Tuan Hendra,Saya sembarang ketik di search
engine saja bisa ketemu artikel seperti ini 
:http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/22/kesehatan/3623549.htm
Coba baca bagian bawah subjudul
“seribu akseptor” paragraf ke 3. Artikel ini ditulis 2 tahun yang lalu (2007),
tidak tahu apakah menurut Tuan ini bisa dikatakan masih valid atau tidak.
Bahkan merunut pada artikel tersebut, pihak pemerintah kota Singkawang sendiri
waktu itu ikut menegaskan dan mengeluhkan rendahnya kualitas SDM di Singkawang
sebagai efek/konsekuensi dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakatnya.Terus 
terang saya tidak berpikir
tulisan saya ini ilmiah, karena jika ingin dikatakan sebagai tulisan ilmiah,
seperti dikatakan oleh Anthony Downs, selain teori, kita perlu merujuk pada
informasi atau data yang lebih bersifat statistikal dan indeksial. Sedangkan
saya tidak mencantumkan sedikitpun data-data seperti itu. Saya rasa tulisan
saya hanya bersifat responsif terhadap topik yang sedang dibicarakan dan saya
hanya mencoba seobjektif mungkin untuk mengelaborasi visi dan posisi saya yang
jika dikatakan terlalu terbawa perasaan pribadi ya apa boleh buat. Mungkin Tuan
menganggap saya gagal menjadi objektif ya juga tidak masalah. Saya rasa semua
orang bisa menilai, siapa yang lebih terbawa perasaan. Justru dari itu saya
khawatir, jangan-jangan Tuan Hendra memang sudah (maaf) “buta”.Kalau begitu 
saya mesti berterima
kasih pada Tuan Hendra sudah diingatkan untuk memberikan data valid. Kalau
begitu, boleh saya minta tolong diberikan data valid juga atas
elaborasi-elaborasi dari Tuan ? Saya minta tolong diberikan data-data yang bisa
menunjukkan seberapa progresifnya Singkawang membangun, terutama implikasinya
pada peningkatan sumber daya manusia. Bukan hanya data-data tentang seberapa
banyak jumlah sekolah yang ada di sana. Tapi bagaimana hubungan / rantai
pengaruhnya sampai pada perbaikan kualitas dan tingkat pendidikan masyarakat,
oleh karena banyaknya sekolah tersebut. Kalau begitu bagus juga sekalian minta
tolong data-data valid tentang seberapa banyak petani, nelayan, kuli dan buruh
kasar, preman, pengangguran dan orang-orang gila lulusan sekolah tinggi yang
sudah Tuan temui. Juga data-data tentang seberapa banyak lulusan sarjana yang
Tuan temui di Semelagi, Pasir Panjang, dan Pajintan.(untuk Pajintan, saya 
sendiri
punya kesan khusus, karena itu adalah tanah kelahiran ayah.  Dan ayah saya 
sendiri setahu saya adalah
hanya lulusan SD. Percayalah, saya tahu pasti, baunya pun saya masih 
ingat).Mungkin ada yang pernah tahu kota
kecil atau barangkali boleh dibilang desa Simojayan, atau mungkin malah ada 
yang tidak pernah
dengar kata seperti itu, seperti halnya orang-orang Jawa tidak tahu di mana itu
Pajintan dan Semelagi atau barangkali Singkawang saja tidak tahu. Beberapa
waktu yang lalu, saya melihat sebuah foto ruangan kelas di salah satu sekolah
dasar di Simojayan, Malang, Jawa Timur. Murid-murid sekolahnya terlihat sangat
antusias merespon kata-kata dari gurunya. Banyak di antara mereka yang jari /
tangannya teracung untuk (mungkin) menjawab pertanyaan dari guru mereka. Indah,
suasana belajar mengajar seperti itu. Tapi tak tahu, apakah mereka masih punya
sisa bangku sekolah yang bisa dipakai duduk untuk belajar, karena di foto itu,
mereka semua hanya duduk berleseh dengan buku tertatak di paha. Dan itu salah
satu sekolah negeri. Sekolah milik pemerintah. Dan sekolah itu ada di Jawa, di 
tanah
yang paling maju seluruh negeri, di tanah warisannya Ncing Harto, pahlawan
besar kita itu. Dari sana, mau tidak mau saya berpikir dan merasa, seperti
itukah kualitas dari sarana-sarana penunjang pendidikan di negeri kita yang
diharapkan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas ? Heh.Pada akhirnya kalau 
memang saya
ini memang terkesan terbawa perasaan, saya minta maaf. Saya hanya memberikan
visi dan posisi saya saja. Rasanya… hehehehe, sudahlah. Weleh-weleh,
malah jadi ngomongin data segala. Ayolah, kita perlu melihat secara lebih riil,
Tuan. Tolong, ngomonglah seperti mati lampu kemarin. Tolong, merokoklah seperti
Obama, jangan sembunyikan rokoknya.Semoga bermanfaat. 
Regards.

