Tuan Hendra,Perasaan saya dari tadi malam masih
santai-santai saja.Saya ingin berbicara sedikit tentang gaya bahasa. Saya
pernah baca filsuf Drijarkara atau Mangunwijaya (kalau tidak salah)
tentang tata bahasa dan cara mengemukakan pendapat. Terkadang ada orang yang
secara ekspresif mengatakan "menurut pendapat/pandangan saya", atau
"menurut saya", ada pula yang mengatakan "saya pikir", dan
juga salah satunya termasuk "saya rasa". Saya mengeneralisir semua
itu sebagai elemen-elemen dari tata cara penyampaian pendapat. Dan saya
rasa/menurut saya/saya pikir/pendapat saya/menurut pandangan saya,
itu hanyalah masalah tata bahasa saja. Bukan untuk diterjemahkan secara
harfiah. Seingat saya Tuan Hendra suka bermain pribahasa dan kias sana kias
sini, seharusnya mengerti permainan kata-kata dan gaya bahasa seperti itu.
Seperti
orang bilang beli Indomie, tapi bawa pulang Supermie. Atau orang beli Aqua tapi
bawa pulang 2Tang. Yang penting kan intinya itu sama dan orang lain bisa
mengerti.Lain kali mudah-mudahan apa yang
ditulis bisa direspon lebih pada isi, bukan menyerang pada caranya, apalagi
pada orangnya. Kalau responnya hanya seperti secepret kotoran walet, terus
terang saya juga jadi agak malas menyampaikan proposisi. Sekali-kali kotoran
sih tidak apa2, tapi mohon lain kali beri
sarangnya juga, jangan melulu kotorannya saja, heheheheh.Saya berbakat ? ah itu
cuma
“perasaan” Tuan saja. Kalau boleh minta data validnya. Hahahahah. Tuan lebih
hebat lah. Balas-balasan gini, milis ini jadinya seperti YM saja. Ya sudah. Bye.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 9 Apr 2009 04:41:53 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Bung Ardy,
Santai aje be.. Ini forum diskusi informal, benar-salah atau menang-kalah kagak
masalah be..
Pengamatanku (bukan perasaanku lho, Bung Ardy, ha-ha-ha), gangguan/pemadaman
listrik sudah lebih berkurang, mungkin menjelang pemilu kali ya.. Habis pemilu
nanti saya tidak tahu lho..
Terima kasih, Bung Ardy.. Pendapat Anda makin membuka wawasan saya dan membuat
saya lebih dewasa.. Anda memang orang berbakat.
Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: ardy prasetya
Date: Thu, 9 Apr 2009 11:29:55 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Heheheheh, ya sudah lah. Agak susah berbicara
dengan orang yang sudah terbungkus oleh emosi. (oh tentu tidak, saya hanya
"tersinggung"). Ternyata Tuan Hendra bisa "emosi" juga.
Hahahahah.
Maaf Tuan Hendra. Ngomong-ngomong masih mati lampu ?
Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 9 Apr 2009 04:14:24 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Saya rasa apalagi, Bung ?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: ardy prasetya
Date: Thu, 9 Apr 2009 11:09:57 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Tuan Hendra,Saya sembarang ketik di search engine saja bisa ketemu artikel
seperti ini :http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/22/kesehatan/3623549.htm
Coba baca bagian bawah subjudul “seribu akseptor” paragraf ke 3. Artikel ini
ditulis 2 tahun yang lalu (2007), tidak tahu apakah menurut Tuan ini bisa
dikatakan masih valid atau tidak. Bahkan merunut pada artikel tersebut, pihak
pemerintah kota Singkawang sendiri waktu itu ikut menegaskan dan mengeluhkan
rendahnya kualitas SDM di Singkawang sebagai efek/konsekuensi dari rendahnya
tingkat pendidikan masyarakatnya.Terus terang saya tidak berpikir tulisan saya
ini ilmiah, karena jika ingin dikatakan sebagai tulisan ilmiah, seperti
dikatakan oleh Anthony Downs, selain teori, kita perlu merujuk pada informasi
atau data yang lebih bersifat statistikal dan indeksial. Sedangkan saya tidak
mencantumkan sedikitpun data-data seperti itu. Saya rasa tulisan saya hanya
bersifat responsif terhadap topik yang sedang dibicarakan dan saya hanya
mencoba seobjektif mungkin untuk mengelaborasi visi dan posisi saya yang jika
