la iyo to mas....lha wong buku ra iso di pangan....nek bakso kan iso 
dipangan.....yo enak dodol bakso dari pada buku....nek bakso ra payu iso di 
pangan...lha nek buku ra payu...sopo sing arep mangan buku......




________________________________
From: Hamdzan Asat <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, February 21, 2009 1:53:49 PM
Subject: [SMUN 1 Demak] Susahnya cari buku di Demak


Biyen, yek nak arep tuku buku, aku moro ning PRESTASI utowo joglo toko buku.

Tapi sak ilingku PRESTASI kae wis sue bangkrut. Sak ngertiku dadi warung Baso. 
Koyoke luwih untung dodolan Baso tinimbang dodolan buku.

Lha wong saiki do wegah tuku buku, mending foto kopi.

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ==

Kurangnya Ketersediaan Buku di Demak 
Ditulis Oleh Muhajir Arrosyid 

Di Kabupaten Demak sekarang ini hanya terdapat satu perpustakaan umum. 
Perpustakaan tersebut dikelola oleh Pemerintah Daerah dan berada di kota 
kabupaten. Selebihnya hanya ada perpustakaan sekolah yang hanya dapat dinikmati 
kalangan sekolah: guru dan siswa.

Perpustakaan satu-satunya milik Pemerintah Daerah yang bertempat di depan 
terminal Demak ini pun masih kurang memadai dilihat dari kapasitas ruang yang 
berukuran sekitar sepuluh kali sepuluh meter dan koleksi buku yang tidak lebih 
dari dua puluh rak.

Di seluruh wilayah Kabupaten Demak tidak ada satu pun berdiri toko buku. 
Kalaupun ada buku dijual adalah buku-buku pelajaran yang dipajang di agen koran 
berjajar dengan novel-novel picisan karya Fredy S.--novel yang biasanya 
bersampul perempuan setengah telanjang.

Kurangnya ketersediaan bacaan ini berakibat pada kurangnya kesempatan 
masyarakat untuk membaca buku. Kalau budaya baca masyarakat rendah, peluang 
masyarakat untuk mendapat informasi dan pengetahuan mutakhir juga rendah.

Kenapa ketersediaan buku kurang? Hal ini karena tidak ada atau kurangnya 
kesadaran akan pentingnya buku oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Demak.

Buku memiliki peran penting dalam pembangunan. Otonomi daerah mengharuskan 
Pemerintah Daerah menghadirkan sumber daya manusia handal untuk mengoptimalkan 
potensi-potensi daerah. 

Buku, kaitannya dengan pembangunan, membantu kemampuan keahlian manusia dan 
menanamkan mentalias pembangunan. Dengan membaca buku manusia akan belajar 
hasil pemikiran, penelitian, perenungan para ahli dan ilmuan.

Sebuah daerah yang memiliki potensi alam melimpah tetapi tidak memiliki 
sumberdaya manusia yang berkeahlian untuk mengolah maka sumberdaya alam 
tersebut tidak akan memberi manfaat optimal.

Mentalitas
Selain kemampuan keahlian, pembangunan juga membutuhkan manusia yang bermental 
membangun. Mentalitas pembangunan menurut Koentjaraningrat dalam buku 
Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (1987) adalah nilai-budaya yang 
berorientasi ke masa depan, suatu sifat hemat, suatu hasrat untuk bereksplorasi 
dan berinovasi, suatu pandangan hidup yang menilai tinggi achievement dari 
karya, suatu nilai-budaya yang kurang berorientasi vertikal, suatu sikap lebih 
percaya kepada kemampuan sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung 
jawab sendiri.

Mentalitas yang menghambat pembangunan adalah sikap hidup yang tak percaya 
kepada kemampuan sendiri, mengendornya disiplin, dan berkurangnya rasa 
bertanggung jawab, menghilangnya rasa kepekaan terhadap mutu, dan mentalitas 
menerabas.

Kemampuan keahlian jika tidak dibarengi dengan mentalitas pembangunan maka 
pembangunan tidak akan jalan. Misalnya, pegawai yang tidak memiliki displin 
murni hanya giat bekerja kalau ada atasannya.

Terjadinya korupsi seperti yang sedang dalam proses hukum, yaitu kasus APBD 
Demak 2003-2004 dan pembangunan pasar Bintoro, juga karena mentalitas 
menerabas. Sebuah mentalitas yang menghambat pembangunan.

Banyak bukti yang menyatakan ada keterkaitan antara buku dengan pembangunan. 
Negara-negara maju terbukti mengkonsumsi buku lebih tinggi daripada 
negara-negara berkembang dan negara miskin.

Suatu penelitian membuktikan bahwa perkembangan ekonomi dan peningkatan 
kemakmuran masyarakat Inggris pertengahan abad ke-18 diawali suatu periode 
selama beberapa dasawarsa di mana kesusasteraan, bacaan rakyat, dan 
cerita-cerita rakyat Inggris diisi oleh tema-tema yang berorientasi terhadap 
achievement yang tinggi. (S. Abdul Rosyid, 2008)

Menurut Nur Hidayat (2008) membaca buku adalah membangun peradaban dan 
berinvestasi untuk masa depan. Kejayaan peradaban Islam semasa Dinasti 
Abbasiyah (786-809 M) adalah karena kebijakan Khalifah Harun Al-Rasyid  untuk 
menterjemahan buku-buku tradisi keilmuan dan filsafat Yunani klasik ke dalam 
bahasa Arab.

Sebaliknya, kejayaan peradaban Islam mulai meredup ketika kekhalifahan 
Abbasiyah menderita kekalahan atas serangan bangsa Mongol (1258 M). Kitab-kitab 
di perpustakaan- perpusatakan kota Baghdad dihancurkan dan dibuang ke sungai 
Tigris. Sejak saat itulah kemajuan peradaban bergeser dari Timur ke Barat.

Setelah rakyat bisa membaca melalui program Pengentasan Buta Aksara (PBA) oleh 
pemerintah, langkah selanjutnya adalah mendorong rakyat gemar membaca dengan 
cara mendekatkan bacaan kepada mereka.

Tempat buku adalah perpustakaan dan toko buku. Agar masyarakat dekat dengan 
buku, perpustakaan perlu ditambah tidak hanya di kota kabupaten seperti 
sekarang ini. Kalau memungkinkan di setiap kecamatan berdiri satu perpustakaan. 
Pembangunan gedung perpustakaan Kabupaten Demak seperti yang sekarang sedang 
dilaksanakan harusnya juga menambah koleksi dan variasi buku.

Tentunya perpustakaan dan toko buku tidak harus diselengarakan oleh pemerintah. 
Kalau ada pihak perorangan, usahawan, dan LSM memiliki iktikat 
menyelengarakannya tentu akan sangat membantu.


Muhajir Arrosyid, Pengajar matakuliah penulisan kreatif dan Ilmu Sosial Budaya 
Dasar IKIP PGRI Semarang. Penulis Cerita Pendek dari Demak.

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/

   


      

Kirim email ke