Dear All,
Membaca hasil dari wawancara VetoNews dengan pak Hasan Karman sebagai salah
satu calon walikota Singkawang dalam pilkada pada bulan November
nanti.Interview ini sangat menarik bahkan dapat menjadi bahan diskusi didalam
forum ini.
Saya presume materi yang disampaikan oleh pak Hasan didalam interview itu
bukan pernyataan politik resmi dalam kampanye pilkada atau sebuah konsep
pembangunan kota Singkawang.
Kalau asumsi ini benar,berarti kita tidak perlu menguji kebenaran data data
yang beliau sampaikan dalam interview tersebut.Atau tanpa melihat detail
bagaimana cara menjabarkan gagasan itu.
Ada beberapa point penting yang menjadi sasaran pembangunan yang akan
dilakukan oleh beliau jika beliau terpilih menjadi walikota Singkawang
nanti.Misal disektor:
-parawisata
-perikanan
-pelabuhan-laut dan udara
-perekonomian
Melihat sektor yang perlu ditangani itu memerlukan investasi besar dengan
pendapatan asli daerah(PAD)hanya sebesar Rp 10 milyar,tentu saja tidak cukup
untuk membiayai proyek-proyek tersebut diatas.,berarti akan mengalami deficit.
Diantara sekian sektor yang perlu mendapat perhatian,yang menarik bagi
saya yaitu perikanan .Tentu saja terasi(blacan,bulacan)mendapat perhatian saya
,karena kampung saya menghasilkan produk ini .Perhatian beliau terhadap terasi
sangat serius seperti melalui pernyataan ini Kalau nanti saya jadi Walikota
dan diterima masyarakat, saya akan membantu mereka untuk membuat terasi yang
lebih hygienis dan bisa dipasarkan lebih bagus. Mereka harus diberikan bantuan
tehnis cara membuat terasi dan mereka juga perlu bantuan modal untuk
mengembangkan usahanya.
Saya kurang begitu yakin kalau masyarakat perlu bantuan tehnis cara membuat
terasi karena mereka sudah melakukan hal itu dari turun
temurun,setidak-tidaknya mereka tahu apa yang dilakukan.Kalau meminta bantuan
modal itu sudah pasti.Karena pada nelayan perlu modal untuk membeli
pelengkapan,penangkapan bubuk(udang kecil-mui ha,bahan baku buat terasi).Untuk
menangkap bubuk tidak perlu kapal,karena habitas tempat bubuk hidup tidak jauh
dari pantai.Alat untuk menangkap bubuk juga sederhana,dua batang kayu sepanjang
3-4meter kemudian dipasang net(mata net halus sekali) bentuknya seperti
kerucup(seperti huruf Y).Bila musim(tidak setiap saat ada bubuk)bubuk pada
nelayan pergi ke tepi pantai sedalam 2 meter mendorong alat penangkap tersebut.
Kalau pak Hasan sudah menjadi walikota Singkawang, kita mengajak beliau
turut turun kelaut menangkap bubuk .Sehingga beliau memahami proses membuat
terasi berkualitas yang mendapat personal garansi dari pak walikota.Festival
penangkapan bubuk dengan walikota juga tidak kalah penting seperti festival
bersama walikota turun ke sungai untuk membersihkan sungai Singkawang.Semoga
saudara Hendy bersedia menjadi ketua panitia untuk kedua event itu.
salam,
Robert Lay-sydney
United Singkawang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.vetonews.com/?s_id=26&c_id=262
Tekad Hasan Karman Cawakot Singkawang Bangun Kota Seribu Kelenteng
Oleh Tonny Budianto / 01.
Jakarta
, VetOnews.
Sebentar lagi warga Kota Singkawang Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) akan
melaksanakan pesta demokrasi yaitu pemilihan Walikota Singkawang. Sederatan
nama beken telah mencuat dalam pilkada yang akan diselenggarakan pada Bulan
November Tahun 2007 ini. Selain penguasa pemerintahaan sekarang (In cumbent),
ada juga nama kandidat lain yang ikut menghiasi bursa calon walikota itu.