dikatakan terlalu terbawa perasaan pribadi ya apa boleh buat. Mungkin Tuan
menganggap saya gagal menjadi objektif ya juga tidak masalah. Saya rasa semua
orang bisa menilai, siapa yang lebih terbawa perasaan. Justru dari itu saya
khawatir, jangan-jangan Tuan Hendra memang sudah (maaf) “buta”.Kalau begitu
saya mesti berterima kasih pada Tuan Hendra sudah diingatkan untuk memberikan
data valid. Kalau begitu, boleh saya minta tolong diberikan data valid juga
atas elaborasi-elaborasi dari Tuan ? Saya minta tolong diberikan data-data yang
bisa menunjukkan seberapa progresifnya Singkawang membangun, terutama
implikasinya pada peningkatan sumber daya manusia. Bukan hanya data-data
tentang seberapa banyak jumlah sekolah yang ada di sana. Tapi bagaimana
hubungan / rantai pengaruhnya sampai pada perbaikan kualitas dan tingkat
pendidikan masyarakat, oleh karena banyaknya sekolah tersebut. Kalau begitu
bagus juga sekalian minta tolong data-data valid tentang seberapa banyak
petani, nelayan, kuli dan buruh kasar, preman, pengangguran dan orang-orang
gila lulusan sekolah tinggi yang sudah Tuan temui. Juga data-data tentang
seberapa banyak lulusan sarjana yang Tuan temui di Semelagi, Pasir Panjang, dan
Pajintan.(untuk Pajintan, saya sendiri punya kesan khusus, karena itu adalah
tanah kelahiran ayah. Dan ayah saya sendiri setahu saya adalah hanya lulusan
SD. Percayalah, saya tahu pasti, baunya pun saya masih ingat).Mungkin ada yang
pernah tahu kota kecil atau barangkali boleh dibilang desa Simojayan, atau
mungkin malah ada yang tidak pernah dengar kata seperti itu, seperti halnya
orang-orang Jawa tidak tahu di mana itu Pajintan dan Semelagi atau barangkali
Singkawang saja tidak tahu. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah foto
ruangan kelas di salah satu sekolah dasar di Simojayan, Malang, Jawa Timur.
Murid-murid sekolahnya terlihat sangat antusias merespon kata-kata dari
gurunya. Banyak di antara mereka yang jari / tangannya teracung untuk (mungkin)
menjawab pertanyaan dari guru mereka. Indah, suasana belajar mengajar seperti
itu. Tapi tak tahu, apakah mereka masih punya sisa bangku sekolah yang bisa
dipakai duduk untuk belajar, karena di foto itu, mereka semua hanya duduk
berleseh dengan buku tertatak di paha. Dan itu salah satu sekolah negeri.
Sekolah milik pemerintah. Dan sekolah itu ada di Jawa, di tanah yang paling
maju seluruh negeri, di tanah warisannya Ncing Harto, pahlawan besar kita itu.
Dari sana, mau tidak mau saya berpikir dan merasa, seperti itukah kualitas dari
sarana-sarana penunjang pendidikan di negeri kita yang diharapkan untuk
menghasilkan SDM yang berkualitas ? Heh.Pada akhirnya kalau memang saya ini
memang terkesan terbawa perasaan, saya minta maaf. Saya hanya memberikan visi
dan posisi saya saja. Rasanya… hehehehe, sudahlah. Weleh-weleh, malah jadi
ngomongin data segala. Ayolah, kita perlu melihat secara lebih riil, Tuan.
Tolong, ngomonglah seperti mati lampu kemarin. Tolong, merokoklah seperti
Obama, jangan sembunyikan rokoknya.Semoga bermanfaat.
Regards. To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 8 Apr 2009 19:09:20 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Bung Ardy,
Paparan Anda memang terasa ilmiah dan kritis, tapi tolong berikan suatu data
yang valid, jangan hipotesa atau menurut PERASAAN Anda, bila Anda merasa
Singkawang begitu-begitu saja perkembangannya.
Saya tidak pro atau anti siapa, tapi karena saya masih tinggal di Singkawang
sampai detik ini dan sudah 35 tahun sejak lahir, setiap hari bertemu mulai dari
preman, pengangguran, tukang becak, buruh, pegawai bank, orang gila, orang
partai, petani kecil dan besar, cangkau, siswa/mahasiswa, guru, anggota Polri,
TNI sampai staf Pemkot Skw.
Saya juga rajin keliling kota mulai dari Semelagi sampai Pasir Panjang, dari
Pajintan sampai Sempalit.
Moga saja mata saya memang tidak buta menyaksikan semuanya.
Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: ardy prasetya
Date: Thu, 9 Apr 2009 01:57:22 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Saya cukup setuju jika dikatakan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Singkawang
masih rendah. Justru ini salah satu isu kronis di seluruh negeri, bukan hanya
di Singkawang, masyarakat di daerah lain juga saya yakin banyak yang punya
masalah yang serupa. Meskipun yang dihadirkan adalah data lama, saya rasa tetap
bisa jadi postulat atau benchmark untuk melihat kondisi riil saat ini. Ini
dikarenakan perkembangan kehidupan sosial dan terutama ekonomi secara makro di
negara kita yang berjalan sangat lambat sekali (efek krisis akut), dan pastinya
berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat di
daerah-daerah termasuk di Singkawang yang juga tidak akan signifikan. Sehingga
datanya saya pikir pada akhirnya tidak akan berubah jauh. Dan juga, saya
rasa kita tidak bisa melihat tingkat pendidikan di satu kota hanya dari jumlah
sekolah yang ada di kota tersebut. Perlu juga dilihat apa saja jenis
sekolah-sekolah tersebut, bagaimana prosedur pengelolaan administrasi dan
keuangannya, apakah ada subsidi atau tidak, serta bagaimana mutu/kualitas dari
sekolah-sekolah itu, dan juga seberapa besar trafik keluar/masuk
murid/mahasiswa di sekolah-sekolah itu, bagaimana fluktuasi angka pendaftaran
dan putus sekolah setiap tahunnya. Terus terang saya tidak yakin angka-angka 7
tahun lalu ini jika diperbarui pada tahun ini angkanya akan berubah membaik
secara signifikan dan progresif (mudah-mudahan tidak malah lebih memburuk).
Perlu diingat juga, bahwa masyarakat Singkawang tidak bisa hanya dilihat dari
kawasan Pasar Turi sampai Terminal Induk saja, atau kawasan jalan Diponegoro
sampai Alianyang saja. Bukankah Singkawang jauh lebih besar dari itu ? Yakinkah
kita bahwa di daerah pedalaman sana, masyarakat kampung sana, orang-orang dusun
itu telah dan mampu mengenyam pendidikan dan mengupayakan pendidikan yang
"layak" bagi anak-anak mereka seperti halnya masyarakat kota ? Saya tidak
yakin. Mungkin bisa lulus SD saja sudah bagus sekali. Jika ada yang mengatakan
bahwa progresivitas Singkawang dalam membangun cukup cepat, saya justru
tertarik sekali untuk meminta sumber atau data (mau terkini atau tidak, bukan
masalah) tentang sebagaimana cepatnya Singkawang membangun, dan di bagian
mananya. Kalau tidak, saya rasa saya masih lebih percaya pada data lama saja
yang mungkin saja masih cukup relevan, karena sepertinya tidak data baru yang
lebih bisa dipercaya. Namun di satu sisi, saya kadang juga merasa cara
perhitungan statistika di negara ini sedikit bermasalah dan agak tidak bisa
dipercaya karena terkadang sama sekali tidak bisa dijadikan refleksi terhadap
kenyataan faktual dari kehidupan masyarakat yang sebenarnya paling penting.
Sering fakta yang ada malah terkesan lebih buruk dari data yang diklaim, mau
itu data terkini atau data jadul. Saya tidak tahu apanya yang salah, apakah
metodenya, atau memang ada penggelembungan angka atau permainan otoritas di
dalamnya. Mungkin salah satu isu yang bisa dijadikan contoh adalah kenyataan
statistikal bahwa negara kita sudah “swasembada beras lagi”. Apakah dengan itu,
kehidupan masyarakat pemakan nasi kita terasa membaik ? kenyataannya kita bisa
lihat dan pikir sendiri saja. Kembali ke isu pendidikan, jika memang
kita ingin memperbaiki kualitas pendidikan masyarakat Singkawang, mungkin perlu
untuk lebih dulu mengidentifikasi masalah yang sebenarnya terjadi. Apakah
berhubungan dengan kemampuan ekonomi masyarakat misalnya. Apakah mungkin pihak
pemegang kuasa sudah memberi subsidi dengan menyediakan dan memperbanyak
fasilitas / sarana pendidikan yang lebih terjangkau, sekolah gratis, atau
bantuan operasional yang lebih tepat sasaran atau lebih efektif lagi misalnya.
Atau mungkin penyediaan buku sekolah dan alat tulis gratis misalnya, atau
mungkin juga inisiasi untuk mengubah kurikulum jahanam yang mengharuskan
perubahan buku paket / textbook setiap tahun bagi murid-murid sekolah. Masalah
subsidi saja sepertinya sudah bisa jadi salah satu masalah akbar di negara
kita. Belum apa-apa nanti sudah bocor sana sini lah, potong sana sini lah.
