--- Pada Sel, 7/4/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:

Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] [resend] Lembar Jum'at: Hakikat Pemimpin
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Selasa, 7 April, 2009, 6:58 PM

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Jum\\\'at, 18 Juni 2004, oleh: abufaiz97
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=312

Lembar Jum'at: Hakikat Pemimpin

alhikmah.com
- Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya
pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin
atau kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat
berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai
imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus
mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan.
Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu
masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar. Untuk
tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak
boleh mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar
(mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya,
maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat (HR. Ahmad).

Di
dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Dalam
shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. Secara harfiyah,
imam berasal dari kata amma, ya’ummu yang artinya menuju, menumpu dan
meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu didepan
guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan.
Disamping itu, pemimpin disebut juga dengan khalifah yang berasal dari
kata khalafa yang berarti di belakang, karenanya khalifah dinyatakan
sebagai pengganti karena memang pengganti itu dibelakang atau datang
sesudah yang digantikan. Kalau pemimpin itu disebut khalifah, itu
artinya ia harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong diri
dan orang yang dipimpinnya untuk maju dalam menjalani kehidupan yang
baik dan benar sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh
orang yang dipimpinnya kearah kebenaran. 

Dari pengantar di
atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan Islam,
pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja
yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan
kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para
pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat
kepemimpinan dalam pandangan Islam yang secara garis besar dalam lima
lingkup.

1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan.
Ketika
seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau
institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar
sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya,.
Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh
karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu
keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa
menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan
dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya. 

Oleh
karena itu, ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang cemerlang
datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar, maka ia
dating sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana
sehingga ada yang menduga kalau ia seorang kuli panggul lalu orang
itupun menyuruhnya untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya.
Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk
mendapatkan upah. Namun ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan
panggilan yang mulia sehingga pemilik barang yang tidak begitu
memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah
disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa Umar sang khalifah
yang disuruhnya, iapun meminta maaf, namun Umar merasa hal itu bukanlah
suatu kesalahan. Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah
yang tiodak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu
kepastian, Rasulullah Saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan
setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas 
Menjadi
pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau
kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan,
tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi
ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan
sangat sulit. Karenanya dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin
Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah menghabiskan dana untuk membeli
pakaian yang harganya 400 dirham, tapi ketika ia menjadi khalifah ia
hanya membeli pakaian yang harganya 10 dirham, hal ini ia lakukan
karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, tapi harus
dicontohkan langsung kepada masyarakatnya. Karena itu menjadi terasa
aneh bila dalam anggaran belanja negara atau propinsi dan tingkatan
yang dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta
untuk membeli pakaian bagi para pejabat, padahal ia sudah mampu membeli
pakaian dengan harga yang mahal sekalipun dengan uangnya sendiri
sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.

3. Kerja Keras, Bukan Santai.
Para
pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan
mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang
dipimpinnya untuk Selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk
bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan
dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras
dengan penuh kesungguhan dan optimisme. 

Saat menghadapi krisis
ekonomi, Khalifah Umar bin Khattab membagikan sembako (bahan pangan)
kepada rakyatnya. Meskipun sore hari ia sudah menerima laporan tentang
pembagian yang merata, pada malam hari, saat masyarakat sudah mulai
tidur, Umar mengecek langsung dengan mendatangi lorong-lorong kampung,
Umar mendapati masih ada rakyatnya yang masuk batu sekedar untuk
memberi harapan kepada anaknya yang menangis karena lapar akan
kemungkinan mendapatkan makanan. Meskipun malam sudah semakin larut,
Umar pulang ke rumahnya dan ternyata ia memanggul sendiri satu karung
bahan makanan untuk diberikan kepada rakyatnya yang belum
memperolehnya. 

4. Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.
Pemimpin
adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin
atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa
melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin
sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan
mereka (HR. Abu Na’im)

Oleh karena itu, setiap pemimpin harus
memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya
guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada keinginan
sedikitpun untuk menzalimi rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara
atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk
kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini
terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianat yang paling
besar, Rasulullah Saw bersabda: Khianat yang paling besar adalah bila
seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya (HR. Thabrani).

5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.
Dalam
segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan
pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap
terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin
menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah
menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam
soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan.
Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor
dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran. 

Sebagai seorang
pemimpin, Rasulullah Saw tunjukkan keteladanan dan kepeloporan dalam
banyak peristiwa. Ketika Rasulullah Saw membangun masjid Nabawi di
Madinah bersama para sahabatnya, beliau tidak hanya menyuruh dan
mengatur atau tunjuk sana tunjuk sini, tapi beliau turun langsung
mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis sekalipun. Beliau membawa batu
bata dari tempatnya ke lokasi pembangunan sehingga ketika para sahabat
yang lebih muda dari beliau sudah mulai lelah dan beristirahat, Rasul
masih terus saja membawanya meskipun ia juga nampak lelah. Karena itu
seorang sahabat bermaksud mengambil batu yang dibawa oleh nabi agar ia
yang membawanya, tapi nabi justeru menyatakan: “kalau kamu mau membawa
batu bata, disana masih banyak batu yang bisa engkau bawa, yang ini
biar tetap aku yang membawanya”. Karenanya para sahabat tetap dan terus
bersemangat dalam proses penyelesaian pembangunan masjid Nabawi.

Dari
penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan
pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah
memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti
kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat
apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau
walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu, orang-orang yang
sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk
misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa
memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita
percayakan menjadi pemimpin. wollohu a'lam.




------------------------------------

Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs
Yahoo! Groups Links






      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke