Bukan kesadaran akan keamanan yang masih lemah, tapi emang dibuka 'ngablak' 
kok.......... tapi kalo dibilang kayak gini ya pasti ga ngaku dong :D




________________________________
From: lina sri rosmawan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, October 22, 2009 8:13:42 AM
Subject: [sma1bks] MENKES BARU Qta....

  
Assalamu'alaikum

Dear All,...
Denger berita tadi malam kalau ternyata SBY milih rivalnya MenKes Lama,... 
Gubrak...!!! 

kaget juga, kenapa Ibu ini ya ??? hmmm... cuma mau sharing aja sedikit ttg 
beliau ....


Virus, Namru 2 dan Ibu Menkes BaruDiterbitkan Oktober 22, 2009   
Tags: Operasi Intelijen, kabinet sby, Namru 2, Menkes baru, Endang Rahayu 
Setyaningsih, Siti  Fadilah Supari, WHO, Amerika Serikat, Menteri Kabinet SBY, 
Riwayat Hidup Endang Rahayu Sedyaningsih
 
Ibu Menkes Baru : Endang Rahayu SetyaningsihMenteri
Kesehatan terpilih Endang Rahayu Setyaningsih adalah staf Departemen
Kesehatan, yang paling ‘dekat’ dengan Namru (The US Naval Medical
Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut. 
Endang adalah
seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun
1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard School of
Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997. Ia menjalani
karier di bidang kesehatan dengan menjadi dokter puskesmas di NTT dan
pernah menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia juga pernah
ditugaskan di Kanwil Departemen Kesehatan DKI Jakarta menjadi seorang
peneliti, dan pernah menjabat Kepala Litbang Biomedik dan Farmasi
Departemen Kesehatan.
“Dia (Endang) adalah mantan pegawai Namru. Dia memang sekarang ini
tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,” kata Menteri
Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam perbincangan dengan TvOne, Rabu, 21
Oktober 2009.
Dipilihnya Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri
>kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II membuat kaget Siti Fadilah
>Supari. Siti yang masih menjabat Menkes hingga pelantikan menteri baru
>Kamis besok, tidak habis pikir, kenapa Endang yang terpilih.
“Semua juga kaget, ternyata, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tidak punya 
jabatan,” kata Siti dalam perbincangan dengan tvOne setelah Yudhoyono 
mengumumkan susunan KIB II, Rabu 21 Oktober 2009. 
Menurut Siti Fadilah, Endang memang lulusan dari Amerika Serikat.
Siti melanjutkan, Endang dikenal sebagai staf Departemen Kesehatan yang
‘dekat’ dengan Namru.
“Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan 
semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah.
Meski pun bekerja di Depkes, kata dia, pekerjaan sehari-hari Endang
hanya di laboratorium. “Tapi disertasinya di masyarakat. Dia tidak
punya pengalaman di puskermas. Tapi saya melihat kecerdasannya,” kata
Siti.
Maka itu, Siti Fadilah berharap untuk periode mendatang, Endang
Setyaningsih dapat mengikuti kebijakan yang sudah diambil sebelumnya.
“Dimana Namru, sudah secara resmi sudah tutup. dan saya mohon, ini jangan 
dibuka lagi,” ujar dia. (sumber berita)
Munculnya nama Endang Rahayu Sedyaningsih di jajaran Kabinet
Indonesia Bersatu II, Rabu (21/10), memunculkan tudingan dia terlalu
pro Amerika Serikat. Tetapi hal itu dibantah oleh mantan staf peneliti
Namru 2 itu.
Endang mengakui bahwa semasa Menkes Siti Fadhilah Supari, dia sempat
diskors karena dianggap berpihak kepada AS dalam soal virus flu burung.
“Bagi saya ini persoalan yang tidak penting-penting amat. Dan ini wajar
kalau atasan tidak senang kemudian menskors bawahannya,” kata Endang
dalam wawancara dengan Media Indonesia, Rabu (21/10) malam. (sumber)
Ada apa dengan NAMRU 2 ?
Dalam  Lembar Fakta tentang NAMRU-2 yang ada di situs Kedubes Amerika Serikat 
dinyatakan bahwa Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah
sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular
demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan
komunitas kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun
1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI. 
Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria,
penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang
mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung.
Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis
yang terjadi secara alamiah. 
Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara,
Jakarta.
Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia ?
>Apa yang mereka cari di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran
>mereka bagi Indonesia ? Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini
>terkesan begitu misterius ? Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab
>mengenai lembaga riset ini. Dan aku berani memastikan, tak satu pun
>wartawan di Indonesia memiliki akses ke lembaga ini; malahan mungkin
>mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.
>
Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia
untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Sebab,
kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.
Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini
keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval
Medical Research Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal
ini diyakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30
tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala
Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.
“Kalau saya pribadi yakin itu ada motif intelijen dari Amerika. Saya
kan kerja di bidang intelijen ini sejak Letnan hingga Bintang Dua
(laksmana muda). Lebih dari 30 tahun,” kata Subardo di sela-sela
Seminar Hari Kesadaran Keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM,
Yogyakarta, Jumat (25/4/2008).
Meski meyakini keberadaan NAMRU-2 terkait operasi intelijen milik
AS, Subardo, mengaku dirinya tidak lagi mempunyai wewenang menangani
persoalan tersebut. Dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah
khususnya melalui Badan Intelijen Negara (BIN).
“Saya tidak punya wewenang lagi. Itu urusannya pemerintah dan BIN.
Saya hanya mengungkapkan ini agar kita lebih waspada, sebab penyadapan
informasi melalui intelijen ada di mana-mana,” tegasnya.
Menurut dia kesadaran akan keamanan informasi di Indonesia sampai
saat ini masih cukup lemah. Hal ini terbukti dari laporan Lemsaneg
beberapa waktu lalu yang menemukan bukti dari 28 kantor Kedubes
Indonesia di Luar Negeri, sebanyak 16 diantaranya telah disadap
sehingga harus dilakukan pembersihan dan pembenahan. Kasus ini
menurutnya sebagai preseden buruk bagi Indonesia untuk lebih
berhati-hati dalam menjaga keamanan informasi.
“Sekitar 16 kedubes yang disadap di luar negeri. Jelas hal itu
sebagai preseden buruk agar kita lebih berhati-hati melakukan
pengamanan, khususnya informasi,” imbuhnya. (sumber detiknews)
Kontroversi keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di
Indonesia rampung sudah. Tercatat sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah
tidak beroperasi lagi.
“Surat resmi penghentian kerjasama dengan Namru resmi dilayangkan
dubes AS di Indonesia tanggal 16 Oktober kemarin. Jadi perjanjian yang
diawali 16 Januari 1970 sudah resmi berakhir 16 Oktober kemarin,” ujar
mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu
(21/10/2009)
Siti Fadilah mengatakan dirinya keberadaan Namru-2 mengganggu
kedaulatan Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang
dilakukan Angkatan Laut AS.
“Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada
penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan
tidak terjadi lagi,” harapnya.
Oleh karena itu Siti Fadilah berharap pada penerusnya, Endang Rahayu
Edyaningsih, agar tidak membuka lagi Namru-2. Dia yakin Endang bisa
melanjutkan kebijakannya tersebut. “Saya kira Ibu Endang bisa mengikuti
langkah-langkah yang telah kita ambil pada periode ini, di mana Namru
sudah secara resmi ditutup, dan saya mohon jangan dibuka lagi,”
katanya. (sumber)
Saatnya Dunia Berubah
Bagi
Anda yang masih percaya akan adanya nasionalisme dan keadilan global
dalam hubungan internasional maka wajib hukumnya untuk membeli buku
ini. Buku ini sebenarnya catatan harian dari Ibu Menteri Siti Fadilah
Supari ketika memperjuangkan transparansi dan keadilan dalam organisasi
kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) . Ceritanya berawal
ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu
Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung
untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka. Namun anehnya, hasil
penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected
countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial.
Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung.
Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang
didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu
perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal
kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietnam?
Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju,
sebut saja, Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan
Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus
Flu Burung namun tidak mendapatkan vaksinnya. Ada dugaan kalau WHO
justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk
dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada
negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung. Hal ini semakin jelas
ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri
Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu
Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu
Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi.
Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus
Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus
Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah
bargaining power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan
menguntungkan AS saja.
Dimulailah pertarungan antara Daud dan Goliat. Daud yang diwakili
Menteri Kesehatan RI melawan Goliat yang diwakili WHO dan AS. Sangat
seru membaca bagaimana Ibu Menteri Kesehatan berjuang menghadapi
perwakilan WHO yang sangat ngotot meminta RI memberikan virus Flu
Burung tanpa syarat. Meskipun berlatar belakang dokter, Ibu Menteri
berusaha belajar bagaimana berdiplomasi multilateral di tingkat
organisasi internasional. Untunglah DEPLU RI bersedia membantu Ibu Siti
Fadilah dalam menggalang dukungan dari negara lain untuk proposal
Indonesia. Bu Siti Fadilah pun cukup lihai dalam menggunakan media
internasional untuk menyudutkan WHO dan AS. Beberapa kali media
internasional seperti The Economist, Guardian mendukung dan memuji
perjuangan Ibu Siti Fadilah. Anehnya, media nasional dan anggota DPR
justru mencaci maki gerakan ini (mungkin karena keterbatasan informasi
dan sibuk buat “UUD“).
Sangat seru membaca dialog-dialog antara Ibu Siti Fadilah dengan
pejabat-pejabat WHO seperti David Heyman dan Margareth Chan. Terjadi
beberapa kali pertemuan menegangkan antara Ibu Siti Fadilah Supari
dengan WHO. Bahkan, pejabat-pejabat senior AS sendiri sempat bertemu
dua kali dengan Ibu Siti Fadilah membujuk Ibu Siti Fadilah membatalkan
niat Indonesia untuk mereformasi WHO. Meskipun berdarah Jawa, bagi saya
Ibu Siti Fadilah ini orang Batak tulen. Tidak ada basa-basi, langsung
menusuk ke inti persoalan. Bahkan ketika memberikan pidato di depan
majelis sidang World Health Assembly, Ibu Siti Fadilah tidak sungkan
menuduh pabrik farmasi AS dapat membuat senjata biologi melalui virus
Flu Burung ini. Telinga pejabat AS pun panas mendengar hal ini. Ibu
Siti Fadilah pun sangat tegar dalam prinsip dengan cerdas mencari
solusi permasalahan. Dalam beberapa sidang, deadlock hampir terjadi.
Pak Makarim Wibisono, duta besar Indonesia untuk PBB pun sempat
menyerah terhadap situasi sidang. Tetapi Ibu Siti Fadilah tetap tegar
dengan mencari berbagai senjata ampuh untuk menaklukkan AS. Dan
akhirnya ketemu satu senjata ampuh untuk tidak terjadi deadlock!
Menarik juga untuk mengikuti sisi religius dari perjuangan reformasi
WHO ini. Ketika ketika terjadi keterlambatan penerbangan dari Iran ke
Jenewa, Ibu Siti Fadilah hampir tidak bisa mengikuti proses sidang
World Health Assembly yang menentukan apakah agenda Indonesia
diluluskan atau tidak. Tapi untungnya, sidang WHA pun terlambat
sehingga Ibu Siti Fadilah dapat menyampaikan pidatonya untuk meyakinkan
proposal Indonesia. Ada satu kejadian seru lagi dimana ketika memasuki
persidangan, agenda Indonesia tidak mendapat satupun dukungan
(co-sponsorship) dari negara-negara anggota WHO. Namun menjelang
detik-detik akhir, Iran datang dan menandatangi co-sponsorship dan
membantu mencarikan dukungan dari negara-negara muslim dan sosialis.
Indonesia akhirnya didukung oleh semua negara anggota WHO dan tidak ada
yang mendukung AS. Luar biasa! Ibu Siti Fadilah sangat yakin kalau
Tuhan yang Maha Kuasa berada di balik perjuangannya.
Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana AS melalui WHO
berupaya membujuk Indonesia membatalkan rencana reformasi WHO,
segeralah membeli buku ini. Akan terlihat sangat nyata bahwa AS di
berbagai arena internasional memiliki segudang pengaruh untuk
merealisasikan kepentingan negaranya. Entah melalui pemberian uang,
bantuan atau bahkan sanksi. Saya sungguh menikmati buku ini, bahkan
beberapa kali saya merinding ketika membaca buku ini. Rupanya masih ada
satu kejadian dimana kapitalisme egoistik global yang biasanya memangsa
negara berkembang bisa dipadamkan oleh seorang pejabat senior di
Republik Indonesia. Terima kasih Ibu Siti Fadilah Supari atas
perjuangannya! (sumber artikel)
Berikut adalah kutipan dari berbagai pihak dan media terhadap buku dan 
perjuangan yang dilakukan oleh Siti Fadilah :
        1. “Keberhasilan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari
mereformasi WHO adalah contoh sangat bagus keberhasilan perjuangan
berdiplomasi kelas dunia secara modern.” Prof. Dr. Juwono Soedarsono, Menteri 
Pertahanan Indonesia.
        2. “For the sake of basic human interests, the Indonesian
government declares that genomic data on bird flu viruses can be
accessed bu anyone”. With those words, spoken on August, 3rd, Siti
Fadilah Supari started a revolution that could yet save the world from
the ravages of a pandemic disease. That is because Indonesia’s health
minister has chosen a weapon that may prove more useful than todays
best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu:
transparency. The Economist, London (UK), August 10th, 2006 (sumber)
Apa yang dikhawatirkan Oleh Menkes lama?
Ceritanya
bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia agar mengirimkan virus flu
burung H5N1 strain Indonesia yang melanda negeri ini dua tahun lalu ke
WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan risk assesement,
diagnosis, dan kemudian dibuatkan seed virus. Entah bagaimana caranya,
virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah
menjadi seed virus. Hebatnya, seed virus ini diakui sebagai miliknya
karena diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia,
yang memiliki virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan seed
virus inilah perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke
seluruh dunia dengan harga mahal.
Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan
hak amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa. “Sehebat
apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan
menghasilkan seed virus H5N1 strain Indonesia,” kata lulusan
kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di
Universitas Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah – 
Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu — yang ternyata sudah
berlangsung selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO.
Tergeraklah nuraninya. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri
Kesehatan dari negara bukan super power. Namun, ia berpikir dan
bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau bahwa pemaksaan pengiriman
virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran setan. Maka kalau ia
enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar.
Dunia bereaksi. Negara barat — terutama pemerintah dari negara
penghasil vaksin — geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke
seluruh dunia dan terjadi pandemi.(sumber)
Indonesia dan WHO telah menjalin kesepakatan tentang pengiriman
virus dengan cara baru, yang memberikan akses vaksin terhadap negara
pengirim virus. Siti Fadillah Supari berharap Menteri Kesehatan yang
baru, Endang Sedyaningsih, tidak mengubah kesepakatan itu.
“Saya khawatir kalau policy tentang virus yang ditandatangani WHO. Jangan 
sampai diubah!” kata Siti di rumah dinasnya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta 
Selatan, Rabu (21/10/2009) .
Dikatakan Siti, persoalan virus sangat penting karena
>menyangkut ketahanan nasional. Dia berharap penggantinya mempunyai jiwa
>nasionalisme yang tinggi.
“Saya kira dia yang bisa mengerti. Saya harap dia punya jiwa
nasionalis sehingga bisa meneruskan apa-apa yang bisa dicapai di WHO,”
kata perempuan asal Solo, Jawa Tengah itu.
Jika ternyata tidak? “Saya akan berteriak. Saya harap semua ikut mengawal,” 
pungkasnya. (sumber)
Catatan : Sepertinya memang terlalu dini untuk menilai kemana arah esbeye jilid 
dua >hanya saja ada kata kunci yang dikhawatirkan oleh Siti Fadillah Supari
>tentang WHO, Amerika Serikat dengan NAMRU-2 dan Virus. Kenapa pejabat
>eselon II yang jadi Menteri Kesehatan? Kenapa Endang Rahayu
>Setyaningsih baru muncul saat detik-detik menjelang pengumuman KIB
>jilid 2? TITIPAN SIAPAKAH BELIAU ???
   


      

Kirim email ke