----- Original Message -----
Sent: Tuesday, October 17, 2006 3:00
AM
Subject: Re: [Singkawang] [PP] Penyiar
Islam Pertama di Nusantara -- Hasan Karman
Dear Pak Hasan,
Terima kasih banyak atas
tanggapannya.
Saya berpikiran kalo Cheng Ho pernah
mampir ke Singkawang soalnya kalo melihat rutenya mungkin aja Cheng
Ho mampir ke Kalimantan. Kalau dari Jawa mau ke Filipina kan harus
melewati Kalimantan dulu. Trus di Kuching juga ada jalan yang dinamakan
Laksamana Cheng Ho (Jamon pernah tinggal di sini kan?). Tapi mungkin seperti
yang Pak Hasan bilang, yang hadir cuman anak buahnya aja, dengan membawa
simbol (lencana, stempel, plakat dll) yang bisa mewakili Cheng
Ho.
Pak Hasan, yang di Pantai Samudra itu
sudah dijadikan kelenteng tuh. Tahun lalu waktu saya ke sana udah ada bangunan
kelenteng gitu. Cuman sayang waktu itu saya gak sempat ambil fotonya.
Thanks ya atas penjelasan mengenai
asal usul nama Sam Po Kung.
Btw, berikut ada informasi peninggalan
Cheng Ho di Kalbar. Mau nanya, Sempalung itu dimana ya? Belum pernah dengar
namanya ![]()
http://www.geocities.com/johannes_widodo/zhenghe.htm
There are many artifacts and place names across
Southeast Asia which keeps the memory of Zheng Hes visits to this day. A
small temple with fresh water well nearby called Sempalung dedicated to Zheng
He can be found in a small village called Sei Raya near Singkawang in West
Kalimantan. On the hilltop behind the temple there is a stone bearing the
footprints of the Admiral.
Thanks
Salam,
Hendy Lie
----- Original
Message -----
Dari literatur yg pernah saya baca,
saya tidak (belum) menemukan catatan bahwa Cheng Ho secara pribadi
mendarat di Sungai Raya, Pantai Samudera, atau Pasir Panjang. Memang muncul
banyak legenda seputar perjalanan Cheng Ho. Bahkan ada yg percaya
"durian" yg lezat itu adalah 'e'eknya' Cheng Ho. Legenda yg sama
beredar luas di Malaysia.
Dalam tradisi kekaisaran Tiongkok
zaman dahulu, kehadiran Kaisar atau pejabatnya tidak harus secara fisik,
namun bisa secara simbolis. Perhatikan film2 Mandarin. Sebuah lencana, surat
perintah atau stempel pejabat/Kaisar atau simbol2 tertentu yg dibawa oleh
seorang utusan sudah merupakan simbol kehadiran si empunya lencana/surat
perintah atau stempel. Diperkirakan anak buah atau utusan Cheng Ho memang
banyak melakukan pendaratan di kawasan yg pernah dikunjunginya. Dengan
menunjukkan simbol yg dibawa, maka dianggap Cheng Ho juga hadir bersama
representatifnya. Apa yg dipercayai masyarakat Kalbar besar kemungkinan
adalah demikian. Cheng Ho tidak mungkin bisa hadir dimana-mana pada saat yg
sama. Banyak juga cerita yg menyatakan utusan atau anak buahnya yg tidak
kembali lagi ke armada dg berbagai alasan. Hal ini logis krn zaman
itu komunikasi tdk secanggih sekarang, bisa saja ada yg ketinggalan
atau sengaja tdk mau ikut kembali.
Setahu saya yg di Pantai Samudera itu
bukan kelenteng, itu hanya sekumpulan batu yg disakralkan. Waktu SMP
saya sering camping dekat lokasi itu. Masyarakat kita sering sembahyang atau
bahkan minta nomor lotre...he..he... Atau sekarang sudah dibangun jadi
kelenteng?
Soal nama Sam Po Kung saja banyak
versinya. Nama kecil Cheng Ho (Zheng He) adalah Ma He (marganya Ma), katanya
sejak kecil dia juga dipanggil dengan nama Sam Po. Kung (Kong)
ditambahkan sebagai penghormatan atau sesembahan. Versi lain mengatakan
bahwa dirinya pernah ditolong oleh sejenis ikan yg dinamakan Sam Po ketika
kapalnya bocor dalam suatu badai. Ikan ini menambal kapalnya yg bocor
sehingga terhindar dari kekaraman. Ikan Sam Po ini katanya sama dg ikan
Sampanthiau [orang Tionghoa Kalbar dahulu pantang makan ikan Sampanthiau,
terutama kalangan nelayan (?)]. Believe it or not, the legends
continue...... Kedua versi ini sama2 ada pengikutnya, terserah mau
pilih yg mana, yang jelas ikan Sampanthiau itu enak, dan sekarang banyak yg
mengkonsumsinya..he..he...
Semoga bemanfaat.
HK.