DIALOG DUA HATI DI KALA MALAM Ketika hari mulai senja, bintang-gemintang muncul di angkasa, seseorang berbisik kepadaku. Katanya: Wajahmu terlukis di bantal, Senyummu terpahat di jantung, Tawamu terekam di batin, Kau menjelma angin yang membasuh sepiku. Kataku: Malam merangkak jauh Menuju lengkung relung waktu, Menimang insan dalam dekapan Di ujung napas pelan mendiam Hingga hening-sunyi menjelang. Katanya: Wajahmu menjelma Oase di gurun rindu, ’Tika tanpa buah sebagai bekal Tiada cahaya buat lentera. Senyummu menjelma Telaga bagi kelana, Di tengah penat mengurai air mata. Kataku: Oh, kelana... Mungkin carimu Bidadari pada lenting bulu angsa Yang bergelung dalam bantalmu. Mungkin dian yang meremang bisik gelombang ilusi yang memintal, berpilin, mengelabu, Bahwa gadis nun jauh di sana Ialah hati. Padahal sesungguhnya tidak... Katanya: Di relung waktu renta, Mentari memucat di bening mata. Aku terkulai dalam birama ragu, Kaukah gadis di lenting bulu angsa, Yang menopang penat Dalam lingkaran waktu. Kataku: Kiranya kelana salah terka Tetes embun sangka mutiara. Terbuai angin lalu, Getarkan pucuk jantung hatimu. Dan embun menari sejenak, Hibur hati nan lara Sebelum lelap dalam gelap gulana Katanya: Akulah sang resah Di pantai tanya, Dalam bait pengharapan, Kala lafadz alam bertuliskan malam, Kutunggu dirimu Dengan setetes senja. Jawabku: Wahai pujangga Di ujung senja. Kiranya duli rahasiakan asa. Biar waktu redam emosi, Karena kelam Tlah peluk gadis erat Biar kelam lampiaskan bara, Dalam bisu hangat ironi Katanya: Di balik senja Asa merenda, Harap perawan bermain gerimis, Kau di ujung waktu Goreskan sandi rahasia, Dari relung sribu jiwa. Kataku: Kelam terlanjur Cengkram jiwa dalam cakra. Lemah aku tanpa aura. Biarlah rahasia tetap rahasia. Masih ada esok tuk bersua Jika kelam rela Lepas belenggu nyawa... Lalu bisikan pun menghilang dan aku mulai terbuai mimpi, dalam gelembung Galaksi Bimasakti, yang serasa tanpa tepi. (Nadiah Abidin & Arry Amilin, 18 September 2008, pukul 00:20 a.m., saat iseng-iseng berbalas puisi)
