From: nurain <[EMAIL PROTECTED]>
> 3. Rekan Dedi Suherman (group?) mungkin harus melihat latar belakang ini.
Perusahaan yang besar seperti TELKOM seharusnya membuat konsep (jika memang
ada), membukanya dimilis ini untuk bahan diskusi, itu mungkin lebih bagus.
Akan ada kontra konsep atau dukungan konsep, ide-ide cemerlang dari
siapapun! (Torang pe ilmu cukup tinggi tooch...makanya tulis pe pendapat di
milis ini, supaya dorang bisa kasih pendapat....makanya ingak,
From: Bambang Hidayat <[EMAIL PROTECTED]>
> Topik ini pernah saya luncurkan th 1998, dan saya banyak masukan dari
rekan-rekan, yang hasilnya terkristal pada Tim Bisnis Internasional, yang
dimotori KSA (kelompok Satf Ahli). Sedangkan di-unit kerja saya memang
mengadakan kajian kontinyu ttg pengembangan bisnis internasional, yang
nantinya juga memeanfaatkan hasil dari Tim KSA. Apabila masukan dari
rekan-rekan ttg bisnis internasional diluncurkan pd millist, semuanya bisa
> memanfaatkan sesuai dg tanggung jawab masing-masing, bisa untuk melengkapi
CSS1999-2000
Memang konsep bisnis internasional ini telah lama dimunculkan dan berbagai
konsep juga telah ada di corporate baik yang diusulkan oleh perorangan, staf
ahli, unit perencana dll. Hal ini menjadi ramai lagi setelah dibentuk TIM
khusus untuk membuat blue print bisnis internasional yang akan dimasuki oleh
TELKOM. Masalah ini tidak semudah dan segampang yang kita bayangkan karena
ini menyangkut resiko bisnis yang akan dihadapi termasuk hambatan investasi
yang tentu saja dalam kondisi sekarang akan sangat berat.
Untuk lebih terarah saya sebutkan beberapa bahan referensi yang telah ada
sbb :
1. Dari masterplan retrukturisasi Telekomunikasi disebutkan bahwa skenario
privatisasi dan kompetisi telekomunikasi di Indonesia akan dibuat two giant
yang akan saling berkompetisi. Indosat sebagai operator internasional akan
diberikan lisensi SLJJ, dan selular sebaliknya TELKOM akan diberikan lisensi
internasional dan selular. Jadwal waktunya untuk sementara masih mengikuti
masa hak ekslusivitas dan kemungkinan akan dipercepat. Artinya kedua BUMN
tsb akan dilepas (privatisasi) oleh pemerintah dan akan diadu dengan
memberikan lisensi tambahan untuk menjadi full service provider.
2. Terlepas dari skenario di atas TELKOM punya kapabilitas internal yang
berlebih seperti SDM yang secara kuantitas berlebih dan banyak SDM TELKOM
yang berkualitas tapi menganggur. Untuk informasi rekan-rekan belum lama ini
MOTOROLA pernah menawari TELKOM untuk membantu MOTOROLA menyediakan SDMnya
untuk dipekerjakan di proyek-proyek MOTOROLA di seluruh dunia. Jumlah yang
dimintanya tidak sedikit (2000 orang). Dari sisi network saya kira kita tahu
bahwa accupancy network kita belum optimal. Belum lagi kemampuan kita
melalui divisi-divisi pendukung seperti DIVPEM, PROPERTI, DIVLAT, DIVATELIR,
RISTI dan SISFO. Mereka semua mempunyai potensi untuk go internasional.
Namun satu hal yang harus dipertimbangkan, jika memang TELKOM harus go
internasional harus dilihat bukan dari gagah-gagahan bahwa TELKOM bisa go
internasional namun karena kondisi bisnis yang memang menguntungkan dengan
pemamfaatan sumber daya yang ada.
Masukan teman-teman bisa berangkat dari kondisi yang ada pada lokasi kerja
masing-masing. Apa saja potensi yang ada dan bisa diberdayakan untuk
di-go-internasional-kan dll. Strategi bagaimana memasukinya juga perlu
dipertimbangkan.
Khusus untuk flatform bisnis SLI ada beberapa jalur yang dapat dimanfaatkan
untuk masuk yaitu :
1. Akuisisi Satelindo
Keuntungan : Paling mudah. TElkom tidak perlu susah-susah menjalin kerjasama
dari awal untuk setiap negara. Tidak ada hambatan regulasi. Secara teknis
sangat gampang.
Kerugian/hambatan : Hutang Satelindo sangat besar ,Perlu dukungan finansial
untuk mengakuisisi sedangkan jamannya lagi susah, trend revenue SLI dengan
cara kompensional ini cenderung menurun dll.
2. Buat operator baru/divisi internasional
Money ?, regulasi ?, Kerjasama internasional ?
3. Pakai pendekatan teknologi baru :
Telephone over Internet, OXYGEN, GMPCS dll.
Mungkin dengan point-point diatas rekan-rekan bisa lebih focus dalam
membahas diskusi ini.
DEDI SUHERMAN
PRANPERTEK - DITPRANTEK
PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA, TBK.
PHONE : +62-22-4526314
FAX : +62-22-7106561
EMAIL : [EMAIL PROTECTED]