SINGKAWANG – Salmah, pagi (Jumat 20/2) baru saja keluar dengan membawa rekening 
pembayaran air di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum Singkawang. Ibu 57 tahun 
yang mengenakan jilbab tersebut, membayar tagihan air yang digunakannya 
sehari-hari. Akan tetapi, menurut dia, beberapa hari air di tempatnya Jalan 
Durian Perumnas Singkawang tidak mengalir.  “Air satu hari mengalir, satu hari 
tidak mengalir. Tadi (kemarin) subuh ada ngalir, tapi airnya keruh,” kata 
wanita tua asal Pulau Jawa ini kepada wartawan kemarin.

Salmah mengaku membutuhkan air ledeng dari PDAM untuk mandi dan mencuci 
sehari-hari. Walau demikian, ia tetap menadah air dengan tempayan di rumahnya, 
di kala hujan turun dari langit. Untung saja ia memiliki dua buah rumah yang 
berdekatan. “Jadi saya mandi di rumah sebelah. Air keruh saya pakai untuk mandi 
juga. Kalau ada hujan, saya tampung dengan tempayan untuk minum,” katanya.  Ada 
apa dengan PDAM? Kepala Bagian Tekhnik PDAM Singkawang Mulhazi dikonfirmasi 
kemarin mengatakan, memang ada masalah distribusi air dari PDAM. “Beberapa 
waktu lalu kita melakukan uji coba sistem overblock. Kita coba lepas semua. 
Namun ternyata tidak mampu mengaliri selurih konsumen. Oleh karena itulah, jadi 
balik lagi ke sistem lama,” ungkap Mulhazi kepada wartawan.
Ia menambahkan, selain itu juga ada masalah pada pipa yang sudah tua, debit air 
yang kurang serta mesin dan jaringan yang tidak memadai. “Kita juga tidak 
mempunyai booster. Padahal itu sangat diperlukan. Yang ada tidak berfungsi, 
karena sudah lama buatan zaman Belanda. Kalau ada booster memudahkan 
jaringannya kemana-mana, “jelas dia.

Menurutnya, kebutuhan rata-rata akan air di Kota ini adalah 150 liter perdetik. 
Akan tetapi, saat ini hanya bisa terealisir 50 persennya saja. Katanya, debit 
air dihasilkan dari pegunungan. Seperti di Eria, Hangmoy, Tirtayasa, 
Sijangkung, Pangmilang Sedau dan Seluang. “Kebutuhannya 150 liter perdetik, 
tapi kemampuan yang ada sekitar 80 liter perdetik, dalam keadaan musim hujan. 
Kalau sudah panas seminggu atau dua minggu ngedrop. Semua sumbernya dari air 
gunung,” tukasnya.   “Rata-rata produksi air maksimal 100 liter perdetik. Ini 
untuk satu hari. Tapi kalau 80 liter perdetik saja, setengah hari sudah habis,” 
tambahnya.
Untuk wilayah Perumnas, kata dia, sumber airnya dari jalur gravitasi, yakni 
pegunungan. Lalu air tersebut siap pakai setelah melewati saringan kasar. 
“Biasanya keruh itu karena kabut pada musim hujan. Tapi tidak berbahaya,” 
katanya.

Sedangkan untuk wilayah perkotaan, ungkapnya, air merupakan olahan dari 
Instalasi Pengolahan Air (IPA). “Terbagi-bagi langsung ke konsumen di 
daerah-daerah perkotaan,” tegasnya.  Solusinya, kata dia, sudah mengirimkan 
proposal kepada Pemerintah Kota Singkawang untuk meminta bantuan dana. 
Perusahaan yang baru saja diserahterimakan asetnya dari pemerintah Kabupaten 
Sambas ke Pemkot Singkawang ini, ternyata membutuhkan bantuan penyehatan dalam 
hal pendanaan untuk mengatasi kendala yang ada.  “Kita sudah ajukan proposal ke 
Pemkot dan melaporkan kendala di PDAM pasca pemisahan. Sepertinya Pemkot 
merespon hal itu,” jelasnya.

Ia juga mengatakan, jika sarana di PDAM banyak yang kurang. Antara lain, sebut 
dia, kendaraan operasional yang sudah ditarik. “Mau kirim air ke rumah konsumen 
saja susah,” jelasnya.  Saat ini, kata dia, jumlah pelanggan di PDAM sekitar 12 
ribu. PDAM, sambungnya, tidak bisa menambah lagi pelanggan baru. “Tidak bisa 
lagi, karena airnya tidak cukup,” katanya seraya menambahkan, tidak ada 
kenaikan tarif untuk pelanggan. Ia berharap, air bisa mengalir setiap hari ke 
konsumen, tanpa adanya kemacetan yang mengganggu. “Maunya tiap hari, tapi 
ternyata kita tidak mampu. Nanti tergantung Pemkot, kalau dana yang diajukan 
dalam proposal sudah turun, mudah-mudahan masyarakat bisa menikmati semua,” 
tukasnya. Sementara itu, Suna (32) warga yang bermukim di Pasar Roban, ditemui 
di PDAM Singkawang mengungkapkan, di tempatnya air selalu jalan setiap hari. 
“Setiap hari ada airnya. Tapi biasanya kalau siang mati. Namun tiap hari ada,” 
pungkasnya. (ody)   

Sumber : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=15219

Kirim email ke