Tuduhan Terhadap Ikhwan dan Jawabannya

Ada pepatah terkenal berbunyi, "Tidak ada gading yang tidak retak."
Artinya, manusia sebaik dan sehebat apa pun, selain al ma 'shum, pasti
memiliki kekurangan. Begitupun dengan Ikhwanul Muslimunyang lahir bukan
tanpa kritik dan cela dari dalam maupun dari luar. Kritik yang diarahkan
kepadanya harus dipandang sebagai bentuk nasihat yang berguna dan bukan
upaya pelecehan yang merendahkan. Sebaliknya, celaan yang datang
bertubi-tubi kepadanya sarna sekali tidak akan pemah membuatnya rendah dan
hina di mata umat.

Tidak ada yang mengingkari bahwa kritik adalah sesuatu yang berguna dan
dibutuhkan manusia walau getir dan pedas. Apalagi, manusia adalah makhluk
Allah Swt yang tidak lepas dari kesalahan. Sebenamya kritik pada
hakikatnya sama dengan nasihat. Tidak perlu pula diingkari bahwa celaan
adalah hal yang berbeda dengan kritik. Mencela bukanlah akhlak terpuji
walau kadangkala manusia harus mencela orang yang pantas dicela. Pada saat
itu, fungsi celaan sarna dengan nasihat.

Mengkritik dan mencela memiliki perbedaan yang jelas. Mengkritik adalah
upaya memperbaiki yang keliru, menyempurnakan yang kurang, menguatkan yang
lemah, dan membangunkan yang tertidur dengan menunjukkan masalah dan jalan
keluamya agar manusia cepat kembali kepada kebenaran. Mengkritik haruslah
dilakukan dengan penuh pertimbangan, ilmu, dan akal sehat, serta ketulusan
hati. Obyek yang dikritik pun adalah sesuatu yang benar-benar perlu
dikritik dan bukan dilontarkan sekadar prasangka, asumsi, atau
mencari-cari kesalahan dengan landasan emosi dan rasa benci.

Adapun mencela atau menghujat (apa pun istilahnya) amat bertolak belakang
dengan mengkritik. Mencela secara halus (sinis) atau kasar (sarkas) adalah
upaya merendahkan, melecehkan, atau meremehkan agar manusia menjauh tanpa
memberikan jalan keluar. Landasan mencela adalah nafsu amarah serta tanpa
pertimbangan ilmu dan akal sehat. Paling tidak, nafsu amarah telah
mengendalikan ilmu dan akal sehat. Obyek yang dicela mungkin benar,
mungkin juga salah. Bahkan, boleh jadi kebenaran tertutup cahayanya, lalu
dianggap salah. Oleh karena nafsu amarah yang dituruti akan rnembuat gelap
mata dan tidak mampu rnemandang secara jemih antara yang benar dan salah.

Tidak diragukan lagi bahwa Ikhwan telah rnendapatkan keduanya; kritik dan
celaan. Pada keadaan tertentu, Ikhwan rnenerirna sernua kritikan dan
berlapang dada karena Allah Swt rnenyadarkan rnereka dari kekeliruan,
Namun pada keadaan lain, Ikhwan rnerasa perlu mernberi tanggapan terhadap
celaan yang rnereka terirna lantaran celaan tersebut zalirn dan tidak pada
tempatnya.,

Perlu diingat, rneskipun kebajikan yang telah dipersembahkan Ikhwanul
Muslimin segunung banyaknya, mereka-seperti jamaah lain-adalah jamaah
manusia. Pendiri, pemimpin, petinggi, anggota, dan sirnpatisannya adalah
rnanusia biasa yang berpotensi rnelakukan kesalahan. Hanya rnanusia yang
selalu dalarn penjagaan Allah Swt-Iah yang senantiasa mampu rnengajak
dirinya bersatu dengan kebenaran dan rnenyisihkan kesalahan. Sernentara
orang yang selalu dalam penjagaan Allah azza wa Jalla hanya Rasulullah
Saw. Ikhwan bukanlah jamaah rnalaikat yang selalu taat dan tidak pemah
salah. Bukan pula jamaah setan yang selalu durhaka dan ingkar serta
nengajak manusia kepada kedurhakaan.

