Assalamu'alaikum
Dear All,...Denger berita tadi malam kalau ternyata SBY milih rivalnya
MenKes Lama,... Gubrak...!!!
kaget juga, kenapa Ibu ini ya ??? hmmm... cuma mau sharing aja sedikit ttg
beliau ....

Virus, Namru 2 dan Ibu Menkes
Baru<http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/22/virus-namru-2-dan-ibu-menkes-baru/>
Diterbitkan Oktober
22, 2009  
<http://id.wordpress.com/tag/wacana-kini/><http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/22/virus-namru-2-dan-ibu-menkes-baru/#comments>
Tags: Operasi Intelijen
<http://id.wordpress.com/tag/operasi-intelijen/>, kabinet
sby <http://id.wordpress.com/tag/kabinet-sby/>, Namru
2<http://id.wordpress.com/tag/namru-2/>,
Menkes baru <http://id.wordpress.com/tag/menkes-baru/>, Endang Rahayu
Setyaningsih <http://id.wordpress.com/tag/endang-rahayu-setyaningsih/>, Siti
Fadilah Supari <http://id.wordpress.com/tag/siti-fadilah-supari/>,
WHO<http://id.wordpress.com/tag/who/>,
Amerika Serikat <http://id.wordpress.com/tag/amerika-serikat/>, Menteri
Kabinet SBY <http://id.wordpress.com/tag/menteri-kabinet-sby/>, Riwayat
Hidup Endang Rahayu
Sedyaningsih<http://id.wordpress.com/tag/riwayat-hidup-endang-rahayu-sedyaningsih/>
  [image: Ibu Menkes Baru : Endang Rahayu Setyaningsih]

Ibu Menkes Baru : Endang Rahayu Setyaningsih
Menteri Kesehatan terpilih Endang Rahayu Setyaningsih adalah staf Departemen
Kesehatan, yang paling ‘dekat’ dengan Namru (The US Naval Medical Reseach
Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut.

Endang adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia tahun 1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard
School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997. Ia
menjalani karier di bidang kesehatan dengan menjadi dokter puskesmas di NTT
dan pernah menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia juga pernah
ditugaskan di Kanwil Departemen Kesehatan DKI Jakarta menjadi seorang
peneliti, dan pernah menjabat Kepala Litbang Biomedik dan Farmasi Departemen
Kesehatan.

“Dia (Endang) adalah mantan pegawai Namru. Dia memang sekarang ini tidak
mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,” kata Menteri Kesehatan
Siti Fadilah Supari dalam perbincangan dengan TvOne, Rabu, 21 Oktober 2009.

Dipilihnya Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri kesehatan dalam
Kabinet Indonesia Bersatu II membuat kaget Siti Fadilah Supari. Siti yang
masih menjabat Menkes hingga pelantikan menteri baru Kamis besok, tidak
habis pikir, kenapa Endang yang terpilih.

 *“Semua juga kaget, ternyata, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tidak
punya jabatan,”* kata Siti dalam perbincangan dengan tvOne setelah Yudhoyono
mengumumkan susunan KIB II, Rabu 21 Oktober 2009.

Menurut Siti Fadilah, Endang memang lulusan dari Amerika Serikat. Siti
melanjutkan, Endang dikenal sebagai staf Departemen Kesehatan yang ‘dekat’
dengan Namru.

“Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan
semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah.

Meski pun bekerja di Depkes, kata dia, pekerjaan sehari-hari Endang hanya di
laboratorium. “Tapi disertasinya di masyarakat. Dia tidak punya pengalaman
di puskermas. Tapi saya melihat kecerdasannya,” kata Siti.

Maka itu, Siti Fadilah berharap untuk periode mendatang, Endang Setyaningsih
dapat mengikuti kebijakan yang sudah diambil sebelumnya.

*“Dimana Namru, sudah secara resmi sudah tutup. dan saya mohon, ini jangan
dibuka lagi,”* ujar dia. (sumber berita <http://politik.vivanews.com/>)

Munculnya nama Endang Rahayu Sedyaningsih di jajaran Kabinet Indonesia
Bersatu II, Rabu (21/10), memunculkan tudingan dia terlalu pro Amerika
Serikat. Tetapi hal itu dibantah oleh mantan staf peneliti Namru 2 itu.

