Wah mbak vita makin seru aja ceritanya. Kalo nanti aku suatu saat  ksampaian 
jln2 ksana boleh jg tuh pake jasanya si Anc atau sam ini hehe. Ditunggu 
ceritanya lg y mbak :)

Ika
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "Vita" <[email protected]>
Date: Thu, 25 Feb 2010 05:53:06 
To: <[email protected]>
Subject: [sma1bks] Re: NCB 08 : From Angkor with Love (part 2)

Yup, benar Pak.. thanks tambahan infonya..Tonle Sap jadi danau terbesar di asia 
tenggara memang pada bulan-bulan tertentu saja (musim hujan).

Vita

--- In [email protected], Morry Infra <morry.in...@...> wrote:
>
> Perbandingan Danau Toba dan Tonle Sap tepatnya mungkin seperti ini:
> 
> "*Lake Toba*, or Danau Toba in Indonesia, is the *largest year-round lake in
> Southeast Asia*. Although it is *smaller in size* than the Tonle Sap of
> Cambodia, unlike the Tonle Sap, Lake Toba is pretty consistent in its size.
> Also, being a volcanic lake, Lake Toba is much, *much deeper* than Tonle
> Sap. Hence, it holds much more water than Tonle Sap,* 240 km*3 vs about *40
> km*3 for Tonle Sap.
> 
> *Tonle Sap, the Great Lake of Cambodia*, is an *immense freshwater lake on
> mainland Southeast Asia*. Also written Tonlé Sap, the lake has a unique
> characteristic in that its surface area expands and contracts according to
> the season in the year. During the dry season, from November to May, the
> Tonle Sap is between *2500 - 3000 sq km* in area, making it *still larger
> than the volcanic crater lake of Lake Toba in Sumatra*, which weighs in at
> "only" *1103-1265 sq km*. However, as the depth of Tonle Sap is only about *10
> m at most*, Lake Toba holds a much higher volume of water, *240 km*3 vs only
> *40 km*3 at Tonle Sap."
> 
> Salam,
> Morry Infra
> 
> 2010/2/15 Lusiana M. Hevita <mhev...@...>
> 
> >
> >
> > Ari, teman seperjalanan kami, meminta supir taksi menuju Popular Guest
> > House. Di tempat inilah rencananya kami menginap, dengan catatan kalau ada
> > kamar kosong. Kami agak nekad juga mencari penginapan on the spot begini,
> > nggak ngebooking sebelumnya. Tapi karena di Siem Reap ini banyak tersedia
> > penginapan, so tidak perlu kuatir soal itu. Menurut supir taksi, ada sekitar
> > 200an tempat menginap mulai dari hotel berbintang sampai guest house di Siem
> > Reap. Sepanjang perjalanan menuju kota Siem Reap, supir menunjukkan
> > hotel-hotel mewah beserta rate harganya. Kami hanya tertawa-tawa begitu tahu
> > biaya menginap di hotel berbintang bisa biaya seluruh perjalanan kami ke
> > Angkor..hehehehe.
> >
> >
> >
> > Ongkos taksi dari bandara ke tempat tujuan 7 dolar (dibagi ber-4 :).
> > Sesampai di sana, resepsionis-nya langsung mengenali Ari karena Oktober
> > tahun lalu ia menginap di sini. Kami kemudian ditunjukkan dua kamar di
> > lantai 1. Kamar sederhana, dengan kamar mandi di dalam dan ber-kipas angin
> > saja, cukup 6 dolar semalam (dibagi ber-2 :). Bagi kami, yang penting
> > penginapan ini bersih dan `aman'.
> >
> >
> >
> > Pagi itu kami langsung merencanakan kunjungan ke beberapa tempat. Ari
> > mengontak Anc (baca: Ang), supir Tuk-tuk yang dulu pernah membawanya
> > keliling Angkor. Sayang Anc sedang `bertugas', staf Popular merekomendasikan
> > pengganti Anc: Sam. Setelah menyimpan ransel dan koper bawaan masing-masing,
> > kami langsung menemui Sam dan naik Tuk-tuk menuju Floating Village.
> >
> >
> >
> > Oya, Tuk-tuk adalah semacam Bentor (Becak Motor-tapi motornya di depan),
> > memiliki kursi yang saling berhadapan, seperti delman di Yogya hanya saja
> > bukan ditarik oleh kuda tapi oleh motor. Satu Tuk-tuk bisa dinaiki berempat
> > (berenam juga bisa asal orangnya kecil-kecil hehehe). Biaya Tuk-tuk juga
> > murah. Untuk seharian itu, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore kami membayar
> > 10 dolar (dibagi ber-4 :) Sangat cocok buat para traveler ber-budget
> > terbatas.
> >
> >
> >
> > Sam sendiri memiliki wajah yang Jawa banget, dan pendiam (jika dibandingkan
> > Anc supir Tuk-tuk yang membawa kami esoknya) . Tapi dia sangat gesit  dan
> > lancar berbahasa Inggris. Begitu tahu kami ingin ke floating village, Sam
> > langsung memacu Tuk-tuknya kencang-kencang menuju ke sana. Penjalanan ke
> > Floating Village makan waktu sekitar 40 menit lebih kearah Selatan.
> > Belakangan saya baru tahu kalau kami sedang menuju Tonle Sap.
> >
> >
> >
> > Tonle Sap adalah danau terluas se-Asia Tenggara (kirain Danau Toba yang
> > terluas :), dan di sini ada perkampungan terapung yang jadi obyek wisata (di
> > beberapa tempat di Indonesia ada juga yang mirip seperti ini, sayangnya saya
> > belum berkesempatan menengok yang di tanah air). Untuk menuju floating
> > village harus menggunakan perahu motor. Ternyata untuk satu paket wisata ke
> > floating village kena charge 15 dolar per orang.
> >
> > "Aku baca di internet cuma 10 dolar kok… kenapa ini 15 dolar?" Ari berusaha
> > menawar harga. Tapi para petugas itu keukeuh. Sementara kami
> > menimbang-nimbang biaya, rombongan turis lain asyik aja melenggang menuju
> > perahu setelah membeli tiket...:D
> >
> >
> >
> > "Kalo 15 dolar, mendingan kita nggak usah ke sana deh…." Ya kami memang
> > menekan biaya perjalanan ini seminim mungkin. Biaya 15 dolar per orang cukup
> > mahal untuk paket wisata yang katanya `hanya' 1,5-2 jam saja. Kami bermaksud
> > kembali ke Tuk-tuk untuk melanjutkan perjalanan.
> >
> > "Masih banyak tempat yang bisa kita lihat dan nggak semahal ini…" katanya
> > Ari.
> >
> > Sam menghampiri kami dan menanyakan kenapa kami tidak jadi ke Floating
> > Village.
> >
> > Ari menceritakan soal harga tiket yang 15 dolar, lalu Sam menawarkan diri
> > untuk membantu kami memasuki floating village dengan tarif 10 dolar per
> > orang. "Kumpulkan uangnya, Miss.. saya yang akan membelikan tiketnya."
> > Dan..tak lama Sam kembali sambil membawa 4 tiket… berhasil!!… kami pun
> > akhirnya melenggang menuju perahu. Hihihi…bisa gini yak?? Pas liat tiketnya,
> > tidak tertera biaya 15 atau pun 10 dolar di situ. Huhh..dasar pungli! :)
> >
> >
> >
> > to be continue – Insya Allah :)
> >
> >  
> >
>



Kirim email ke