Sungguh telah datang secara bergelornbang celaan dan tuduhan kepada
Ikhwan. Hal yang amat rnengherankan, tuduhan dan celaan itu salin bertolak
belakang. Satu pihak rnenuduh Ikhwan terlalu ketat dan konservatif
Namun, pihak lain menuduh Ikhwan longgar dan permissive terhadap semua
pembaruan. Tuduhan atau celaan itu saling mementahkan satu sarna lainnya
dan rnenernpatkan Ikhwan berada di antara keduanya. Demikianlah kedudukan
yang adil, yaitu wasathiyah (pertengahan/rnoderat).

Dalam pandangan kami-wallahu a'lam-hal itu terjadi karena beberapa alasan.
Di antaranya:

salah paham terhadap hakikat manhaj dakwah Ikhwan;
tidak paham terhadap hakikat manhaj dakwah lkhwan;
mungkin benar ada kekeliruan di dalarn lkhwan, tetapi para pencelannya
tidak punya niat baik dan etika yang bagus untuk meluruskannya;
ikut-ikutan (taklid)terhadap pembesar-pembesar rnereka; atau
ada kedengkian (hiqd) di dalam hati mereka.
Beberapa Contoh Tuduhan dan Jawabannya
Telah berkata Samahatusy Syaikh Imam Kabir Abdul Aziz bin Abdullah bin
Bazz-semoga Allah Swt meridhainya, "Harakah Ikhwanul Muslimun telah
dikritik para ulama yang mu'tabar. Salah satu alasannya, mereka tidak
memperhatikan dakwah tauhid serta memberantas syirk dan bid'ah. Oleh
karena itu, wajib bagi Ikhwanul Muslimun untuk mengingkari ibadah-ibadah
kepada kuburan. Kebanyakan ahli ilmu mengkritik Ikhwanul Muslimun pada
segi itu-tidak punya perhatian terhadap dakwah tauhid, membiarkan kelakuan
orang-orang jahil, dan meminta-minta kepada orang yang sudah mati. Mereka
pun tidak punya perhatian terhadap sunah atau meneliti hadis dan perkataan
salafush shalih dalam hukum-hukum syar'i" 1

Dari perkataan Samahatusy Syaikh itu, ada beberapa hal yang perlu
ditegaskan dulu. Siapakah ulama mu'tabar (diakui) yang Syaikh mulia
maksud? Apakah mereka pemah berinteraksi dengan Ikhwanul Muslimun dan
tokoh-tokohnya secara baik di masa awal atau sekarang ini atau hanya
mendengar dari kabar burung yang dipelintir dan buku-buku yang dikutip
secara sepotong-sepotong?

Jika ulama yang dimaksud adalah ulama dunia seperti Syaikh al Muhaddits
Sayyid Muhibbudin al Khathib (redaksi harian /khwanul Muslimin), Syaikh
Hasanain al Makhluf (mantan mufti Mesir), al Hajj Amin Husaini (mufti
Palestina), Muhammad Abdul Hamid (ulama al Azhar), Syaikh Mahmud Syaltut
(mantan Syaikh al Azhar), atau Abul A'la al Maududi (seorang 'alim dari
Pakistan dan dipanggil 'ustad' oleh Syaikh al Albany)-mereka hidup sezaman
dengan al Banna dan masa-masa generasi pertama Ikhwan tentulah tidak akan
luput dari perhatian orang-orang 'alim itu jika benar Ikhwan adalah jamaah
yang menyimpang. Tidak ada keterangan dari ulama-ulama itu yang
menyebutkan kritik atau celaan seperti yang disebutkan Syaikh bin Bazz.
Nyatanya, mereka amat mencintai Ikhwan dan manhaj-nya, bahkan sebagian di
antara mereka bergabung bersama Ikhwan atau mengambil manfaat darinya.

Namun, jika ulama mu 'tabar yang dimaksud adalah pengikut dan murid-murid
Syaikh Bin Bazz sendiri dan pengikut Syaikh al Albany-mereka memang ulama,
seperti Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i al Yamany, Syaikh Rabi' bin Hadi
Umair al Madkhaly, Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Syaikh
Farid bin Ahmad Manshur, Syaikh Ali Hasan al Halaby al Atsary, dan Abdul
Malik Ramadhan al Jazairy-bukanlah hal yang baru dan mengherankan bagi
kami. Mereka memang ulama-ulama yang terkenal amat bersemangat mengkritik
jamaah atau tokoh yang tidal sejalan dengan fikrah mereka. Pembahasannya
akan kami uraikan secara khusus.