Adalah Hasan Karman, SH.MM yang telah menyatakan kesiapannya sebagai Calon
Walikota untuk bertarung dalam pesta demokrasi itu. Putra Asli Singkawang ini
mempunyai garis keturunan etnis Tionghoa dari Ibu yang kelahiran Kabupaten
Bengkayang. Hasan Karman juga sangat dikenal oleh warga Singkawang. Apalagi
Bapak yang biasa disapa dengan sebutan Pak Hasan ini, boleh dikatakan berhasil
dalam perantauan. Selain status sebagai pengacara, calon Doktor bidang
lingkungan ini juga aktif di Partai Politik yaitu sebagai Bendahara Umum Partai
Perhimpunan Indonesia Baru (PIB). Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan
Hasan Karman bila terpilih menjadi Walikota Singkawang, wartawan VetOnews Tonny
Budianto berkesempatan melakukan wawancara di Bilangan Sunter Jakarta Utara
beberapa waktu yang lalu. Berikut petikan laporannnya.
Apa motivasi Anda untuk ikut mencalonkan diri menjadi Walikota Singkawang?
Sesungguhnya saya termotivasi dan terpanggil untuk membangun Kota Singkawang
karena saya lahir di Singkawang, dan Singkawang bagi saya
adalah kota
tercinta. Oleh sebab itu agar niat saya terwujud maka saya ikut mencalonkan
diri menjadi Walikota Singkawang dalam pilkada November mendatang. Peluang itu
sudah terbuka lebar.
Saya juga sangat menyadari bahwa saya adalah warga
Indonesia
. Ketika reformasi bergulir di negeri tercinta ini, saya yang keturunan
Tionghoa mempunyai kesadaran untuk ambil bagian dalam kancah pembangunan Bangsa
ini. Sekarang perubahan itu terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Setelah saya pelajari dan mengkaji secara mendalam, ternyata sudah waktunya
saya tampil untuk berkiprah membangun bangsa ini terutama daerah saya yaitu
Kota Singkawang.
Mengapa Anda memilih jalur birokrasi untuk mengabdikan diri pada
Kota
Singkawang?
Begini, sejak saya merantau, saya selalu pulang ke Singkawang dan melihat apa
yang bisa dibangun di Singkawang itu. Pada waktu itu saya belum ada kesempatan.
Orang Singkawang yang berhasil, kebanyakan hanya membentuk organisasi. Lalu
organisasi itu hanya terbatas pada aktivitas sosial, gitu-gitu saja. Saya rasa
itu tidak cukup, akhirnya saya berpikir untuk memilih jalur birokrasi menjadi
eksekutif. Bila terpilih menjadi Walikota, saya akan bekerjasama dengan
organisasi-organisasi yang kuat dan tentu saja Kota Singkawang dapat dibangun
dengan baik. Kesadaran itulah membuat saya mau maju, di samping itu saya juga
mempunyai bekal ilmu yang cukup memadai. Saya menyelesaikan S1 bidang hukum di
UI, saya juga S2 Magister Managemen dan sekarang saya sedang menyelesaikan S3
bidang Managemen Lingkungan di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Dengan latar
pendidikan begini, saya ingin mengabdikan ilmu saya menjadi Walikota Singkawang.
Sejauh mana Anda mengenal
Kota
Singkawang?
Singkawang itu tidak besar, luasnya lebih kurang 50.400 hektar, kurang lebih
seperti Singapore, ketika Singapore belum direklamasi. Kota Singkawang sendiri
terbagi atas lima Kecamatan, dengan jumlah penduduk tidak lebih 200.000 jiwa,
dengan komposisi penduduk 60% etnis Tionghoa, 20% Melayu, 7-8% Dayak, Madura
10% dan sisanya adalah etnis lain-lain. Ini pluralisme yang ada di Singkawang,
sangat kondusif bagi saya yang mempunyai latar belakang sebagai putera asli
Singkawang untuk membangun
kota
ini. Jadi kalau saya bisa menciptakan lapangan kerja, memutar roda ekonomi
Singkawang, maka orang tidak perlu lagi ribut-ribut soal amoi-amoi yang kawin
ke Taiwan karena desakan ekonomi, akhirnya mereka pergi keluar Singkawang,
sedangkan yang lain menjadi TKW/TKI karena tidak ada lapangan kerja. Di
Singkawang itu peredaran uang kebanyakan dari luar, dari
Jakarta, Taiwan
dan dari Hongkong dikirim balik. Namun kenyataannya, uang yang beredar dari
hasil perputaran itu sedikit sekali, inilah yang mau saya rubah.
