kalau melihat permasalahannya secara integral ibarat benang kusut.
secara kejiwaan anak yang sudah terbiasa dengan menjadi peminta - minta,
meskipun dengan cara ngamen, akan 'enjoy' melakukannya terus meskipun ia
melakukannya sudah bukan karena sekedar urusan makan lagi.
repotnya mereka nanti akan dewasa dan berkeluarga. karena lingkungan mereka
sudah sedemikian rupa biasanya mereka mendapatkan jodoh dari lingkungan ini
juga. dan akhirnya anak - anak merekapun akan menjadi peminta - minta.
hitung saja populasi mereka katakanlah di Bandung 5 - 10 tahun ke depan
kalau mereka tetap dibiarkan demikian.
satu hal mungkin yang bisa kita lakukan adalah menjadi kakak asuh bagi
kalangan marginal. karena mereka rentan terhadap kasus ini. banyak dari
mereka, pertamanya karena nggak kuat bayar spp. kemudian keluar sekolah
terus ngamen.
On Monday, March 22, 1999 10:21 AM, Denny Permana
[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] wrote:
> Saya jadi ingat sajak yg dibacakan oleh Pak Taufik Abdullah di TV bbrp
wakty
> yg lalu, tentang kisah seorang Ibu yg melarang utk memberikan uang
(walaupun
> recehan) kpd pengemis jalanan dgn alasan tidak mendidik. Dalam sajak itu,
> dengan bahasa yg bagus patut menjadi renungan kita. Bila memang
memberikan
> uang kpd mereka itu tidak mendidik, lantas sudah pernahkah kita mendidik
> mereka utk tidak mengemis ? Sudah pernahkah kita bicara kpd mereka dari
hati
> ke hati, memberikan pemahaman kpd mereka ? atau .. sudah pernahkah kita
> memikirkan jalan keluar bagi mereka dari lilitan kemiskinan ?
>
> Saya yg mendengar pertanyaan ironis tsb menjawab ... belum pernah. Lantas
> layakkah saya mempersalahkan mereka ? layakkah saya tidak mau memberi
uang
> kpd mereka dgn alasan tidak mendidik ? ah ... jangan-jangan hal itu
> dikarenakan sifat kikir dan tamak yg belum pernah hilang dari hati yg
kotor
> ini. Astaghfirullah.
>
> dp
>
>
> -----Original Message-----
> From: lely_m_k <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Monday, March 22, 1999 11:31 PM
> Subject: [stttelkom] Re: Bocah-bocah itu........
>
>
> >Saya jadi tersentuh ...
> >
> >Tapi ... kadang keadaan spt itu juga banyak dimanfaatkan orang sbg
'lahan'
> >cari uang
> >Dengan cara memperkerjakan anaknya untuk 'mencarikan' nafkah bagi
> >keluarganya
> >Dengan alasan kepaksa ..
> >(Seperti yang sering dilihat di persimpangan Dago-Sulanjana)
> >Di sana beberapa keluarga berkumpul suami-istri-anak-berikut balitanya
> >Sementara orang tua mereka terlihat sedang berbincang2, anak2 mereka
sibuk
> >dengan kecrekannya
> >menyanyi di setiap mobil-angkot yang berhenti di persimpangan
> >
> >Atau bahkan yang paling parah (saya kira)
> >Rekan2 bisa menyaksikan sendiri setiap jam 9-10 malam
> >Akan berhenti sebuah mobil minibus warna putih di depan Apotik Kimia
Farma
> >dekat BIP
> >Mobil itu dikendarai oleh seorang pria setengah baya
> >Menunggu berkumpulnya pengamen cilik yang beroperasi di sekitar
> >persimpangan
> >Sementara pengamen lainnya yang sudah ada di dalam mobil sibuk
menghitung
> >uang recehan
> >Yang saya yakin nantinya akan disetorkan ke pria setengah baya tadi
> >Rekan2 juga dapat menyaksikan sekitar adzan Maghrib mobil putih itu
> >akan mengantarkan jatah makan malam para pengamen cilik itu
> >
> >Kadang saya merasa terjebak
> >Harus berbuat apakah saya ?
> >Memberinya uang receh ?
> >Atau membiarkannya pura2 ngga mendengar nyanyian mereka ?
> >
> >
> >
> >