Adapun ucapan Syaikh yang mulia bahwa Ikhwan melupakan dakwan tauhid serta
memberantas bid'ah dan syirik kubur, itu tidaklah benar. Lagi pula wacana
tauhid bukan hanya seputar bid'ah dan syirk kubur. Ikhlas dalam beramal,
menegakkan syariat Islam dalam lirigkup pribadi, masyarakat, dan negara,
.tidak meminta pertolongan orang kafir untuk memerangi sesama muslim, atau
mengeluarkan fatwa bolehnya meminta pertolongan kepada AS saat Perang
Teluk melawan Saddam Husein berkecamuk padahal biar bagaimana pun AS lebih
jelas kekafirannya dibandingkam Saddam Hussein-termasuk bagian dari
tauhid. Hasan al Banna telah menyebutkan di dalam Ushul isyrin keharusan
bagi pengikut/anggota Ikhwan untuk memerangi kemungkaran di kuburan,
pengunaan jimat, mantera dan sejenisnya. Hal itu akan kami ulas pada
bagiannya tersendiri.

Begitu pula tidak sepenuhnya benar pemyataan bahwa lkhwan melupakan sunah
serta tidak meneliti hadis dan atsar salafush shalih. Ikhwan memahami
bahwa upaya meneliti hadis dan atsar-atsar salafush shalih bukanlah
pekerjaan untuk semua manusia. Hanya ahlinya yang pantas untuk melakukan
hal itu. Ikhwan sendiri tidak mendidik anggotanya secara khusus untuk
menjadi ulama fiqh atau ulama hadis. Tidak ada gerakan Islam yanng
berpikir bahwa semua anggotanya harus menjadi ahli.fiqh dan ahli hadist
atau atsar. Namun, Ikhwan tetap memperhatikan haI itu melalui pemimpinnya
yang memang punya keahlian di bidang itu. Ada Sayyid Sabiq, Abdul Qadir'
'Audah, Abdul Fattah Abu Ghuddah, Abdul Halim Abu Syuqqah, Yusuf al
Qaradhawy, dan ulama lainnya. Semuanya adalah tokoh ahli iImu liqh dan
hadis yang diakui dunia. Syaikh bin Bazz pemah melontarkan perkataan yang
berat ketika ditanya tentang Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimun, "Kedua
firqah itu masuk' ke dalam 72 golongan (yang tersesat). Siapa saja yang
menyelisihi akidah Ahlussunnah, ia masuk ke dalam 72 golongan itu."2

1 Buletin dakwah alFurqan edisi 10/1 Jumadil ula 1423 H, him. 2, kol. 2.
2  Rasulullah Saw memprediksikan perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan
dan golongan yang masuk surga hanya satu, yaitu al Jama 'ah-artinya segala
yang aku (Nabi Saw) dan sahabatku ada di atasnya. Adapun 72 golongan
lainnya masuk neraka. Hadis itu diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Abu Daud.
Imam Hakim men-shahihkannya menurut syarat Imam Muslim dan disepakati Imam
adz Dzahabi. Syaikh Albany men-shahih-kan hadis itu, sedangkan Imam
Bukhari dan Imam Muslim tidak mengeluarkan hadis itu dalam kitab Shahihain
mereka padahal masalahnya penting" Hal itu menunjukkan Imam Syaikhan
(Bukhari-Muslim) meragukan kesahihan hadis.hadis itu. Bahkan, Imam Ibnu
Wazir menganggapnya batil, tidak benar, dan merupakan rekayasa orang-orang
mulht:l (atheis). Ibnu Hazm menilainya sebagai hadis palsu. Adapun Imam
Ibnu Taimiyah men-shahihbn hadits itu dan Ibnu Hajar meng-hasan-kannya
(Lihat dalam Fiqhul Ikhtilaf, hIm. 50-56 dan Seleksi Hadits-Hadits Shahih
tentang Targhib dan Tarhib, hlm. 120. Keduanya karya Yusuf al Qaradhawy).

Ketika ditanya lagi, syaikh itu menegaskan, "Ya, keduanya masuk ke dalam
72 golongan beserta murji'ah dan golongan lainnya. Murji'ah dan
khawarij-khusus khawarij menurut sebagian Ahlul 'ilmi telah keluar dari
golongan orang-orang kafir, tetapi mereka masuk dalam keumuman 72 golongan
yang sesat."3 Ucapan itu-jika memang benar ucapannya-sebenamya telah
menjadi fatwa yang mengerikan bagi kedua jamaah berupa vonis sesat, bahkan
lebih dari itu. Sinyalemen Rasulullah Saw bahwa umat ini akan terpecah
menjadi73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu
alJama 'ah, menunjukkan bahwa golongan yang masuk neraka sebanyak 72
golongan. Jadi, ketika syaikh itu menyebutkan bahwa Jamaah Tabligh dan
Ikhwanul Muslimun termasuk 72 golongan tersebut, otomatis kedua jamaah itu
termasuk calon penghuni neraka. ltulah pemahaman yang dapat kita tangkap
secara sederhana dan mudah. Namun, kami tidak dapat membayangkan jika
syaikh itu bermaksud demikian karena ada akibat lain dari ucapan tersebut,
yaitu tokoh-tokoh kedua jamaah itu dan pengikut mereka pun termasuk ahli
neraka: Hasan al Banna, Sayyid Quthb (yang Syaikh Bin Bazz bela ketika
divonis hukuman gantung), Sayyid Sabiq (pengarang Rqhus Sunnah yang
terkenal dan bersama Yusuf al Qaradhawy mendapatkan penghargaan King
Faishal Award), Abdul Halim Abu Syuqqah (pengarang Tahrirul Mar'ah Li
'Ahdir Risalah), Yusuf al Qaradhawy yang telah Syaikh Bin Bazz puji, dan
banyak lagi. Merekalah pembesar Ikhwan yang jamaahnya dikelompokkan ke
dalam 72 golongan ahli neraka! Padahal, mereka segolongan 'alim yang
terdidik dalam madrasah Ikhwanul Muslimun.

Kami mengira- wallahu a'lam-berita yang diperoleh Syaikh Bin Bazz tentang
Ikhwan tidak utuh. Mungkin hanya bisikan berita dari kalangan tertentu di
sekelilingnya yang memang antipati terhadap Ikhwan. Seandainya beliau mau
mengambil manfaat dari berita yang disampaikan Ikhwan langsung-minimal
sebagai pengimbang-niscaya pandangan beliau pasti berbeda. Seandainya
benar demikian, yaitu terjadi ketidakutuhan dalam pandangannya,
sesungguhnya hukum fatwa yang dikeluarkan seorang mufti yang tidak
mengetahui perkaranya dengan jelas dan utuh menjadi batal. Demikian kaidah
yang disepakati ulama. Sesungguhnya ulama kecintaan kami, Syaikh al
'Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albany-semoga Allah Swt
me-ridha-'inya pemah berkata, "Ada pun mereka (Jamaah Tabligh) tidak
mementingkan, dakwah kepada kitab dan sunah sebagai prinsip pokok. Bahkan,
mereka menganggap dakwah tersebut hanya akan membawa perpecahan umat.
Keadaan mereka persis seperti yang ada pada jamaah Ikhwanul Muslimun.
Mereka mengatakan sesungguhnya dakwah mereka tegak di atas kitab dan
sunah, tetapi itu hanya ucapan belaka. Mereka tidak mempunyai akidah
(shahihah) yang dapat menyatukan mereka sehingga di dalamnya terdapat
aliran al maturidy, asy'ary, sufi, dan ada pula yang tidak bermazhab. Hal
itu karena dakwah mereka berdiri di atas prinsip "himpun, kumpulkan, dan
didik" meskipun pada hakikatnya mereka tidak berpendidikan sarna
sekali.(dakwah mereka, penerj.) telah berlalu lebih dari setengah abad
lamanya, tetapi tidak ada seorang 'alim pun muncul dari kalangan mereka."4
 Ucapan Syaikh al Albany yang mengatakan bahwa Ikhwan tidak pemah
memunculkan ahli ilmu sebagai hasil dari dakwahnya adalah tidak sesuai
dengan kenyataan. Sesungguhnya, ulama-ulama dari Ikhwan sangat
banyak-tanpa bermaksud berbangga diri. Apakah Syaikh al Albany menganggap
Sayyid Sabiq, Yusuf al Qaradhawy (Syaikh sendiri pemah memujinya), Abdul
Halim Abu Syuqqah, Manna' Khalil Qattan, Abdullah Nashih 'Ulwan, dan
Muhammad al Assai adalah juhala (orang-orang bodoh)?

