Hi na,
kalo boleh kasih komentar,
dari runutan waktu dan ungkapan basa,
ada satu kata yg kurang pas itu 'Bantal'
mungkin kamu mau sampaikan lagi tiduran / bemalasan / diatas ranjang..
tapi terasa kata 'Bantal' kurang menyatu di antara bait-bait puisi,
sukses membuat sastra
Arry Budianto,
gak punya hubungan sama Arry Amilin atau Arry Cahyono :D
----- Original Message ----
From: Nadiah Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Adi
<[EMAIL PROTECTED]>; Antonius Indopos <[EMAIL PROTECTED]>; Aris Ananda <[EMAIL
PROTECTED]>; arya batista <[EMAIL PROTECTED]>; atu kesuma <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Bekasi Kini <[EMAIL
PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, September 20, 2008 12:47:33 PM
Subject: [sma1bks] Dialog Dua Hati di Kala Malam (Puisi Berantai)
DIALOG DUA HATI DI KALA MALAM
Ketika hari mulai senja, bintang-gemintang muncul di angkasa, seseorang
berbisik kepadaku.
Katanya:
Wajahmu terlukis di bantal,
Senyummu terpahat di jantung,
Tawamu terekam di batin,
Kau menjelma angin
yang membasuh sepiku.
Kataku:
Malam merangkak jauh
Menuju lengkung relung waktu,
Menimang insan dalam dekapan
Di ujung napas pelan mendiam
Hingga hening-sunyi
menjelang.
Katanya:
Wajahmu menjelma
Oase di gurun rindu,
’Tika tanpa buah sebagai bekal
Tiada cahaya buat lentera.
Senyummu menjelma
Telaga bagi kelana,
Di tengah penat mengurai air mata.
Kataku:
Oh, kelana...
Mungkin carimu
Bidadari pada lenting bulu angsa
Yang bergelung dalam bantalmu.
Mungkin dian yang meremang
bisik gelombang ilusi
yang memintal, berpilin, mengelabu,
Bahwa gadis nun jauh di sana
Ialah hati.
Padahal sesungguhnya
tidak...
Katanya:
Di relung waktu renta,
Mentari memucat di bening mata.
Aku terkulai dalam birama ragu,
Kaukah gadis di lenting bulu angsa,
Yang menopang penat
Dalam lingkaran waktu.
Kataku:
Kiranya kelana salah terka
Tetes embun sangka mutiara.
Terbuai angin lalu,
Getarkan pucuk jantung hatimu.
Dan embun menari sejenak,
Hibur hati nan lara
Sebelum lelap dalam gelap gulana
Katanya:
Akulah sang resah
Di pantai tanya,
Dalam bait pengharapan,
Kala lafadz alam bertuliskan malam,
Kutunggu dirimu
Dengan setetes senja.
Jawabku:
Wahai pujangga
Di ujung senja.
Kiranya duli
rahasiakan asa.
Biar waktu redam emosi,
Karena kelam
Tlah peluk gadis erat
Biar kelam lampiaskan bara,
Dalam bisu hangat ironi
Katanya:
Di balik senja
Asa merenda,
Harap perawan bermain gerimis,
Kau di ujung waktu
Goreskan sandi rahasia,
Dari relung sribu jiwa.
Kataku:
Kelam terlanjur
Cengkram jiwa dalam cakra.
Lemah aku tanpa aura.
Biarlah rahasia tetap rahasia.
Masih ada esok tuk bersua
Jika kelam rela
Lepas belenggu nyawa...
Lalu bisikan pun menghilang dan aku mulai terbuai mimpi, dalam gelembung
Galaksi Bimasakti, yang serasa tanpa tepi.
(Nadiah Abidin & Arry Amilin, 18 September 2008, pukul 00:20 a.m., saat
iseng-iseng berbalas puisi)