--- Pada Kam, 12/2/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:
Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] [resend] Lembar Jum'at: Hakikat Pemimpin
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Kamis, 12 Februari, 2009, 7:23 PM

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Jum\\\'at, 18 Juni 2004,
oleh: abufaiz97
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=312

Lembar Jum'at: Hakikat Pemimpin

alhikmah.com - Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan
adanya pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau
kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa
dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan
yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara
mereka sebagai pemimpin perjalanan. Ini semua menunjukkan betapa penting
kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi
skala yang besar. Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang
muslim tidak boleh mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak)
melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan
mengindahkannya pada hari kiamat (HR. Ahmad).

Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Dalam
shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. Secara harfiyah, imam berasal
dari kata amma, ya’ummu yang artinya menuju, menumpu dan meneladani. Ini
berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu didepan guna memberi keteladanan
atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. Disamping itu, pemimpin disebut
juga dengan khalifah yang berasal dari kata khalafa yang berarti di belakang,
karenanya khalifah dinyatakan sebagai pengganti karena memang pengganti itu
dibelakang atau datang sesudah yang digantikan. Kalau pemimpin itu disebut
khalifah, itu artinya ia harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong
diri dan orang yang dipimpinnya untuk maju dalam menjalani kehidupan yang baik
dan benar sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh orang yang
dipimpinnya kearah kebenaran. 

Dari pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan
Islam, pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja
yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan
kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan
orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan
Islam yang secara garis besar dalam lima lingkup.

1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan.
Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau
institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai
seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya,. Bukan hanya
dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan dalam
semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin
atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa
harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan
dirinya. 

Oleh karena itu, ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang
datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar, maka ia dating
sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana sehingga ada yang
menduga kalau ia seorang kuli panggul lalu orang itupun menyuruhnya untuk
membawakan barang yang tak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu
dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun ditengah jalan,
ada orang memanggilnya dengan panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang
tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah
disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar sang khalifah yang
disuruhnya, iapun meminta maaf, namun Umar merasa hal itu bukanlah suatu
kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah yang tiodak boleh
disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian, Rasulullah Saw
bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai
pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas 
Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau
kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi
justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika
masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.
Karenanya dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz sebelum
menjadi khalifah menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 400
dirham, tapi ketika ia menjadi khalifah ia hanya membeli pakaian yang harganya
10 dirham, hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus
dihimbau, tapi harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya. Karena itu
menjadi terasa aneh bila dalam anggaran belanja negara atau propinsi dan
tingkatan yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta
untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian
dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri sebelum ia menjadi
pemimpin atau pejabat.

3. Kerja Keras, Bukan Santai.
Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi
berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk Selanjutnya
mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan
benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin
dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme. 

Saat menghadapi krisis ekonomi, Khalifah Umar bin Khattab membagikan sembako
(bahan pangan) kepada rakyatnya. Meskipun sore hari ia sudah menerima laporan
tentang pembagian yang merata, pada malam hari, saat masyarakat sudah mulai
tidur, Umar mengecek langsung dengan mendatangi lorong-lorong kampung, Umar
mendapati masih ada rakyatnya yang masuk batu sekedar untuk memberi harapan
kepada anaknya yang menangis karena lapar akan kemungkinan mendapatkan makanan.
Meskipun malam sudah semakin larut, Umar pulang ke rumahnya dan ternyata ia
memanggul sendiri satu karung bahan makanan untuk diberikan kepada rakyatnya
yang belum memperolehnya. 

4. Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.
Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi
pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa
melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya,
Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu
Na’im)

Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan
terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini
berarti tidak ada keinginan sedikitpun untuk menzalimi rakyatnya apalagi menjual
rakyat, berbicara atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya
untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini
terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianat yang paling besar,
Rasulullah Saw bersabda: Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa
memperdagangkan rakyatnya (HR. Thabrani).

5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.
Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan
pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran
kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika
ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan
bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa
menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran. 

Sebagai seorang pemimpin, Rasulullah Saw tunjukkan keteladanan dan kepeloporan
dalam banyak peristiwa. Ketika Rasulullah Saw membangun masjid Nabawi di Madinah
bersama para sahabatnya, beliau tidak hanya menyuruh dan mengatur atau tunjuk
sana tunjuk sini, tapi beliau turun langsung mengerjakan hal-hal yang bersifat
teknis sekalipun. Beliau membawa batu bata dari tempatnya ke lokasi pembangunan
sehingga ketika para sahabat yang lebih muda dari beliau sudah mulai lelah dan
beristirahat, Rasul masih terus saja membawanya meskipun ia juga nampak lelah.
Karena itu seorang sahabat bermaksud mengambil batu yang dibawa oleh nabi agar
ia yang membawanya, tapi nabi justeru menyatakan: “kalau kamu mau membawa batu
bata, disana masih banyak batu yang bisa engkau bawa, yang ini biar tetap aku
yang membawanya”. Karenanya para sahabat tetap dan terus bersemangat dalam
proses penyelesaian pembangunan masjid Nabawi.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin
bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik
dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT,
pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota
parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu,
orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan
kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk
bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan
menjadi pemimpin. wollohu a'lam.




------------------------------------

Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs
Yahoo! Groups Links






      Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger. Sekarang bisa 
dengan Yahoo! Messenger baru. http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke