Rekan alumni,
Topik ini pernah saya luncurkan th 1998, dan saya banyak masukan dari rekan-rekan,
yang hasilnya terkristal pada Tim Bisnis Internasional, yang dimotori KSA (kelompok
Satf Ahli). Sedangkan di-unit kerja saya memang mengadakan kajian kontinyu ttg
pengembangan bisnis internasional, yang nantinya juga memeanfaatkan hasil dari Tim
KSA. Apabila masukan dari rekan-rekan ttg bisnis internasional diluncurkan pd millist,
semuanya bisa
memanfaatkan sesuai dg tanggung jawab masing-masing, bisa untuk melengkapi
CSS1999-2000, bisa dipakai untuk perencanaan anggaran, atau bisa juga untuk rencana
"go international " bagi diri sendiri.
Selamat berdiskusi !!!!
Beny Triantono wrote:
> Dear semua,
>
> Ikut nimbrum, karena topik diskusi baru,
> 1. Wah, memang betul kata pak Nurain, sebagai staff18/19...memang seolah-olah
>diposisikan mendapat oleh
> oleh bahan seminar sbg bahan kajian, padahal sebenarnya akan lebih optimal jika
>justru yang akan mengkaji itulah yang ikut seminar .
> 2. kalo kita tengok kapan Telkom diberi ijin bisnis internasional baru th 2004,
>sedang operator lain yang mau masuk ke bisnis nasional 2001, kok keliatannya kurang
>fair, boleh dibilang Telkom kalah start.
> 3. atau mungkin memang Telkom selalu pada posisi dikalah bila bertemu kepentingan
>dengan operator lain tersebut
>
> Beny T
>
> Beny Triantono
> SIGNALING LAB.
> Phone 62-22-4571346
> Learn about RisTI at : www.ristinet.com
> Enjoy our cyber magazine : www.gematel.com
>
> -----Original Message-----
> From: nurain [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, April 12, 1999 9:38 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [stttelkom] Bisnis Internasional
>
> Dear alumni,
> Kenapa ini bisa terjadi? Baiklah, menurut pengetahuan saya, dan yang saya rasakan,
>adalah sebagai berikut:
> 1. Jika ada pameran/seminar di luar negeri, yang ikut kesana bukanlah orang yang
>berkompoten, tapi semacam"jatah" bagi orang/kandidat yang tidak berkompoten.
>Sehingga, jika ada seminar, misal di Paris atau Geneva, yang ikut adalah "boss" yang
>tidak jeals juntrungan dan kompetensinya. Ikut pagi hari, setelah dapat buku seminar,
>lantas menghilang entah kemana. Bagaimana bisa merumuskan yang jelas, apa apa yang
>diperlukan dalam
> berbinis international?
> Seharusnya bagi yang berkompotenlah yang ikut seminar. Keluaran atau outcome (keren
>dikit bolehkhan) yang diharapkan dapat dipaparkan dihadapan teamnya atau atasannya.
> 2. Biasanya bahasan seperti yang diminta oleh rekan alumni kita Dedi Suherman,
>TELKOM biasanya punya konsultan yang penghasilannya jauh dari penghasilan karyawan
>TELKOM. Padahal, konsultan ini hanya tanya dikit-dikit, tulis lantas presentasikan,
>dan bila ada kekurangan minta ide-ide karyawan dan tulis lagi. Akhirnya orang malas.
>Serahkan saja ke konsultan, beres. Walaupun outputnya selalu salah. Masih Ingat
>ramalan Boos & Allen
> Group tentang peramalan jumlah telepon di Indonesia tahun 1997? Jauh dari benar,
>sehingga harus di tinjau/ralat ulang beberapa kali. Berapa bayaran group konsultan
>tersebut? Yng jelas mahal!
> 3. Rekan Dedi Suherman (group?) mungkin harus melihat latar belakang ini. Perusahaan
>yang besar seperti TELKOM seharusnya membuat konsep (jika memang ada), membukanya
>dimilis ini untuk bahan diskusi, itu mungkin lebih bagus. Akan ada kontra konsep atau
>dukungan konsep, ide-ide cemerlang dari siapapun! (Torang pe ilmu cukup tinggi
>tooch...makanya tulis pe pendapat di milis ini, supaya dorang bisa kasih
>pendapat....makanya ingak,
> ingak.... ba daftar rame-rame.... hi hi...).
>
> Nurain SILALAHI
>
> Yonatson wrote:
>
> > Untuk point 2.
> > Silahkan lihat : http://itel.mit.edu//
> > Atau hubungi rekan kita Perry Erick : [EMAIL PROTECTED]
> > Atau rekan Henry di Risti.
> > Btw bolehkah aku bertanya...
> > Kok sepertinya Telkom nggak punya arah yang jelas untuk go internasional ?
> > Maksudnya kok baru sekarang mikirnya ?
> > Bagaimana dengan kesinambungannya dengan penyusunan FTP 2000 ?
> > Berdasarkan fakta, PTT Netherland yang dulunya juga memonopoli penyediaan jasa
>Telekomunikasi di Belanda mempersiapkan diri untuk 14 tahun untuk mengantisipasi
>kompetitor yang akan masuk ke dalam bisnis Telekomunikasi. Yaitu baik dari dalam
>negeri maupun dari negara Eropa yang lain mengalami kehilangan pelanggan sebanyak 50%
>terutama segment pelanggan bisnis. Bagaimana dengan Telkom ? Sudah apa saja yang
>disiapkan oleh Telkom ?
> >
> > Jon
> >
> > ----------
> > From: Dedi Suherman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Friday, April 09, 1999 5:31 PM
> > To: STTTelkom
> > Subject: [stttelkom] Bisnis Internasional
> >
> > Saya usul topik baru nich :
> >
> > Sejalan dengan strategi TELKOM di Corporate Strategy Scenario (CSS)
> > 1999-2003, Masterplan Restructurisasi BUMN, SK DIRUT tentang pembentukan
> > satgas persiapan Bisnis Internasional saya meminta masukan rekan-rekan apa
> > saja kira-kira peluang bisnis internasional yang akan kita masuki. Untuk
> > bahan acuan diskusi ini saya bagi atas tiga kelompok sbb :
> >
> > 1. Strategi TELKOM untuk masuk ke dalam bisnis Internasional
> > Di sini membahas mengenai strategi apa yang harus kita lakukan untuk masuk
> > ke bisnis internasional (buat perusahaan baru, divisi, akuisisi, merger dll)
> >
> > 2. Bisnis Jasa Hubungan telekomunikas Internasional (SLI)
> > Bagaimana TELKOM memasuki bisnis SLI : Buat operator baru (007,dll),
> > akuisisi Satelindo, MOU dengan operator internasional, GMPCS, OXYGEN dll.
> >
> > 3. Bisnis internasional
> > Penempatan modal di Asean, bursa saham internasional, konstruksi, instalasi,
> > penempatan SDM dll.
> >
> > Saya juga meminta masukan teman-teman mengenai kompetensi apa yang dimiliki
> > oleh TELKOM buat modal go to the global world ini.
> >
> > Dedi Suherman
> > Pranpertek - Ditprantek
> > PT Telekomunikasi Indonesia. Tbk
> > Jl. Japati No. 1 Lt.6 Bandung
> > Phone : +62-22-4526314
> > Fax : +62-22-7106561
> > Email : [EMAIL PROTECTED]
--
==================================================
Dr Bambang Hidayat
Senior Advisor, International Business Development
PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk
Office: Jl japati No 1 Bandung 40133 Indonesia
E-Mail :[EMAIL PROTECTED]
Phone :+62-22-452-6240
Fax : +62-22-452-6227
===================================================