To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 8 Apr 2009 19:09:20 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan




















    
            
     Bung Ardy,

Paparan Anda memang terasa ilmiah dan kritis, tapi tolong berikan suatu data 
yang valid, jangan hipotesa atau menurut PERASAAN Anda, bila Anda merasa 
Singkawang begitu-begitu saja perkembangannya.

Saya tidak pro atau anti siapa, tapi karena saya masih tinggal di Singkawang 
sampai detik ini dan sudah 35 tahun sejak lahir, setiap hari bertemu mulai dari 
preman, pengangguran, tukang becak, buruh, pegawai bank, orang gila, orang 
partai, petani kecil dan besar, cangkau, siswa/mahasiswa, guru, anggota Polri, 
TNI sampai staf Pemkot Skw.

Saya juga rajin keliling kota mulai dari Semelagi sampai Pasir Panjang, dari 
Pajintan sampai Sempalit.

Moga saja mata saya memang tidak buta menyaksikan semuanya.

Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From:  ardy prasetya 
Date: Thu, 9 Apr 2009 01:57:22 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan

                        
Saya cukup setuju jika dikatakan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Singkawang 
masih rendah. Justru ini salah satu isu kronis di seluruh negeri, bukan hanya 
di Singkawang, masyarakat di daerah lain juga saya yakin banyak yang punya 
masalah yang serupa. Meskipun yang dihadirkan adalah data lama, saya rasa tetap 
bisa jadi postulat atau benchmark untuk melihat kondisi riil saat ini. Ini 
dikarenakan perkembangan kehidupan sosial dan terutama ekonomi secara makro di 
negara kita yang berjalan sangat lambat sekali (efek krisis akut), dan pastinya 
berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat di 
daerah-daerah termasuk di Singkawang yang juga tidak akan signifikan. Sehingga 
datanya saya pikir pada akhirnya tidak akan berubah jauh.    Dan juga, saya 
rasa kita tidak bisa melihat tingkat pendidikan di satu kota hanya dari jumlah 
sekolah yang ada di kota tersebut. Perlu juga dilihat apa saja jenis 
sekolah-sekolah tersebut, bagaimana prosedur pengelolaan administrasi dan 
keuangannya, apakah ada subsidi atau tidak, serta bagaimana mutu/kualitas dari 
sekolah-sekolah itu, dan juga seberapa besar trafik keluar/masuk 
murid/mahasiswa di sekolah-sekolah itu, bagaimana fluktuasi angka pendaftaran 
dan putus sekolah setiap tahunnya. Terus terang saya tidak yakin angka-angka 7 
tahun lalu ini jika diperbarui pada tahun ini angkanya akan berubah membaik 
secara signifikan dan progresif (mudah-mudahan tidak malah lebih memburuk).     
Perlu diingat juga, bahwa masyarakat Singkawang tidak bisa hanya dilihat dari 
kawasan Pasar Turi sampai Terminal Induk saja, atau kawasan jalan Diponegoro 
sampai Alianyang saja. Bukankah Singkawang jauh lebih besar dari itu ? Yakinkah 
kita bahwa di daerah pedalaman sana, masyarakat kampung sana, orang-orang dusun 
itu telah dan mampu mengenyam pendidikan dan mengupayakan pendidikan yang 
"layak"  bagi anak-anak mereka seperti halnya masyarakat kota ? Saya tidak 
yakin. Mungkin bisa lulus SD saja sudah bagus sekali. Jika ada yang mengatakan 
bahwa progresivitas Singkawang dalam membangun cukup cepat, saya justru 
