Salam kenal juga bang ruslan…
 
Sebenarnya aku kasihan sama abang.. karena konsep pelepasan hak milik itu 
begitu akut di jiwa abang… maaf kalau saya terlalu keras menyebutnya….Kalau 
secara usia aku sudah ga bisa ngomong apa-apa lagi… Untuk menjawab beberapa 
pertanyaan yang abang lontarkan saja aku agak malas, karena kalau aku baca 
secara tartil (perlahan-lahan) pertanyaan itu sudah terjawab di email-ku 
sebelumnya… Mungkin karena terburu-buru membacanya hingga abang ndak dapat 
memahami jawaban itu ..  
 
Bahkan bang ruslan sudah menjawab sendiri dalam email abang yang terakhir bahwa 
konsep pelepasan hak milik yang abang lontarkan itu ndak mungkin diterapkan … 
dan buatku hal itu sudah menggugurkan konsep tersebut… dimana yang empunya 
konsep mengakui bahwa konsepnya ndak bisa diterapkan… jadi maaf… abang seperti 
ndak memahami tulisan sendiri…hehehe… kasihan aku melihatnya…Hanya saja semua 
maknanya itu akan muncul…Jika email abang dibaca secara perlahan-lahan dan 
berulang-ulang (tartil)… diawal abang begitu menggebu-gebu dengan konsep abang… 
hanya saja di paragraph hampir terakhir abang mengakui bahwa hal itu ndak 
mungkin hehehe… 
 
Aku jadi aneh dengan konsep yang jawabannya abang sendiri sudah tahu ndak 
mungkin diterapkan…Kalau aku lihat dari sisi usia bang ruslan lebih senior … 
dan boleh jadi aku hanya sebagai anak baru lahir kemarin sore…  
 
Sedangkan untuk pertanyaan-pertanyaan lain, aku pikir timbul karena konsep 
awalnya tadi, jadi ndak perlu aku jawab juga. Kenapa? Karena konsepnya sudah 
digugurkan oleh yang empunya konsep. Dan sebenarnya ga ada 
pertanyaaan-pertanyaan itu kalau konsepnya sudah gugur (ndak ada)…
 
 
Jadi sementara demikianlah jawabanku 
Andaikata forum menginginkan hal tersebut di kupas secara detil…
Aku akan coba cari waktu untuk mengupasnya… 
 
Terima Kasih dan Salam hormat untuk semua…
 
 
Wassalam,
 
TFI ‘94 (laki-laki tulen)
 
 
--- On Mon, 2/14/11, ruslan wiryadi <[email protected]> wrote:
From: ruslan wiryadi <[email protected]>
Subject: Re: [sma1bks] Dialog itu mencerdaskan.....
To: [email protected]
Date: Monday, February 14, 2011, 3:37 PM
  




Salam kenal buat mas (mbak?) Toby…
 
Lahirnya ide dasar dari konsep pelepasan hak milik yang saya lontarkan adalah 
lebih merupakan untuk memberikan alternative jawaban ketika masing-masing 
kelompok mempertahankan kebenaran menurut versinya masing-masing.  Lebih 
merupakan konsep untuk diterapkan kedalam diri sendiri agar output pemikiran 
keluar lebih "lunak" dan tidak memonopoli bahwa kelompok lain harus memiliki 
kebenaran yang sama dengan yang kita yakini.  Karena diluar, ada 
pemikiran-pemikiran yang berbeda.  Dan tidak seorangpun berhak memagari suatu 
kebenaran dan mengklaim sebagai miliknya.  Untuk keyakinan akan kebenaran yang 
kita anut, silahkan saja meyakininya masing-masing, toh orang lain yang 
memiliki keyakinan kebenaran berbeda tentu  tidak akan ambil pusing selama kita 
memakainya untuk diri sendiri.  Dan seperti kata bang Komar (lagi-lagi bang 
Komar neh… maklum sesepuhnya milis ini…hehehe…) “Toh di akherat nanti masing2 
orang ditanya dengan substansi atau ruhiyahnya
 sendiri-sendiri”…
 
Mungkin, karena cara berpikir saya yang weleh-weleh, sehingga sehingga mas 
(mbak) Toby melihat saya tidak mencerna kata-kata Gibran.  Kemampuan dan 
pengetahuan saya tentulah tidak akan pernah dapat memahami dengan pasti apa 
makna kata-kata puitis dari orang sekaliber Gibran.  Apalagi kata-kata tersebut 
sudah merupakan terjemahan yang juga luar biasa putisnya.  Penafsiran saya akan 
makna kata-kata tersebut ialah bahwa tulisan anakmu bukanlah milikmu, tentulah 
terkait dengan eksistensi sang anak yang merupakan individu tersendiri yang 
juga merupakan ciptaan sang maha kuasa, sama seperti kita sang orang tua, 
dengan posisi yang sejajar dihadapan sang pencipta, sehingga kita tidaklah 
boleh merasa "berhak" dan “memiliki” sang anak tersebut.  Jika saya menafsirkan 
bahwa anak adalah titipan Tuhan, saya khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan 
mengapa ada pasutri yang memiliki anak dan mengapa ada yang tidak? Apakah yang 
memiliki anak berarti lebih
 dipercaya sementara yg tidak memiliki anak diragukan tanggung jawabnya 
sehingga tidak layak dihadapan Tuhan untuk diberi anak?
 
Dan ketika saya mendidik, membesarkan dan menjadikan anak saya berprestasi di 
sekolah, berguna bagi nusa bangsa, dsb… apakah itu karena saya sungguh-sungguh 
demi menjaga titipan-Nya ataukah sesungguhnya semua saya lakukan demi 
kebanggaan ego saya sebagai orang tuanya? karena yang akan menikmati pujian 
dari prestasi anak saya tentulah termasuk saya juga.
 
Demikian juga istrimu bukanlah milikmu, tentulah saya tidak bermaksud 
memaknainya sebatas urusan tanggung-jawab lahiriah.  Sama seperti memaknai 
anakmu bukanlah milikmu, kata "bukanlah milikmu" lebih mengacu kepada hal yang 
terkait dengan keberadaan istri sebagai individu yang sejajar dihadapan sang 
pencipta,  “istri itu bukan milik gue yang boleh gue apain aja”.  Istri juga 
bukan barang titipan yang seolah derajatnya lebih rendah dari yang dititipi.  
(contoh soal yang ekstrim yang (maaf) mungkin kurang tepat, ini hanya sekedar 
illustrasi saja: rasanya tidak masuk logika kalo saya menitipkan kucing kepada 
kucing yang jelas-jelas sama derajatnya).  
 
Lalu kalo semua melepaskan konsep hak milik jadi siapa yang benar? Dimana 
pagarnya?  Yang paling tepat menurut saya ya masing-masing memagari dirinya 
sendiri karena semua sudah diberi tanggungjawab masing-masing oleh Sang 
Pencipta.  Ukurannya? Seperti yang bang toby bilang: ukurannya sudah jelas ndak 
ngambang… yaitu apa yang diturunkan oleh Pemilik Sebenarnya (Tuhan)… dsb…dsb…
 
Jadi terkait dengan kebenaran tidak perlu saya memagari istri, toh dia sudah 
mengerti akan batas-batasnya, jika dia belum tahu ya diberitahu, tapi bukan 
dipagari seolah dia adalah milik saya….
 
NB: Bang Komar nanti saya kirimkan nomor hp saya via email pribadi, terima 
kasih ud menanggapi email saya dengan senyam senyum, itu jauh lebih baik 
ketimbang ditanggapi dengan hati yang panas… hehehe… buat temen-temnen yang 
lain ditunggu juga komen dan pendapatnya biar saya dapat pencerahan karena 
mendapat pandangan dari sudut yang berbeda…
 
Ruslan Wiryadi


Toby Fittivaldy 
Fis2  '94
 



 
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection. 
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html

Kirim email ke