Re: [ccTLD-ID] Peta internet (non) governance di Indonesia

2005-04-15 Terurut Topik ACCESS
Ya dimilis yang lalu, aku minta keterbukaan,
tolong diberikan informasi terbuka, dimana
keberadaan bayi-yang-jadi-juragan-registry
itu, mana akta-nya tampilkan ke publik,
kita lihat bersama jeroan-nya, bagaimana
kok bisa dapat previledge ditunjuk jadi
Registry. Itu yang pertama.
2: Presentasi CAMEL untuk Non-for-
profit Organization PPDI tersebut.
[Capital, Asset, Management, Equity, Liquidity]
cc-TLD Kelembagaan vs cc-TLD Perorangan.
Peninggalan IANA sebelum ICANN memang
melahirkan Admin2 Teknik yang disebut dengan
cc-TLD Manager.
3: Arsip dokumentasi komunikasi IANA dan ICANN?
Di era ICANN, policy, banyak proses penyegaran
cc-TLD establishment melalui re-delagation, krn
berkaitan dengan CAMEL tadi.
4: cc-TLD Infrastructure saat ini, coba kita audit?
Daftar para sponsor/Anggota APJII yang bisa menjadikan
cc-TLD in operation sampai APJII di coret,
masih adakah peninggalan hasil APJII/IDNIC
dalam operasional New Registry. Istilahnya
dari sini keluar unit cost vs capital per unit.
Itu saja dulu, maaf bila ada kata2 yang tdk berkenan
Maafaku mau off-line dulu.
-teddy
tetap yang dulu, mohon diterima segala
kekurangannya.
At 02:02 PM 4/15/2005, jimmy wrote:
Sanjaya wrote:
  Kalau memang bentuk organisasi persekutuan perdata CCTLD-ID ini dirasa
sangat tidak cocok, silakan dikritik dan diperbaiki. Milis ini adalah 
grass-root nya cctld-id, jadi memang disinilah tempatnya untuk dibahas. 
Silakan.
setuju.
ayo bung teddy.
IMHO,
ini saat dan tempat yg tepat untuk melemparkan ide/opini.
salam,
jimmy




Hirarki Tradisional (was Re: [ccTLD-ID] Move ...)

2005-04-15 Terurut Topik JPN. Sumarno
Wah, gimana dong ya Om jadinya kalau improvement Internet Indonesia
memasukan hirarki kepemimpinan tradisional :-). Sedangkan istilah
tekniknya aja masih sulit dipahami (oleh anak anak) karena masih memakai
bahasa Inggris.

Saya hawatir, pas ada tamu dari APNIC atau ICANN atau dari Insitutsi
Internet asing ke Indonesia, akan kebingungan pasalnya contact person
yg mudah dimengerti mereka kok sulit yah, karena disini memakai hirarki
kepemimpinan tradisional...apakah hal ini perlu diusulkan menjadi
sebuah RFC seperti ramenya bahasa nasional cina, jepang, arab yg
didiskusikan supaya bisa masuk kedalam url.

Sebut saja konvensi hirarki tradisinoal Indonesia sudah diterima menjadi
RFC setelah melalui diskusi dan rapat yg lama di luar negeri, akan tetapi
itu tentunya hanya akan diketahui oleh para pelaku IT saja, sedangkan
pelaku dibidang lain seperti imigrasi mungkin belum kenal.

Sehingga pada suatu hari bisa saja ada seorang petugas imigrasi di
bandara, kebingungan karena seorang tamu asing yg datang ke Indonesia akan
mengunjungi seorang prabu atau seorang bapak raja atau seorang Yang
Dipertuan Agong Internet Indonesia dari lembaga Galura. Kata Galura sudah
masuk RFC, padahal Galura yg dikenal umum adalah nama koran di berbahasa
Sunda di Bandung. Untungnya petugas bandara itu bisa berbahasa Sunda,
ketika ditanya Bade kamana (mau kemana) tamu asing itu hanya diam seribu
bahasa, lagian kartu namanya atau print out dari web sitenya lupa tidak
dia bawa.

Maka petugas imigrasi itu akan melakukan tindakan..dalam hatinya
daripada gue pusing lebih baik ni orang dimasukin daftar teroris
internasional aja, lumayan dapat sekian miliar dolar dari US :-).

Salam,
Marno

On Fri, 15 Apr 2005, ACCESS wrote:
 At 01:53 PM 4/15/2005, Euis Luhuanam wrote:
   Siapa yang oknum, kalo boleh pinjam istilah tsb.
 
 Hm... bagaimana kalau yang satu oknum dan yang satu lagi prabu?
 
 Ah sok kitu akang mah; Janten Akang jadi naon atuh?
 Ah suka begitu Mas/Abang sih; Jadi Mas/Abang jadi apa dong?
 
 -teddy