tertarik sekali untuk meminta sumber atau data (mau terkini atau tidak, bukan 
masalah) tentang sebagaimana cepatnya Singkawang membangun, dan di bagian 
mananya. Kalau tidak, saya rasa saya masih lebih percaya pada data lama saja 
yang mungkin saja masih cukup relevan, karena sepertinya tidak data baru yang 
lebih bisa dipercaya.     Namun di satu sisi, saya kadang juga merasa cara 
perhitungan statistika di negara ini sedikit bermasalah dan agak tidak bisa 
dipercaya karena terkadang sama sekali tidak bisa dijadikan refleksi terhadap 
kenyataan faktual dari kehidupan masyarakat yang sebenarnya paling penting. 
Sering fakta yang ada malah terkesan lebih buruk dari data yang diklaim, mau 
itu data terkini atau data jadul. Saya tidak tahu apanya yang salah, apakah 
metodenya, atau memang ada penggelembungan angka atau permainan otoritas di 
dalamnya. Mungkin salah satu isu yang bisa dijadikan contoh adalah kenyataan 
statistikal bahwa negara kita sudah “swasembada beras lagi”. Apakah dengan itu, 
kehidupan masyarakat pemakan nasi kita terasa membaik ? kenyataannya kita bisa 
lihat dan pikir sendiri saja.        Kembali ke isu pendidikan, jika memang 
kita ingin memperbaiki kualitas pendidikan masyarakat Singkawang, mungkin perlu 
untuk lebih dulu mengidentifikasi masalah yang sebenarnya terjadi. Apakah 
berhubungan dengan kemampuan ekonomi masyarakat misalnya. Apakah mungkin pihak 
pemegang kuasa sudah memberi subsidi dengan menyediakan dan memperbanyak 
fasilitas / sarana pendidikan yang lebih terjangkau, sekolah gratis, atau 
bantuan operasional yang lebih tepat sasaran atau lebih efektif lagi misalnya. 
Atau mungkin penyediaan buku sekolah dan alat tulis gratis misalnya, atau 
mungkin juga inisiasi untuk mengubah kurikulum jahanam yang mengharuskan 
perubahan buku paket / textbook setiap tahun bagi murid-murid sekolah. Masalah 
subsidi saja sepertinya sudah bisa jadi salah satu masalah akbar di negara 
kita. Belum apa-apa nanti sudah bocor sana sini lah, potong sana sini lah. 
Masalah-masalah lain mungkin seperti hanya tersedianya lapangan kerja yang 
menuntut kualifikasi profesional dengan pendidikan ala kadar saja (ini juga 
mungkin salah satu penyebab tidak kembalinya para sarjana Singkawang setelah 
menuntut ilmu tinggi di luar Singkawang), atau mungkin juga masalah 
reliabilitas dan kualitas para penyelenggara pendidikan serta sarana 
pendukungnya (yang namanya sekolah sih banyak tapi  cuma sekolah-sekolah gurem 
saja), ataupun mungkin masalah paradigma atau kesadaran masyarakat terhadap 
pentingnya pendidikan bagi mereka dan anak cucu mereka. Namun saya pikir, 
sepertinya masalah kemampuan ekonomilah yang jadi hambatan paling besar.        
Akhir-akhirnya kok terasa seperti tidak ada yang benar saja di negeri kita. 
Apakah memang harus seburuk itu ya ? Mau diberi ikan atau mengajari mancing, 
masalahnya sekarang mereka tidak ada pancing dan lebih buruk lagi, tidak ada 
ikan yang bisa dipancing. Kenapa tidak berikan saja ikannya dan biarkan mereka 
memancing pakai ikan saja ?
   Jalan keluarnya saya rasa ada pada lokalitas budaya dan menjadi masyarakat 
yang kreatif. Karena menurut Mochtar Lubis, itulah tumpuan masa depan kita.


