Siapa yang tanggal 28 Agustus kemarin sempat menyaksikan gerhana 
bulan? Bagi yang tinggal di wilayah Indonesia bagian Barat, sepertinya Cuma 
kebagian ’sepotong’ doang alias tidak bisa menyaksikannya secara keseluruhan, 
karena gerhana sebenarnya sudah mulai sejak pukul 16.00 (atau tepatnya pkl 
15.50.54 WIB*), di sini jam segitu kan masih terang benderang. Atau ada yang 
bisa liat? Saya sendiri menyaksikan pemandangan langka itu selepas maghrib, pas 
mobil yang saya tumpangi menyusuri tol Jakarta Cikampek menuju Bekasi. 
Ngeliatnya juga nggak sengaja. Tiba-tiba, bulan keliatan sabit pas di langit di 
hadapan saya (melewati kaca jendela mobil tentu saja), baru ingat kalau hari 
itu ada gerhana bulan total. Dan bulan baru benar-benar bulat sempurna lagi 
sesampainya saya di rumah (dari balik kaca jendela kamar). 
   
  Dalam imajinasi saya, ketika bulan kelihatan sabit, tertutup bumi – saya tuh 
yang menutupinya, hehehe. Saya sebagai bumi, ada sejajar diantara matahari dan 
bulan. Wuih, luar biasa ya. Sayangnya, komentar para ahli sering nggak 
mendukung kita untuk mengetahui dan memaknai lebih jauh (menurut saya lho), 
misalnya nih saya kutip: "Gerhana bulan ini fenomena biasa dan selalu terjadi 
setiap tahunnya, bergantung posisi dan kedudukan matahari, bumi dan bulan," 
kata T..BIASA?! Bagaimana kita bisa bilang biasa kalau di ’luar’ sana jutaan 
benda angkasa – bulan, bintang, planet-planet dan asteroid – dalam berbagai 
ukuran, masa edar dan kecepatan edarnya, seluruhnya bergerak dengan begitu 
’harmoni’. Bagaimana bisa dibilang biasa kalau dari sekian juta kemungkinan, 
kita sempat –sekali ini - menyaksikannya.
   
  Hehehe, kok jadi sewot yak. Yah, secara para ahli itu kan memang menguasai 
berbagai ilmu dan telah menyaksikan berbagai fenomena alam yang ada 
’itung-itungan’nya. Seperti kejadian gempa, tektonik maupun vulkanik, angin 
puting beliung, tsunami, bahkan banjir dan tanah longsong. Pada ahli sering 
mengatakan bahwa kejadian alam itu biasa. Alam akan mengalami ’begitu’ kalau 
kejadiannya ’begini’. Bahkan salah satu birokrat di sebuah negara antah 
berantah juga ikut-ikutan bicara kalau banjir di Jakarta yang menghebohkan itu 
juga sebagai fenomena yang biasa. 
   
  Seberapa sering sesuatu yang luar biasa menjadi biasa buat kita? 
Jangan-jangan hidup ini sudah begitu menjemukan dan dapat ditebak, sehingga 
segala sesuatunya menjadi biasa. Biasa. Tidak bermakna. Ah, untungnya saya 
orang awam. Sesuatu yang biasa itu menjadi begitu menarik. Masih banyak ruang 
untuk memikirkan. Dan ingin juga merenungkan. Kenapa ada gerhana bulan? Kalau 
Tuhan berkehendak, bisa jadi sepanjang malam mengalami gerhana. Hingga penduduk 
Jawa sekampung harus memukulkan kenthongan – bambu yang sisinya diberi lubang 
memanjang – agar Butho (raksasa) yang dipercayai tengah memakan bulan (atau 
matahari) berkenan segera melepaskannya. Supaya bumi tidak selamanya gulita. 
Makna yang aneh, dan tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
   
  Begitu bulan sabit berangsur penuh sesaat setelah sampai di rumah, saya 
seperti diingatkan akan sesuatu. Sesuatu yang letaknya begitu jauh. Lebih jauh 
dari jarak saya dan bulan. Tapi sebenarnya Dia dekat, lebih dekat dari tali 
urat leher saya sendiri....hiks.
   
  * sumber dari: ANTARA








       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

Kirim email ke