Al-Maududi saya sudah pernah baca. Antara lain: Principles of Islam, Let Us be Muslims, & Al-Khilafah wa Al-Mulk / Khilafah & Kerajaan.
Ada kemungkinan orang yang membaca buku-nya setengah-setengah / tidak tuntas akan salah persepsi. Al-Maududi sepintas memang "mengkafirkan" orang muslim, tapi yang sebenarnya beliau maksud adalah kita (masing-masing individu) menunjuk hidung kita sendiri, jadi kita menanyakan ke diri sendiri & menjawab sendiri, dan bukan untuk menunjuk orang lain kafir. Ini saya cuplikkan dari buku-nya Al-Maududi. Di sini kelihatan apakah dia mengkafirkan orang lain atau tidak. Lihatlah jam yang terpampang di dinding, ada bagian bagian kecil di dalamnya yang saling berkait satu sama lain Jika kita tidak memutarnya, jam itu sama sekali tidak menunjukkan waktu yang tepat. Jika kita memutarnya tetapi tidak sesuai dengan metode yang ditetapkan, jam itu akan berhenti atau malah tidak bekerja sama sekali, sehingga tidak menunjukkan waktu yang tepat. Jika kita menukar bagian bagiannya kemudian memutarnya tidak akan ada sesuatu yang bisa diperoleh dari jam tersebut. Jika kita mengganti jarumnya dengan jarum mesin jahit dan kemudian memutarnya, jam itu tidak menunjuk waktu juga tidak menjahit pakaian. Jika kita melepaskan bagian bagiannya dan menyimpannya dalam kotak, tidak akan ada yang bisa bergerak meski kita memutarnya. Bayangkanlah Islam seperti halnya jam ini Tauhid, aqidah, ahlak, hak hak Tuhan, hak hak hamba, hak seseorang dan hak segala sesuatu yang ada di dunia yang kita jumpai, peraturan memperoleh dan membelanjakan uang, hukum perang dan damai, prinsip prinsip pemerintahan dan batas batas kebolehan mentaatinya semua ini merupakan bagian Islam (Namun sekarang) kita mencabuti bagian bagian tersebut dan menggantinya dengan bagian bagian mesin yang lain, onderdil dari mesin jahit atau dari pabrik atau dari onderdil mobil. Kita mengaku sebagai muslim namun mengabdikan loyalitas kepada kekafiran, memungut riba dan perangkat tidak islami yang lain, sehingga kita tidak termasuk dalam kerangka jam-Islam. Meski demikian, kita mengharapkan jam itu bekerja dengan baik ketika kita memutarnya. Pengetahuan & Perbuatan Dua hal yang membedakan antara muslim dan kafir adalah pengetahuan dan tindakan. Ini berarti pertama tama kita harus mengetahui siapa Tuhan kita, apa perintah perintah-Nya, bagaimana mengikuti apa yang dikehendaki Nya, perbuatan apa yang diridlai Nya dan apa yang tidak. Jika semua ini diketahui, maka hal kedua adalah berupaya menjadi hamba yang benar di hadapan Tuhan dengan memisahkan keinginan keinginan kita sendiri dari apa yang menjadi kehendak Tuhan. Meski dalam KTP kita tercatat sebagai pemeluk Islam, Allah sama sekali tidak melihat apa yang tertulis dalam secarik kertas seperti itu. Dia memiliki daftar sendiri bagi orang orang yang patuh maupun yang ingkar, dan mesti dalam daftar inilah kita harus menemukan posisi kita sesungguhnya. Allah telah menurunkan Al-Quran sehingga kita bisa belajar mengenal- Nya dan belajar bagimana mematuhi perintah perintahnya. Allah mengutus Nabi untuk menuntun kita menjadi muslim. Pernahkah kita berupaya untuk mengikuti apa yang beliau tuntunkan? Orang kafir tidak bisa membaca Al-Quran dan tidak bisa memahami apa yang tertulis di dalamnya. Jika yang disebut muslim sama tidak tahunya, bagaimana mereka bisa disebut muslim? Orang orang kafir tidak mengetahui ajaran ajaran Nabi saw dan jalan lurus yang beliau tunjukkan untuk mencapai Tuhan. Jika seorang muslim juga demikian, sama tidak tahunya, bagaimana mereka bisa disebut muslim? Orang kafir mengikuti hawa nafsunya, alih alih perintah Allah. Jika seorang muslim sama ingkar dan tidak disiplinnya, mendasarkan ide ide dan pandangan pandangannya pada hawa nafsu, bagaimana mereka bisa mengaku sebagai muslim? Sungguh, nyaris perbedaan kita dengan orang kafir hanya terletak pada istilahnya saja Saya sama sekali tidak bermaksud menganggap orang Islam sebagai kafir. Ini bukan maksud saya. Mari kita bertanya pada diri kita masing masing, mengapa kita dijauhkan dari karunia Tuhan? Mengapa kita miskin dan sengsara dalam berbagai hal? Mengapa kita berpecah belah dan saling membunuh? Mengapa orang yang kita sebut kafir mendominasi kita? Dan mengapa kita, yang mengklaim sebagai hamba-Nya yang patuh, justru menjadi budak dalam banyak hal di dunia ini? (Sebaiknya tudingan muslim atau kafir kita tembakkan ke diri kita dahulu) Saya katakan "nyaris" karena memang masih ada perbedaan pada diri kita:kita mengetahui bahwa Al-Quran adalah kitab suci Tuhan namun kita memperlakukannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang kafir. Dan inilah yang membuat mengapa kita lebih menderita terhukum. Kita tahu bahwa Muhammad saw adalah Nabi-Nya, namun kita tidak mengikuti tuntunan beliau sebagaimana orang kafir tidak