Regards.

To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 8 Apr 2009 11:05:02 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan

                                               

                    Siapa yang marah, Bung..? Wong kata tersinggungnya diberi 
tanda kutip koq ("tersinggung" gitu lho). 

Siapa yang tidak teliti ya ? Menurutku sih data lama yang sudah tidak relevan 
dengan zaman janganlah dimuat lagi deh, harus paparkan dengan data terkini. 
Untuk tahun 2009, data tahun 2007 masih oklah seperti yang diinfokan situsnya 
(situs resmi) oleh Pak Deny Suhendar. Untuk Singkawang, progress pembangunannya 
lumayan cepat.

Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From:  Josep Fransiskus 
Date: Tue, 7 Apr 2009 22:24:36 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan

                    jangan marah atuh kank itu data kan tahun 2002 punya 
makanya baca yang teliti 

--- Pada Sel, 7/4/09, [email protected] 
<[email protected]> menulis:

Dari: [email protected] <[email protected]>
Topik: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Kepada: "Milis United Skw" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 7 April, 2009, 10:51 AM

Yang benar saja, Bung..

Di Singkawang sudah ada begitu banyak SMU/SMK baik negeri maupun swasta. Untuk 
perguruan tinggi, ada STIE Mulia, STIH Tsjafioddin, UT, STKIP yang bahkan sudah 
ditutup karena ijinnya tidak lengkap, Sekolah Theologia dan lainnya.

Saya merasa "tersinggung" dengan data tersebut, apakah Singkawang sedemikian 
terbelakang ? Jaringan 3G saja sudah ada koq.

Saya menghargai niat baik Anda, tapi mohon lain waktu harus lebih teliti 
melahap informasi.

Salam,
Hendra Bong.Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: melly kiong 
Date: Tue, 7 Apr 2009 01:56:02 -0700 (PDT)
To: <singkaw...@yahoogro ups.com>
Subject: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Salam Bapak bapak, Ibu ibu ,teman teman seangkatan maupun adik adik sekalian 
dimanapun berada , Kira kira seminggu yang lalu ketika saya bersama keluarga  
berkunjung ke Mall Puri Indah, saya mendapati sebuah stand  yang bernama World 
Vision. Ketika saya  lewat  ada selebaran  yang bertuliskan  Wahana Visi 
Indonesia  dengan Profil ADP SINGKAWANG yang memiliki data yang lengkap   
mengenai Demografi , geografi serta permasalahan Makro  yang ada di 
Singkawang.Berikut data sbb: No    Pendidikan               Presentasi 1.     
Tidak tamat SD           35.91%2.     SD                                
25.22%3.     SLTP                            12.47%4.     SLTA                  
          12.57%5.     Universitas                    1.78%6.      Lain lain    
                    12.05% (sumber dari profil Singkawang 2002)Masalah air 
bersih, sanitasi,gaya hidup sehat  serta perdagangan anak  rasanya 
adalahpermaslahan yang tidak akan terselesaikan jika  tidak diimbangi 
pendidikan. Bagaimana  caranya kita sebagai masyarakat  yang sudah lebih 
mengerti untuk membangun Singkawang ?Mari kita  jadikan milis ini sebagai  
ajang untuk memberikan kontribusi  dengan memberikan ide  yang siapa tahu akan 
membantu  saudara saudara kita yang masih terkurung dengan kondisi demikian. 
Menurut saya pribadi bukan memberikan mereka ikan melainkan mengajarimereka 
untuk memangcing. Mari kita peduli   salam melly kiong   

       
  Akses email lebih cepat. 
 Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang 
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
                                           
                                                                        
What can you do with the new Windows Live? Find out
                                           

 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke