Bung Ardy, Paparan Anda memang terasa ilmiah dan kritis, tapi tolong berikan suatu data yang valid, jangan hipotesa atau menurut PERASAAN Anda, bila Anda merasa Singkawang begitu-begitu saja perkembangannya.
Saya tidak pro atau anti siapa, tapi karena saya masih tinggal di Singkawang sampai detik ini dan sudah 35 tahun sejak lahir, setiap hari bertemu mulai dari preman, pengangguran, tukang becak, buruh, pegawai bank, orang gila, orang partai, petani kecil dan besar, cangkau, siswa/mahasiswa, guru, anggota Polri, TNI sampai staf Pemkot Skw. Saya juga rajin keliling kota mulai dari Semelagi sampai Pasir Panjang, dari Pajintan sampai Sempalit. Moga saja mata saya memang tidak buta menyaksikan semuanya. Salam, Hendra Bong. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: ardy prasetya <[email protected]> Date: Thu, 9 Apr 2009 01:57:22 To: <[email protected]> Subject: RE: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan Saya cukup setuju jika dikatakan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Singkawang masih rendah. Justru ini salah satu isu kronis di seluruh negeri, bukan hanya di Singkawang, masyarakat di daerah lain juga saya yakin banyak yang punya masalah yang serupa. Meskipun yang dihadirkan adalah data lama, saya rasa tetap bisa jadi postulat atau benchmark untuk melihat kondisi riil saat ini. Ini dikarenakan perkembangan kehidupan sosial dan terutama ekonomi secara makro di negara kita yang berjalan sangat lambat sekali (efek krisis akut), dan pastinya berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat di daerah-daerah termasuk di Singkawang yang juga tidak akan signifikan. Sehingga datanya saya pikir pada akhirnya tidak akan berubah jauh. Dan juga, saya rasa kita tidak bisa melihat tingkat pendidikan di satu kota hanya dari jumlah sekolah yang ada di kota tersebut. Perlu juga dilihat apa saja jenis sekolah-sekolah tersebut, bagaimana prosedur pengelolaan administrasi dan keuangannya, apakah ada subsidi atau tidak, serta bagaimana mutu/kualitas dari sekolah-sekolah itu, dan juga seberapa besar trafik keluar/masuk murid/mahasiswa di sekolah-sekolah itu, bagaimana fluktuasi angka pendaftaran dan putus sekolah setiap tahunnya. Terus terang saya tidak yakin angka-angka 7 tahun lalu ini jika diperbarui pada tahun ini angkanya akan berubah membaik secara signifikan dan progresif (mudah-mudahan tidak malah lebih memburuk). Perlu diingat juga, bahwa masyarakat Singkawang tidak bisa hanya dilihat dari kawasan Pasar Turi sampai Terminal Induk saja, atau kawasan jalan Diponegoro sampai Alianyang saja. Bukankah Singkawang jauh lebih besar dari itu ? Yakinkah kita bahwa di daerah pedalaman sana, masyarakat kampung sana, orang-orang dusun itu telah dan mampu mengenyam pendidikan dan mengupayakan pendidikan yang "layak" bagi anak-anak mereka seperti halnya masyarakat kota ? Saya tidak yakin. Mungkin bisa lulus SD saja sudah bagus sekali. Jika ada yang mengatakan bahwa progresivitas Singkawang dalam membangun cukup cepat, saya justru tertarik sekali untuk meminta sumber atau data (mau terkini atau tidak, bukan masalah) tentang sebagaimana cepatnya Singkawang membangun, dan di bagian mananya. Kalau tidak, saya rasa saya masih lebih percaya pada data lama saja yang mungkin saja masih cukup relevan, karena sepertinya tidak data baru yang lebih bisa dipercaya. Namun di satu sisi, saya kadang juga merasa cara perhitungan statistika di negara ini sedikit bermasalah dan agak tidak bisa dipercaya karena terkadang sama sekali tidak bisa dijadikan refleksi terhadap kenyataan faktual dari kehidupan masyarakat yang sebenarnya paling penting. Sering fakta yang ada malah terkesan lebih buruk dari data yang diklaim, mau itu data terkini atau data jadul. Saya tidak tahu apanya yang salah, apakah metodenya, atau memang ada penggelembungan angka atau permainan otoritas di dalamnya. Mungkin salah satu isu yang bisa dijadikan contoh adalah kenyataan statistikal bahwa negara kita sudah “swasembada beras lagi”. Apakah dengan itu, kehidupan masyarakat pemakan nasi kita terasa membaik ? kenyataannya kita bisa lihat dan pikir sendiri saja. Kembali ke isu pendidikan, jika memang kita ingin memperbaiki kualitas pendidikan masyarakat Singkawang, mungkin perlu untuk lebih dulu mengidentifikasi masalah yang sebenarnya terjadi. Apakah berhubungan dengan kemampuan ekonomi masyarakat misalnya. Apakah mungkin pihak pemegang kuasa sudah memberi subsidi dengan menyediakan dan memperbanyak fasilitas / sarana pendidikan yang lebih terjangkau, sekolah gratis, atau bantuan operasional yang lebih tepat sasaran atau lebih efektif lagi misalnya. Atau mungkin penyediaan buku sekolah dan alat tulis gratis misalnya, atau mungkin juga