mengikutinya. Kita tahu bahwa Tuhan membenci pendusta, mengancam orang yang menerima atau memberi suap dengan siksa neraka, mencela orang yang makan riba, menyamakan orang yang bergunjing (menggosip) seperti makan daging saudaranya, dan memperingatkan bahwa perbuatan cabul, pornografi dan kebejatan moral lain akan dibalas dengan siksa. Namun, meskipun kita mengetahui semua ini, kita tetap melakukannya dengan bebas, tidak takut akan kemarahan Tuhan. Begitu kita membaca dua kalimat syahadat, berarti kita mengaku bahwa hukum yang kita kenal hanyalah hukum Allah, hanya Allah lah raja kita, hanya Allah penguasa kita, hanya Allah yang kita patuhi dan hanya apa yang disebutkan dalam kitab suci-Nya dan apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya saja yang benar. Adalah sebuah kebodohan bahkan ketololan yang tiada tara melakukan perjanjian palsu dengan Allah. Sebelum membuat perjanjian, mari kita berpikir masak masak, dan setelah itu mari kita benar benar menjalankannya. Kita tidak dipaksa untuk mengucapkan janji janji, karena kata kata kosong tidak akan menguntungkan kita. Sebagai akibatnya, kita tidak berhak menyatakan, "Beginilah pendapatku", "beginilah tradisi yang berlaku", "beginilah tradisi keluarga" dan lain sebagainya. Kita bebas memeluk agama apa pun yang kita suka dan menyebut diri kita dengan nama apa pun. Namun sekali mengaku muslim, kita harus benar benar memahami bahwa kita hanya tetap menjadi seorang muslim selama berada dalam batas batas Islam. Jika dalam keadaan berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah kita menganggap diri kita sebagai muslim, itu sama saja menipu diri sendiri dan orang lain. Sumber : Let Us be Muslims, karya Abul A'la Maududi Wallahu a'lam Wassalam, Wirawan -----Original Message----- From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> To: syiar-islam <[email protected]> Date: Tue, 22 May 2007 18:48:04 -0700 (PDT) Subject: [syiar-islam] Re: Jangan Bermusuhan - Re: Kesaksian Ulama Dunia Thd al Banna & Sayyid Qutb Wa'alaikum salam wr wb, Kebetulan saya sudah pernah baca buku2 Hasan Al Banna, Sayyid Quthub, Abu A'la al Maududi. Isinya bagus menjelaskan tentang Islam, negara Islam, Hukum Islam, dsb. Semua argumennya memakai dalil Al Qur'an dan Hadits yang jelas. Jadi jangan sampai kita mengkafirkan ulama besar hanya karena taqlid kepada guru-guru kita. Tabayyunlah. Baca buku2 mereka secara langsung. Bukan sekedar membaca kutipan yang sering disusupi dengan kebohongan. "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [Al Hujuraat:6] Memang buku2 mereka akan membahayakan sistem pemerintahan sekuler yang tidak memakai hukum Islam. Oleh karena itulah pemerintah2 sekuler tsb memakai segala cara termasuk para ulama dunia untuk menghantam mereka. Jika kita pelajari Al Qur'an dan hadits, niscaya disebut yang kita taati adalah Allah dan Rasul. "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." [Muhammad:33] "Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." [Ali Imran:32] "Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." [Ali Imran:132] Hanya ada satu ayat yang menambahkan kata Ulil Amri (Pemerintah/Pemegang Urusan). Itu pun di depan Ulil Amri tidak ada kata Athii'uu (taatilah) "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." [An Nisaa':59] Artinya ketaatan pada perintah Allah dan Rasulnya mutlak harus diamalkan baik ulil Amri memerintahkan atau tidak. Tidak bisa kita tidak mengerjakan perintah Allah dan Rasulnya hanya karena pemimpin tidak menyuruhnya. Misalnya tidak sholat hanya karena pemimpin tidak menyuruh sholat. Jika kita pelajari Islam, maka pemimpin itu cuma 1. Tidak puluhan seperti sekarang di mana Indonesia, Malaysia, Arab, Kuwait punya pemimpin sendiri2. Jika ada 2 pemimpin, bunuh pemimpin yang paling akhir, begitu kata hadits Nabi. Seandainya kita belum sanggup mendirikan negara Islam atau menegakkan hukum Allah, minimal kita mempelajarinya. Tidak bisa kita mengambil ajaran Islam sepotong2. Mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain. Wassalam --- "Wirawan S." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sekedar info saja, keluarga saya punya itu buku Fi > Zhilail Qur'an dari Sayid > Quthub. Isinya bagus, kemudian bagaimana pandangan > terhadap orang kafir juga > dijelaskan dengan baik. (Ada lho yang nuduh beliau > 'mengkafirkan' sesama > muslim) > > Kemudian Abul A'la al-Maududi juga ada 3 bukunya, > tidak ada di situ ajaran > mengkafirkan muslim, sebagaimana dituduhkan kelompok > tertentu (kata kelompok > itu Sayid Quthub terpengaruh ajaran al-Maududi) > > Kalo soal tuduhan IM atau Jema'at Islami sering > dianggap teroris bisa saja > itu fitnah dari 'pemerintah' atau pers masing - > masing karena takut > kekuasaanya hilang. > . [Non-text portions of this message have been removed]

