kan? Selama ini gw cuma bisa ngeliat foto raptor mini yg imut tapi kekar itu memangsa burung2 kecil sembari perching di kabel listrik. tapi itu kayaknya di thailand atau malaysia. Gw yakin di jakarta habitatnya juga masih mampu mendukung survival si elang kerdil ini. > > Hasto P. Irawan > > > > > > > > > -- > Irma Dana > http://dawala. wordpress. com [lagi belajar nulis] > http://www.friendst er.com/dawala >