inisiasi untuk mengubah kurikulum jahanam yang mengharuskan perubahan buku paket / textbook setiap tahun bagi murid-murid sekolah. Masalah subsidi saja sepertinya sudah bisa jadi salah satu masalah akbar di negara kita. Belum apa-apa nanti sudah bocor sana sini lah, potong sana sini lah. Masalah-masalah lain mungkin seperti hanya tersedianya lapangan kerja yang menuntut kualifikasi profesional dengan pendidikan ala kadar saja (ini juga mungkin salah satu penyebab tidak kembalinya para sarjana Singkawang setelah menuntut ilmu tinggi di luar Singkawang), atau mungkin juga masalah reliabilitas dan kualitas para penyelenggara pendidikan serta sarana pendukungnya (yang namanya sekolah sih banyak tapi cuma sekolah-sekolah gurem saja), ataupun mungkin masalah paradigma atau kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi mereka dan anak cucu mereka. Namun saya pikir, sepertinya masalah kemampuan ekonomilah yang jadi hambatan paling besar. Akhir-akhirnya kok terasa seperti tidak ada yang benar saja di negeri kita. Apakah memang harus seburuk itu ya ? Mau diberi ikan atau mengajari mancing, masalahnya sekarang mereka tidak ada pancing dan lebih buruk lagi, tidak ada ikan yang bisa dipancing. Kenapa tidak berikan saja ikannya dan biarkan mereka memancing pakai ikan saja ? Jalan keluarnya saya rasa ada pada lokalitas budaya dan menjadi masyarakat yang kreatif. Karena menurut Mochtar Lubis, itulah tumpuan masa depan kita. Regards. To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 8 Apr 2009 11:05:02 +0000 Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan Siapa yang marah, Bung..? Wong kata tersinggungnya diberi tanda kutip koq ("tersinggung" gitu lho). Siapa yang tidak teliti ya ? Menurutku sih data lama yang sudah tidak relevan dengan zaman janganlah dimuat lagi deh, harus paparkan dengan data terkini. Untuk tahun 2009, data tahun 2007 masih oklah seperti yang diinfokan situsnya (situs resmi) oleh Pak Deny Suhendar. Untuk Singkawang, progress pembangunannya lumayan cepat. Salam, Hendra Bong. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: Josep Fransiskus Date: Tue, 7 Apr 2009 22:24:36 +0800 (SGT) To: <[email protected]> Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan jangan marah atuh kank itu data kan tahun 2002 punya makanya baca yang teliti --- Pada Sel, 7/4/09, [email protected] <[email protected]> menulis: Dari: [email protected] <[email protected]> Topik: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan Kepada: "Milis United Skw" <[email protected]> Tanggal: Selasa, 7 April, 2009, 10:51 AM Yang benar saja, Bung.. Di Singkawang sudah ada begitu banyak SMU/SMK baik negeri maupun swasta. Untuk perguruan tinggi, ada STIE Mulia, STIH Tsjafioddin, UT, STKIP yang bahkan sudah ditutup karena ijinnya tidak lengkap, Sekolah Theologia dan lainnya. Saya merasa "tersinggung" dengan data tersebut, apakah Singkawang sedemikian terbelakang ? Jaringan 3G saja sudah ada koq. Saya menghargai niat baik Anda, tapi mohon lain waktu harus lebih teliti melahap informasi. Salam, Hendra Bong.Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: melly kiong Date: Tue, 7 Apr 2009 01:56:02 -0700 (PDT) To: <singkaw...@yahoogro ups.com> Subject: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan Salam Bapak bapak, Ibu ibu ,teman teman seangkatan maupun adik adik sekalian dimanapun berada , Kira kira seminggu yang lalu ketika saya bersama keluarga berkunjung ke Mall Puri Indah, saya mendapati sebuah stand yang bernama World Vision. Ketika saya lewat ada selebaran yang bertuliskan Wahana Visi Indonesia dengan Profil ADP SINGKAWANG yang memiliki data yang lengkap mengenai Demografi , geografi serta permasalahan Makro yang ada di Singkawang.Berikut data sbb: No Pendidikan Presentasi 1. Tidak tamat SD 35.91%2. SD 25.22%3. SLTP 12.47%4. SLTA 12.57%5. Universitas 1.78%6. Lain lain 12.05% (sumber dari profil Singkawang 2002)Masalah air bersih, sanitasi,gaya hidup sehat serta perdagangan anak rasanya adalahpermaslahan yang tidak akan terselesaikan jika tidak diimbangi pendidikan. Bagaimana caranya kita sebagai masyarakat yang sudah lebih mengerti untuk membangun Singkawang ?Mari kita jadikan milis ini sebagai ajang untuk memberikan kontribusi dengan memberikan ide yang siapa tahu akan membantu saudara saudara kita yang masih terkurung dengan kondisi demikian. Menurut saya pribadi bukan memberikan mereka ikan melainkan mengajarimereka untuk memangcing. Mari kita peduli salam melly kiong Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis) _________________________________________________________________ What can you do with the new Windows Live? Find out http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx
