Press Release: "Tuntutan Pembubaran FPI, MMI, dan HTI"

Republik Indonesia berdiri di atas landasan keberagaman dan kemajemukan.
Terdiri atas berbagai suku, agama, etnik, aliran kepercayaan, juga pandangan
politik.
Walaupun berbeda tiap warganegara bersatu-padu berjuang dan mempertahankan
kemerdekaan dan kebebasan. Inilah modal awal bangsa yang tak bisa dipungkiri
keberadaannya bahkan jauh sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Keberagaman dan kemajemukan itu justru menjadi kekayaan negeri yang
sama-sama kita cintai ini. Sebuah semboyan cerdas lantas dirumuskan para
pendiri bangsa dalam satu kalimat yan sudah sangat akrab dengan kita:
Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda, tapi pada hakekatnya kita satu.
Berbagai perbedaan itu diakui keberadaannya, bahkan dilindungi konsitusi UUD
1945 dan Pancasila sebagai landasan negara.

Namun kita merasakan keutuhan bangsa belakangan ini terganggu akibat
munculnya berbagai tindakan yang tidak lagi menghargai perbedaan dan
keberagaman. Ancaman dan tindakan kekerasan yang dilakukan beberapa kelompok
sipil terhadap warga sipil lainnya, sungguh telah melukai bangsa
yang dibangun dengan susah payah oleh para pendiri bangsa ini. Pancasila dan
UUD 1945 telah dilanggar berkali-kali. Supremasi hukum yang mestinya
dijunjung tinggi dalam negara hukum dicampakkan.

Seharusnya aksi-aksi kekerasan tersebut menjadi perhatian aparat keamanan.
Namun kami melihat tidak adanya tindakan tegas terhadap mereka, bahkan
aksi-aksi kriminal dan kekerasan itu terus berantai dan berlanjut di
berbagai tempat di Indonesia.

Mulai dari penutupan paksa terhadap gereja, rumah-rumah ibadah, penyerangan
terhadap Ahmadiyyah, Komunitas Eden, ancaman dan penyerangan terhadap
lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengusung tema kebebasan
beragama, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Kasus paling
terakhir adalah penyerangan terhadap FAHMINA Institute di Cirebon (21/5/06)
dan mengusir mantan Presiden Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid, di
Purwakarta Jawa Barat (23/5/06)

Oleh karena itu, kami menyampaikan sikap sebagai berikut:

1. Tindakan-tindakan kriminal dan kekerasan yang dilakukan oleh Front
Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Hizb Tahrir
Indonesia (HTI) yang kami sebut sebagai "preman berjubah" telah menciptakan
keresahan masyarakat, melanggar hukum-hukum yang berlaku di
republik ini, serta melecehkan aparat negara.

2. Menyaksikan berbagai fakta dan aksi yang telah mereka lakukan selama ini,
kami menuntut aparat pemerintah untuk membubarkan organisasi-organisasi
tersebut, karena mereka telah mengancam keutuhan NKRI (Negara Kesatuan
Republik Indonesia).
3. Apabila poin-poin di atas tidak ditanggapi oleh aparat negara, maka
jangan salahkan kami, apabila kami melakukan tindakan perlawanan sebagai
bentuk pembelaan diri.


Jakarta, 26 Mei 2006


Garda Bangsa, Garda Kemerdekaan, Pemuda Demokrat, Aliansi Betawi Bersatu,
Pencak Silat Pagar Nusa, Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan, SKP-HAM, Relawan
Perjuangan Demokrasi (Repdem), Institut Indonesia Muda, YMCA (Young Men
Christian Association), Gerak Indonesia, Pendawa, FPPI, Pemuda Katolik,
PGIW-DKI Jakarta, Gerakan Revolusi Nurani (GRN), Aliansi Kebebasan Beragama
dan Berkeyakinan.


Penanda-tangan Petisi:

1. Eman Hermawan (Ketua Umum Garda Bangsa) 1 _______________

2. Ahmad Taufik (Ketua Umum Garda Kemerdekaan) 2. __________

3. Jeffrey T. (Pemuda Demokrat) 3 ______________

4. Budiman Sudjatmiko (Repdem) 4. ___________

5. Malik (Garda Kemerdekaan) 5. _____________

6. Guntur Romli (JIL) 6. ___________

7. Zainudin (Aliansi Betawi Bersatu) 7. ______________

8. Daong Zulkarnaen (FORKABI) 8. ___________

9. MND. Robhot (Aliansi Betawi Bersatu) 9. ______________

10. Moch Yahya Manap (Aliansi Betawi Bersatu) 10. ___________

11. Hafiz Q (Aliansi Kebebasan Beragama) 11. ______________

12. Rambe Syarifuddin (SKP-HAM) 12. ____________

13. Franky (PGIW-DKI) 13. ______________

14. M. Hanif Dhakiri 14. ____________

15. Cohda (Institut Muda Indonesia) 15. _____________

16. Mubarik (Ahmadiyyah) 16. ___________

17. Sutrisno Rangga (GRN) 17. ____________

18. Favor A. Bancin (YMCA) 18. ____________

19. Rudy (Gerak Indonesia) 19. ____________

20. Saif Ahmad (Aliansi Kebebasan Beragama) 20. ____________

21. Maryanto (Pendawa) 21. ____________

22. Lim (FPPI) 22. ____________

23. Martin Sinaga (FPPI) 23. ____________

24. Rahmat Pasan 24. ____________

25. Cahyo (Pemuda Katolik) 26. ____________

26. Deliana P. (Pemuda Katolik) 27. ____________


SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke