Biyen, yek nak arep tuku buku, aku moro ning PRESTASI utowo joglo toko buku.
Tapi sak ilingku PRESTASI kae wis sue bangkrut. Sak ngertiku dadi warung Baso.
Koyoke luwih untung dodolan Baso tinimbang dodolan buku.
Lha wong saiki do wegah tuku buku, mending foto kopi.
====================================================================
Kurangnya Ketersediaan Buku di Demak
Ditulis Oleh Muhajir Arrosyid
Di Kabupaten Demak sekarang ini hanya terdapat satu perpustakaan umum.
Perpustakaan tersebut dikelola oleh Pemerintah Daerah dan berada di kota
kabupaten. Selebihnya hanya ada perpustakaan sekolah yang hanya dapat dinikmati
kalangan sekolah: guru dan siswa.
Perpustakaan satu-satunya milik Pemerintah Daerah yang bertempat di depan
terminal Demak ini pun masih kurang memadai dilihat dari kapasitas ruang yang
berukuran sekitar sepuluh kali sepuluh meter dan koleksi buku yang tidak lebih
dari dua puluh rak.
Di seluruh wilayah Kabupaten Demak tidak ada satu pun berdiri toko buku.
Kalaupun ada buku dijual adalah buku-buku pelajaran yang dipajang di agen koran
berjajar dengan novel-novel picisan karya Fredy S.--novel yang biasanya
bersampul perempuan setengah telanjang.
Kurangnya ketersediaan bacaan ini berakibat pada kurangnya kesempatan
masyarakat untuk membaca buku. Kalau budaya baca masyarakat rendah, peluang
masyarakat untuk mendapat informasi dan pengetahuan mutakhir juga rendah.
Kenapa ketersediaan buku kurang? Hal ini karena tidak ada atau kurangnya
kesadaran akan pentingnya buku oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Demak.
Buku memiliki peran penting dalam pembangunan. Otonomi daerah mengharuskan
Pemerintah Daerah menghadirkan sumber daya manusia handal untuk mengoptimalkan
potensi-potensi daerah.
Buku, kaitannya dengan pembangunan, membantu kemampuan keahlian manusia dan
menanamkan mentalias pembangunan. Dengan membaca buku manusia akan belajar
hasil pemikiran, penelitian, perenungan para ahli dan ilmuan.
Sebuah daerah yang memiliki potensi alam melimpah tetapi tidak memiliki
sumberdaya manusia yang berkeahlian untuk mengolah maka sumberdaya alam
tersebut tidak akan memberi manfaat optimal.
Mentalitas
Selain kemampuan keahlian, pembangunan juga membutuhkan manusia yang bermental
membangun. Mentalitas pembangunan menurut Koentjaraningrat dalam buku
Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (1987) adalah nilai-budaya yang
berorientasi ke masa depan, suatu sifat hemat, suatu hasrat untuk bereksplorasi
dan berinovasi, suatu pandangan hidup yang menilai tinggi achievement dari
karya, suatu nilai-budaya yang kurang berorientasi vertikal, suatu sikap lebih
percaya kepada kemampuan sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung
jawab sendiri.
Mentalitas yang menghambat pembangunan adalah sikap hidup yang tak percaya
kepada kemampuan sendiri, mengendornya disiplin, dan berkurangnya rasa
bertanggung jawab, menghilangnya rasa kepekaan terhadap mutu, dan mentalitas
menerabas.
Kemampuan keahlian jika tidak dibarengi dengan mentalitas pembangunan maka
pembangunan tidak akan jalan. Misalnya, pegawai yang tidak memiliki displin
murni hanya giat bekerja kalau ada atasannya.
Terjadinya korupsi seperti yang sedang dalam proses hukum, yaitu kasus APBD
Demak 2003-2004 dan pembangunan pasar Bintoro, juga karena mentalitas
menerabas. Sebuah mentalitas yang menghambat pembangunan.
Banyak bukti yang menyatakan ada keterkaitan antara buku dengan pembangunan.
Negara-negara maju terbukti mengkonsumsi buku lebih tinggi daripada
negara-negara berkembang dan negara miskin.
Suatu penelitian membuktikan bahwa perkembangan ekonomi dan peningkatan
kemakmuran masyarakat Inggris pertengahan abad ke-18 diawali suatu periode
selama beberapa dasawarsa di mana kesusasteraan, bacaan rakyat, dan
cerita-cerita rakyat Inggris diisi oleh tema-tema yang berorientasi terhadap
achievement yang tinggi. (S. Abdul Rosyid, 2008)
Menurut Nur Hidayat (2008) membaca buku adalah membangun peradaban dan
berinvestasi untuk masa depan. Kejayaan peradaban Islam semasa Dinasti
Abbasiyah (786-809 M) adalah karena kebijakan Khalifah Harun Al-Rasyid untuk
menterjemahan buku-buku tradisi keilmuan dan filsafat Yunani klasik ke dalam
bahasa Arab.
Sebaliknya, kejayaan peradaban Islam mulai meredup ketika kekhalifahan
Abbasiyah menderita kekalahan atas serangan bangsa Mongol (1258 M). Kitab-kitab
di perpustakaan-perpusatakan kota Baghdad dihancurkan dan dibuang ke sungai
Tigris. Sejak saat itulah kemajuan peradaban bergeser dari Timur ke Barat.
Setelah rakyat bisa membaca melalui program Pengentasan Buta Aksara (PBA) oleh
pemerintah, langkah selanjutnya adalah mendorong rakyat gemar membaca dengan
cara mendekatkan bacaan kepada mereka.
Tempat buku adalah perpustakaan dan toko buku. Agar masyarakat dekat dengan
buku, perpustakaan perlu ditambah tidak hanya di kota kabupaten seperti
sekarang ini. Kalau memungkinkan di setiap kecamatan berdiri satu perpustakaan.
Pembangunan gedung perpustakaan Kabupaten Demak seperti yang sekarang sedang
dilaksanakan harusnya juga menambah koleksi dan variasi buku.
Tentunya perpustakaan dan toko buku tidak harus diselengarakan oleh pemerintah.
Kalau ada pihak perorangan, usahawan, dan LSM memiliki iktikat
menyelengarakannya tentu akan sangat membantu.
Muhajir Arrosyid, Pengajar matakuliah penulisan kreatif dan Ilmu Sosial Budaya
Dasar IKIP PGRI Semarang. Penulis Cerita Pendek dari Demak.
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/