Yup, benar Pak.. thanks tambahan infonya..Tonle Sap jadi danau terbesar di asia tenggara memang pada bulan-bulan tertentu saja (musim hujan).
Vita --- In [email protected], Morry Infra <morry.in...@...> wrote: > > Perbandingan Danau Toba dan Tonle Sap tepatnya mungkin seperti ini: > > "*Lake Toba*, or Danau Toba in Indonesia, is the *largest year-round lake in > Southeast Asia*. Although it is *smaller in size* than the Tonle Sap of > Cambodia, unlike the Tonle Sap, Lake Toba is pretty consistent in its size. > Also, being a volcanic lake, Lake Toba is much, *much deeper* than Tonle > Sap. Hence, it holds much more water than Tonle Sap,* 240 km*3 vs about *40 > km*3 for Tonle Sap. > > *Tonle Sap, the Great Lake of Cambodia*, is an *immense freshwater lake on > mainland Southeast Asia*. Also written Tonlé Sap, the lake has a unique > characteristic in that its surface area expands and contracts according to > the season in the year. During the dry season, from November to May, the > Tonle Sap is between *2500 - 3000 sq km* in area, making it *still larger > than the volcanic crater lake of Lake Toba in Sumatra*, which weighs in at > "only" *1103-1265 sq km*. However, as the depth of Tonle Sap is only about *10 > m at most*, Lake Toba holds a much higher volume of water, *240 km*3 vs only > *40 km*3 at Tonle Sap." > > Salam, > Morry Infra > > 2010/2/15 Lusiana M. Hevita <mhev...@...> > > > > > > > Ari, teman seperjalanan kami, meminta supir taksi menuju Popular Guest > > House. Di tempat inilah rencananya kami menginap, dengan catatan kalau ada > > kamar kosong. Kami agak nekad juga mencari penginapan on the spot begini, > > nggak ngebooking sebelumnya. Tapi karena di Siem Reap ini banyak tersedia > > penginapan, so tidak perlu kuatir soal itu. Menurut supir taksi, ada sekitar > > 200an tempat menginap mulai dari hotel berbintang sampai guest house di Siem > > Reap. Sepanjang perjalanan menuju kota Siem Reap, supir menunjukkan > > hotel-hotel mewah beserta rate harganya. Kami hanya tertawa-tawa begitu tahu > > biaya menginap di hotel berbintang bisa biaya seluruh perjalanan kami ke > > Angkor..hehehehe. > > > > > > > > Ongkos taksi dari bandara ke tempat tujuan 7 dolar (dibagi ber-4 :). > > Sesampai di sana, resepsionis-nya langsung mengenali Ari karena Oktober > > tahun lalu ia menginap di sini. Kami kemudian ditunjukkan dua kamar di > > lantai 1. Kamar sederhana, dengan kamar mandi di dalam dan ber-kipas angin > > saja, cukup 6 dolar semalam (dibagi ber-2 :). Bagi kami, yang penting > > penginapan ini bersih dan `aman'. > > > > > > > > Pagi itu kami langsung merencanakan kunjungan ke beberapa tempat. Ari > > mengontak Anc (baca: Ang), supir Tuk-tuk yang dulu pernah membawanya > > keliling Angkor. Sayang Anc sedang `bertugas', staf Popular merekomendasikan > > pengganti Anc: Sam. Setelah menyimpan ransel dan koper bawaan masing-masing, > > kami langsung menemui Sam dan naik Tuk-tuk menuju Floating Village. > > > > > > > > Oya, Tuk-tuk adalah semacam Bentor (Becak Motor-tapi motornya di depan), > > memiliki kursi yang saling berhadapan, seperti delman di Yogya hanya saja > > bukan ditarik oleh kuda tapi oleh motor. Satu Tuk-tuk bisa dinaiki berempat > > (berenam juga bisa asal orangnya kecil-kecil hehehe). Biaya Tuk-tuk juga > > murah. Untuk seharian itu, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore kami membayar > > 10 dolar (dibagi ber-4 :) Sangat cocok buat para traveler ber-budget > > terbatas. > > > > > > > > Sam sendiri memiliki wajah yang Jawa banget, dan pendiam (jika dibandingkan > > Anc supir Tuk-tuk yang membawa kami esoknya) . Tapi dia sangat gesit dan > > lancar berbahasa Inggris. Begitu tahu kami ingin ke floating village, Sam > > langsung memacu Tuk-tuknya kencang-kencang menuju ke sana. Penjalanan ke > > Floating Village makan waktu sekitar 40 menit lebih kearah Selatan. > > Belakangan saya baru tahu kalau kami sedang menuju Tonle Sap. > > > > > > > > Tonle Sap adalah danau terluas se-Asia Tenggara (kirain Danau Toba yang > > terluas :), dan di sini ada perkampungan terapung yang jadi obyek wisata (di > > beberapa tempat di Indonesia ada juga yang mirip seperti ini, sayangnya saya > > belum berkesempatan menengok yang di tanah air). Untuk menuju floating > > village harus menggunakan perahu motor. Ternyata untuk satu paket wisata ke > > floating village kena charge 15 dolar per orang. > > > > "Aku baca di internet cuma 10 dolar kok kenapa ini 15 dolar?" Ari berusaha > > menawar harga. Tapi para petugas itu keukeuh. Sementara kami > > menimbang-nimbang biaya, rombongan turis lain asyik aja melenggang menuju > > perahu setelah membeli tiket...:D > > > > > > > > "Kalo 15 dolar, mendingan kita nggak usah ke sana deh ." Ya kami memang > > menekan biaya perjalanan ini seminim mungkin. Biaya 15 dolar per orang cukup > > mahal untuk paket wisata yang katanya `hanya' 1,5-2 jam saja. Kami bermaksud > > kembali ke Tuk-tuk untuk melanjutkan perjalanan. > > > > "Masih banyak tempat yang bisa kita lihat dan nggak semahal ini " katanya > > Ari. > > > > Sam menghampiri kami dan menanyakan kenapa kami tidak jadi ke Floating > > Village. > > > > Ari menceritakan soal harga tiket yang 15 dolar, lalu Sam menawarkan diri > > untuk membantu kami memasuki floating village dengan tarif 10 dolar per > > orang. "Kumpulkan uangnya, Miss.. saya yang akan membelikan tiketnya." > > Dan..tak lama Sam kembali sambil membawa 4 tiket berhasil!! kami pun > > akhirnya melenggang menuju perahu. Hihihi bisa gini yak?? Pas liat tiketnya, > > tidak tertera biaya 15 atau pun 10 dolar di situ. Huhh..dasar pungli! :) > > > > > > > > to be continue Insya Allah :) > > > > > > >