Endang mengakui bahwa semasa Menkes Siti Fadhilah Supari, dia sempat diskors
karena dianggap berpihak kepada AS dalam soal virus flu burung. “Bagi saya
ini persoalan yang tidak penting-penting amat. Dan ini wajar kalau atasan
tidak senang kemudian menskors bawahannya,” kata Endang dalam wawancara
dengan Media Indonesia, Rabu (21/10) malam.
(sumber<http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/101565/3/1/Menkes-Bantah-Terlalu-Pro-Amerika-Serikat>
)
 Ada apa dengan NAMRU 2 ?

Dalam Lembar Fakta tentang NAMRU-2 yang ada di situs Kedubes Amerika
Serikat<http://jakarta.usembassy.gov/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html>dinyatakan
bahwa Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah sebuah
laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi
kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas
kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun 1970 sesuai
permintaan Departemen Kesehatan RI.

Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit
akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare
dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian NAMRU-2 hanya
berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia ? Apa yang mereka cari
di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran mereka bagi Indonesia ?
Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini terkesan begitu misterius ?
Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab mengenai lembaga riset ini. Dan
aku berani memastikan, tak satu pun wartawan di Indonesia memiliki akses ke
lembaga ini; malahan mungkin mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.

Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk
mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Sebab, kontrak
kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan
laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval Medical Research
Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal ini diyakini Subardo
berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang
intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara
(Lemsaneg) tahun 1986-1998.

“Kalau saya pribadi yakin itu ada motif intelijen dari Amerika. Saya kan
kerja di bidang intelijen ini sejak Letnan hingga Bintang Dua (laksmana
muda). Lebih dari 30 tahun,” kata Subardo di sela-sela Seminar Hari
Kesadaran Keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM, Yogyakarta, Jumat
(25/4/2008).

Meski meyakini keberadaan NAMRU-2 terkait operasi intelijen milik AS,
Subardo, mengaku dirinya tidak lagi mempunyai wewenang menangani persoalan
tersebut. Dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah khususnya melalui
Badan Intelijen Negara (BIN).

“Saya tidak punya wewenang lagi. Itu urusannya pemerintah dan BIN. Saya
hanya mengungkapkan ini agar kita lebih waspada, sebab penyadapan informasi
melalui intelijen ada di mana-mana,” tegasnya.

Menurut dia kesadaran akan keamanan informasi di Indonesia sampai saat ini
masih cukup lemah. Hal ini terbukti dari laporan Lemsaneg beberapa waktu
lalu yang menemukan bukti dari 28 kantor Kedubes Indonesia di Luar Negeri,
sebanyak 16 diantaranya telah disadap sehingga harus dilakukan pembersihan
dan pembenahan. Kasus ini menurutnya sebagai preseden buruk bagi Indonesia
untuk lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan informasi.

“Sekitar 16 kedubes yang disadap di luar negeri. Jelas hal itu sebagai
preseden buruk agar kita lebih berhati-hati melakukan pengamanan, khususnya
informasi,” imbuhnya. (sumber
detiknews<http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/25/time/191541/idnews/929732/idkanal/10>
)

Kontroversi keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia
rampung sudah. Tercatat sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah tidak
beroperasi lagi.

“Surat resmi penghentian kerjasama dengan Namru resmi dilayangkan dubes AS
di Indonesia tanggal 16 Oktober kemarin. Jadi perjanjian yang diawali 16
Januari 1970 sudah resmi berakhir 16 Oktober kemarin,” ujar mantan Menkes
Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10/2009)

Siti Fadilah mengatakan dirinya keberadaan Namru-2 mengganggu kedaulatan
Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang dilakukan
Angkatan Laut AS.

“Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian
tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi
lagi,” harapnya.

Oleh karena itu Siti Fadilah berharap pada penerusnya, Endang Rahayu
Edyaningsih, agar tidak membuka lagi Namru-2. Dia yakin Endang bisa
melanjutkan kebijakannya tersebut. “Saya kira Ibu Endang bisa mengikuti
langkah-langkah yang telah kita ambil pada periode ini, di mana Namru sudah
secara resmi ditutup, dan saya mohon jangan dibuka lagi,” katanya.
(sumber<http://www.detiknews.com/read/2009/10/22/010526/1226054/10/sejarah-namru-2-berakhir-16-oktober-2009>
)
Saatnya Dunia Berubah

[image: Saatnya-dunia-berubah]Bagi Anda yang masih percaya akan adanya
nasionalisme dan keadilan global dalam hubungan internasional maka wajib
hukumnya untuk membeli buku ini. Buku ini sebenarnya catatan harian dari Ibu
Menteri Siti Fadilah Supari ketika memperjuangkan transparansi dan keadilan
dalam organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization). Ceritanya
berawal ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu
Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk
menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka. Namun anehnya, hasil penelitian
dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries).
Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial. Vietnam,
contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun
memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah
terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi
AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel
virus flu burung Vietnam?

Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju, sebut saja,
Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan Indonesia dan
negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus Flu Burung namun
tidak mendapatkan vaksinnya. Ada dugaan kalau WHO justru menjual kembali
virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan
dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu
Burung. Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman
mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan
sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian,
virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat
tinggi. Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi
virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus
Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah bargaining
power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan menguntungkan AS saja.

Dimulailah pertarungan antara Daud dan Goliat. Daud yang diwakili Menteri
Kesehatan RI melawan Goliat yang diwakili WHO dan AS. Sangat seru membaca
bagaimana Ibu Menteri Kesehatan berjuang menghadapi perwakilan WHO yang
sangat ngotot meminta RI memberikan virus Flu Burung tanpa syarat. Meskipun
berlatar belakang dokter, Ibu Menteri berusaha belajar bagaimana
berdiplomasi multilateral di tingkat organisasi internasional. Untunglah
DEPLU RI bersedia membantu Ibu Siti Fadilah dalam menggalang dukungan dari
negara lain untuk proposal Indonesia. Bu Siti Fadilah pun cukup lihai dalam
menggunakan media internasional untuk menyudutkan WHO dan AS. Beberapa kali
media internasional seperti The Economist, Guardian mendukung dan memuji
perjuangan Ibu Siti Fadilah. Anehnya, media nasional dan anggota DPR justru
mencaci maki gerakan ini (mungkin karena keterbatasan informasi dan sibuk
buat “UUD“).

Sangat seru membaca dialog-dialog antara Ibu Siti Fadilah dengan
pejabat-pejabat WHO seperti David Heyman dan Margareth Chan. Terjadi
beberapa kali pertemuan menegangkan antara Ibu Siti Fadilah Supari dengan
WHO. Bahkan, pejabat-pejabat senior AS sendiri sempat bertemu dua kali
dengan Ibu Siti Fadilah membujuk Ibu Siti Fadilah membatalkan niat Indonesia
untuk mereformasi WHO. Meskipun berdarah Jawa, bagi saya Ibu Siti Fadilah
ini orang Batak tulen. Tidak ada basa-basi, langsung menusuk ke inti
persoalan. Bahkan ketika memberikan pidato di depan majelis sidang World
Health Assembly, Ibu Siti Fadilah tidak sungkan menuduh pabrik farmasi AS
dapat membuat senjata biologi melalui virus Flu Burung ini. Telinga pejabat
AS pun panas mendengar hal ini. Ibu Siti Fadilah pun sangat tegar dalam
prinsip dengan cerdas mencari solusi permasalahan. Dalam beberapa sidang,
deadlock hampir terjadi. Pak Makarim Wibisono, duta besar Indonesia untuk
PBB pun sempat menyerah terhadap situasi sidang. Tetapi Ibu Siti Fadilah
tetap tegar dengan mencari berbagai senjata ampuh untuk menaklukkan AS. Dan
akhirnya ketemu satu senjata ampuh untuk tidak terjadi deadlock!

Menarik juga untuk mengikuti sisi religius dari perjuangan reformasi WHO
ini. Ketika ketika terjadi keterlambatan penerbangan dari Iran ke Jenewa,
Ibu Siti Fadilah hampir tidak bisa mengikuti proses sidang World Health
Assembly yang menentukan apakah agenda Indonesia diluluskan atau tidak. Tapi
untungnya, sidang WHA pun terlambat sehingga Ibu Siti Fadilah dapat
menyampaikan pidatonya untuk meyakinkan proposal Indonesia. Ada satu
kejadian seru lagi dimana ketika memasuki persidangan, agenda Indonesia
tidak mendapat satupun dukungan (co-sponsorship) dari negara-negara anggota
WHO. Namun menjelang detik-detik akhir, Iran datang dan menandatangi
co-sponsorship dan membantu mencarikan dukungan dari negara-negara muslim
dan sosialis. Indonesia akhirnya didukung oleh semua negara anggota WHO dan
tidak ada yang mendukung AS. Luar biasa! Ibu Siti Fadilah sangat yakin kalau
Tuhan yang Maha Kuasa berada di balik perjuangannya.

Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana AS melalui WHO berupaya
membujuk Indonesia membatalkan rencana reformasi WHO, segeralah membeli buku
ini. Akan terlihat sangat nyata bahwa AS di berbagai arena internasional
memiliki segudang pengaruh untuk merealisasikan kepentingan negaranya. Entah
melalui pemberian uang, bantuan atau bahkan sanksi. Saya sungguh menikmati
buku ini, bahkan beberapa kali saya merinding ketika membaca buku ini.
Rupanya masih ada satu kejadian dimana kapitalisme egoistik global yang
biasanya memangsa negara berkembang bisa dipadamkan oleh seorang pejabat
senior di Republik Indonesia. Terima kasih Ibu Siti Fadilah Supari atas
perjuangannya! (sumber artikel <http://portalhi.web.id/?p=96>)

Berikut adalah kutipan dari berbagai pihak dan media terhadap buku dan
perjuangan yang dilakukan oleh Siti Fadilah :

   1. *“Keberhasilan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mereformasi WHO
   adalah contoh sangat bagus keberhasilan perjuangan berdiplomasi kelas dunia
   secara modern.”* Prof. Dr. Juwono Soedarsono, Menteri Pertahanan
   Indonesia.
   2. *“For the sake of basic human interests, the Indonesian government
   declares that genomic data on bird flu viruses can be accessed bu anyone”.
   With those words, spoken on August, 3rd, Siti Fadilah Supari started a
   revolution that could yet save the world from the ravages of a pandemic
   disease. That is because Indonesia’s health minister has chosen a weapon
   that may prove more useful than todays best vaccines in tackling such
   emerging threats as avian flu: transparency.* The Economist, London (UK),
   August 10th, 2006
(sumber<http://id.wikipedia.org/wiki/Saatnya_Dunia_Berubah%21_Tangan_Tuhan_di_Balik_Virus_Flu_Burung>
   )

Apa yang dikhawatirkan Oleh Menkes lama?

[image: sitifadilah]Ceritanya bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia
agar mengirimkan virus flu burung H5N1 strain Indonesia yang melanda negeri
ini dua tahun lalu ke WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan risk
assesement, diagnosis, dan kemudian dibuatkan seed virus. Entah bagaimana
caranya, virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah
menjadi seed virus. Hebatnya, seed virus ini diakui sebagai miliknya karena
diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia, yang memiliki
virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan seed virus inilah
perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke seluruh dunia dengan
harga mahal.

Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan hak
amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa. *“Sehebat
apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan
menghasilkan seed virus H5N1 strain Indonesia,” *kata lulusan kedokteran
Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di Universitas
Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul *Saatnya Dunia Berubah – Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung*

Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu — yang ternyata sudah berlangsung
selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO. Tergeraklah nuraninya. Ia
sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri Kesehatan dari negara bukan super
power. Namun, ia berpikir dan bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau
bahwa pemaksaan pengiriman virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran
setan. Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi.
Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat — terutama pemerintah dari
negara penghasil vaksin — geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke
seluruh dunia dan terjadi
pandemi.(sumber<http://sudutpandang.com/2008/05/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/>
)

Indonesia dan WHO telah menjalin kesepakatan tentang pengiriman virus dengan
cara baru, yang memberikan akses vaksin terhadap negara pengirim virus. Siti
Fadillah Supari berharap Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih,
tidak mengubah kesepakatan itu.

*“Saya khawatir kalau policy tentang virus yang ditandatangani WHO. Jangan
sampai diubah!” *kata Siti di rumah dinasnya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta
Selatan, Rabu (21/10/2009).

Dikatakan Siti, persoalan virus sangat penting karena menyangkut ketahanan
nasional. Dia berharap penggantinya mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.

“Saya kira dia yang bisa mengerti. Saya harap dia punya jiwa nasionalis
sehingga bisa meneruskan apa-apa yang bisa dicapai di WHO,” kata perempuan
asal Solo, Jawa Tengah itu.

*Jika ternyata tidak? “Saya akan berteriak. Saya harap semua ikut mengawal,”
pungkasnya.* 
(sumber<http://www.detiknews.com/read/2009/10/21/235146/1226031/10/siti-harap-menkes-baru-pertahankan-policy-virus-indonesia-di-who>
)

Catatan : Sepertinya memang terlalu dini untuk menilai kemana arah esbeye
jilid 
dua<http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/10/esbeye-dua-fa-aina-tadzhabuun/>hanya
saja ada kata kunci yang dikhawatirkan oleh Siti Fadillah Supari
tentang WHO, Amerika Serikat dengan NAMRU-2 dan Virus. Kenapa pejabat eselon
II yang jadi Menteri Kesehatan? Kenapa Endang Rahayu Setyaningsih baru
muncul saat detik-detik menjelang pengumuman KIB jilid 2? TITIPAN SIAPAKAH
BELIAU ???

Kirim email ke