Apa Visi dan Misi Anda yang dapat diberikan ke masyarakat
Kota
Singkawang?
Kota Singkawang itu adalah suatu daerah yang unik, berada di pesisir laut,
ada pantai dikelilingi gunung-gunung, bukit-bukit dan alamnya sangat cantik.
Kota Singkawang juga dijuluki
Kota
Seribu Kelenteng. Itu sangat potensial sebagai
kota
pariwisata. Bukan hal yang mustahil kalau itu kemudian dikembangkan menjadi
kunjungan wisata, seperti
Bali
. Inilah salah satu visi dan misi yang dapat saya berikan pada Kota Singkawang.
Kota
ini juga merupakan daerah transit bagi warga Kabupaten Sambas dan Bengkayang.
Jadi kalau orang Bengkayang dan Sambas mau ke
Pontianak
atau daerah lain, kebanyakan harus melalui Singkawang. Kota Seribu Kelengteng
itu suatu pusat
kota
yang ramai. Waktu saya kecil, Singkawang menjadi idaman kaum muda-mudi sebab
kota
itu
kota
pelajar, jadi orang-orang dari daerah kirim anaknya sekolah di Singkawang.
Menurut survey, pemakai jasa lapangan terbang di Supadio
Pontianak
, 60% adalah berasal dari daerah Singkawang, Bengkayang dan Sambas. Kalau di
Singkawang bisa dibangun suatu pelabuhan laut atau bandara, itu sangat terbuka
sehingga Singkawang bisa kita kembangkan menjadi suatu
kota
yang luar biasa ramainya, selain
Pontianak
. Beberapa hal yang saya masukkan dalam visi misi saya, terutama faktor
ekonomi, pendidikan, kesehatan dan membuka lapangan kerja yang luas, sehingga
nantinya jangan anak-anak mudanya setelah tamat SLTP harus melanjutkan keluar
daerah, untuk mencari kerja sehingga Singkawang jadi kota tua, hanya orang tua
saja yang tinggal.
Berapa banyak perolehan PAD
Kota
Singkawang dan dari sektor apa saja?
Saya dengar dari teman wartawan, perolehan pendapatan asli daerah (PAD) Kota
Singkawang lebih kurang sebesar Rp. 10 Milyar per tahun yang bersumber dari
penarikan restribusi dan juga ada pemasukan dari usaha-usaha kecil lainnya.
Pemasukan dari Sumber Daya Alam sendiri bagaimana?
SDA Singkawang tidak besar karena lahannya tidak banyak, sejak pemekaran yang
terjadi beberapa tahun silam. Kota Singkawang menjadi ibukota Kabupaten Sambas.
Setelah Bengkayang menjadi Kabupaten, dan begitu juga Sambas, Singkawang
menjadi
kota
tersendiri dengan penduduk kebanyakan pedagang di pusat
kota
. Saya rasa restribusi yang dihasilkan sedikit, kalau hanya berharap dari APBD
sulit. Itulah sebabnya lapangan kerja harus segera diciptakan, sektor
ekonominya harus ditingkatkan agar investor mau datang ke Singkawang. Begitu
juga sektor pariwisata, sektor ini belum maksimal dikembangkan, padahal
potensinya luar biasa. Contoh, perayaan Cap Go Meh. Perhelatan ini ramai sekali
pengunjungnya, masyarakat dan turis tumpah ruah di jalanan persis seperti
perayaan karnaval di
Brazil
, tidak kalah dengan Ngaben di Bali. Tapi moment itu sampai sekarang tidak
dikelola kearah yang bernilai ekonomis.
Setiap Cap Go Meh, kita tidak punya souvenir atau barang-barang yang bisa
dijual untuk dibawa pulang. Hotel selalu penuh, sehingga turis harus menginap
di
Pontianak
. Seharusnya sektor ini bisa menopang PAD.
Seperti diketahui
Kota
Singkawang terletak dipinggir laut. Bagaimana Anda memanfaatkan kondisi ini?
