Assalaamu’alaykum
Pak nizami, kalau sy ikuti pembahasan ini sepertinya tidak ada statement yang 
mengkafirkan Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, begitu pula dgn respon dari bapak 
Muhammad Haryo. Sepanjang yg saya tangkap beliau hanya meluruskan latar 
belakang pujian syaikh Al-Jibrin terhadap ikhwanul muslimin, disamping 
menyampaikan bahwa kurang ridhanya ulama2 kita semisal Syaikh Abdul
> > Aziz bin Baz, Syaikh Al-Muhadits Muhammad
> Nashiruddin Al-Albani, Syaikh
> > Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih bin
> Fauzan Al-Fauzan,
> Syaikh
> > Abdullah Al-Ghadyan, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamid
> Al Abad Al-Badr,
> Syaikh
> > Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Rabi' bin Hadi
> Al-Madkhali, dan masih
> > banyak lagi terhadap Sayyid Quthb rahimahullah..(berita ini sy “nukil” dr 
> > respon bpk Muhammad haryo)

Dan tidak ada kata2 kafir terhadap mereka. Sehingga kalimat bapak Nizami :” 
Jadi jangan sampai kita mengkafirkan ulama besar hanya
karena taqlid kepada guru-guru kita”, kalimat tersebut sepertinya agak kurang 
tepat menurut saya, dan dikhawatirkan bahkan bisa membuat suasana hati pencinta 
ikhwanul muslimin semakin panas krn merasa imamnya dikafirkan, pdhl tdk ada yg 
mengkafirkan mereka...tdk ada. 

Begitupula ulama2 manhaj salaf yg nama2nya disebut diatas, tidak begitu 
mudahlah mereka mengkafirkan, dan adalah salah satu ajaran yg serius dan 
ditekankan dr mereka untuk tidak ”serampangan” mengkafirkan seorang muslim. 
Syaikh2 kami berkata :”Tergesa-gesa dalam mengafirkan, akan mengakibatkan 
banyak masalah, seperti penghalalan darah dan harta, mencegah hak warisan, 
pembatalan pernikahan, dan hukum-hukum lainnya bagi orang murtad. Lalu 
bagaimana seorang mukmin berani untuk melakukannya, hanya karena ada sedikit 
syubhat?!”. Pelajaran seperti ini adalah salah satu adab yg ditekankan oleh 
ulama2 tersebut, disamping secara tegas dilarangnya memvonis tanpa ilmu. 
wallahu’alam

Mungkin lebih baik kita lebih objektif dan berprasangka baik terhadap berita2 
yang datang kpd kita. Bila berita itu penting, tatsabut-lah, bila tdk penting 
maka masih bnyk urusan lain yg lebih penting untuk dilakukan. Mohon maaf 
apabila ada yg kurang berkenan.

Wassalaamu’alaykum
-gita-

Kirim email ke