Syaikh yang mulia Rabi' bin Hadi-hafizhahullah wa ghafarahullah pemah
mencela Ikhwan dengan perkataan, "Sebenamya dakwah Ikhwanul Muslimun
didasarkan pada manhaj orang kafir Barat yang dibungkus dengan pakaian
Islam."5

3  Rabi' bin Hadi al Madkhaly, Fatwa Ulama Seputar Jama'ah Tabligh, hIm.
20-21.
4  Ibid him. 30-31
5 Rabi' bin Hadi al Madkhaly, Kekeliruan Pemikiran Sayyid Quthb, hlm. 177.
6 Ibid. him. 176-177. Uhat catatan kaki no. 39.

Ia mengomentari dakwah Ikhwan di berbagai negara dengan sinis, "Sekarang
muncul berhala-berhala yang lebih zalim dan lebih sewenang-wenang yang
tidak ada tandingannya di Mesir, Irak, Syam, Libya, Yaman, Sudan, dan
negeri lain. ltu semua merupakan hasil dari seruan Ikhwan. Oengan hasil
yang mereka peroleh sekarang, mereka masih menuntut lebih hingga akhimya
mereka akan membunuh Islam dengan Islam itu sendiri.

Masih banyak lagi celaan terhadap Ikhwan darinya. Kami anggap hal itu
sebagai celaan dan bukan kritikan karena kritikan memiliki kaidah,
sedangkan ruh yang ada di dalam ucapan itu adalah ruh amarah. Sungguh,
para berhala yang dimaksud-yaitu para thawaghit (tiranik)-lebih cocok
ditujukan kepada orang-orang yang memberangus Ikhwan di negeri-negeri
mereka dan itu sudah amat masyhur. Bagaimana mungkin Syaikh Rabi'
menganggap para tiranik itu dampak dari keberadaan dakwah Ikhwan? Lebih
baik seorang yang 'alim dalam iImu agama membela saudaranya yang dizalimi
dan mencegah para pelaku kezaliman dari perbuatan zalim dan bukan berbuat
zalim pula dengan tidak menghargai, bahkan mencela upaya dakwah
saudaranya.Lebih baik lagi jika Rabi' atau siapa pun bersikap adil dan
seimbang dalam menilai seseorang atau suatu jamaah. Imam Ibnul Qayyim
dalam Madarijus Salikin telah memberikan koreksi atas kesalahan Syaikhul
Islam Ismail al Harawi dalam buku Manazil Sairin. Namun, Ibnul Qayyim
tetap memberikan pujian pada kedudukan Syaikhul Islam alHarawi dan manfaat
yang didapat dari karyanya. Ibnu Taimiyah mengkritik Imam al Ghazaly
lantaran karyanya al Ihya' amat banyak disusupi syubhat dalam masalah
akidah dan perkataan para filsuf. Namun, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa
manfaat dari buku itu lebih banyak dibandingkan jika buku itu ditolak.
Demikianlah sikap adil yang kami maksud, yaitu tidak melupakan kebaikan
yang telah ada pada seseorang walau orang tersebut berbuat kesalahan.
Adakah Syaikh Rabi' mau melihat kebaikan yang ada pada Ikhwan? Jika masih
menganggap "Kebaikan ahIi bid'ah jangan dipandang" , sungguh itu adalah
ucapan yang benar, tetapi tidak pada tempatnya. Ikhwan bukanlah ahIi
bid'ah. Mereka hanyalah manusia yang ber-ijtihad seperti Anda ber-ijtihad
Lain halnya jika Syaikh Rabi' yakin dengan pendiriannya bahwa Ikhwan dan
para tokohnya adalah ahli bid'ah sehingga sia-sialah semua nasihat ini.

Seandainya manusia mau menuangkan jasa-jasa Ikhwan dalam bentuk tuIisan,
niscaya dibutuhkan berjilid-jilid buku. Berkata Syaikh Manna' Khalil al
Qattan,7  "Gerakan Ikhwanul Muslimun yang didirikan asy Syahid Hasan al
Banna dipandang sebagai gerakan keislaman terbesar masa kini tanpa
diragukan lagi. Tidak seorang pun dari lawan-Iawannya dapat mengingkari
jasa gerakan ini dalam membangkitkan kesadaran di seluruh dunia Islam.

Bersama gerakan ini, segenap potensi pemuda Islam ditumpahkan untuk
berkhidmat kepada Islam, menjunjung syariatnya, meninggikan kalimat-Nya,
membangun kejayaannya, dan mengembalikan kekuasaannya. Apapun yang
dikatakan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap jamaah ini,
pengaruh intelektualitasnya tidak dapat diingkari siapa pun."8

7 Befiau adalah ulama temama, mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh, staf
pengajar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh. Ia pun
seorang tokoh Ikhwanul Muslimun.
8 Manna Khalil al Qattan, Studi Dmu-Dmu al Qur'an, hIm. 506.

Kepada para pencela Ikhwan, Yusuf alQaradhawy-hafizhahullah berkata,
"Dalam sejarah modem, tidak dikenal kelompok yang dizalimi dan didera
tuduhan seperti yang dialami kelompok Ikhwan. Mereka dizalimi seperti
kezaliman yang dialami Husein, cucu Nabi Saw. Hal yang mengherankan bagi
pengamat perjalanan Ikhwan adalah mereka dituduh dengan tuduhan yang
kontradiktif pada saat yang sarna. Satu pihak menuduhnya dengan suatu
tuduhan, sedangkan pihak lain menuduh dengan tuduhan kebalikannya. Dengan
sendirinya tuduhan-tuduhan itu menjadi lemah dan tidak memiliki makna. Di
sana terdapat kelompok yang menamakan dirinya kelompok progresif dan
menuduh Al Ikhwan sebagai gerakan reaksioner dan jumud, kembali ke
belakang, dan konservatif. Bahkan, di antara penulis muslim pun ada yang
memandang Ikhwan dengan sinis sebagai gerakan set back setelah masa
Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh yang. mempunyai kecenderungan
konservatif dan kaku.

Pada saat yang bersamaan, ada segolongan pengikut paham agama yang
melontarkan kecaman bahwa Ikhwan terlalu longgar dalam memahami agama dan
mengikuti tuntutan zaman. Sebagian mereka mengecam karena Ikhwan membuka
lebar-lebar pintu ijtihad dan keluar dari mengikuti mazhab serta memegang
sebagian besar pendapat baru9  Di sana ada pula. kelompok sufi yang
memandang Ikhwan adalah penjelmaan paham Wahabi dan pengikut Ibnu Taimiyah
dan Ibnul Qayyim (AI Imamain). Dengan kata lain, Ikhwan dipandang sebagai
gerakan salafiyun yang menjadi musuh utama bagi tasawuf dan penganutnya.
Sementara itu, ada kelompok yang menamakan diri mereka salafiyun dan
memandang Ikhwan sebagai kelompok thariqat sufi dan menggolongkannya
sebagai kelompok Quburi (penyembah kubur, peny) Hal itu, didasari bahwa al
Banna tumbuh dalam suasana yang sarat nuansa sufi di samping pandangannya
bahwa tawassul masuk dalam persoalan khilafiyah-perbedaan pendapat dalam
tata cara berdoa dan bukan masalah akidah."10 Terakhir beliau berkata,
Itulah perlakuan yang dialami umat poros tengah atau kelompok tengah dan
pemikiran poros tengah yang senantiasa dicela dari dua sisi yanb
berlawanan: pihak yang keras dan pihak yang lunak

9 Sebaliknya, kalangan salaliyun progresif menuduh Ikhwan menutup pintu
ijtihad Liha al Furqan edisi 1011 Jumadil VIa 1423 HI hIm. 2, kol. 2..
10 Yusuf al Qaradhawy, 70 T ahun AI Ikhwan AI Muslimun, hIm. 205-206.





Kirim email ke