Melihat geografisnya, memang Kota Singkawang sangat indah. Di seluruh dunia
hanya beberapa negara yang berhasil mengentaskan kemiskinan dari sektor
perikanan laut. Bagi saya Kota Singkawang sangat strategis dan mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi. Saya juga mau kembangkan sektor ini agar nelayan kita
tidak miskin lagi. Kita harus bantu nelayan itu. Kita harus support mereka
apalagi banyak sekali pendatang dari Serawak atau
Sabah
yang selalu lewat perbatasan membawa mobil yang ada coldstorage-nya, mereka
selalu beli udang lobster dan ikan dari Singkawang. Selama ini para nelayan
jual ikan mentah-mentah, langkah ini sangat disayangkan padahal bila hasil
tangkapan mereka dikelola dengan baik, tentunya pendapatan para nelayan akan
meningkat.
Apa konsep Anda untuk sektor perikanan ini?
Ada
beberapa wilayah perikanan yang potensial dikembangkan, seperti daerah Sedau,
daerah Kuala dan pesisir lainnya. Mereka sering kadangkala melakukan usahanya
seperti pembuatan terasi dengan cara yang sangat tradisional, padahal di daerah
Singkawang terkenal terasinya. Kalau nanti saya jadi Walikota dan diterima
masyarakat, saya akan membantu mereka untuk membuat terasi yang lebih hygienis
dan bisa dipasarkan lebih bagus. Mereka harus diberikan bantuan tehnis cara
membuat terasi dan mereka juga perlu bantuan modal untuk mengembangkan
usahanya. Saya ingin nanti, kalau dinas tehnis agak kesulitan mengolah ini,
bentuklah Perusahaan Daerah (Perusda) yang handal dan secara managemen
professional. Kalau pihak swasta tidak mau investasi, perusahaan daerah yang
akan membantu mereka, bina mereka, jika mereka punya kapal ada masalah, kita
akan support, hasil tangkapan mereka, kita tampung. Jadi semua bisa dilakukan.
Untuk sektor pariwisata di Singkawang, bagaimana Anda menggarapnya?
Pertama kali saya akan melakukan identifikasi daerah potensi pariwisata. Saya
pribadi telah mengadakan Road Show ke daerah-daerah pariwisata dan juga saya
akan menjumpai pengusaha wisata, seperti Smilling Tour dan Anda Tour, tentunya
yang besar dan sudah taraf internasional. Pengusaha lokal juga akan saya
jumpai. Saya akan presentasikan kepada mereka dan mereka saya undang ke
Singkawang untuk melihat pantai yang ada. Saya akan minta kepada mereka untuk
mempromosikannya. Saya kira ini terobosan yang perlu dilakukan. Sebenarnya
orang sudah punya satu ungkapan, kalau orang ke Kalbar tanpa mampir ke
Singkawang, maka belum lengkap. Apalagi jelang Cap Go Meh, tidak ada stasiun TV
swasta yang tidak menayangkan Cap Go Meh di Singkawang, tapi mereka tidak
mengemas moment ini dengan baik agar bisa dijual. Bila moment ini dapat
dipromosikan keluar, katakanlah dengan Visit Singkawang Year terus ada
investor mau membangun bandara yang dapat didarati minimal oleh pesawat Fokker
28,
saya optimis Kota Singkawang akan terkenal di seluruh dunia dan ekonomi
masyarakatnya pun akan sejahtera. Tentunya didukung oleh masyarakat Kota
Singkawang sudah mapan, kotanya sangat bersih, dan warganya sangat ramah. Orang
Singkawang pasti makmur. Kita akan ciptakan itu nanti.
Saya juga akan melakukan studi banding ke
Bali
untuk mempelajari sektor pariwisata ini, peran agen-agen pemasaran juga sangat
penting untuk bisa mempromosikan tentang pariwisata Singkawang. Saya pernah ke
Kuching atau tempat lain, ternyata yang mereka tawarkan adalah tempat ibadah
kelenteng itu.
Ada
berapa pantai di Singkawang?
Pantai ada satu, tapi ini panjang dan itu disebut Pasir Panjang, dimana
pasirnya sangat putih dan batu-batunya alami, ada air tawar. Selesai kita mandi
di laut, terus bisa mandi di air tawar dan tak jauh dari situ ada pulau-pulau
yang bisa dikunjungi. Kalau potensi tourism itu sudah bangkit, baru kita kelola
itu dengan saling sinergi.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.