Masalah-masalah lain mungkin seperti hanya tersedianya lapangan kerja yang
menuntut kualifikasi profesional dengan pendidikan ala kadar saja (ini juga
mungkin salah satu penyebab tidak kembalinya para sarjana Singkawang setelah
menuntut ilmu tinggi di luar Singkawang), atau mungkin juga masalah
reliabilitas dan kualitas para penyelenggara pendidikan serta sarana
pendukungnya (yang namanya sekolah sih banyak tapi cuma sekolah-sekolah gurem
saja), ataupun mungkin masalah paradigma atau kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya pendidikan bagi mereka dan anak cucu mereka. Namun saya pikir,
sepertinya masalah kemampuan ekonomilah yang jadi hambatan paling besar.
Akhir-akhirnya kok terasa seperti tidak ada yang benar saja di negeri kita.
Apakah memang harus seburuk itu ya ? Mau diberi ikan atau mengajari mancing,
masalahnya sekarang mereka tidak ada pancing dan lebih buruk lagi, tidak ada
ikan yang bisa dipancing. Kenapa tidak berikan saja ikannya dan biarkan mereka
memancing pakai ikan saja ?
Jalan keluarnya saya rasa ada pada lokalitas budaya dan menjadi masyarakat
yang kreatif. Karena menurut Mochtar Lubis, itulah tumpuan masa depan kita.
Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 8 Apr 2009 11:05:02 +0000
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Siapa yang marah, Bung..? Wong kata tersinggungnya diberi
tanda kutip koq ("tersinggung" gitu lho).
Siapa yang tidak teliti ya ? Menurutku sih data lama yang sudah tidak relevan
dengan zaman janganlah dimuat lagi deh, harus paparkan dengan data terkini.
Untuk tahun 2009, data tahun 2007 masih oklah seperti yang diinfokan situsnya
(situs resmi) oleh Pak Deny Suhendar. Untuk Singkawang, progress pembangunannya
lumayan cepat.
Salam,
Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: Josep Fransiskus
Date: Tue, 7 Apr 2009 22:24:36 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
jangan marah atuh kank itu data kan tahun 2002 punya
makanya baca yang teliti
--- Pada Sel, 7/4/09, [email protected]
<[email protected]> menulis:
Dari: [email protected] <[email protected]>
Topik: Re: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Kepada: "Milis United Skw" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 7 April, 2009, 10:51 AM
Yang benar saja, Bung..
Di Singkawang sudah ada begitu banyak SMU/SMK baik negeri maupun swasta. Untuk
perguruan tinggi, ada STIE Mulia, STIH Tsjafioddin, UT, STKIP yang bahkan sudah
ditutup karena ijinnya tidak lengkap, Sekolah Theologia dan lainnya.
Saya merasa "tersinggung" dengan data tersebut, apakah Singkawang sedemikian
terbelakang ? Jaringan 3G saja sudah ada koq.
Saya menghargai niat baik Anda, tapi mohon lain waktu harus lebih teliti
melahap informasi.
Salam,
Hendra Bong.Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: melly kiong
Date: Tue, 7 Apr 2009 01:56:02 -0700 (PDT)
To: <singkaw...@yahoogro ups.com>
Subject: [Singkawang] Mari Kita Rapatkan barisan
Salam Bapak bapak, Ibu ibu ,teman teman seangkatan maupun adik adik sekalian
dimanapun berada , Kira kira seminggu yang lalu ketika saya bersama keluarga
berkunjung ke Mall Puri Indah, saya mendapati sebuah stand yang bernama World
Vision. Ketika saya lewat ada selebaran yang bertuliskan Wahana Visi
Indonesia dengan Profil ADP SINGKAWANG yang memiliki data yang lengkap
mengenai Demografi , geografi serta permasalahan Makro yang ada di
Singkawang.Berikut data sbb: No Pendidikan Presentasi 1.
Tidak tamat SD 35.91%2. SD
25.22%3. SLTP 12.47%4. SLTA
12.57%5. Universitas 1.78%6. Lain lain
12.05% (sumber dari profil Singkawang 2002)Masalah air
bersih, sanitasi,gaya hidup sehat serta perdagangan anak rasanya
adalahpermaslahan yang tidak akan terselesaikan jika tidak diimbangi
pendidikan. Bagaimana caranya kita sebagai masyarakat yang sudah lebih
mengerti untuk membangun Singkawang ?Mari kita jadikan milis ini sebagai
ajang untuk memberikan kontribusi dengan memberikan ide yang siapa tahu akan
membantu saudara saudara kita yang masih terkurung dengan kondisi demikian.
Menurut saya pribadi bukan memberikan mereka ikan melainkan mengajarimereka
untuk memangcing. Mari kita peduli salam melly kiong
Akses email lebih cepat.
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
What can you do with the new Windows Live? Find out
Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery
What can you do with the new Windows Live? Find out
_________________________________________________________________
What can you do with the new Windows Live? Find out
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx