Saya jadi ingat sajak yg dibacakan oleh Pak Taufik Abdullah di TV bbrp wakty
yg lalu, tentang kisah seorang Ibu yg melarang utk memberikan uang (walaupun
recehan) kpd pengemis jalanan dgn alasan tidak mendidik. Dalam sajak itu,
dengan bahasa yg bagus patut menjadi renungan kita. Bila memang memberikan
uang kpd mereka itu tidak mendidik, lantas sudah pernahkah kita mendidik
mereka utk tidak mengemis ? Sudah pernahkah kita bicara kpd mereka dari hati
ke hati, memberikan pemahaman kpd mereka ? atau .. sudah pernahkah kita
memikirkan jalan keluar bagi mereka dari lilitan kemiskinan ?
Saya yg mendengar pertanyaan ironis tsb menjawab ... belum pernah. Lantas
layakkah saya mempersalahkan mereka ? layakkah saya tidak mau memberi uang
kpd mereka dgn alasan tidak mendidik ? ah ... jangan-jangan hal itu
dikarenakan sifat kikir dan tamak yg belum pernah hilang dari hati yg kotor
ini. Astaghfirullah.
dp
-----Original Message-----
From: lely_m_k <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, March 22, 1999 11:31 PM
Subject: [stttelkom] Re: Bocah-bocah itu........
>Saya jadi tersentuh ...
>
>Tapi ... kadang keadaan spt itu juga banyak dimanfaatkan orang sbg 'lahan'
>cari uang
>Dengan cara memperkerjakan anaknya untuk 'mencarikan' nafkah bagi
>keluarganya
>Dengan alasan kepaksa ..
>(Seperti yang sering dilihat di persimpangan Dago-Sulanjana)
>Di sana beberapa keluarga berkumpul suami-istri-anak-berikut balitanya
>Sementara orang tua mereka terlihat sedang berbincang2, anak2 mereka sibuk
>dengan kecrekannya
>menyanyi di setiap mobil-angkot yang berhenti di persimpangan
>
>Atau bahkan yang paling parah (saya kira)
>Rekan2 bisa menyaksikan sendiri setiap jam 9-10 malam
>Akan berhenti sebuah mobil minibus warna putih di depan Apotik Kimia Farma
>dekat BIP
>Mobil itu dikendarai oleh seorang pria setengah baya
>Menunggu berkumpulnya pengamen cilik yang beroperasi di sekitar
>persimpangan
>Sementara pengamen lainnya yang sudah ada di dalam mobil sibuk menghitung
>uang recehan
>Yang saya yakin nantinya akan disetorkan ke pria setengah baya tadi
>Rekan2 juga dapat menyaksikan sekitar adzan Maghrib mobil putih itu
>akan mengantarkan jatah makan malam para pengamen cilik itu
>
>Kadang saya merasa terjebak
>Harus berbuat apakah saya ?
>Memberinya uang receh ?
>Atau membiarkannya pura2 ngga mendengar nyanyian mereka ?
>
>
>
>